
Saat itu ketika rombongan Louisse tiba di desa suku Greenlive....
Tidak seperti yang ditakuti oleh Rodrego, orang-orang di desa justru menyambut hangat kedatangan mereka, terutama kedatangan Rodrego yang kembali setelah sekian lama. Ternyata selama ini para penduduk suku Greenlive selalu menunggu kepulangan Rodrego di desanya. Tak seorangpun dari mereka yang melupakan keberadaan Rodrego. Para penduduk desa tersebut menangis haru sambil memeluk Rodrego.
"Kemana saja kamu selama ini? Kami semua mencemaskanmu..." Ujar salah seorang dari mereka dengan mata yang nanar oleh air mata dan suara yang serak karena terisak.
Rodrego yang melihat reaksi para penduduk sukunya pun merasa terharu dan sekaligus terkejut. Rodrego tak menyangka jika pikiran akan dibenci oleh sesama sukunya itu adalah pemikiran yang salah. Ini hanya kesalahpahamannya saja. Sebenarnya para penduduk Greenlive mengerti jika Rodrego memilih hidup dengan para manusia biasa untuk melindungi sukunya. Namun Rodrego malah salah paham dan membangun tembok untuk dirinya sendiri karena dia hanyalah darah campuran. Dan tentu saja Louisse sudah tahu hal ini dari awal akan jadi seperti ini, makanya dia tidak ragu meminta Rodrego untuk meminta penawar racun pada sukunya. Sebenarnya Louisse hanya memanfaatkan cerita dari episode spesial yang keluar setelah novel aslinya tamat. Louisse hanya membuat kesalahpahaman antara Rodrego dan sukunya terselesaikan lebih awal dari jalan cerita aslinya, itupun dia lakukan karena sudah tidak ada jalan lagi untuk menyelamatkan nyawa Leonard. Karena bagi Louisse saat ini Leonard lebih penting daripada apapun.
Lalu pada saat itu teman Rodrego yang pernah berkata kasar padanya ketika ia hendak meninggalkan desa datang untuk meminta maaf... "Hai Rodre... Maafkan aku untuk yang waktu itu, aku tidak benar-benar mengatakan hal itu padamu." Ucapnya. Selama ini lelaki tersebut selalu menyesali akan kata-kata kasarnya pada Rodrego dan menunggu kesempatan untuk meminta maaf pada Rodrego. Tanpa pikir panjang Rodrego langsung memeluk temannya itu dan berkata jika itu bukanlah salahnya.
Lalu tanpa kesulitan dan atas kebaikan para suku Greenlive, Louisse akhirnya mendapatkan penawar racun untuk Leonard.
"Ini penawar racunnya." Ucap kepala suku seraya menyerahkan sebotol penawar racun tersebut.
"Terimakasih banyak. Dengan mempertaruhkan nama keluarga Kekaisaran, saya dan Pangeran Leonard kelak akan mewujudkan negara dimana kalian semua bisa hidup bebas di tanah yang ingin kalian tinggali." Balas Louisse yang begitu bersyukur akan kebaikan para penduduk suku tersebut.
"Sampai saat ini tidak ada orang dari kekaisaran yang berbicara tanpa merendahkan kami. Syukurlah... Ternyata Rodrego melayani tuan yang baik." Kata kepala suku Greenlive dengan tersenyum tulus sambil menunduk hormat pada Louisse. Dan itu semua diikuti oleh para penduduk suku yang lainnya. Mereka memberi penghormatan yang tulus pada Louisse. Melihat itu semua membuat Rodrego tersenyum ke arah Louisse, hatinya tersentuh seraya bergumam lirih... "Iya, aku sangat beruntung."
...****************...
Kembali ke saat ini...
Louisse sedang menunggu Leonard yang masih belum sadar, namun tak lama kemudian mata Leonard mengerjap pelan dan membuka matanya.
"Lou...isse..." Dengan terbata lirih namun masih bisa didengar, Leonard memanggil nama istrinya.
"Leonard, kamu sudah sadar?" Mata Louisse langsung berbinar senang melihat pangeran tercintanya membuka mata seraya menyebut namanya.
__ADS_1
"Louisse... Sekarang aku sudah tidak apa-apa." Ucap Leonard meyakinkan Louisse.
"Syukurlah..." Ucap Louisse sambil meluruhkan pundaknya yang terasa lemas seakan beban dipundaknya itu menghilang begitu saja.
"Louisse... Apa kau menangis? Aku sungguh sudah tidak apa-apa." Kata Leonard berusaha meyakinkan Louisse sekali lagi. Namun Louisse yang dikira sedang menangis langsung mengangkat wajahnya dan berbicara lantang sambil menatap sangar wajah Leonard.
"Leonard!! Lain kali jangan nekat seperti ini dan percaya saja padaku! Kali ini aku benar-benar marah padamu!!" Gertak Louisse dengan seriusnya pada Leonard. Dirinya marah karena benar-benar takut bila Leonard tiba-tiba terancam nyawanya seperti pada saat itu.
