Super MOM

Super MOM
Tidak layak di panggil Ibu


__ADS_3

Tari yang baru pulang dari dinas berencana untuk ke supermarket terdekat, karena banyak stok belanja bulanan yang habis. Setelah mandi dan juga makan Ia pamit keluar, biasanya Ia bersama Maira namun kali ini Ia memilih pergi sendiri.


Ia melangkah menuju parkiran, pada saat hendak memanggil Pak Ardi, Tari mendengar Pak Ardi berbicara dengan seseorang.


" Pak Ardi " Panggil Tari


Ardi yang di panggil segera menampakkan batang hidungnya.


" Pak Ardi ngomong sama siapa " Tanya Tari yang tidak bisa melihat siapa yang sedang berbicara dengan supir pribadinya itu karena terhalang tembok.


Tari terkejut ketika melangkah keluar dan melihat siapa yang ada disana.


" Tari.... jadi benar kamu disini, dari mana saja ha~ selama ini. "


Dia adalah Sarah, Sarah amalia Ibu kandung Tari. Wanita itu menatap rumah mewah yang berdiri kokoh di depan matanya.


" Jadi kamu sekarang sudah sukses, tapi dapat duit dari mana kamu bisa dapat ini semua, pasti hasil menjal diri ya " Ucap Sarah dengan tatapan sinis pada putrinya.


Tari menghela nafas berat, Ia ternyata tidak berubah, masih sama seperti dulu.


" Ibu, kapan Ibu kemari dan dari mana Ibu tahu kalau aku ada disini "


Meskipun kecewa dan juga marah namun Tari berusaha bersikap baik pada wanita yang sudah membawanya melihat dunia ini.


" Tidak perlu kamu tahu dari mana Ibu mengetahui kabarmu, yang pasti sekarang cepat ikut Ibu. Kamu jangan bikin malu Ibu dengan bekerja tidak baik disini "


Sarah tersenyum penuh kemenangan, akhirnya Ia menemukan Putrinya. Bukan Putri sih melainkan alat untuk mencetak uang.


Sarah menarik tangan Tari namun Tari mencoba menolaknya.


" Bu.... tolong lepaskan aku. " Tanpa sadar Tari berbicara sedikit keras dan hal itu membuat Sarah naik pitam.


Tak terima dengan perbuatan anaknya yang bersuara keras padanya membuat Sarah mulai kehilangan kendali.


" Anak tidak tau di untung, masih syukur aku membawamu pulang jadi kamu tidak merasa sendiri lagi disini " Ujar Sarah makin menjadi jadi.


Sarah benar-benar sudah tertutup pintu hatinya dan memandang apa yang ada pada Tari semua salah.


" Aku tidak ingin pulang, Ibu lepaskan aku " Tari mencoba melepaskan diri namun tangan Ibunya begitu kuat memegang tangannya.

__ADS_1


Plakkkk. !


Sebuah tamparan mendarat ke wajah Tari dari wanita yang mengaku adalah Ibu kandungnya sendiri.


Bertepatan itu terdengar sebuah suara keras


" Cukup ! jangan pukuli Putriku "


Maudy yang baru pulang dari jauh melihat ada seorang wanita yang menarik paksa Putrinya, Ia bergegas keluar, tapi hatinya sakit ketika melihat seseorang itu telah menampar wajah Putrinya dengan sangat keras.


Sarah menoleh dengan tangan tetap menggenggam erat tangan Tari, seakan tidak ingin lepas.


" Putri .... ! Memangnya kamu siapa, seenaknya saja memanggilnya Putri. Namanya adalah Lestari bukan Putri "


Maudy yang memang begitu menyayangi Tari segera berlari mendekat ke arah Tari dan meminta Sarah melepaskan genggaman tangannya.


" Dia memang Putri saya, anak saya. Lalu siapa Anda berani menyentuh nya dengan kasar "


Maudy menyentuh wajah Tari yang nampak memerah akibat ulah Ibunya.


" Sayang, kamu tidak apa apa Nak "


" Tari tidak apa apa Ma " Jawab Tari.


Sarah nampak bingung dengan situasi saat ini.


" Anda belum jawab, siapa Anda sebenarnya. Kenapa Anda main masuk ke rumah saya tanpa ijin dan melakukan kekerasan kepada anak saya "


Sarah mendengus kesal melihat drama tepat di depan wajahnya.


