
Alvin mengemudi dengan pelan, sesekali Ia menatap wajah Bundanya yang nampak murung. Tidak seceriah ketika berada di rumah sakit.
" Bunda, apa Bunda baik- baik saja. Apa kita balik lagi ke rumah sakit. " Tanya Alvin.
Bu Winda masih diam, hingga membuat Alvin menepikan mobilnya.
" Bunda, apa Alvin ada salah sama Bunda sampai Bunda diamin Alvin seperti ini. "
Bu Winda masih memandang keluar jendela, ada yang ingin Ia ungkapkan tapi takut hal itu akan mengganggu kenyamanan Putranya.
" Bunda, Alvin minta maaf kalau selama ini Alvin jarang meluangkan waktu untuk Bunda. Alvin janji akan mencoba meluangkan waktu Alvin untuk Bunda agar Bunda tidak merasa sendiri. "
" Bunda mau kamu menikah Nak. "
Alvin terkejut mendengar permintaan Bunda nya, permintaan yang sebenarnya masih wajar bagi semua orang tua namun tidak bagi Alvin. Saat ini Ia belum kepikiran menikah, apalagi sejak kegagalannya dulu.
" Bunda..... ! "
" Bunda hanya ingin itu Nak, bukan yang lain. " Potong Bu Winda.
Alvin menghela nafas berat, Ia tidak tau harus bagaimana. Saat ini dirinya memang tidak dekat dengan siapa pun, bagaimana bisa Ia diminta menikah.
" Baiklah Bunda, demi kebahagiaan Bunda Alvin akan menuruti semua kemauan Bunda, tapi Alvin perlu minta waktu. Untuk menikah harus punya calonnya, sedangkan Alvin saat ini tidak dekat dengan siapapun. Gini saja Umi, satu tahun. Alvin minta waktu satu tahun, InsyaAllah Alvin akan membawa calon Istri Alvin pada Bunda. "
Bu Winda tersenyum dalam hati, Ia seperti mendapat angin segar namun Bu Winda tidak ingin janji lagi, seperti yang sudah- sudah.
" Satu tahun, apa kamu ingin Bundamu ini mati dulu baru kamu akan menikah. "
" Bunda, stop jangan ngomong itu. Bunda tau kalau Alvin tidak suka itu. "
Alvin langsung protes pada ucapan Ibunya, Ia paling tidak suka mendengar kata itu keluar dari mulut Ibunya.
" Ya sudah kalau begitu kamu harus secepatnya menikah. "
Alvin akhirnya hanya pasrah, dan menyerahkan semuanya pada sang Bunda.
__ADS_1
...****************...
Alvin berdiri di balkon, Ia mengingat semua yang dikatakan Bunda Winda.
" Ya Allah Bunda, ada- ada saja. "
Alvin benar-benar di buat pusing, menghadapi Bunda nya lebih berat dari pada Ia menghadapi para mafia sekalipun. Bundanya sangat menyeramkan apalagi sudah di ancam, Alvin pasti akan kalang kabut.
Karena pikirannya pusing Ia memilih kembali ke kantor, mungkin disana pikiran nya akan sedikit lebih tenang.
Sesampainya disana nyatanya ucapan Bundanya masih saja terus mengganggunya.
" Hei, kok wajahnya murung begitu. Lagi PMS ya. "
Alvin menoleh ke asal suara yang ternyata itu adalah sekertaris nya.
" Ah kamu ada- ada saja, kamu tidak ada bedanya sama Bunda. "
Vera mengerutkan kening sebelum akhirnya tersenyum setelah menyadari kalau atasannya itu sedang bermasalah dengan Ibunya.
" Masalah Bundamu lagi dan juga pernikahan. "
" Ver, bisa nggak kamu cariin teman mu yang mau pura-pura jadi pacarku. Kamu tidak perlu khawatir, Aku akan memberikannya imbalan yang setimpal dengan pekerjaan nya. "
Vera tertawa kecil dan menarik kursi di depan Alvin untuk Ia tempati.
" Apa ada yang mau pura- pura Vin, dari pada kamu sibuk nyari di luar, lebih baik sama yang ada di depanmu sekarang. Aku juga bersedia menjadi pacar mu. "
Alvin mentap Vera, dan kemudian tertawa kecil.
" Kamu, kamu ini ada- ada saja. "
Vera sedikit kecewa, sebenarnya Ia menginginkan lebih. Jangankan pacar pura-pura, di jadikan Istri pun dia siap lahir dan batin. Tapi sayang nya Ia tidak punya keberanian mengungkapkan perasaan nya, Ia takut Alvin akan merasa tidak nyaman padanya dan berimbas para pekerjaan nya.
" Siapa tau kan, kamu mau. Dari pada kita pusing cari di luar, yang ada mungkin mereka akan mengharap yang lebih, apa kamu mau kalau sampai mereka mengejar- ngejar kamu sementara kamu tidak sama sekali menyukai mereka. "
__ADS_1
Alvin manggut-manggut, benar sih apa yang di katakan Vera namun ada hal lain yang tidak mungkin Alvin lakukan.
...****************...
Tiara hanya memandangi makan siang yang berada di depannya, Ia masih kepikiran dengan sikap Arka. Ia juga merasa bersalah karena bersikap jutek pada bocah kulkas itu.
" Sayang, kok makannya nggak dimakan. Apa kamu sakit Nak. " Tanya Vania ketika melihat Putrinya tak kunjung makan.
Tiara meletakkan sendoknya dan memandang Ibunya.
" Tiara masih kenyang Ma, Tiara kekamar dulu ya, ada tugas sekolah. "
Yuni dan Vania hanya saling pandang melihat kepergian Tiara, Yuni meminta ijin menemui Tiara dan Vania pun mengijinkannya.
Dengan perlahan Yuni melangkah masuk setelah terlebih dulu mengeruk pintu.
" Sayang, ini Ibu Yuni. Boleh Ibu masuk. "
" Masuk saja Bu, pintunya nggak di kunci kok. "
Yuni menghampiri Tiara, Ia terus melebarkan senyumnya.
" Mana soalnya Nak, siapa tau Ibu bisa bantu. "
Tiara tidak langsung menanggapi permintaan Yuni hingga membuat Yuni akhirnya menggunakan inisiatif lain.
" Ada apa Nak, apa ada masalah. Sini cerita sama Ibu. "
Tiara akhirnya menceritakan semua pada Yuni karena Ia mempercayai wanita itu, Yuni mendengarkan dengan seksama sampai selesai sebelum Ia memberi saran.
" Ah mungkin memang benar Nak, karena jam pelajaran akan segera di mulai. Sudah sayang, percaya sama Ibu, besok pasti Arka akan kembali seperti sedia kala. Sekarang Tiara belajar lagi ya, Ibu mau kembali beres- beres. "
Tiara akhirnya bisa tersenyum, Ia mengangguk. Selepas kepergian Yuni, Tiara berharap apa yang di katakan Ibu angkatnya itu benar adanya.
Vania nampak menghubungi seseorang setelah mendengar cerita dari Yuni.
__ADS_1
" Tolonglah Mas, kasihan dia sampai tifak mau makan. "
Vania mengintip Putrinya dari balik pintu, sampai saat ini Ia masih merasa bersalah dengan semua yang terjadi pada Putrinya tak lain adalah buah dari kesalahannya dimasa lalu.