Leonard sedikit terkejut dengan reaksi Louisse namun sedetik kemudian dia tersenyum seraya berkata...
"Baiklah... Tetapi kamu juga harus begitu, jika ada masalah katakan padaku jangan kau pendam sendirian. Bukankah berdua lebih baik daripada sendiri? Kapanpun itu aku selalu ada dipihakmu." Ucap Leonard seraya tersenyum pada Louisse.
Kini justru Louisse yang tercengang mendengar perkataan Leonard. Matanya membulat tak percaya jika Leonard mengatakan hal yang begitu menggetarkan hatinya.
"Jadi... Selama ini akulah yang bodoh di sini. Aku tak pernah menyadari jika Leonard selalu ada dipihakku. Dia akan dipihakku sampai cerita ini berakhir bahagia." Batin Louisse tertunduk malu. "Kalau sudah seperti ini akulah yang menjadi malu mengingat Leonard yang telah mengutarakan rasa sukanya padaku." Sambung batin Louisse.
...****************...
Dilain tempat, Edmund sedang duduk bersantai menikmati kukis kesukaannya dengan secangkir teh sambil mengwasi Redian yang sedang bekerja membersihkan ruang bersantai kediaman Louisse.
"Kenapa kau bersantai seperti ini? Bukankah kau seharusnya mengawal Yang Mulia Putri?" Tanya Redian yang merasa heran dengan sikap santai temannya itu yang seakan tidak mempunyai pekerjaan.
"Akhir-akhir ini Yang Mulia Putri memilih menghabiskan waktunya di ruang baca miliknya, jadi aku sedikit longgar." Jawab Edmund dengan santainya sambil mengunyah kukisnya.
"Wahh... Menganggur sekali ya kamu." Sindir Redian.
"Tidak juga, mengawasimu bekerja dengan benar merupakan salah satu pekerjaanku juga." Lagi-lagi Edmund menjawabnya dengan santai tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Ah, kurasa Yang Mulia Putri memang benar-benar orang yang baik. Jika dilihat dari luar beliau merupakan orang kepercayaan Ratu, namun yang sesungguhnya beliau berpihak kepada Yang Mulia Pangeran Pertama." Ujar Redian yang merasa kagum pada Louisse.
"Terakhir kali beliau juga turun langsung melewati jalan yang berbahaya demi mendapatkan penawar racun untuk Yang Mulia Pangeran. Aku tidak menyangka aku bisa salah paham kepada orang sebaik Tuan Putri. Aku benar-benar orang bodoh yang seharusnya mati, tapi karena kebaikkan Yang Mulia Putri Louisse aku masih bisa bertahan hidup di sini." Redian masih saja terus berceloteh tentang kebaikan Louisse, sementara Edmund hanya diam mendengarkan dan diam-diam dia juga memikirkan tentang Louisse.
"Sebagai kesatria pelindung yang selalu dekat dengan Yang Mulia Putri, aku tidak bisa tidak mengakui bila kasih sayang beliau untuk Yang Mulia Pangeran Leonard adalah perasaan yang tulus." Kata hati Edmund yang telah mengamati tindak laku Louisse selama ini.
"Oh ya Ed, apakah kau tahu? Julian bilang jika dari dulu Yang Mulia Putri selalu memberi tahu siapa-siapa yang menjadi mata-mata Ratu. Yang Mulia Putri sungguh hebat dalam mendapatkan informasi." Setelah apa yang dikatakan Redian barusan, Edmund seakan mengingat sesuatu lagi tentang Louisse.
"Setelah diingat-ingat Yang Mulia Putri juga tahu betul tentang penawar racun. Beliau bahkan tahu tentang identitas asli Rodrego. Bagaimana bisa Yang Mulia Putri mengetahui hal sebanyak itu? Apa mungkin dari... " Terka Edmund dalam hatinya seraya menatap buku catatan Louisse yang ia temukan dari tangan para penjahat waktu itu. Buku catatan itu selalu dibawa kemanapun ia pergi.
Edmund langsung berdiri dari tempat duduknya dan tanpa berkata apa-apa dia langsung pergi meninggalkan Redian begitu saja, bahkan teriakan Redian pun tidak dihiraukannya.
"Hei Ed..!! Kau mau kemana?!" Teriak Redian yang hanya dianggap angin lalu oleh Edmund.
...****************...
Edmund melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruang baca Louisse. Dia tahu pasti jika jam segini Louisse akan pergi ke ruang baca pribadinya. Louisse yang baru saja masuk ke ruang baca pribadinya sekembalinya dari kamar Leonard terpaksa mengurungkan niatnya untuk mengambil salah satu buku di sana setelah mendengar suara ketukan pintu.
"Oh sir Edmund, ada apa?" Tanya Louisse yang melihat siapa yang mengetuk pintu ruang baca pribadinya.
"Ada sesuatu hal penting yang harus saya sampaikan kepada anda Yang Mulia." Ucap Edmund.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...