Super MOM

Super MOM
Membersihkan sarang nyamuk


__ADS_3

Vania mendengus kesal, gara-gara Pria itu Ia hampir saja malu pada Putri dan juga asisten rumah tangganya yang melihat kondisinya. Untung saja Ia bisa mencari alasan yang masuk akal dan karena Putrinya itu masih kecil jadi alasannya masih bisa di terima olehnya.


Di tempat lain El merogoh ponselnya karena ada sebuah notif pesan masuk ke benda pipihnya itu , bibirnya menyunggingkan senyum miring.


" Sudah kuduga " Gumamnya.


tok tok tok. !


" Masuk. " Tari mempersilahkan masuk pada seseorang yang mengetuk pintu.


Risma melangkah pelan memasuki ruangan Tari, Ia memberikan laporan yang di minta Tari sesaat sebelum nya.


" Ri, bagaimana hubungan mu dengan..... dengan Mas Ilmi." Tanya Risma pelan takut pertanyaan nya akan menyinggung sahabatnya itu.


Tari mengangkat wajahnya pelan ketika mendengar pertanyaan Risma.


" Ilmi... maksud kamu. "


Risma memperbaiki duduknya dan menyunggingkan senyum.


" Maaf kalau aku ikut campur, tapi bukankah kemarin Ilmi menemuimu dan berniat mengungkapkan perasaan nya padamu, lalu apa kamu menerima nya. "


Tari masih memandang aneh pada sahabatnya yang nampak berbeda, wajahnya tidak seceriah seperti biasanya.


" Ada apa dengannya " Batin Tari.


" Ah iya, kemarin Mas Ilmi memang mengajak aku ketemuan dan juga mengungkapkan perasaan nya.... tapi..


Risma mengangguk angguk pelan, jantungnya dag dig dug menunggu kelanjutan kata kata sahabatnya itu.


" Tapi.... tapi apa Ri. " Tanya Risma penasaran.


" Ya... aku tidak menerima nya Ris. " Jawab Tari santai.


" Tidak menerima nya, tapi kenapa Ri. "


Tari tersenyum lebar


" Saat ini aku sedang fokus pada masa depan Putraku, Aku bahkan tidak pernah sedikitpun memikirkan ke arah sana, membangun komitmen dengan seseorang rasanya aku belum siap. Tapi... ngomong ngomong tumben kamu nanyain itu Ris. "

__ADS_1


Risma akhirnya bisa bernafas lega, Ia mengelus dadanya pelan. Ucapan syukur berulang kali terucap di bibirnya.


" Ah nggak ada apa apa Ri, aku hanya ingin tahu saja. Sebagai sahabat kan aku juga ikut senang kalau kalian akhirnya jadian, tapi kalau nggak juga semoga kalian berdua mendapatkan jodoh yang baik terbaik kelak. " Ucap Risma.


Tari menatap wajah sahabatnya


" Bertiga Ris, kita bertiga. " Ralat Tari.


Risma akhirnya tersenyum, terasa bebannya kini sedikit berkurang.


" Gitu dong senyum, jelek tau kalau manyun seperti tadi. " Goda Tari dan keduanya akhirnya bisa tertawa lepas.


Risma keluar dari mobilnya, Ia berdiri di lobby sebuah rumah sakit. Setelah merasa yakin Ia pun melangkah masuk.


Ia mengetuk pintu pelan dan kemudian masuk setelah mendengar suara dari dalam mempersilahkan dirinya masuk.


" Assalamu'alaikum Mas "


" Waalaikum salam "


Ilmi menoleh keasal suara dan dengan mimik bingung Ia menatap Risma yang sesang melangkah pelan ke arahnya.


Risma tersenyum kikuk, Ia malu malu namun tetap berusaha tenang karena sudah kepalang basah.


" A... aku se....sendiri Mas. " Jawabnya terbata bata karena gugup.


" Oh. " Jawaban keluar dari bibir Ilmi.


" Apa Mas sibuk, hm tadi aku kebetulan lewat sini jadi aku mampir dulu. Aku juga belikan makan siang untuk Mas Ilmi, semoga Mas suka. "


Risma meletakkan kotak nasi di meja Ilmi, Ilmi memandanginya dan tersenyum pada Risma.


" Makasih Ris, tapi seharusnya kamu tidak usah repot repot bawakan bekal untuk ku, karena aku bisa beli sendiri di depan kalau aku lapar. "


" Tidak ada yang merasa di repotkan kok Mas, "


Karena melihat Ilmi yang diam akhirnya Risma memilih pamit pulang, Ia khawatir kehadiran nya mengganggu pekerjaan Ilmi.


" Ah ya sudah kalau gitu Mas, Risma pulang dulu ya. Semangat bekerja, jangan lupa makanannya di makan. " Pesan Risma.

__ADS_1


Ilmi mengangkat wajahnya setelah mendengar sahabatnya berpamitan.


" Oh, kok pulang cepat. Apa mau Mas antar. "


Risma tersenyum dan menggeleng cepat.


" Tidak Mas, aku pulang sendiri kan aku bawa mobil. "


Ia melangkah keluar setelah berpamitan pada Dokter tampan itu.


" Semoga Mas Ilmi suka dengan masakan ku " Batinnya berurai senyum merekah di bibirnya.


***


Mbak Yuni heran melihat Tiara membawa alat untuk bersih bersih.


" Neng Tiara, itu mau di bawa kemana. Sapu, pel lantai dan ember. Buat apa Neng. " Tanya Mbak Yuni


Tiara tersenyum


" Ini Mbak, mau bersihkan sarang nyamuk di kamar Mama. Tadi kata Mama banyak nyamuk, kasihan Mama Mbak. Mama pasti kesakitan dan susah untuk tidur. "


Yuni menggeleng pelan, Ia bukan seorang bocah yang tidak mengerti apa apa. Yuni menatap majikan kecilnya dengan tatapan lucu, jadi gadis kecil itu berpikir kalau memang di kamar Ibunya banyak nyamuk dan merah merah yang di lihat nyandi tubuh Ibunya adalah ulah nyamuk nakal.


" Neng, tunggu Mbak Yuni. "


Yuni mengambil semua alat bersih bersih itu dari tangan Tiara.


" Biar Mbak Yuni saja yang bersihkan, Neng Tiara istrahat saja kan capek baru pulang sekolah. "


Tiara menggeleng pelan, Ia harus memastikan kamar Ibunya bersih dan bebas dari nyamuk.


" Kita bersihkan sama sama saja ya Mbak, biar Mama tidurnya nyaman. "


Keduanya gotong royong membersihkan kamar Vania tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Tiara mengibas ngibaskan tangannya setelah semua kamar itu bersih.


" Wah Mbak, kamar Mama sudah sangat bersih. Semoga nyamuknya nggak datang lagi ya. "


Yuni mengangguk dan akhirnya mereka meninggalkan kamar Vania yang sudah rapi di sulap keduanya.

__ADS_1


__ADS_2