
Akhirnya Louisse dan Leonard sampai ke tempat pesta yang diselenggaran oleh lady daei kediaman Zacard, siapa lagi kalau bukan Vianty de Zacard? Vianty mengadakan pesta untuk merayakan bisnisnya yang berjalan dengan lancar.
Louisse sedikit was-was apakah Vianty akan mengajaknya ribut di pesta yang dia selenggarakan ini.
"Selamat datang Yang Mulia Leonard dan Putri Louisse... Terimksih atas kedatangan Yang Mulia berdua." Ucap Vianty memberi salam ketika Leonard dan Louisse tiba di kediamannya.
"Seperti biasanya, malam ini Vianty tetap terlihat mencolok." Batin Louisse ketika melihat penampilan anggun Vianty malam ini di pestanya sendiri.
"Kenapa dia melihatku seperti itu? Bisakah kita tidak usah ribut hari ini?" Batin Louisse lagi.
"Yang Mulia Louisse, gaun yang anda kenakan malam ini modelnya sangat berbeda." Ucap Vianty memuji gaun yang dikenakan Louisse saat ini. Sontak Mata Louisse membulat karena dia tidak akan menyangka jika Vianty akan memuji apa yang ia kenakan di pestanya.
"Apa dia mau ngajak ribut lagi? Kenapa tiba-tiba membahas soal gaun yang kupakai? Apa boleh penyelenggara pesta mengajak ribut tamu yang dia undang?" Itu pikiran-pikiran negatif Louisse saat ini.
"Gaun anda begitu canti." Puji Vianty dengan mata berbinar.
"Kenapa sih anak ini? Tidak mungkin kan dia memujiku dengan tulus? Dia pasti merencanakan sesuatu!" Batin Louisse yang penuh dengan kecurigaan.
"Anda tidak perlu curiga seperti itu dengan saya." Ucap Vianty seakan mengetahui isi hati Louisse.
"Saya kan tidak pernah berkata seperti itu." Sahut Louisse yang sedikit terkejut.
"Tapi ekspresi wajah Yang Mulia seakan mengatakan hal itu." Sahut Vianty balik.
"Waahh... Apa selain pebisnis dia juga cenayang?" Louisse terheran-heran dalam hatinya.
"Ada kalanya saya memuji dengan tulus dan jangan beranggapan jika saya adalah cenayang. Hanya saja menurut saya gaun yang anda kenakan malam ini terlihat anggun dan berkelas meskipun memiliki desain yang simpel. Kalau boleh saya tahu, siapa desainer gaun Yang Mulia ini?" Ungkap Vianty seraya bertanya.
"Dia ini pandai sekali menebak isi hati orang, tapi tak kusangka jika dia benar-benar tulus memujiku karena kupikir dia akan mengolokku karena gaun yang aku pakai. Gaunku ini adalah gaun model modern yang biasa digunakan di tempat asalku. Jadi aku berpikir mungkin ini akan tampak aneh di matanya." Batin Louisse.
"Saya sendiri yang membuat desain dasarnya. Namun untuk secara detail pembuatannya dilakukan oleh nona Lalisa Bell, tapi sayangnya saya lupa nama butiknya." Jawab Louisse dengan jujur.
"Astaga! Ternyata Yang Mulia memesannya di butik saya." Kata-kata Vianty itu sontak membuat Louisse dan bahkan Leonard yang sedari tadi diam karena dicuekin oleh kedua wanita di dekatnya itu terkejut.
"Apa?!" Seru Louisse tak percaya.
"Lalisa Bell adalah desainer kesayangan saya. Dia sangan pandai membuat desain-desain istimewa tanpa terpengaruh dengan model gaun yang sedang trend di pasaran." Ungkap Vianty.
__ADS_1
"Tapi butik yang saya kunjungi bukanlah butik milik lady." Ujar Louisse yang sangat yakin jika waktu itu dia telah menghindari untuk memasuki butik milik Vianty.
"Ah... Itu karena beberapa hari yang lalu saya telah mengambil alih butik lain untuk saya kelola." Ungkap Vianty dengan senyum di bibirnya.
"Terus buat apa aku mengajak Leonard waktu itu untuk menghindary butik Vianty jika ujung-ujungnya ke butik Vianty yang lainnya?! Itu berarti aku sudah membantunya menaikkan penghasilannya... Ughh!" Batin Louisse yang seakan telah dipermainkan.
"Mengambil alih? Sejak kapan mengambil alih dan merampas merupakan hal yang sama?" Tiba-tiba Leonard yang sedari tadi diam menyimak berucap sarkas pada Vianty, dan itu membuat Vianty merasa jengkel.
"Ya ampun... Kata-kata anda sungguh membuat saya kecewa. Hal semacam ini disebut ekspansi bisnis Yang Mulia Pangeran... Dan tentu saja semua bisnis saya melewati prosedur yang legal." Vianty membalas perkatan Leonard dengan kata-kata anggun namun menusuk seperti yang biasa dia gunakan.
