
Arka sudah bisa bernafas lega, Ia bahagia akhirnya kedua orang tuanya akan bersatu. Hari bahagia pun sudah di tentukan, El sudah membawa Tari dan memperkenalkan nya langsung pada seluruh keluarga besar, bahwa dirinya akan mempersunting wanita yang sudah memberikan nya seorang Putra yang sangat tampan.
" Selamat ya Ar, kamu benar-benar beruntung. "
Arka duduk di samping Tiara, Ia tersenyum kecil menanggapi ucapan selamat dari Tiara.
" Makasih, tapi sepertinya kamu tidak bahagia. Ada apa Ra. " Tanya Arka.
Tiara mencoba tersenyum meskipun tetap saja Ia bersedih karena dirinya tidak seberuntung Arka.
" Siapa bilang aku tidak bahagia, nih lihat senyum ku saja lebar. "
Tiara tersenyum menampakkan giginya yang bersih dan rapi.
" Tidak perlu berbohong, aku tau bagaimana kamu Ra. Aku tau bagaimana wajahmu saat kamu sedang sedih, senang, jujur dan bahkan berbohong. Jadi jangan coba- coba untuk berbohong padaku. "
Tiara memilih diam, apa yang di katakan oleh Arka itu benar jadi percuma Ia berdebad.
" Ada apa hm.... " Tanya Arka lagi namun Tiara hanya menunduk.
" Apa kamu sedih karena Mama dan juga Papa akan segera menikah sedangkan Mama Vani dan Papa Kevin nggak, benarkan tebakan ku. "
Tiba-tiba Tiara menangis, Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan kecilnya. Arka yang tidak tega langsung menarik tubuh Tiara kedalam pelukannya, Ia mengelus kepala Tiara pelan.
" Kenapa Ar, kenapa Aku tidak di ijinkan untuk merasakan kebahagiaan. Kenapa Aku harus selalu merasakan ini Ar, rasanya ini tidak adil bagiku. Papa hanya mementingkan perasaannya sendiri, Aku ingin membencinya Ar, tapi..... tapi Aku pun tidak bisa melakukannya. Aku harus bagaimana Ar. " Tiara menangis di dalam pelukan Arka.
Di saat semua orang sibuk menata dekorasi untuk menyambut hari bahagia penerus dari keluarga Atmajaya itu, Arka mengamati semua yang hadir disana. Ia mencari seseorang yang Ia yakini ada disana, ternyata benar orang yang Ia cari ada disana.
" Bisa bicara sebentar. " Tanya Arka dengan raut wajah dingin. Sifat cerianya akan hilang ketika keluar dari zonanya
Kevin menatap sekeliling, meskipun bingung namun Ia pun mengangguk mengiyakan ajakan Arka. Arka mengajak Kevin ke kamarnya sendiri.
" Masuk Pa. " Meskipun nampak dingin namun Kevin merasa senang karena keponakannya itu memanggilnya dengan panggilan Papa.
Kevin mengikuti kemana Arka pergi, Ia duduk di sofa ketika melihat Arka juga duduk disana.
Arka mulai mengutarakan maksudnya kenapa Ia mengajak Om nya itu ke kamarnya, Ia menanyakan hal yang ingin Ia ketahui.
" Benarkah Nak, apa itu yang di katakan dan dirasakan Tiara. " Tanya Kevin dengan suara pelan hampir tak terdengar.
__ADS_1
Arka mengangguk pelan, masih dengan wajah coolnya. Kevin mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, Ia tidak tau kalau selama ini buah hatinya menanggung luka yang begitu mendalam.
Ia bergegas keluar, namun kemudian Pria itu berbalik lagi dan memeluk Arka.
" Makasih Nak. " Ucap Kevin tulus dan Arka hanya mengangguk.
Arka menatap kepergian Kevin, Ia berharap semua akan berakhir baik. Sedangkan Kevin, Pria itu merogoh ponselnya dan nampak menghubungi seseorang. Ketika akan pergi Ia melihat Putri kecilnya sedang membantu beberapa orang merangkai bunga, Kevin menghampiri Tiara dan memeluknya.
Tiara heran karena Papanya memeluknya erat, tidak seperti biasanya.
" Ada apa Pa, apa Papa sakit. " Tanya Tiara masih dalam pelukan Kevin.
Kevin melepas pelukannya, Ia menggeleng pelan.
