
Ilmi berlari kecil agar secepatnya tiba di ruangannya, hari ini Ia berharap menemukan sesuatu di meja kerjanya namun ternyata Ia kecewa.
Sudah tiga hari ini Ia tidak mendapat perhatian dari seseorang yang selama ini coba Ia hindari, ternyata rasanya ada yang hilang.
" Sus, apa Dokter Risma kemari hari ini. " Tanya Ilmi ketika Ia keluar dari ruangannya untuk menemui Suster yang biasa Ia mintai tolong.
Suster cantik itu menatap Ilmi dengan tatapan aneh, tumben Dokter tampan itu pagi- pagi menanyakan orang lain.
" Maksudnya apa Dok, Dokter siapa. " Tanyanya lagi.
Ilmi menggaruk- garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia lupa kalau Risma tidak bekerja di rumah sakit itu, jadi kalau Ia memakai embel-embel tentu tidak akan ada yang tau.
" Oh, itu Sus. Gadis yang sering kemari itu, sudah tiga hari ini Ia tidak kemari lagi. "
Suster hanya menatapnya dengan tatapan tak menentu, ada rasa ingin marah karena keegoisan Pria yang berada di depannya itu namun juga Ia kasihan.
" Oh Dia, tumben Dokter menanyakannya. Biasanya juga Dokter tidak peduli padanya. "
Ilmi baru sadar kalau apa yang dilakukannya saat ini hanya mempermalukan dirinya sendiri.
" Ah.... bukan begitu, siapa juga yang peduli padanya. Aku hanya menanyakan nya saja sebagai sesama manusia, apa itu tidak boleh. "
Meskipun penasaran tapi rasa gengsinya mengalahkan segalanya.
" Oh gitu ya, alhamdulillah Dok kalau Dokter tidak menyimpan perasaan padanya. Sebab kalau itu bena terjadi, sepertinya Dokter sudah terlambat. Dan untuk meraih hatinya untuk saat ini, sepertinya Dokter harus sedikit berjuang lebih. "
Mendengar itu Ilmi memutuskan pergi, berbicara pada wanita itu bisa- bisa bikin jantungnya kurang sehat, karena wanita itu seakan bisa membaca pikirannya.
" Ah kamu ngomong apa sih, lama-lama makin ngawur saja. "
__ADS_1
Suster menatap kepergian Ilmi dengan gelengan kepala.
" Benar kata Bang Haji, kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadiran nya sungguh berharga. " Batinnya.
Di tempat berbeda Arka menutup pintu rapat- rapa, Ia bahkan tidak mendengar ketukan pintu dari luar karena sedang larut dengan pikiran nya sendiri. Ia kembali mengingat apa yang dikatakan Tiara, berulang kali terdengar helaan nafasnya.
Sore hari Ilmi menunggu kedatangan seseorang di sebuah caffe, berulang kali Ia melirik jam di tangannya namun yang di tunggu belum datang juga.
Akhirnya setelah lama menunggu dari jauh nampak seseorang melambaikan tangan kearahnya.
" Hai, maaf aku terlambat. Hmmm, ada sesuatu dirumah jadi agak terlambat tiba disini. "
Ilmi tersenyum dan menarik kursi untuk Tari, wanita yang sampai saat ini masih mengisi hatinya.
" Tidak apa- apa, terus bagaimana masalah nya di rumah, apa sudah selesai. "
Tari tersenyum, masalah yang Ia hadapi saat ini tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Tari tidak bisa berlama- lama karena tidak ingin meninggalkan putranya dirumah dengan setumpuk masalah yang Ia hadapi.
" Ah bukan apa- apa, aku hanya ingin bertemu dengan mu, mengetahui bagaimana kabarmu sekarang. "
Tari tersenyum melihat perhatian gokil Ilmi
" Aku baik- baik saja begitu juga dengan Arka, Mas Ilmi nggak usah khawatir begitu. "
Keduanya sama-sama tertawa kecil dalam Versi yang berbeda.
" Oh ya Ri, bagaimana kabar sahabat kita yang satu itu. Aku tidak melihatnya beberapa hari ini. "
__ADS_1
Tari menatap sahabatnya aneh, Ia tidak percaya dengan pernyataan Ilmi.
" Masa sih Mas, apa Risma tidak menemuimu sebelum berangkat. " Tanya Tari.
Ilmi menggeleng berulang kali dengan wajah di buat sedemikian rupa, seakan Ia tidak tau mengenai kepergian Risma.
" Apa maksudmu Ri, berangkat. Siapa yang berangkat, dan berangkat kemana. " Tanya Ilmi.
" Risma Mas, Dia sudah pindah. Sudah tiga hari yang lalu, tapi..... bukannya sebelum berangkat dia ijin padaku menemuimu. Masa iya sih Risma tidak pamit padamu. "
Mereka berpamitan setelah menikmati minuman favorit mereka. Ilmi menghela nafas berat, Ia seakan tidak percaya kalau Risma benar-benar meninggalkan nya.
" Kamu kemana Ris, apa sebegitu bencinya kamu sama aku sehingga kamu melarang Tari mengatakan alamat mu sekarang. " Gumam Ilmi sembari mengemudi roda empat nya.
Memang benar apa yang di katakan Bang Haji Oma, sesuatu akan terasa berarti ketika kita kehilangannya.
" Tapi, ada apa denganku. Kenapa aku segelisah ini, ah mungkin karena Dia selalu memperhatikan aku dan sekarang tidak ada yang melakukan itu padaku. " Gumam Ilmi.
Di rumah sakit, Kevin berangsur pulih. Ia ingin sekali bertemu Putrinya dan menjelaskan semua yang terjadi. Meskipun Ia ragu, apa Tiara akan mau menerimanya setelah Ia jujur tentang hubungannya dengan Vania, dan bagaimana Ia sampai terlahir di dunia ini.
" Ma, apa Tiara belum datang hari ini. " Tanya Kevin pada Aini yang sedang merapikan semua barang Kevin yang akan di bawa pulang.
" Belum Nak, Tiara kan sekolah, nanti saja minta datang kerumah. Lagipula tidak baik anak- anak berada di rumah sakit. "
Tiba-tiba dari balik pintu terdengar kegaduahan
" Papa......... !. " Panggil Tiara dengan wajah sumringah.
Kevin langsung meminta Tiara memeluknya
__ADS_1
" Makasih sayang sudah jenguk Papa hari ini, gimana sekolahnya tadi Nak. "
Aini dan juga Vania senyum- senyum melihat interaksi keduanya.