Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 20 Berita Kemenangan


__ADS_3

Di wilayah perbatasan Timur markas pasukan militer Pangeran Leonard....


"Maaf Pangeran, anda tidak bisa pergi dalam keadaan yang masih belum pulih."


Terlihat Rodrego sedang menghalangi Leonard yang ingin pergi meninggalkan markas bersama pedang di tangannya.


"Minggir Rodrego! Aku harus segera menghabisi Locho dan menyelesaikan perang ini!" Gertak Leonard yang tidak mengindahkan permintaan Rodrego dikarenakan cidera di lengannya belum cukup membaik.


"Tapi jika anda memaksakan untuk memimpin pasukan sendiri, luka anda akan kembali terbuka Yang Mulia." Rodrego masih bersikukuh untuk membujuk Leonard agar tidak pergi.


"Aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil. Aku ingin cepat menghabisi Locho pimpinan para Barbar itu!" Sama halnya dengan Rodrego, Leonard sama keras kepalanya dan tidak menghiraukan apa kata Rodrego.


"Urusan Locho serahkan saja kepada kamu dan para pasukan, pasukkan mereka sedang mengalami krisis dan Locho pun sedang terluka parah, jadi kami saja cukup untuk menghadapinya." Bujuk Rodrego lagi.


"Benar kata Rodrego Yang Mulia, biarlah anda istirahat untuk sementara waktu." Tambah Julian yang juga berada di sana untuk menghalangi Leonard pergi sendiri dalam pertempuran.


"Kalian berdua minggir!! Apa sekarang kalian sedang menentang perintahku?!" Gertak Leonard dengan tatapan tajamnya.


"Apa anda seperti ini karena Yang Mulia Putri?" Tanya Redrego dengan tepat sasaran, namun Leonard tidak menanggapinya dan langsung pergi menyiapkan pasukannya untuk bertempur lagi.


Leonard selalu terngiang-ngiang akan isi surat dari Louisse yang menginginkan dia untuk lekas kembali. Ditambah rasa rindu Leonard pada Louisse sudah tidak dapat dia tahan lagi. Hampir tiga tahun ini dia dan Louisse tidak dapat bertemu satu sama lain, tentu saja Leonard sangat merindukan Louisse yang dia cintai itu, meski kata cinta belum sempat terucap dari bibirnya.


Akhirnya Leonard benar-benar memimpin kembali pasukannya untuk menangkap gerombolan pasukan Barbar dan pemimpinnya Locho yang sempat kabur karena banyak mengalami kekalahan. Dan dengan tekat yang kuat serta kegigihannya, Locho bersama gerombolan pasukannya yang tersisa dapat dikalahkan. Bahkan pasukan musuh itu sudah habis terbunuh dan menyisakan Locho yang kini lehernya sudah diacungi pedang Leonard.


"Aku mengaku kalah, ini kemenanganmu bocah." Ucap Locho yang sudah kehabisan tenaganya.


"Apa hanya itu kata terakhir yang ingin kau ucapkan?" Tanya Leonard dengan pedang yang masih terhunus mengarah leher Locho yang sudah bersimpuh tak berdaya.


"Haha... Aku sempat meremehkan ketika pertama kali mendengar ada seorang bocah ingusan menjadi Komandan Pasukan tertinggi. Tapi aku tidak menyangka dia mampu memusnahkan seluruh pasukanku dan menangkapku seorang diri." Ucap Locho yang masih bisa tertawa walau dia tahu hidupnya tidak akan lama lagi.


"Sayangnya kau akan mati di tangan bocah ingusan ini." Sahut Leonard sarkas.


"Hey bocah! Aku akan memberimu saran yang baik untuk yang terakhir kalinya!" Ujar Locho sambil menatap mata Leonard.


"Penggallah kepalaku dan serahkan ke ayahmu! Bukankah kedudukanmu tidak kuat karena ibumu yang berstatus rendah?" Kata Locho dengan tersenyum smirk.

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu!!" Sahut Leonard dingin dengan tatapan tidak suka.


