Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 25 Rumor


__ADS_3

"Kakak kenapa di sini sendirian? Orang-orang akan menganggap kakak menyedihkan lho..."


Suara tersebut langsung membuat mata Louisse mengarah ke sumber suara.


"Oscar?!" Seru Louisse dengan mata berbinar ketika dia mendapati Oscar sudah berdiri di samping kursi yang ia duduki. Louisse merasa senang sekaligus lega karena Oscar berada di sana menemaninya. Paling tidak masih ada satu orang yang memihak kepadanya.


"Siapabyang menyedihkan? Aku bahkan sedang menikmati dessert yang manis ini, apa kau tidak lihat ha?!" Ujar Louisse kesal, meski Oscar adalah adik ipar sekaligus teman yang bisa diandalkan tapi terkadang dia itu sering menjahili Louisse.


Sementara itu semakin banyak orang yang ada di ruangan pesta tersebut yang bergunjing menjelek-jelekkan Louisse, terlebih di saat seperti ini. Kedekatan Louisse dengan Oscar selalu disalah artikan oleh semua pihak sehingga menimbulkan rumor yang tidak enak untuk didengar.


"Hei lihatlah! Ternyata antara Pangeran Kedua dan Putri Louisse mempunyai hubungan yang baik ya?"


"Itu mungkin karena Yang Mulia Ratu adalah pendukung dari Putri Louisse."


"Selama Pangeran Pertama berada di medan perang, Pangeran Kedua selalu menjadi pasangan Yang Mulia Putri disetiap acara. Bukankah hubungan seperti itu bisa dibilang tidak wajar?"


Suara-suara orang yang bergunjing di belakang mereka berdua itu cukuplah keras untuk mereka dengar sehingga membuat Oscar terbawa emosi dan ingin membungkam mulut-mulut orang yang tidak punya aturan sopan santun itu. Tapi sebelum itu terjadi Louisse menghentikannya.


"Oscar, sudahlah tidak perlu kau perdulikan mereka."


"Mana mungkin aku diam saja mendengar ucapan mereka?!" Seru Oscar begitu emosi.


"Ya ampun... Apa kamu segitu marahnya karena khawatir pada kakakmu ini?" Gumam Louisse.


"Sebenarnya apa sih yang dilihat mereka sampai menilai aku dan kak Isse seperti itu? Gini-gini aku mempunyai tipe wanita idamanku sendiri tahu...!"


"Astaga... Setelah mendengar ucapanmu kenapa aku merasa kau mengejekku ya Oscar... hmm?" Ujar Louisse yang berdiri dari duduknya dan langsung mencubit kedua pipi Oscar dengan menariknya kekanan kiri membuat Oscar mengaduh kesakitan.


"Aduh kak! Sakit... Aku ini bukan anak kecil lagi kak!" Seru Oscar yang protes karena perlakuan Louisse padanya.


"Bagiki selamanya kau ini anak kecil..." Sahut Louisse yang masih menarik pipi Oscar.


"Astaga... Yang Mulia Putri sampai berani pegang-pegang seperti itu!"


"Lihatlah! Semua kata-kataku benarkan?"


Melihat gurauan yang dilakukan Louisse dengan Oscar membuat orang-orang di ruangan pesta tersebut semakin menggonggong. Dan membuat Louisse juga Oscar yang tak sengaja mendengarnya terpaku sesaat.


"Sebaiknya kita pidah tempat saja, lama-lama pendengaranku jadi terganggu." Ucap Louisse pada Oscar.


"Aku rasa itu lebih baik." Jawab Oscar yang menyetujui saran Louisse.


"Oh ya, gimana kalau Leonard mencariku? Dia kan tadi menyuruhku untuk menunggunya di sini. Ah, tidak apa-apa sebentar saja, mungkin agak lama, aku akan kembali ke sini sebelum dia mencariku." Pikir Louisse dalam hati.


"Ada apa kak?" Tanya Oscar yang melihat Louisse tiba-tiba bengong.


