Super MOM

Super MOM
Rumah buat Tiara dan Vania


__ADS_3

Vania semakin nempel pada Aini, Ia ingin memberitahu Tari siapa Dia sebenarnya dan bahwa statusnya lebih tinggi bahkan membuat Tari panas tapi sayangnya Ia salah faham. Tari bahkan nampak santai saja tidak peduli dengan apa pun yang Ia lakukan.


" Tari, bagaimana pekerjaan mu di rumah sakit Nak, apa semuanya lancar sayang atau apa El menyusahkan mu "


Aini yang sedari tadi di pepet oleh Vania tiba-tiba merasa risih, Ia menjadi serba salah.


" Ah tidak kok Tante, semunya lancar tidak ada masalah sama sekali " Jawab Tari


Vania yang melihat interaksi keduanya semakin menyimpan amarah yang besar pada Tari.


" Syukurlah kalau begitu Nak, Oh ya El... di rumah sakit kan banyak Dokter Dokter lain yang juga berkompeten dalam bidang Obgyn, tolong kamu jangan terlalu membebani Tari dengan padatnya shift. Kasihan Dia, bukankah Dia juga harus membagi waktu dengan Cucu Mama. "


El tersenyum, Ibunya bahkan sudah menganggap kalau Arka adalah cucunya sendiri. Bagaimana kalau Ibunya itu tahu kalau Arka memang benar adalah cucu kandungnya yang hadir dari kesalahan anak nya sendiri, apakah senyum itu akan tetap ada dan apakah Ibunya itu akan tetap menerima Arka atau malah membencinya.


Berbagai macam pemikiran berkecamuk di benak El membuatnya merasa ketakutan.


" Iya Ma, nanti El atur lagi " Jawab El


Ia tidak ingin membuat acara keluarga menjadi kacau hanya karena Ia salah menjawab.


" Sayang, aku sudah dua hari disini tapi kita belum jalan jalan berdua, malam ini kita dinner ya "


Tari duduk di samping El, Ia tidak segan segan bergelayut manja di lengan El. Sebenarnya hal itu sengaja Ia lakukan untuk membuat Tari merasa tidak nyaman namun lagi lagi Tari malah tidak peduli, Ia malah asyik berbincang dengan Maudy dan juga Aini.


" Jaga sopan santun mu Vani, ini di rumah Tante dan disana juga ada Mama apa kamu tidak merasa malu "


Bukannya berhenti Vania malah semakin menjadi jadi.


" Aku sih nggak malu sayang, kalau kamu malu kita bisa pergi dari sini. Sayang, carikan kami apartemen dong. Aku tidak ingin tinggal disini, bukan hanya buatku kan tapi ini untuk anak mu juga, anak kita. Lagi pula sayang, kalau disini aku tidak bisa bebas berdua sama kamu. Aku kan merindukan mu, apa kamu tidak merindukan ku "


Entah mengapa El merasa risih dengan apa yang di lakukan Vania kali ini, tidak seperti dulu ketika mereka bertemu, El selalu meladeni apa yang wanita itu inginkan.


" Baiklah, nanti sore kamu pindah dari sini kita akan cari tempat yang cocok untukmu "


El akhirnya menuruti kemauan Vania, mungkin ini yang terbaik agar wanita itu tidak selalu ada di rumah itu.


" Eh, aku lupa sayang. Bukannya kamu tinggal di apartemen, kenapa kami tidak ikut tinggal dengan mu saja "


Vania langsung sumringah membayangkan dirinya tinggal bersama dengan El dalam satu rumah seperti yang mereka lakukan ketika berada di negara A.


" Jaga ucapan mu Vani, kita bukan siapa-siapa bagaimana bisa kamu tinggal di tempatku "


El langsung menolak keinginan Vania yang sontak membuat wanita itu cemberut.


" Bukan kah sebentar lagi kita akan menikah, kita akan jadi suami istri. Lalu apa salahnya kalau kita tinggal serumah, toh tidak akan ada yang larang. Apa bedanya sekarang atau nanti, mau ya sayang "

__ADS_1


El menepis tangan Vania karena mulai merasa tidak nyaman.


***


Akhirnya El menemani Vania mencari apartemen yang cocok untuknya.


" Mama, Pa, kita mau kemana sih, dari tadi muter muter doang. "


Tiara yang sudah merasa lelah dan bosan akhirnya bertanya pada kedua orang dewasa di depannya.


" Sayang, kamu itu banyak uang, kok nyariin tempat buat kami yang seperti ini " Protes Vania.


Bukannya di berikan apartemen mewah, El malah membelikan sebuah rumah untuk Vania dan juga Tiara.


" Pa, ini rumah siapa " Tanya Tiara ketika mereka tiba di depan sebuah rumah.


Rumah sederhana tidak mewah namun juga bukan murahan, setidaknya kalau di lihat oleh orang yang pandai bersyukur maka rumah itu adalah rumah mewah.


" Ini rumah Tiara Nak, apa kamu suka "


Tiara menatap bangunan di depannya itu.