" Cepat ikut Ibu, jangan banyak drama. Ibu tidak akan memaafkan mu. Jangan mentang mentang kamu sudah bisa beli rumah kecil ini lalu Ibu tidak bisa menyeret mu pergi "


Maudy yang belum mengerti situasi sekarang ini sama menatap nya bingung.


" Cukup Bu, Anda siapa. Kenapa Anda menarik Putri saya di depan mata saya sendiri "


Keduanya berebut Tari, namun Maudy tidak ikut ikutan menarik tangan Tari karena Ia tahu itu akan mengakibatkan rasa sakit pada Putrinya.


Terdengar tawa dari Sarah, Ia menertawakan ucapan Maudy yang mengakui Tari sebagai Putrinya.

__ADS_1


" Hey Ibu, dia ini adalah Putriku


Kayla Lestari. Sejak kapan dia menjadi anak Anda "


Maudy akhirnya mengerti apa yang terjadi saat ini, kini giliran Maudy yang tertawa kecil.


" Oh jadi Anda adalah Ibunya Putri ku, hmm menyedihkan sekali. Anda masih berani menyebutnya Putri setelah semua yang sudah Anda lakukan padanya. "


Maudy memperhatikan penampilan wanita di depannya, memang nampak modis dan berkelas tapi tetap saja Ia tidak respek.


" Ibu hahaha..... Ibu macam apa Anda ini, tega menyiksa anak sendiri setiap hari dan menjual Putri Anda pada pria hidung belang, agar tetap bisa eksis. Ibu macam apa yang tidak bisa melindungi anaknya bahkan saat anaknya terpuruk karena ulahnya sendiri dan menyuruh anaknya membunuh bayi tidak berdosa yang hadir karena ulahnya juga "


Sarah terkejut mendengar ucapan Maudy, Ia melotot tajam pada Tari yang sudah menceritakan semuanya pada orang lain.


" Siapa Anda, berani beraninya Anda menilai saya buruk. Saya tetap Ibunya dan sampai kapan pun tetap jadi Ibunya. Jika Anda berani menghalangi saya maka saya tidak akan berpikir dua kali untuk membawa ke jalur hukum. Saya akan bilang kalau selama ini Anda yang sudah menculik Anak saya dan sudah mencuci otaknya "


Setelah melihat bagaimana Ibu dari anak angkatnya itu bertingkah, Maudy semakin yakin untuk mempertahankan Putrinya dan juga cucu kesayangan nya agar tetap bersamanya.


" Ibu... rasanya terdengar seperti lucu sekali. Anda bahkan tidak layak untuk di sebut Ibu. Asal Anda tahu, saya adalah Mamanya. Menjadi seorang Mama tidak harus melahirkan, cukup Anda punya rasa kasih sayang yang tulus maka Anda akan layak di sebut Ibu. Semenjak Anda ingin membunuh janin dari rahimnya sejak saat itu Anda tidak pantas untuk jadi seorang Ibu, dan juga saya bisa saja melaporkan Anda balik. Saya rasa disini kita bisa sama sama tahu siapa yang bersalah dan siapa yang akan menjadi penghuni jeruji besi "


Maudy sama sekali tidak gentar, jika wanita di depannya itu tetap membawa perkara ini ke meja hijau maka Ia yakin akan keluar menjadi pemenang.


Sementara Sarah semakin di buat tidak suka ketika mendengar perkataan Maudy.


" Bagaimana apa masih mau di lanjut, biar saya permudah semuanya "


Maudy merogoh ponsel di dalam tas kecilnya dan pura pura menghubungi petugas kepolisian.


" Iya Pak, saya Maudy ingin melaporkan sebuah kriminal. Tolong cepat datang ke alamat ini segera, jalan Cahaya rt 3 nomor 17 Pak. Di tunggu secepatnya "


Sarah yang mulai ketakutan segera memilih tidak ribut.


" Baiklah baik, cepat suruh mereka untuk tidak kemari. "


Akhirnya Sarah mulai melunak, meskipun masih kelihatan kalau gengsinya masih sangat besar.


" Tolong beri saya waktu untuk bicara dengannya "


Maudy sebenarnya enggan menyetujui karena takut wanita itu akan berbuat ulah dan menyakiti Tari namun kemudian Ia pun mengiyakan karena Tari sendiri yang memintanya.

__ADS_1


__ADS_2