Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 10 Pesta Pelepasan


__ADS_3

Di Kekaisaran ini ada sebuah tradisi mengadakan pesta sebelum mengirim para prajuritnya ke medan perang. Pesta ini dinamakan pesta pelepasan. Sebuah pesta yang seakan sengaja digelar untuk mengirim seseorang ke alam baka sesuai namanya 'Pesta Pelepasan'. Menurutku ini adalah tradisi yang kurang waras. Sebuah pesta kan seharusnya digelar untuk suatu hal yang membahagiakan, bukan untuk hal seperti ini. Seharusnya Kekaisaran melakukan pelepasan prajuritnya ke medan perang dengan berdo'a bersama di kuil agar orang-orang yang pergi berperang bisa pulang dengan selamat membawa kemenangan. Aku jadi penasaran, sebenarnya siapa orang gila dan tidak punya akhlak yang mencetuskan ide pesta ini? Aku yakin dia sengaja menciptakan pesta ini untuk mengusir serta menyingkirkan orang-orang yang tidak disukainya. Misalnya untuk mengusir Pangeran Leonard, atau lebih tepatnya untuk melenyapkan Leonard selama-lamanya dari Kekaisaran Eliador ini. Dan di sini Ratu Media yang sengaja memanipulasi Kaisar untuk mengirim putranya sendiri ke medan perang mengadakan pesta pelepasan denga sangat meriah bahkan melebihi pesta pernikahanku dan Leonard dulu. Tentu saja dia beranggapan dan yakin jika Leonard akan mati di medan pertempuran melawan suku Barbar yang terkenal sangat kuat. Hanya saja si Ratu jahat itu tidak tahu jika Leonard sangatlah hebat hingga dapat mengalahkan Raja Barbar yang paling kuat diantara sukunya.


Dan pesta pelepasan untuk para prajurit itu adalah hari ini.


"Semuanya sudah selesai Tuan Putri." Ucap Anne setelah selesai mendandaniku.


"Baiklah, terimakasih Anne." Ucapku pada Anne kemudia berdiri dari hadapan meja rias yang memantulkan riasan cantikku yang terlihat dari kaca.


Saatku berbalik ternyata sudah Leonard di sana yang berdiri bersandar pada pintu kamar.


"Kau cantik sekali hari ini Louisse, apa kau sudah siap?" Tanya Leonard sambil memujiku.


"Haruskah aku berdandan cantik seperti ini padahal suamiku akan pergi ke medan perang?" Ucapku dengan raut wajah yang sedih.


Ya, meski aku tahu jika Leonard pasti akan kembali dengan selamat membawa kemenangan, tapi tetap saja namanya sebuah peperangan pasti sangatlah berbahanya. Tidak akan terhitung berapa banyak dia akan terluka nantinya di sana. Meski Leonard sangat kuat dan pandai dalam berpedang, tidak menutup ll


dia akan terluka apalagi lawannya terkenal sangat kuat.


"Kenapa kau jadi khawatir begini setelah kemarin kau yakin jika aku akan memenangkan pertempuran ini?" Tanya Leonard yang terlihat ingin tahu.


"Aku memang tidak pernah ragu akan hal itu, tapi medan peperangan itu kan sangat mengerikan, meski aku yakin kamu pulang dengan selamat tetap saja kau bisa terluka juga." Ucapku dengan menunduk sedih.


Terlihat dari ekor mataku Leonard tersenyum lembut dan dia berkata...


"Akan aku usahakan untuk tidak terluka." Ucapnya.


"Aku tidak percaya ucapanmu." Sahutku namun Leonard hanya tertawa mendengar ucapanku.


Lalu kami berjalan menuju ruang pesta dengan tanganku yang tertaut di lengan Leonard. Semua mata yang ada di pesta itu memandangku dan Leonard yang baru saja masuk ke ruang pesta. Ini pertama kalinya aku memasuki ruang pesta dengan langkah yang sangat berat, pesta dimana kita seakan mengantar seseorang pada kematian. Sungguh Kekaisaran ini tidak punya akhlak sama sekali. Ya... Mau bagaimana lagi? Aku hanyalah istri seorang pangeran yang tidak punya pilihan apapun di sini. Sejak awal ini adalah sekenario yang dibuat oleh Ratu, tapi sekenario ini akan aku ubah secara perlahan. Jadi aku juga harus ikut berperang, peperangan yang ada di dalam istana gila ini.


Aku berpikir mempunyai dukungan dari Ratu di tanganku akan mempermudah aku dalam menghadapi pergaulan kelas atas. Tapi nyatanya sampai sekarang para bangsawan itu tetap memandangku rendah, bahkan sekarang terlihat lebih parah. Itu karena mereka berpikir aku akan ditinggalkan Pangeran Leonard yang belum pasti kembali dalam keadaan hidup. Aku tahu dalam novel aslinya Leonard akan kembali dengan selamat, namun jalan cerita di sini sudah banyak berubah karena campur tanganku dan itu membuatku sedikit takut. Aku hanya bisa berdo'a agar kemenangan Leonard di medan perang sama dengan cerita di novel aslinya.

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Leonard tiba-tiba disaat aku memikirkan hal yang belum tentu terjadi.


"Bukan apa-apa." Jawabku seraya tersenyum padanya.


"Abaikan pandangan orang-orang di sini dan jangan memikirkan yang aneh-aneh." Ujar Leonard.


"Memangnya aku memikirkan apa?" Tanyaku berpura-pura tidak mengerti maksud ucapan Leonard.


