
Alvin terus membuntuti kemana perginya Dokter Risma hingga membuat Dokter cantik itu risih, akhirnya gadis cantik itu pun kembali keruangan nya.
" Soal yang di Surabaya lupakan saja, jangan di anggap serius. " Ucap Risma memulai percakapan.
Alvin menggeleng pelan, kali ini Ia harus berusaha semaksimal mungkin.
" Maaf Risma, tapi aku tidak bisa semudah itu untuk melupakannya. Lebih tepatnya aku tidak ingin melupakannya. Ris, mungkin kamu bercanda ketika kamu mengatakan kalau aku adalah teman dekatmu namun tidak dengan ku. Aku sudah cukup dewasa dan mampu mempertanggung jawabkan ucapan ku, aku serius ingin menjadikan mu kekasih ku. Kalau kamu berkenan bukan hanya kekasih namun aku ingin menjadikan mu sebagai teman hidupku, berbagi suka dan duka bersama. "
Risma tertegun mendengar kejujuran Alvin, Ia mencoba menepis nya dengan tertawa dan duduk di kursi kebesaran nya sembari membuka laptopnya.
" Jangan bercanda, ini tidak lucu. Semuanya sudah selesai dan aku berterima kasih padamu karena sudah membantuku. "
Lagi-lagi Alvin mencoba meyakinkan Risma kalau dirinya serius dengan apa yang Ia katakan.
" Apa kamu pikir tampang ku ini tampang sedang bercanda, apa kamu pikir aku ini anak kemarin sore yang ingin menjadikan sebuah hubungan dan juga hati wanita sebagai bahan bercandaan. "
Risma menutup kembali laptopnya dan mencoba duduk dengan benar, tiba-tiba Ia merasa gelisah dan tidak berani melihat wajah Alvin secara langsung.
" Risma, aku serius ingin menjadikan mu bagian dari hidupku. Mungkin saat ini kamu belum bisa menjawabnya, aku mengerti. Aku akan menunggu jawaban mu kapan pun kamu bisa, tapi....
Risma deg- degan menunggu apa yang akan di katakan oleh Alvin selanjutnya.
" Tapi apa. " Tanya Risma pelan.
" Tapi aku berharap kamu menerimanya, karena aku juga tidak ingin menerima penolakan darimu. "
Risma terdiam, Ia bingung harus memberi jawaban apa. Alvin akhirnya memilih pulang karena Ia tidak ingin mengganggu jam kerja calon Istrinya.
Ia melangkah keluar setelah berpamitan, namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara Risma.
" Bagaimana dengan Bunda Winda. " Tanya Risma langsung menunduk malu.
Alvin tersenyum, Ia merasa bahagia ketika mendengar Risma memanggil Bundanya dengan panggilan Bunda sama sepertinya.
" Bunda juga sama, beliau menunggu kedatangan mu kerumah kita sebagai seorang menantu perempuan. " Jawab Alvin dan Risma hanya bereaksi Ooh sebagai jawaban.
__ADS_1
" Ya sudah kalau begitu, aku pamit. Assalamu'alaikum. "
Risma langsung menghela nafas panjang dan menghempaskan bokongnya di kursi kebesaran nya, Ia mengelus dadanya pelan.
***
Bu Winda sedang duduk di kursi goyang sambil memejamkan mata, samar- samar Ia mendengar suara Putra kesayangannya mengucap salam.
" Assalamu'alaikum Bunda. "
" Waalaikum salam Nak, sudah pulang. " Bu Winda menjawab tanpa membuka mata.
Alvin hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Bundanya.
" Nak, sini. " Panggil Bu Winda masih dengan memejamkan mata.
Alvin mendekat sambil mencium punggung tangan Bundanya.
