Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 51 Menuju Desa Suku Greenlive


__ADS_3

Ini adalah cerita masa kecil Leonard di dalam novel yang telah dibaca Louisse sebelum mereka berdua menikah. Waktu itu seperti biasa Leonard keluar istana secara diam-diam dan berjalan-jalan di sekitaran desa tanpa rasa takut sedikitpun. Pada saat itu Leonard kurang waspada meski sudah menyembunyikan identitasnya dan dia diserang oleh seseorang secara tiba-tiba. Beruntung di dekat tempat itu ada petugas keamanan yang sedang berpatroli sehingga dia terhindar dari situasi yang lebih berbahaya. Meski mengalami luka tapi untungnya tidak parah dan pelaku penyerangan tersebut juga tertangkap. Ternyata pelaku penyerangan itu adalah seorang anak laki-laki yang lebih tua beberapa tahun darinya yang menatap benci ke arahnya meski sudah tertangkap.


Setelah mengobati lukanya, Leonard pergi ke dalam penjara untuk menemui anak lelaki yang menyerangnya tadi. Tanpa rasa takut Leonard datang menemuinya dan mengajaknya bicara.


"Apakah kau menyerangku tadi karena kamu sudah tahu kalau aku ini pangeran?" Tanya Leonard pada anak lelaki yang duduk di dalam penjara dengan acuh tanpa menghiraukan kehadiran Leonard.


"Benar, aku yang melihat seorang pangeran yang berjalan tanpa seorang pengawal berpikir itu mungkin adalah kesempatanku!" Jawabnya tegas tanpa rasa takut.


"Kesempatan yang bagus untuk balas dendam!" Lanjut anak laki-laki itu.


"Balas dendam? Jadi kamu bukan suruhan keluarga Willhem?" Tanya Leonard kecil pada anak lelaki itu yang sedikit kebingungan.


"Haa? Willhem? Siapa dia? Aku tak mengenalnya! Sepertinya kamu salah paham, aku bergerak sendiri untuk membalaskan dendam sukuku! Karena orang-orang Kekaisaran telah memusnahkan suku Greenlive kami!" Seru anak laki-laki itu dengan wajah amarahnya.


Leonard kecik menatap lurus pada anak lelaki dii hadapannya, dirinya seolah-olah mengingat-ingat sesuatu.


"Aku pernah membaca tentang suku Greenlive dalam buku sejarah. Setahuku mereka sedikit berbeda dari manusia pada umumnya. Suku mereka memiliki ciri khusus yaitu telinga mereka yang runcing dan warna mata mereka yang unik karena mereka adalah keturunan dari ras Elf yang menduduki serta menjaga hutan. Tapi yang kutahu ras dari suku mereka sudah punah karena jumlah mereka yang berkurang secara sendirinya." Itulah yang dipikirkan Leonard kecil saat menatap anak lelaki yang berada di dalam penjara itu.


"Tapi wajahmu tidak... "


"Aku terlahir dari ras campuran dari seorang manusia. Tapi aku berbeda dengan manusia! Aku tidak akan pernah melupakan hari yang mengerikan itu... Hari itu pasukan militer Kekaisaranmu menghancurkan desa tempat suku kami tinggal! Padahal kami tidak pernah mengganggu manusia, kami hanya hidup tenang di desa kami tapi kalian malah mengucilkan kami hanya karena kami sedikit berbeda dengan manusia!" Teriak anak lelaki itu dengan wajah sedih bercampur amarah dengan tangan yang mengepal erat.


"Belum puas sampai disitu, karena kalian suku kami harus hidup dengan cari bersembunyi!" Lanjutnya lagi dengan gigi yang mengerat.


"Jadi oleh karena itu kamu menargetkanku yang merupakan seorang pangeran?" Tanya Leonard yang tidak dijawab oleh anak lelaki itu.


Lalu tanpa rasa takut dan ragu, Leonard membuka pintu besi penjara itu dan masuk mendekati si anak lelaki yang ada di dalamnya.


"A apa?! Apa yang ingin kamu lakukan?!" Seru anak lelaki itu yang seakan kehilangan rasa beraninya itu.


"Kalau begitu bunuh saja aku!" Seru Leonard tiba-tiba membuat anak laki-laki itu terkejut.


"Bunuh saja aku jika itu dapat membalaskan dendammu, tapi setelah itu kamu akan dihukum mati karena kejahatan membunuh anggota Kekaisaran." Lanjut Leonard dengan wajah datar yang serius.

__ADS_1


"Hei bocah! Kamu mempermainkan aku ya?! Kau ini memang Pangeran yang tidak punya rasa takut apa?!" Seru anak laki-laki itu yang justru malah merasa merinding mendengar ucapan Leonard barusan.


"Menurutku itu tidak akan menyelesaikan masalahmu. Sebagai gantinya bagaimana jika kamu bekerjasama denganku? Di masa depan aku akan menjadi Kaisar yang akan. merubah sistem ketidak adilan seperti itu. Untuk menjadikan tempat tinggal yang damai dimana tidak ada perbedaan suku dan ras, aku membutuhkan kerjasamamu. Ayo kita ubah negara ini bersama."


