
El menemani Tiara hingga malm hari, Ia baru pulang setelah Putri kecilnya itu tertidur.
El pamit pada Mbak Yuni dan sekalian menitipkan nya pada wanita itu, karena jujur Ia tidak tenang melepas Putrinya meskipun dengan Ibu kandungnya.
" Mana Vania " Batinnya karena tidak melihat keberadaan wanita itu di dalam rumah.
" Ah sudahlah " Gumamnya.
El melangkah keluar menuju mobil miliknya yang terparkir di halaman rumah, ketika akan menghidupkan mesin mobilnya Ia terkejut karena Vania yang sudah ada di dalam mobilnya.
" Kamu.... ngapain kamu disini "
Vania hanya cengengesan, Ia ingin ikut kemana Pria itu pergi.
" Ya ikut kamu dong. " Jawab Vania santai.
El mendengus kesal mendengar jawaban Vania.
" Cepat turun sekarang. "
El yang sudah ada di samping pintu sebelah langsung menarik tangan Vania, agar wanita itu segera keluar dari mobil miliknya.
" Nggak mau El, aku nggak mau turun. "
Vania bersikeras tidak ingin turun, keinginannya malam ini Pria itu membawanya pergi kemana saja asalkan mereka bisa menghabiskan waktu berdua, namun keinginannya tidak terwujud karena El yang menyeret nya turun.
" Kamu kenapa sih Vania, kamu berubah tau nggak. "
Vania tertawa miring mendengar penilaian El padanya.
" Berubah..... Apakah aku tidak salah dengar, bukankah disini kamu yang berubah. Kamu tidak menginginkan kami lagi seperti dulu, waktu mu habis bersama dengan wanita sialan itu dan juga anak nya yang tidak jelas itu. "
El semakin tidak suka ketika mendengar ucapan Vania mengenai anak kandung nya.
" Terserah kamu Vania, aku malas berdebat dengan mu "
El segera melajukan mobilnya ke jalan raya, Ia geleng-geleng kepala mengingat tingkah laku Vania.
Vania yang di tinggalkan begitu saja akhirnya memilih masuk kedalam rumah, Ia menghentak hentakkan kakinya seperti anak kecil.
" Sialan kamu El, kamu buta karena mengabaikan ku. Sok jual mahal, dulu juga nggak cukup malam siang pun kamu meminta jatah dariku " Gerutu Vania kesal.
Susah payah Ia menahan rasa panas yang menggelegar di tubuhnya. Ia meraba raba bagian sensitif miliknya seraya membayangkan hal yang dulu sering mereka lakukan.
__ADS_1
Tiba-tiba ada yang mengetuk dari balik jendela, Vania mendekat dan menyibak sedikit tirai yang menutupi jendela kamar itu.
" Kamu, ngapain kamu masih disini " Tanya Vania
Pria itu menatap Vania penuh arti.
" Buka dong sayang "
Vania bergeming, dalam hati untuk apa dia membuka jendelanya.
" Ayolah sayang, aku tahu kamu sangat menginginkan nya namun Pria bodoh itu malah mengabaikan mu. Aku bisa menggantikan dia menemanimu malam ini " Ucap sang Pria.
Vania menatapnya lekat entah apa yang di lakukan Pria itu hingga Vania seperti tersihir dan akhirnya membuka jendela kamar.
Pria itu langsung melompat masuk dan tanpa menunggu aba aba Ia langsung menghujani Vania dengan ciuman.
Vania awalnya berontak namun lana kelamaan Ia pun menginginkan nya, tanpa di minta pun Vania langsung membalas apa yang di lakukan Pria padanya.
Malam itu entah siapa yang memulainya lebih dulu hingga tanpa mereka sadari keduanya sudah tak menggunakan apapun untuk menutupi tubuh mereka.
Malam panjang saksi keduanya melakukan penyatuan, saling memberi kepuasan hingga keduanya tumbang dengan nafas tersengal sengal.