"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang ada di otak kecilmu itu?" Ujar Leonar lagi.


"Memangnya kau peramal sampai tahu isi otakku?" Tanyaku sambil melirik ke arahnya.


"Huuhh... Apa kau lupa jika kita sudah bersama selama lima tahun?" Sahut Leonard yang dapat diartikan jika selama lima tahun kebersamaan kami dia selalu memperhatikan semua kebiasaanku. Dan karena ucapan Leonard itu aku tidak bisa berkata-kata apa lagi.


Leonard pun sibuk menemui para prajurit yang akan ikut bersamanya besok. Sedangkan aku sibuk melayani para wanita bangsawan yang berbicara dengan kata yang bisa diartikan 'Jika Pangeran Leonard terbunuh di medan perang maka aku akan diusir dari istana', kira-kira seperti itu. Seperti biasanya dengan berlagak bodoh aku hanya tersenyum menanggapinya.


"Huhh... Aku lelah." Gumamku seraya duduk di salah satu kursi di sini setelah meninggalkan ocehan para wanita bangsawan yang sinis tadi. Dan aku berharap tidak akan ada lagi wanita bangsawan yang mengoceh seperti tadi.


"Apa anda juga akan beristirahat Lady Vianti?"


Wanita yang tiba-tiba menyapaku ini adalah Vianty Bell de Zacart, putri satu-satunya Duke Robert de Zacart. Dia adalah protagonis yang seaungguhnya di novel aslinya. Dialah yang pada akhirnya akan menikah dengan Pangeran Leonard setelah Louisse dihukum mati. Vianty nantinya akan menjadi Putri Mahkota setelah Leonard dinobatkan menjadi Putra Mahkota. Dan di kenyataanku di sini, Lady Vianty adalah orang pertama yang ingin aku hindari. Perempuan ini selalu menyerangku dengan kata-kata halus namun menusuk seperti yang terjadi sekarang ini.


"Ternyata Yang Mulia Putri adalah wanita yang luar biasa tegar meski suami anda akan berangkat ke medan peperangan besok." Ucapnya itu bisa diartikan 'Tuan Putri yang malang, yang siap disingkirkan setelah Pangeran Pertama tidak ada'. Aku akui jika wanita-wanita bangsawan kelas atas di Kekaisaran ini sangat lihai membunuh lawannya dengan kata-kata.


"Itu karena saya percaya jika suami saya akan memenangkan peperangan ini dan pulang dengan selamat." Jawabku dengan tetap memasang senyum keterpaksaan.


"Wahh... Saya tidak tahu jika Yang Mulia Putri orang yang begitu percaya pada Yang Mulia Pangeran dan anda orang yang begitu bersemangat." Ujarnya dengan begitu elegan ciri khas seorang bangsawan sejati. Dan kali ini dia seperti mengatakan seolah aku adalah wanita yang bodoh dengan kepercayaanku yang sia-sia. Apakah seperti ini sifat asli tokoh utama wanita dalam novel yang pernah aku baca waktu itu? Aku mengira dia adalah wanita yang lemah lembut tapi kenyataannya dia adalah wanita dengan mulut yang berduri.


"Kalau begitu saya akan undur diri Putri karena kakak sepupu saya sedang menunggu saya, takutnya dia kebingungan mencari saya." Ujarnya lagi seakan-akan dia sedang memamerkan kakak sepupunya Damien Back de Zacart, salah satu lelaki yang paling dicari oleh para wanita lajang di Kekaisaran ini, bukan hanya tampan melainkan juga cerdas dengan postur tubuh yang sempurna.


Setelah Vianty pergi menemui sepupunya aku baru bisa bernapas dengan lega. Dipikirnya tersenyum sok ramah itu tidak lelah apa?

__ADS_1


"Haahhh...."


"Mengapa menghela napas seperti itu?"


"Leonard!!" Seruku begitu saja saking terkejutnya.


"Kenapa terkejut seperti itu?" Tanya Leonard yang merasa heran dengan tingkahku.


"Siapa suruh kau mengagetkanku?!" Sahutku kesal, baru saja aku bisa bernapas lega dan tiba-tiba Leonard sudah ada di depanku.


"Kau saja yang tidak memperhatikanku." Ujarnya dengan santai.


"Huhh! Kenapa kau ke sini? Bukannya kau sedang sibuk?" Tanyaku sambil menyeruput wine yang baru saja aku ambil dari atas meja jamuan.


"Ini bukan saatnya untuk minum Louisse, kita harus berdansa." Jawab Leonard.


"Bukankah kau bilang dansaku sangat buruk dan kamu tidak ingin mengulang dansa yang sama denganku?"


"Itu kan saat kita masih kecil dulu, bukankah sangat bodoh jika sampai sekarang kamu tetap tidak bisa berdansa dengan baik." Ujarnya yang membuatku tambah kesal.


"Kau menyebalkan! huhh!!" Seruku dengan sangat kesal.


"Baiklah... Maafkan aku, tak seharusnya aku berkata seperti itu." Ucap Leonard.


"Yang Mulia Putri Louisse maukah anda menjadi pasangan dansa saya yang pertama?" Pinta Leonard sambil membungkuk dan mengulurkan tangannya padaku.


"Asal kau bisa menahan dari injakan kakiku saat berdansa." Jawabku sambil menerima uluran tangannya.


"Aku sudah terbiasa dari dulu." Sahutnya sambil menahan senyumnya.


"Duhh... Kapan Leonard tumbuh dengan sangat baik seperti ini?" Batin hati kecilku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2