Super MOM

Super MOM
Terkuaknya kebenaran


__ADS_3

Meskipun menemukan sekertaris Pribadinya dalam kondisi yang tidak baik namun El masih bersyukur bisa di pertemukan dalam keadaan masih bernyawa, Ia berjanji pada dirinya sendiri akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan sekertarisnya Han. Semua itu sebanding dengan apa yang sudah di lakukan Han padanya selama ini.


Sekertaris pribadinya itu ternyata mengalami beberapa penggeseran tulang terutama di leher, setelah menjalankan operasi Han harus di pasangkan Cervical collar atau penyangga leher.


Mansion Atmajaya


Kevin di tarik paksa oleh bodyguard Pak Bagus karena Ia berusaha berontak ketika turun dari mobil.


" Tuan muda, Anda masih akan terus berontak atau diam sebelum saya patahkan kaki Anda. " Bentak Herman Pria yang terkenal bengis.


Kevin akhirnya diam, untuk saat ini Ia masih sayang dengan nyawanya. Tubuhnya sedikit menggigil setelah para bodyguard membawanya ke ruang bawah tanah, ruang yang Ia sendiri tau itu apa. Biasanya Ia yang membawa perusuh masuk kesana, sekarang malah dirinya yang di masukkan di tempat itu.


" Aku tidak mau masuk kesana, lepaskan aku. Aku akan menemui Papa, tolong lepaskan aku. " Pinta Kevin namun Herman dan beberapa lainnya tetap membawanya masuk.


Mereka baru berhenti setelah terdengar titah dari Bagus.


" Herman, bawa dia ke ruang kerja. "


Herman mengangguk dan melakukan perintah Bos besarnya.


" Lepas, apa apaan sih kalian. Kan Papa saja tidak ingin memasukkan aku kesana, kalian yang hanya orang luar ingin menghakimi ku. "


Herman dan beberapa Pria lain langsung keluar setelah Bagus dan juga Aini masuk kedalam rungan itu.


" Diam Nak, jangan buat Papa dengan tidak menyesal memasukkan mu ke ruang bawah tanah, menjadi makan siang para harimau lapar itu. "


Kevin mendengus kesal mendengar perkataan Ayahnya yang menurutnya sangat kejam untuk versi hubungan seorang Ayah dan anak. Sekejam kejamnya seorang Ayah tidak akan mungkin tega mengorbankan nyawa anaknya untuk santapan hewan buas nan mengerikan itu.

__ADS_1


" Sekarang katakan pada Papa, apa maksudnya kamu melakukan semua ini Nak. "


Meskipun sangat kecewa dengan perbuatan Kevin namun Bagus masih berusaha menahan diri dan ingin mengetahui apa alasan Putra angkatnya itu sebenarnya.


Kevin mendecih mendengar ucapan Ayahnya yang menurutnya bermuka dua.


" Munafik, seharusnya aku yang bertanya kepada Papa dan Mama. Ada apa dengan kalian, kenapa kalian selalu membedakan antara aku dengan El. Padahal kami sama-sama anak kalian, tapi kalian memperlakukan aku seperti anak pungut yang tidak penting keberadaannya. " Jawab Kevin dengan suara keras.


Aini terkejut mendengar jawaban Kevin, bukan jawabannya tapi suaranya yang begitu tidak mencerminkan seorang anak.


" Kevin.... ! "


Aini ingin sekali menegur Putranya itu namun Bagus menahannya.


" Kenapa Ma, bukannya itu benar. Mama tidak terima aku berkata kasar, ini semua karena kalian. Kalian tidak pernah memandang atau menghargai semua yang aku lakukan, seolah semua yang lakukan adalah salah dan Putra kalian itu yang selalu benar. "


Bagus duduk di kursi sembari memijat pelipisnya yang sakit, padahal selama ini Ia sudah berusaha berlaku adil dan tidak pernah membedakan antara Putra dan juga Putrinya.


" Sudahlah Pa, apa Papa pikir dengan minta maaf saja bisa merubah semuanya, bisa mengobati luka hati aku selama ini. " Potong Kevin dengan suara keras.