"Ah tidak apa-apa, yuk!" Sahut Louisse sambil mengajak Oscar ke tempat lain yang tidak terlalu ramai.


Beberapa menit kemudian..

__ADS_1


"Louisse kemana sih? Kenapa sih dari dulu dia tidak pernah mendengar kata-kataku?! Bikik irang khawatir saja." Gumam Leonard sambil berjalan kesana kemari, lihat sana sini untuk mencari keberadaan istrinya yang tiba-tiba tidak ada di tempat seharusnya Louisse menunggunya. Sampai dirinya menghentikan langkahnya ketika mendengar obrolan seseorang di pesta tersebut yang tengah membicarakan istrinya.


"Pasti ada sesuatu antara Yang Mulia Putri dengan Yang Mulia Pangeran Kedua, aku yakin itu! Tadikan kamu lihat sendiri mereka pergi berdua."


"Iya, padahal kan suaminya sudah pulang tapi mereka tetap selalu bersama-sama, berarti yang dirumorkan orang-orang itu benar."


"Iya kan? Hubungan mereka berdua pasti bukan hubungan biasa."


Mendengar gunjungan seperti itu mengenai Louisse membuat hati Leonard sedikit terganggu meski di dalam hatinya dia terus menepis gosip murahan itu. Tidak ingin mendengar terlalu lama, Leonard pun kembali berjalan mengelilingi ruangan pesta yang cukup besar itu untuk mencari Louisse. Dan akhirnya Leonard tersenyum setelah melihat dati kejauhan apa yang dicarinya.


"Ah, tambut silber keunguan itu pasti Louisse." Dengan senyum yang mengembang Leonard mempercepat langkahnya hingga dia hampir mendekati Louisse yang terlihat diantara kerumunan orang yang sedang berdansa. Namun...


"Louisse, ternyata kamu ada di..." Leonard menghentikan ucapan dan langkahnya ketika dia melihat Louisse tidak sendirian. Istrinya itu sedang asyik berdansa dengan Oscar adiknya sendiri dengan wajah yang tertawa lepas.


Saat melihat pemandangan itu seketika Leonard mundur perlahan dari langkahnya dan terduduk di kursi yang kebetulan ada tepat di belakangnya. Tiba-tiba dadanya terasa sesak, ada perasaan aneh yang mengganjal di hatinya dan kata-kata yang diucapka orang-orang tentang istrinya juga adiknya kembali terngiang di telinganya. Apakah ada rasa curiga di hati Leonard seperti orang-orang itu? Antara hati dan pikiran Leonard saling beradu, dilain sisi dia ingin mempercayai istrinya dan juga Oscar adiknya, namun di sisi lain apa yang dia lihat kini menunjukkan akan kebenaran apa kata orang-oranh tersebut. Disaat pikiran dan hatinya berkecamuk sebuah suara menyadarkannya dari pikiran aneh yang belum jelas kebenarannya.


"Leonard? Ternyata kamu ada di sini? Apa urusanmu sudah selesai?"


"Louisse..."


Ternyata orang yang menghampirinya itu adalah istrinya, Louisse.


"Iya, ini aku. Kau sedang memikirkan apa?" Tanya Louisse dengan memandang lekat wajah Leonard.


Leonard tersenyum, dalam hatinya berkata, "Ya, terladang apa yang kita lihat atau dengar bukanlah suatu hal yang sesungguhnya."


"Bukan apa-apa, aku hanya mencarimu dari tadi. Kamu kemana saja sih? Aku kan menyuruhmu untuk tetap diam di sana." Ujar Leonard yang memarahi Louisse seakan sedang memarahi seorang bocah.


"Maaf, kamu marah ya?" Ucap Louisse.


"Tidak!" Jawab Leonard cepat.


"Ah... Ternyata kamu marah." Gumam Louisse.


"Aku kan sudah bilang tidak, memangnya aku bocah?!" Elak Leonard tak terima dengan tuduhan Louisse meski sebenarnya dia agak kesal juga.