" Makasih sayang, makasih karena masih mengijinkan ku merasakan rasa bahagia ini "
Tanpa keduanya sadari di balik pintu ada yang mendengar pergumulan mereka, dia adalah Mbak Yuni.
Mbak Yuni penasaran mendengar bunyi tak biasa di kamar majikannya, karena penasaran akhinya Ia menempelkan telinganya di pintu kamar.
" Ah Bu Vania, tapi dengan siapa. Apa dengan Pak El, tapi kayanya tidak mungkin karena Pak El tadi sudah pamit pulang " Gumamnya.
Yuni membayangkan hari hari bahagia yang Ia lalui bersama suami tercintanya.
" Ah Mas Robby, andai kamu masih ada disini kita pasti akan bisa bersenang-senang seperti mereka. Sampai saat ini aku masih belum bisa menemukan pengganti yang seperti mu, semoga kamu tenang di alam sana " Batin Yuni.
Vania terbangun ketika ada cahaya masuk melalui celah celah lubang, Ia terkejut karena ada tangan kokoh yang memeluknya.
Namun Ia tersenyum karena mengira itu adalah El.
" Say..... ka.... kamu. ! Ngapain kamu disini " Vania hampir saja berteriak kalau sampai Pria itu tidak membungkam bibir wanita itu.
" Sttttt..... apa kamu mau orang lain mendengar kita dan kemudian datang kemari. "
Vania melangkah Ia melihat tubuhnya yang tidak tertutup apapun, buru buru Ia mengambil handuk baru di dalam lemarinya.
__ADS_1
" Ngapain kamu masih disini, cepat keluar sekarang "
Vania melipat kedua tangannya di depan dada dan berdiri di samping jendela.
Sang Pria bangun dan mengambil semua pakaian miliknya yang berserakan di lantai sembari mengenakannya satu persatu.
" Buruan keluar " Pinta Vania
Si Pria melangkag ke arah jendela, dan mencuri ciuman pada Vania yang nampak sangat marah.
" Jangan marah marah, nanti cepat tua. Sampai ketemu lagi ya sayang, telpon aku kalau butuh teman "
Vania yang kesal langsung menutup jendela, Ia menghirup nafas lega. Setelah kepergian Pria itu akhirnya Vania memutuskan membersihkan diri.
Betapa terkejutnya ketika melihat kulit putihnya penuh dengan tanda kepemilikan dan sialnya ada dimana mana.
" Sialan kamu Mas, ini gimana caranya aku keluar. Apa yang akan di katakan orang di luar sana "
Setelah selesai mandi dan ganti baju akhirnya Vania keluar dari kamarnya, Ia menuju meja makan karena perutnya sudah keroncongan.
" Hallo Ma " Sapa Tiara yang ternyata sudah ada di meja makan dengan seragam sudah menempel di tubuhnya.
Vania hanya tersenyum dan menarik kursi untuk Ia duduki. Mbak Yuni segera mempersiapkan sarapan untuk majikannya.
Mata Mbak Yuni melotot melihat banyaknya tanda merah di leher majikannya dan ternyata Tiara pun melihatnya.
" Mama, apa Mama baik baik saja " Tanya Tiara sedikit cemas.
Vania mengerutkan keningnya bingung.
" Maksud Tiara apa, tentu saja Mama baik baik saja. Kamu ini aneh deh "
Tiara menatap Mbak Yuni, Ia bingung melihat penampilan Ibunya yang tidak biasa.
" Kenapa kalian melihat Mama seperti itu, apa ada yang salah " Tanya Vania lagi.
Tiara akhirnya menanyakan apa yang membuatnya bingung.
" Itu ada banyak tanda merah di leher dan dada Mama, apa Mama sakit "
Vania yang baru menyadari kebodohannya akhirnya mencari alasan yang cocok untuk Putrinya itu, tidak mungkin kalau Ia bicara jujur tentang apa yang terjadi.
" Ah ini Nak, semalam banyak nyamuk dan semua gigitin Mama makanya merah merah begini. "
__ADS_1
Tiara mengangguk pelan dengan mulut membentuk huruf O.