Itulah yang dikatakan Leonard kecil. Alih-alih menghukum anak lelaki itu, dia justru menawarkan sebuah kerjasama untuk mengubah Kekaisaran seperti impian mereka. Dan itulah pertama kali Leonard dan Rodrego bertemu. Ya, anak lelaki itu adalah Rodrego Greenfox dan sejak itu Rodrego yang sudah mengamati Leonard, merasa Leonard adalah orang yang mampu menepati janjinya. Lalu mulai saat itu Rodrego menjadi bawahan setia dan teman seperjuangan pertama Leonard.


...****************...


Kemudian kembali ke masa sekarang...


"Bagaimana Yang Mulia Putri bisa tahu jika saya berasal dadi suku Greenlive?" Tanya Rodrego penasaran.


"Saya tidak sengaja melihat mata kanan anda yang berubah perak sebelum anda tutupi dengan rambut anda. Itu adalah ciri khusus darah campuran dari suku anda." Jawab Louisse yang langsung dipercayai oleh Rodrego.


"Padahal aku mengetahuinya dari novel. Telinga sir Rodrego memang tindak runcing tapi tidak dengan matanya. Mata perak itu digunakan untuk melihat di dalam kegelapan." Batin Louisse.


"Oleh karena itu Yang Mulia Putri tahu tentang penawar racunnya?" Tanya Rodrego lagi.


"Bunga Ravless adalah bunga langka yang dibudidayakan secara khusus oleh suku Greenlive." Kata Louisse dengan serius.


"Kalau begitu antarkan saya ke tempat tinggal suku anda." Pinta Louisse dengan sungguh-sungguh.


"Tapi suku saya membenci manusia..." Sahut Rodrego yang langsung dijawab oleh Louisse dengan tegas.


"Saya punya rencana bagus untuk mendapatkan penawar racunnya!" Ujar Louisse tegas.


"Saya ingin bertanggung jawab sebab Lonard seperti itu karena saya... Tidak mungkin saya tinggal diam melihat Leonard menderita seperti itu..." Ucap Louisse dengan wajah yang begitu sedih.


Rodrego terdiam sejenak kemudian bicara...


"Apakah tidak apa-apa jika jalan melalui desa itu sulit?" Tanya Rodrego. Mendengar pertanyaan itu mata Louisse langsung terbelalak dan sambil tersenyum melihat Rodrego dia langsung menjawabnya...


"Tidak masalah! Kalau begitu saya akan siap-siap dulu. Jangan berangkat dulu sampai saya datang!" Setelah mengucapkan itu Louisse langsung berbalik dan berlari keluar kamar Leonard.

__ADS_1


"Ah... Aku jadi ingin mempercayai Putri jika melihatnya serius mengkhawatirkan Pangeran seperti itu. Yah... Tidak ada jalan lain, jika kami gagal mendapatkan penawarnya aku tinggal mencurinya kan?" Pikir Rodrego.


...****************...


Setelah berhasil membujuk Rodrego dan bersekongkol dengan Anne pelayan pribadinya yang mengarang cerita seolah-olah Louisse terbaring sakit di kamarnya. Louisse bersama Rodrego dan juga Edmund pergi ke desa suku Greenlive tinggal untuk mendapatkan penawar racun.


"Syukurlah aku memiliki keahlian menunggang kuda. Meskipun jalan yang dilalui saat ini begitu sulit, ini belum sebanding dengan penderitaan Leonard yang sedang mempertahankan nyawanya." Kata hati Louisse.


Mereka bertiga terus menyusuri hutan dengan kecepatan penuh tanpa henti menunggang kuda. Bahkan Louisse tidak peduli jika lengannya tergores ranting pohon saat dirinya melintasi hutan.


"Akh!!" Teriak Louisse ketika ranting pohon menggores lengannya hingga berdarah.


"Tauan Putri lengan anda!" Teriak Edmund ketika melihat darah dari lengan Louisse yang tergores ranting pohon.


"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil." Kata Louisse sambil menghentikan sejenak kudanya dan mengikatkan saputangannya pada lengan tangannya yang terluka untuk menghentikan darah yang keluar.


"Ayo! Kita tidak ada waktu lagi!" Kata Louisse setelah mengikat lukanya dan langsung menarik kekang kudanya untuk melanjutkan perjalanan.


"Baik." Jawab Edmund dan Rodrego yamg mengangguk.


Sementara itu di tempat lain, di istana Pangeran Pertama... Julian yang menunggu Leonard di kamrnya tampak resah. Dan itu sudah lewat dua hari setelah kepergian Louisse beserta Rodrego dan Edmund ke desa suku Greenlive.


"Sudah lewat dua hari namun keadaan Pangeran Leonard tidak membaik. Obat yang diberikan dokter tidak bereaksi sama sekali, sihir yang aku pasang agar racunnya tidak menyebar ke jantung juga tidak akan bertahan lama. Apakah Tuan Putri berhasil mendapatkan penawarnya? Meskipun dia bersama Rodrego itu mungkin sul..."


Barak!


Belum sempat Julian meneruskan ucapannya dalam hati tiba-tiba pintu kamar Leonard terbuka, dan di sana dia melihat Louisse berdiri di depan pintu dengan napas yang tersengal-sengal.


"Yang Mulia Putri!"


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2