Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 19 Vianty: Jika Aku Menjadi Duchess


__ADS_3

Kembali ke Author...


Vianty nampak tersinggung atas pujian yang dilontarkan Louisse untuknya, dan itu membuat Louisse terkejut.


"Memang... Tapi apa gunanya semua itu?!" Seru Vianty sambil menatap tajam ke arah Louisse. Ada rasa marah, kesal, kecewa bahkan terbersit rasa sedih di raut wajah cantik lady berambut panjang merah bak bunga mawar yang sedang mekar itu.


"Wah... Gawat!! Sepertinya ada yang salah dengan kata-kataku." Batin Louisse yang merasa tidak enak.


"Apa gunanya semua itu jika semua yang saya lakukan harus melewati ijin ayah saya dulu? Dari keluar rumah, menemui seseorang bahkan mengeluarkan uang untuk hal kecil sekalipun semua harus dalam persetujuan kepala keluarga yaitu ayah saya." Ucap Vianty dengan rasa kesalnya yang begitu kentara.


"Bahkan nanti jika saya menikah semua hal tadi tetap berlaku, saya hanya mengganti persetujuan dari ayah saya ke suami saya." Tambahnya dengan nada yang begitu emosi.


Mendengar kata-kata Vianty barusan membuat hati Louisse seakan ikut tercabik-cabik. Louisse beranggapan jika yang terjadi pada Vianty merupakan hal yang tidak adil. Wanita secantik dan sepintar Vianty yang mempunyai keunggulan yang tidak kalah dengan laki-laki itu merupakan kerugian yang sanagat besar. Vianty tidak pantas diperlakukan seperti itu.


"Vianty terlahir sebagai wanita yang mempunyai keunggulan yang lebih dibanding wanita lain seumurannya, tentu saja dia berpikir seperti itu dengan otak cerdasnya. Tapi di negara yang lebih mengutamakan gelar dan jenis kelamin dibanding kemampuan seperti di sini, ini sangat tidak menguntungkan bagi Vianty." Batin Louisse sambil menatap kasihan pada Vianty.


"Tunggu!! Apa karena hal ini Vianty di dunia novel memilih Leonard sebagai pasangannya? Sifat Leonard yang masa bodoh dan tidak tertarik dengan urusan orang lain selama itu bukan masalah yang besar akan menguntungkan Vianty. Leonard tidak akan peduli jika istrinya mengeluarkan uang untuk berbisnis atau untuk hal sepele sekalipun. Terlebih status sebagai Paneran Pertama bukanlah hal yang buruk sebagai suami seorang putri Duke." Guamam Louisse dalam hatinya dengan pemikiran yang dia rangkum sendiri.


Mereka berdua terdiam, Vianty berusaha mengatur napasnya karena emosi yang menggebu-gebu tadi, sementara Louisse masih dalam pemikiran-pemikirannya sendiri tentang keadaan yang dialami Vianty saat ini.


"Di dalam novel semuanya diceritakan dari sudut pandang tokoh utama laki-laki saja, jadi aku tidak tahu jika hal seperti ini bisa terjadi. Apakah ini berarti cinta para tokoh utama hanya dirasakan oleh tokoh utama laki-laki dan tokoh utama wanita hanya melakukannya karena dia membutuhkan tokoh utama laki-laki?! Pantas saja pertemuan mereka di pesta pelepasan waktu itu terkesan biasa saja. Hahh... Leonard yang malang." Batin Louisse dengan pemikiran bodohnya. Pemikiran yang belum pasti kebenarannya di dunia yang ia tinggali saat ini.


"Ayah saya tidak berniat mewariskan gelarnya kepada menantunya dan mungkin gelar tersebut akan diberikan kepada kakak sepupu saya padahal saya yakin bisa melakukannya lebih baik daripada kakak sepupu saya." Ucap Vianty tiba-tiba setelah dapat mengatur napas emosinya.


"Aku mengerti perasaannya tapi aku tidak bisa bersimpati karena mengingat dia akan menikahi Leonard demi tujuannya, Aku tidak rela jika Leonard yang polos hanya dimanfaatkannya, bagaimana jika Leonard benar-benar akan mencintainya?" Gerutu Louisse dalam hati.


"Kalau begitu lady harus berusaha sendiri untuk menjadi Duchess." Sahut Loisse yang sedikit kesal.

__ADS_1


"Tolong anda berbicara yang lebih masuk akal Tuan Putri. Hukum di Kekaisaran ini menuliskan jika perempuan tidak bisa mewarisi sebuah gelar, bagaimana anda bisa..."