" Luka apa Mas, kekecewaan seperti apa yang Mas rasakan ha.... ! Mas itu seharusnya bersyukur karena Mama dan Papa sudah menyayangimu merawatmu sampai jadi seperti sekarang ini. Tapi apa yang Mas lakukan, Mas membenci sesuatu tanpa sebab. Mas berbicara kasar pada mereka, asal Mas tahu seharusnya Mas tidak pantas mendapatkan kasih sayang mereka. "



Aluna tidak terima mendengar perkataan kasar Kevin pada Ayah dan Ibunya, dirinya saja selalu berfikir sebelum mengucapkan kata yang takutnya akan menyinggung kedua orang tuanya.


Ya, Aluna adalah adik Axel. Ia langsung terbang ke Indonesia setelah mendengar kekacauan yang menimpa keluarganya.

__ADS_1


" Luna, cukup Nak. " Suara Pak Bagus melemah, begitu juga dengan Aini.


" Maafkan Luna Mama, Pa. Tapi Mas Kevin sudah keterlaluan, sudah waktunya Dia tahu siapa Dirinya sebenarnya. "


Luna menghentikan ucapannya karena Aini memeluk tubuhnya dengan mata memerah dan mulai berembun, Luna tau kalau Ibunya pasti akan menangis kalau Dia melanjutkan ucapannya.


" Mama, Luna sayang Mama. Luna nggak mau siapa pun membentak Mama seperti tadi, maafkan Luna. " Keduanya berpelukan


Bagus berulang kali menghela nafas, Ia juga sedang berusaha sekuat mungkin menahan amarah agar tidak mengatakan sesuatu yang akan menyakiti semuanya dimasa akan datang.


Kevin tersenyum sinis melihat drama di depannya, baginya semuanya adalah palsu. Itu semua karena dendam yang sudah mendarah daging di hatinya.


" Drama, tidak usah pura-pura sok baik karena semuanya tidak mempan bagiku. Sekali munafik ya tetap munafik, dasar pencitraan. "


Aluna mengepalkan tangannya, Ia menatap tajam kearah Kevin.


" Cukup Kevin.... tidak ada yang pencitraan disini. Semuanya tulus menyayangimu, kamu saja yang tidak tau bersyukur. Asal kamu tahu, kasih sayang Mama dan Papa sampai kapan pun tidak akan pernah bisa kamu balas. Andai kamu tau siapa kamu sebenarnya, apa kamu masih bisa mengakat wajahmu seperti saat ini, bersikap angkuh dan menganggap dirimu benar. " Suara Aluna tidak sekeras ketika Ia baru masuk namun penuh penekanan.


Kening Kevin berkerut, sudut bibirnya masih saja tersenyum sinis.


" Memangnya siapa aku sebenarnya anak kecil ha, mulutmu ini tidak perlu mengarang sesuatu hanya untuk menutupi perbuatan kalian yang tidak berakhlak. " Kevin dengan kasar memegang dagu Aluna membuat wanita muda itu meringis.


Sedangkan Aini mulai menangis histeris melihat Kevin memperlakukan Putrinya dengan kasar.


" Cukup Kevin..... ! Lepaskan adikku. "


Axell yang baru tiba langsung murka melihat tontonan yang begitu menyesakkan dada. Matanya menatap nyalang pada adik angkatnya itu. Satu tamparan mendarat di tepat di wajah Kevin, saking kerasnya membuat Pria itu bergeser dari tempatnya.

__ADS_1


" Jangan pernah kau lakukan ini lagi bajingan, baik di hadapan ku atau di belakang ku, karena aku tidak akan segan segan untuk membunuh mu adik angkat tidak bermoral. " Kecam Axell dengan wajah dan mata memerah.


Akhirnya sesuatu yang mereka tutupi terkuak juga, mungkin memang sudah waktunya. Perbuatan Kevin memang sudah sangat keterlaluan, Ia pantas mendapatkan itu. entah dari tangan El atau juga di tangan Bagus, karena Bagus juga sudah berdiri dari tempatnya dan siap melayangkan tangan namun El ternyata lebih dulu menghadiahi nya dengan tamparan keras.


__ADS_2