"Yah... Kalau lady mengatakannya mengambil alih berarti itu memang mengambil alih." Balas Leonard tak kalah sengitnya dan pemandangan keduanya membiuat Louisse tiba-tiba sakit kepala.
"Astaga... Aku sudah berusaha untuk tidak ribut dengan Vianty malam ini, tapi mengapa malah dua bocah ini yang terlihat akan ribut?! Aarrgghh...!!" Dalam hatinya Louisse berteriak tanpa suara.
"Tolong... Kalian jangan bertengkar." Ucap Louisse hati-hati tapi justru dia mendapat teriakan dari keduanya.
"Kami tidak bertengkar!" Seru Leonard dan Vianty secara bersamaan.
"Bukankah di dalam novel kalian berdua adalah pasangan yang romantis, tapi kenapa belum apa-apa malah begini?" Louisse lagi-lagi bingung harus berbuat apa jika dua orang yang ingin dia satukan sudah seperti anjing dan kucing sebelumnya.
"Kalau begitu silahkan menikmati pestanaya..." Ucap Vianty lalu udur diri.
POV Louisse...
Akhirnya obrolan singkat kami dengan Vianty berakhir tanpa ada masalah apapun. Lalu setelah sekian lama akhirnya aku melakukan dansa lagi bersama Leonard dan ini adalah dansa pertamaku bersamanya setelah empat tahun kami berpisah. Tanpa disadari di pesta terakhir pada waktu itu aku hanya berdansa dengan Oscar.
"Kamu tidak lupa cara berdansa kan?" Tanyaku khawatir.
"Aku tak akan lupa karena aku cukup baik dalam menghafal gerakan tubuh." Seperti yang diharapkan, dia selalu unggul dalam percaya dirinya.
"Justru aku khawatir jika kamu yang akan lupa." Balasnya setengah mengejekku.
"Mana mungkin?! Selama kamu tidak ada, aku selalu berdansa dengan Os... Kyaaa...!"
Aku terkejut karena tiba-tiba Leonard melepas pegangannya dan membuat aku hampir saja terjatuh.
"Aku hampir saja terjatuh tahu!!"
__ADS_1
"Maka dari itu aku langsung menangkapmu."
Kami terdiam sejenak dan aku menatap wajah Leonard yang terlihat dengan ekspresi itu lagi.
"Kamu kenapa sih hari ini terlihat aneh? Apa segitu beratnya pekerjaanmu?" Tanyaku padanya.
"Huh... Kau ini sembrono. Lain kali kau harus lebih hati-hati dalam berkata." Aku tidak mengerti maksud ucapan Leonard barusan.
"Maksud kamu apa?" Tanyaku yang benarbenar tidak tahu.
"Kamu pasti sudah mendengar rumor yang beredar di pergaulan kelas atas tentang... Kamu dan Oscar."
Aha! Ternyata tentang itu. Jadi Leonard akhirnya sudah mendengar juga.
"Tapi itu kan hanyalah omong kosong yang tidak mendasar..."
"Iya, aku tahu. Tapi di Kekaisaran banyak sekali orang-orang yang ingin menjatuhkanku. Mereka sedang berusaha mencari kelemahanku untuk menaikkan reputasi mereka. Ini akan membahayakanmu juga jika sudah menjadi target mereka."
Perkataan Leonard benar, oleh sebab itu dia mengirimkan pengawal pribadi karena mengkhawatirkanku tapi aku malah terlihat santai. Aku kan sudah berjanji untuk berada di pihaknya.
"Maaf..." Aku sungguh-sungguh menyesal.
"Aku tidak menyalahkanmu, justru akulah yang salah karena aku mempunyai banyak musuh." Ucapnya.
Selama ini aku sedikit meremehkan karena sudah tahu cerita aslinya tanpa berpikir jika rumor yang tersebar di kalangan bangsawan akan menjadi sangat merepotkan. Aku tahu bagaimana perasaan Leonard ketika mendengar rumor itu, meskipun dia bilang percaya tapi...
"Leonard... Aku ingin bertanya sesuatu karena penasaran. Apa kamu pernah menganggap kata-kata percaya hanyalah bualan saja? Karena mungkin saja orang yang kamu percaya tidak mempercayaimu."
"Kamu salah. Justru aku memutuskan untuk percaya lebih dulu dengan berpikir tidak masalah jika aku tidak mendapat kepercayaan sebagai balasnnya."
Enatah mengapa jawaban Leonard itu justru terdengar seperti ungkapan cinta, dan itu membuatku berdebar. Setelahnya aku tidak bisa mengingat apa-apa lagi karena aku minum terlalu banyak.
POV Louisse off...
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...