" Papa tidak apa- apa, Oh ya Nak. Tiara mau ikut Papa atau mau disini saja tungguin Mama. "
Tiara nampak berpikir, Ia melihat Arka yang berdiri di lantai dua. Ia tersenyum pada Kevin.
" Tiara disini saja Pa, Papa kan ada urusan. Tiara tidak ingin menganggu Papa. "
Kevin benar-benar terharu karena Putrinya benar-benar mempunyai hati yang baik.
Tiara mengangguk, Ia juga berpesan kepada Kevin agar hati-hati ketika berkendara.
Di sebuah tempat Kevin sudah di tunggu oleh seseorang, nampak dari jauh seseorang itu sedang tersenyum padanya.
" Hai. " Sapa seseorang itu.
" Hai juga, maaf aku datang terlambat. "
" Tidak apa- apa, santai saja. Aku juga baru datang kok, tapi ngomong- ngomong tumben kok kamu ngajakin ketemuan. "
Kevin tersenyum menanggapi ucapan wanita di depannya. Ia terlebih dahulu meminta maaf dan mulai mengutarakan maksudnya.
" Maafkan aku Imelda. "
Imel nampak menghela nafas, wajahnya langsung sumringah.
" Tidak apa- apa Vin, aku ikut berbahagia untuk mu. Kejarlah kebahagiaan mu bersama orang-orang yang kamu sayangi, jangan pernah menyakiti mereka lagi. "
__ADS_1
Kevin memeluk Imel dan berterima kasih atas pengertian gadis itu.
" Pergilah, jangan buat Putrimu menunggumu terlalu lama. "
Kevin mengangguk, Ia pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan bahagia. Begitu juga dengan Imel, Ia tidak tau mimpi apa semalam, akhirnya hari ini Ia mendapatkan kejelasan dari semua yang membelenggu nya selama ini.
" Pergilah Kevin dan terima kasih. " Gumam Imel.
Ia begitu bahagia, namun ketika berdiri dan akan melangkah pergi, Ia malah di tabrak oleh seseorang dari belakang dan mbuat tubuhnya terhuyung kedepan. Imel memejamkan matanya ketika merasa akan jatuh namun sampai sepersekian detik tubuhnya tidak merasakan apapun.
Perlahan Ia membuka mata, alangkah terkejutnya karena ternyata dirinya jatuh di dalam pelukan seorang Pria.
" Astaghfirullah Mel, celaka dua belas. Baru juga kau bebas, kenapa sudah buat masalah lagi. " Jerit batin Imel.
" Hei, apa itu nyaman. " Tanya seseorang itu ketika wanita yang memeluknya tak kunjung menarik diri.
Imel dengan cepat melepaskan pelukannya, wajahnya merona malu apalagi banyak pasang mata yang melihat kejadian itu.
" Ma, maaf. "
Imel langsung lari terbirit-birit meninggalkan tempatnya saat ini, Ia sudah merasa tidak punya muka dan rasanya ingin Ia masukkan wajahnya itu di dalam selimut.
" Ya Allah, Imel...... bisa- bisanya lo kaya gitu. " Imel mengelus dadanya yang berdetak hebat.
Wajahnya kembali merona karena membayangkan adegan dirinya dan juga sang Pria yang Ia tabrak.
" Semoga tidak bertemu lagi dengannya. " Gumam Imel masih di balik kemudi.
Tiba-tiba Ia terkejut karena seseorang mengetuk kaca mobilnya, mulut Imel langsung melongo melihat siapa yang tengah mengetuk pintu mobilnya.
" Ya Allah, kenapa Engkau tidak mengabulkan do'a ku. Kenapa Pria ini masih disini, Imel...... tamatlah riwayatmu. " Gumam Imel lagi.
Ia benar-benar grogi dan bingung harus berbuat apa.
" Ayo Mel, tenang. Kamu tidak boleh gugup, dia hanyalah manusia biasa seperti mu. Keluarlah dan hadapi dia, minta maaflah dan semua akan beres. " Imel mensugesti dirinya sendiri.
Akhirnya Imel memberanikan diri membuka pintu, namun justru terjadi hal yang mengejutkan dan tidak pernah terpikirkan oleh Imel.
" Buruan, tunggu apalagi. Masuk sana. "
__ADS_1
Imel terkejut, ternyata sang Pria justru masuk kedalam mobilnya dan duduk di balik kemudi. Ia juga meminta Imel untuk masuk.