" Bagaimana Nak, kapan kamu akan membawanya kemari. Jangan bilang kalau kamu belum mengatakan perasaan mu padanya, apa perlu Bunda yang bantu bicara padanya. "
" Tidak perlu Bunda, karena Alvin sudah mengatakannya semua padanya. Alvin juga sudah mengatakan kalau Alvin tidak ingin pacaran namun ingin menjadikannya pendamping hidup Alvin. " Bu Winda mengangguk- angguk mendengar ucapan Alvin.
" Terus apa jawabannya, pasti dia menolaknya kan. Sudah Bunda duga, sudahlah, Bunda ingin bersantai lagi. "
Jelas terlihat raut kesedihan kekecewaan di wajah wanita berumur lima puluh tahun itu.
" Bunda jangan pesimis dulu, dia juga belum kasih jawaban apapun. Kenapa Bunda tidak tanya langsung saja pada orangnya. "
Mendengar itu Bu Winda terkejut, Ia memandang kearah luar namun tidak ada siapa pun disana.
" Apa, apa dia ada disini Nak. Dimana, Dok...... Dokter......." Panggil Bu Winda.
Merasa tidak ada jawaban, Bu Winda kembali memejamkan mata. Hari ini sebenarnya Ia tidak enak badan.
" Bunda ingin istrahat Nak, jangan ganggu dulu. Kalau mau makan minta Bibi buat siapkan, coba kalau Dokter cantik mau jadi Istrimu, Bunda yakin dia akan mengurusmu dengan baik. "
__ADS_1
" Aku mau kok Bunda. "
Bu Winda langsung membuka mata dan mencari dimana asal suara yang begitu sangat di kenalinya itu, senyumnya menyinggung sempurna bak matahari terbit.
" Nak Risma, kamu disini Nak. Dan tadi, apa itu benar. " Tanya Bu Winda seraya meraih tangan Dokter Risma.
Risma jongkok di depan Bu Winda, Ia tersenyum dan mengangguk.
" Iya Bun, Risma bersedia. " Jawab Risma tanpa keraguan di hatinya.
Bu Winda yang sangat bahagia langsung memeluk tubuh menantu yang Ia idam- idamkan selama ini.
" Ya Allah Nak, ini adalah hadiah terindah yang pernah kamu berikan sayang. Bunda benar-benar bahagia hari ini, terima kasih Nak makasih. "
Bu Winda memeluk Alvin dan juga Risma bersamaan, ketiga nya nampak begitu bahagia.
" Kita akan mengurus semuanya secepatnya, jangan sampai ada yang kurang, pokoknya semua harus sempurna. " Ucap Bu Winda penuh semangat.
Alvin mengelus perutnya yang mulai keroncongan, karena sang Bunda melupakan kalau Putranya saat ini sedang kelaparan.
" Bunda, kita akan mengurusnya nanti tapi saat ini... ! " Risma menunjuk Alvin yang sejak tadi nampak mengelus perutnya.
" Lah kamu kenapa Nak, lagi sakit. Buruan minum obat, Bunda nggak mau sakitmu malah menganggu rencana kalian. "
Alvin menepuk jidatnya pelan, sudah mulai ada hilal nih. Istilah mertua lebih sayang menantu dari pada anak sendiri.
" Bunda, Alvin bukannya sakit tapi Alvin lapar. Bukan hanya Alvin yang lapar tapi juga menantu Bunda tuh, tadi belum sempat makan di luar. " Ucap Alvin.
Bu Winda langsung berdiri dan menggandeng Risma menuju meja makan setelah mendengar menantunya belum makan sama sekali.
" Ah maaf sayang, saking bahagianya Bunda sampai lupa kalau ini memang sudah jamnya makan siang. Maafkan Bunda ya, tapi tadi Bunda sudah masak lodeh. Semoga saja rasanya sama seperti yang kamu masak dulu, soalnya Bunda ikutin semua resep yang kamu ajarkan. "
Risma bersyukur karena ternyata Bundanya Alvin benar-benar menerimanya dengan baik. Sebelum kerumah itu Ia sempat ragu akan di terima seperti saat ini.
Mereka menikmati makan siang dengan penuh perasaan bahagia.
__ADS_1