
Alvin memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, sejak tadi Ia gelisah. Tangannya mengetuk- ngetuk setiran pelan, berulang kali Ia melihat keluar jendela menunggu seseorang.
" Dok, Dokter.... Dokter Risma. " Panggil Alvin ketika melihat Risma sudah ingin membuka pintu mobilnya.
Risma menoleh Ia mencari siapa yang tadi memanggil namanya. Ternyata itu adalah Pak Alvin, putra dari pasien yang selalu menjadi langganan nya.
" Pak Alvin. "
" Iya Dok, maaf mengganggu. "
Risma tersenyum, seraya menggeleng beberapa kali.
" Tidak apa- apa, memangnya ada apa ya. " Tanya Risma
Alvin nampak gugup, Ia bingung sekaligus grogi.
" A...
Risma mengerutkan keningnya karena menunggu apa yang ingin di utarakan oleh Pria tampan di depannya itu.
" Ah ini Dok, apa Dokter punya waktu luang. Saya hanya ingin membicarakan sesuatu dengan Dokter. "
Alvin menunggu jawaban Risma, hingga Ia melihat anggukan pelan dari Dokter cantik itu.
" Ah boleh ya, baiklah terima kasih. Hm... bagaimana kalau kita cari tempat lain yang nyaman untuk bicara, emm maksud saya misalnya di caffe atau resto, atau apa Dokter punya tempat sendiri yang nyaman. "
" Iya Pak, di dekat sini ada caffe yang nyaman, kita bisa bicara disana saja. "
Alvin langsung setuju dan sedikit berlari kecil ke arah mobilnya.
" Dokter duluan saja, nanti saya ngikutin di belakang. "
Risma mengangguk dan mengemudikan mobilnya ke caffe yang kebetulan tidak jauh dari tempat itu.
Setelah tiba Risma pun turun begitu juga dengan Alvin, Risma mengajak Pria itu kesebuah tempat yang menjadi paforitnya.
" Mari Pak, kalau tidak keberatan kita bisa duduk disana. "
Alvin mengangguk, Ia mengekor di belakang Risma. Mereka duduk berseberangan, terlihat kalau Risma bersikap santai namun tidak dengan Alvin.
" Maaf Dok, sebenarnya saya......
" Tidak apa- apa Pak, katakan saja ada apa ya. Mungkin saya bisa bantu kalau saya bisa. "
Senyum dan juga keramahan Risma sedikit membuat Alvin merasa nyaman.
" Ah gini, sebenarnya ini soal Bunda. Gimana ya caranya saya mengatakan semuanya, saya takut Dokter bingung dan salah faham. "
Risma tersenyum, Ia merasa Pria di depannya sangat lucu.
" Katakan saja Pak, InsyaAllah saya tidak akan kenapa- kenapa. "
__ADS_1
Dengan susah payah akhirnya Alvin mengatakan tentang niatnya.
" Gini, saya kan anak satu- satunya buat Bunda, cowok lagi. Bunda sangat ingin makan masakan dari seorang wanita, ah maksudnya seperti seorang anak perempuan. Kemarin saya coba minta pegawai di kantor, tapi ternyata malah buat Bunda masuk rumah sakit. "
Risma mengingat kejadian kemarin, sekarang Ia tau apa penyebab penyakit pasiennya.
" Jadi maksudnya Pak Alvin gimana. "
Melihat tatapan Risma malah membuat Alvin grogi, tangannya juga sudah basah.
" Sebelumnya saya minta maaf, mungkin ini sedikit terdengar konyol atau ekstrim gitu. Tapi saya hanya ingin membahagiakan Bunda saya, saya akan bayar Dokter berapa pun yang Dokter mau, asal Dokter bersedia menemani atau membuat masakan buat Bunda saya. Setidaknya sekali saja Bunda bisa merasakan punya anak perempuan, sekiranya Dokter berkenan. "
Risma terkejut, Ia bingung harus bagaimana menanggapi permintaan langsung Pria di depannya. Sementara Alvin menunggu dengan harap- harap cemas.
" Oh, maafkan saya. Kalau Dokter tidak bisa, tidak apa- apa. Saya akan.....
" Bukan gitu Pak, saya hanya berpikir apa saya bisa masak sesuai selera Bu Winda. Baiklah, mungkin besok wekend saya akan kesana. "
Risma bukan tanpa alasan menerima tawaran Alvin, Ia mengingat Ibunya dulu. Sampai saat ini Risma sangat menyesal karena belum sempat membahagiakan Ibunya itu.
Alvin menarik nafas panjang dan menghembuskan nya kembali, Ia bahagia karena akhirnya Risma menyetujuinya.