" Apa ini rumah Papa " Tanya Tiara balik.


" Bukan sayang, ini rumah Tiara sama Mama, kalau rumah Papa ada disana "


El menunjuk ke sembarang arah karena memang tempatnya jauh dari sana. Tiara yang masih belum mengerti apapun mendadak bingung.


" Bukan rumah Papa, lalu kenapa Tiara dan Mama harus tinggal disini, kenapa tidak tinggal di rumah Papa saja "


El menghela nafas, bagaimana caranya menjelaskan kondisi mereka saat ini. Bahwa semua tidak seperti yang Ia pikirkan.


" Itukan El, Tiara saja bingung. Lagian kamu sih, kenapa tidak tinggal di apartemen mu saja. El, mungkin kamu tidak merasa nyaman tapi aku mohon ini demi Tiara. Bukankah dulu kita juga pernah tinggal satu rumah, kenapa sekarang harus pisah rumah "


El tersenyum pada Tiara sangat susah baginya menjelaskan semuanya di hadapan Tiara, Ia masih kecil dan tidak tahu apa apa.


" Ayo sayang, kita masuk dulu nanti Papa jelaskan "


Tiara mengangguk dan masuk di gandeng oleh El, mereka meninggalkan Vania yang masih tidak bisa menerima kenyataan akan tinggal di tempat seperti sekarang ini.


" Seperti nya kamar ini cocok untuk mu ya Nak, coba kita lihat ada apa di dalamnya "


Tiara yang memang pribadinya ceria nampak sangat antusias mengikuti kemana pun yang El katakan.


" Wah bagus Nak, gimana menurut mu "

__ADS_1


Tiara memandang seisi ruangan itu dan tersenyum.


" Bagus kok Pa, Tiara suka " Jawabnya sumringah.


El mengelus kepala Tiara lembut, Ia begitu menyayangi gadis kecil itu.


" Nanti Papa belikan boneka dan juga selimut yang baru, kamu mau yang warna apa Nak "


Tiara nampak berpikir


" Tiara mau yang warna biru Pa, kayanya bagus deh Pa warna biru "


El bingung mendengar jawaban Tiara, tumben Ia menginginkan warna lain. Biasanya juga warna pink, dari dulu yang El tahu anaknya itu hanya mau satu warna sehinga hampir semua barang yang Ia punya berwarna pink.


" Warna biru, apa Papa nggak salah dengar. Biasanya selalu pesan warna pink kenapa sekarang malah mau yang biru "


Gadis itu tertawa kecil, Ia malu malu untuk mengatakan alasannya namun Ia juga bukan anak yang terbiasa berbohong.


" Ah gini Pa, Tiara kan kemarin masuk ke kamar Arka dan kamarnya lucu warna biru jadi Tiara mau yang begitu apa boleh Pa "


El manggut-manggut.


" Boleh dong sayang, baiklah Nak, besok Papa bawakan untuk Tiara ya. Oh ya, Papa harus pulang dulu sekarang masih ada pekerjaan yang harus Papa kerjakan, kamu baik baik disini ya sama Mama "


Tak lupa El mencium kepala Tiara, hal yang selalu Ia lakukan ketika masih berada di negara A.


" Kamu disini dulu ya, Papa mau bicara sebentar sama Mama boleh "


Seperti biasa Tiara hanya mengangguk sebagai tanda setuju.


El melangkah keluar yang memang kedatangan nya sudah di nanti oleh Vania.


" El, aku mohon padamu, aku tidak mau disini. Kita ke apartemen mu saja ya, aku janji semua akan seperti biasa, tidak akan melakukan hal yang melebihi batas, tapi aku mohon jangan disini "


Vania sedikit memohon agar El luluh seperti biasa namun ternyata usahanya sia sia saja.


" Vania, lihat situasi dimana kamu berada sekarang. Ini Indonesia bukan negara A yang bisa membuat kita seenaknya melakukan apapun secara bebas. Oh ya satu lagi, aku minta padamu jangan pernah pengaruhi Tiara dengan sesuatu yang salah. Ia masih kecil dan jangan kamu ajarkan sesuatu yang tidak baik, cepat atau lambat dia akan tahu siapa dia sebenarnya. Jadi aku mohon jangan selalu menjadikan dia alasan untukmu melakukan apapun seenak nya "


Usai mengucapkan itu El memilih pergi, Vania mendengus kesal mendengar semua yang di ucapkan El.


...----------------...


Alhamdulillah bisa Up lagi, Hai Mom super di luar sana yang sudah mampir author ucapkan Terima kasih sebanyak-banyaknya. Buat yang belum, yuk tinggalkan jejaknya buat penyemangat author.


Komen sebanyak-banyaknya ya, hm sama satu Mom. Klik Vidio gratis nya juga ya, untuk semua kebaikan Mom super semua, author ucapkan banyak banyak Terima kasih. Semoga berkah untuk kita semua πŸ™

__ADS_1


__ADS_2