"Iya, iya... Ya sudah, ikut aku yuk!" Ajak Louisse sambil menarik tangan Leonard.


"Kita mau kemana?" Tanya Leonard penasaran.


"Ke balkon, di sini terlalu sesak, aku ingin cari angin." Jawab Louisse dengan terus berjalan sambil menarik tangan Leonard.


"Kamu sengaja kan mengajakku kemari?" Tebak Leonard yang membuat Louisse bingung apa maksudnya.


"Eh? Maksudnya?" Tanya Louisse.


"Balkon ini kan yang waktu itu." Ujar Leonard ambigu.


"Waktu itu?" Louisse masih belum mengerti apa yang dikatakan Leonard.

__ADS_1


"Itu... Aku pernah menemukanmu di tempat ini saat pesta pelepasan sehari sebwlum aku berangkat berperang." Setelah Leonard menjelaskannya seperti itu barulah Louisse teringat kejadian empat tahun yang lalu sebelum dia melepas Leonard berperang.


"Aha! Aku ingat sekarang, waktu itu kan kamu menangis di sini haha..." Ledek Louisse sambil tertawa.


"Aku tidak menangis!!" Elak Leonard tegas dengan wajah yang merah.


"Iya, iya... Kau tidak menangis." Sahut Louisse.


"Aku bilang tidak!" Seru Leonard lagi.


"Iya... Aku percaya, pfftt..." Sahut Louisse dengan senyum tertahan.


"Duhh... Imutnya jika dia malu seperti ini." Batin Louisse sambil memandang suaminya.


Duar..duar..duarr!!


Tidak lama kemudian terdengarlah suara kembang api. Louisse dan Leonard pun langsung melihat ke atas langit.


"Waahh... Kembang apinya indah sekali." Ujar Louisse dengan pandangan mengarah ke kembang api yang menyala terang bagai bintang di langit.


"Iya, indah..." Sahut Leonard sambil memandang ke langit.


Louisse menoleh ke arah Leonard yang ada di sampingnya. Lantulan cahaya dari kembang api tersebut mengenai wajah Leonard sehingga wajah tampang Sang Pangeran itu terlihat jelas.


Louisse terpana sesaat dan kemudian tersenyum...


"Melihat kembang api yang menyala terang di langit dengan adanya kamu di sini membuatku semakin yakin jika kamu benar-benar sudah pulang." Ucap Louisse dengan memandang wajah tampan suaminya.


"Dengan begitu akan semakin jelas jika waktuku bersamamu tidak akan lama lagi." Lanjut Louisse dalam hatinya.


"Tapi bagiku ini seperti mimpi, karena sebenarnya aku tidak ingin pergi ke medan perang." Ungkap Leonard dengan pandangan yang menerawang ke atas langit.


"Hingga rasanya aku ingin memohon pada Ratu untuk membiarkanku hidup dengan tenang meski harus melepaskan kesempatanku menjadi pewaris tahta." Lanjut Leonard.


"Lalu... Mengapa itu tidak kamu lakukan?" Tanya Louisse penasaran.


"Entahlah... Lagian sekarang sudah berlalu meski ini belum benar-benar selesai." Jawab Leonard.


"Ah itu benar, meski perang sudah selesai tapi ini hanya awal karena Media bersama keluarganya masih menguasi sebagian Kekaisaran ini. Ini akan menjadi langkah berat selanjutnya bagi Leonard." Ujar Louisse dalam hatinya.


"Ketika aku berada di perbatasan Timur setiap hari aku berpikir ratusan kali...ah tidak, ribuan kali malahan untuk segera mengakhiri peperangan dan kembali sesegera mungkin. Kemudian aku..."


Duarr..duarr..duarr!!


Ucapan Leonard yang terakhir tidak dapat di dengar Louisse dengan jelas karena suara kembang api yang kembali dinyalakan.


"Leonard ngomong apa sih? Kemudia aku apa?" Tanyanya dalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2