" Biar saya yang bayar. "
Risma ingin melunasi minuman yang mereka pesan, namun Alvin sudah lebih dulu.
" Ah seharusnya biar saya saja. "
" Tidak apa- apa Dok, tadi kan saya yang ajak. "
****
Pagi hari Risma sudah rapi dengan pakaian sederhana, namun karna memang aslinya sudah canti ya tetap akan terlihat indah.
Alvin terpukau melihat penampilan wanita cantik di depannya, meninggalkan semua pernak-pernik kedokteran yang setiap hari mengintil di tubuh nya kini Ia nampak terlihat cantik meski dengan pakaian sederhana.
" Hallo Pak, heiii hallo, Pak. Apa ada masalah dengan penampilan saya, apa saya ganti pakaian dulu. "
Risma mengecek pakaian yang Ia kenakan, rasanya tidak ada yang salah.
" Ah tidak Dok, tidak. Begini saja sudah cantik. "
Alvin yang gugup malah tidak sadar telah memuji kecantikan Risma.
" Cantik. " Gumam Risma dengan dahi berkerut.
Alvin merutuki kebodohannya, bisa- bisanya Ia memuji seseorang yang belum lama Ia kenal.
" Ah itu, itu...... maksud saya Bunda pingin makan daging itik gitu. Dari tadi saya menghalalkan namanya, tapi tentu di Jakarta ini sangat sulit mencari tempat penyembelihan itik. "
Risma manggut-manggut, Ia juga tidak tau dimana ada yang menjual hewan itu, karena Risma adalah orang baru disana.
__ADS_1
" Ya sudah, gimana kalau sekarang kita berangkat saja. Pakai mobil saya saja Dok, nanti saya antar pulang lagi. "
Mobil melaju dengan kecepatan normal, ternyata jarak antara keduanya tidak terlalu jauh. Hanya lima belas menit mereka sudah tiba di kediaman Alvin.
" Mari silahkan masuk Dok. "
" Makasih. " Jawab Risma sedikit mengangguk.
" Assalamu'alaikum Bun. " Seperti biasa Alvin selalu ceria ketika pulang kerumah.
" Waalaikum salam Nak, sudah pulang ya, kok cepat sekali. Apa acaranya sudah selesai. " Tanya Bu Winda.
Alvin memang pamit pada Bundanya, mau kerumah temannya.
" Ah itu Bun, ada tamu yang mau mengunjungi Bunda. "
Bu Winda menoleh kearah pintu, Ia terkejut melihat kehadiran Risma.
" Assalamu'alaikum Bu, gimana kondisinya sekarang. "
Senyum mengembangkan sempurna di wajah Bu Winda, bagaimana tidak. Ini rasanya seperti mimpi, Kedatangan orang yang di harapkan selama beberapa hari ini.
" Waalaikum salam Dok, wah ini spesial. Saya tidak menyangka bisa di kunjungi oleh Bu Dokter. "
Risma menatap sekilas pada Alvin, namun kemudian Ia tersenyum kembali.
" Ia Bu, kebetulan saya hari ini free jadi sekalian mampir di rumah Ibu. Buat mengecek keadaan Ibu. "
Bu Winda begitu bahagia, bahkan kehadiran Alvin disana seperti tidak nampak olehnya.
Hari itu mereka membahas banyak hal, sedangkan Alvin hanya jadi penonton yang tak di anggap.
" Oh ya Dok.... eh maksudnya Nak Risma. Maaf ya, Ibu belum pesan makanan. Ibu lupa kalau tadi asisten rumah tangga pada ijin pulang, kamu pasti lapar. "
Bu Winda mencari keberadaan Putranya
" Alvin, Nak Alvin. Kemari sebentar. "
Alvin yang tadi ke toilet segera keluar mendengar suara Bundanya.
" Kamu pesan makan siang dong, ini Nak Risma pasti lapar. "
Risma tersenyum, Ia melambai-lambaikan tangannya, menolak apa yang di perintahkan Bu Winda.
" Tidak perlu Bu, kalau berkenan bisakah saya yang memasak buat Ibu. Hmm.... memang sih masakan saya tidak seenak restoran, tapi InsyaAllah tidak mengecewakan. "
Dengan senang hati Bu Winda menyetujuinya.
" Benarkah, apa Nak Risma mau repot- repot membuatkan makan siang untuk kita. "
Risma menggeleng, soal masak memasak mah memang hobinya.
" Tidak apa - apa Bu, InsyaAllah saya tidak repot. "
__ADS_1
Bu Winda menunjukkan isi kulkas, disana banyak bahan- bahan masakan yang bisa di jadikan buat menu makan siang.