"Hukum kan dapat dirubah. Dengan relasi dan kekayaan keluarga Zakard lady bisa melakukan hal itu." Sahut Louisse yang memotong ucapan Vianty dan Vianty yang tadinya berseru dengan emosinya langsung terdiam mendengar ucapan Louisee.


"Sebenarnya ucapanku barusan tidak masuk akal juga sih... Tapi aku juga tidak rela jika dia hanya bertujuan memanfaatkan Leonard ku yang imut dan polos itu." Gumam Loisse dalam hatinya.


"Lho... Kenapa tidak ada reaksi? Apa dia diam karena terlalu marah dengan ucapanku barusan?" Batin Louisse lagi sembil menengok ke arah Vianty.


"La.. Lady Vianty..." Panggil Louisse namun tidak ada jawaban dari Vianty dan pada akhirnya mereka berdua tidak saling bicara dan hanya saling diam hingga kembali ke tempat acara.


Dari kejauhan Anne yang melihat Louisse di atas kuda yang dituntun oleh Vianty langsung berlari menghampiri sambil berteriak dengan wajah leganya.


"Yang Mulia...!!" Seru Anne sambil berlari menghampiri Louisse.


"Maaf karena membuatmu khawatir Anne." Ucap Louisse.


"Kalau begitu saya pamit dulu Yang Mulia..." Pamit Vianty yang kemudian berpaling meninggalkan Louisse bersama Anne.


"Terimakasih lady Zacard..." Seru Louisse namun Vianty tetap berjalan tanpa menghiraukan Louisse lagi. Ada kesedihan di raut wajahnya.


Vianty terus berjalan, dia memutuskan akan kembali saja ke rumahnya dan tidak melanjutkan mengikuti acara perburuan tersebut. Hingga suara seseorang dari belakang menghentikan langkahnya.


"Sulit dipercaya jika kamu tidak membawa apa-apa untuk hasil perburuan kali ini, Vianty." Kata orang tersebut yang langsung membuat Vianty berbalik menengok ke arah belakang punggungnya.


"Kan Arnold...?!" Seru Vianty.


Ternyata lelaki itu adalah Arnold de Zacard, kakak sepupu Vianty yang dia bicarakan tadi bersama Louisse. Dialah orang yang kemungkinan besar dipilih Duke Zacard ayah Vianty sebagai pewaris gelar Duke berikutnya.

__ADS_1


"Tanpa sengaja tadi aku bertemu Yang Mulia Putri yang terduduk karena kakinya terkilir di area berburu." Ucap Vianty.


"Apa??" Arnold terlihat kurang paham maksud Vianty.


"Yang pasti aku tidak mendapatkan hasil apapun karena aku harus menolong Tuan Putri hari ini." Terang Vianty yang kemudian terdiam. Dia tiba-tiba teringat lagi dengan apa yang telah diucapkan Louisse padanya sebelum mereka keluar dari area berburu.


"Kalau begitu lady harus berusaha sendiri untuk menjadi Duchess. Hukum kan dapat dirubah. Dengan relasi dan kekayaan keluarga Zakard lady bisa melakukan hal itu."


"Vianty..."


Vianty langsung terperanjat dan tersadar dalam lamunannya ketika Arnold menyentuh bahunya sembari memanggil namanya.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Arnold khawatir.


"Ah maaf kak, tadi aku sedang memikirkan hal lain. Bolehkah aku pamit duluan? Kurasa aku tidak enak badan." Kata Vianty yang ingin sesegera mungkin pergi dari sana.


"Tentu saja, kamu terlihat pucat, pulanglah dulu dan istirahatlah." Jawan Arnold.


"Terimakasih kak, kalau begitu aku pergi dulu." Pamit Vianty pada kakak sepupunya.


"Hati-hati di jalan." Balas Arnold yang menatap Vianty hingga adik sepupunya itu keluar dari tempat acara.


Di dalam kereta kuda Vianty tetap saja memikirkan hal tadi.


"Kak Arnold adalah keponakan yang paling disayang oleh ayah. Dia tampan, mempunyai kemampuan yang unggul dan memiliki kepribadian yang baik. Dia pasti akan menjadi Duke Zacard yang baik nantinya dan jalan yang terpikirkan olehku untuk hidupku adalah mencari calon suami yang mampu memberikan kebebasan untuk istrinya. Tapi... Jika aku bisa mewarisi gelar Duchess secara langsung..."


Vianty memejamkan matanya dan berpikir apakah itu mungkin untuknya?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2