"Dasar bocah! Susah sekali diajak bicara. Tidak ada salahnya kau menuruti orang yang akan mati sebentar lagi dan aku yakin ayahmu Sang Kaisar akan suka dengan hadiah kepalaku ini. Lalu naiklah tahta dan jadilah Kaisar yang berikutnya." Pinta Locho untuk yang terakhir kalinya sebelum dia kepalanya benar-benar terpisah dari lehernya.


"Tidak perlu kau ingatkan karena itulah tujuanku!" Sahut Leonard antara kesal dan sedikit terkejut, dia tidak menyangka jika musuh di hadapannya menginginkan hal tersebut sebelum mati di tangannya.


"Hahaha... Kalau begitu aku tidak perlu meng...khawa..tir..kannya..." Setelah mengatakan itu Locho benar-benar mati karena luka parah yang ada di perut dan dadanya sudah tidak dapat ia tahan, lalu dia pun tumbang di hadapan Leonard.


Sedetik kemudian Leonard pun ikut tumbang dan berbaring ke tanah karena kelelahan, ditambah luka di lengannya yang mesih belum kering kini benar-benar terbuka lagi dan mengeluarkan banyak darah.


Dia menatap ke arah langit yang begitu cerah hari itu. Ada rasa lega dibalik rasa sakit dan lelah di tubuhnya. Tergambar wajah Louisse yang sedang tersenyum di langit cerah yang ia tatap. Dan Leonard pun ikut tersenyum.


"Perang ini sebentar lagi berakhir, karena pemimpinnya sudah mati maka pasukan sisanya pasti akan cepat dibasmi. Pfft... Ratu pasti sangat kecewa karena aku tidak bisa mati sesui harapannya. Karena aku sudah berjanji akan kembali pada Louisse, maka aku tidak akan mati di tempat ini. Louisse sudah berjanji untuk membuat jubah kemenangan untukku. Jadi tolong tunggu sebentar lagi Louisse." Bisik hati kecil Leonard.


...****************...


Di lain tempat, Louisse dan Oscar sedang menikmati sebuah pertunjukkan Opera yang diselenggarakan di gedung teater Kekaisaran. Opera tersebut adalah Opera Aslan yang menceritakan tentang kisah kepahlawanan Aslan, Kaisar pertama yang mendirikan Kekaisaran Eleador. Louisse dan Oscar menikmati Opera tersebut dengan wajah bosan hingga di akhir ceritanya. Dan mereka berdua keluar dari dalam gedung teater dengan wajah kusut.


"Huahh... Ini sangat membosankan!" Celetuk Louisse dengan mulut yang menguap.


"Kalau kak Isse sudah melihat tujuh kali, lalu kakak pikir aku sudah menontonnya berapa kali sampai hapal isi dialognya?" Sahut Oscar dengan memutar balik peratanyaan Louisse.


"Astaga...!" Louisse sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi jika Oscar sudah mengatakan itu. Pasalnya seluruh anggota Kekaisaran diwajibkan menonton Opera Aslan itu sejak mereka kecil hingga dewasa dalam setahun sekali untuk mengingat kisah kepahlawan Kaisar Pertama Eliador. Dan itu berlaku juga bagi para bangsawan berstatus tinggi. Maka dari itu Oscar pasti sudah sangat muak karena sudah menontonnya selama bertahun-tahun secara berkala. Beda dengan Louisse yang baru menontonnya sejak dirinya resmi masuk ke dalam istana karena sebelumnya dia hanyalah bangsawan berstatus rendah.


"Hallo Yang Mulia Putri, apakah anda menikmati Operanya?" Tiba-tiba ada seorang gadis bangsawan yang datang menyapa Louisse.


"Erica Louwyer, kenapa dia datang menyapaku? Bukankah dia tidak suka padaku? Aneh sekali." Batin Louisse mempertanyakan.


"Tentu saja, pertunjukkannya sangat bagus." Jawab Louisse seraya tersenyum meski itu terasa sangat mengganggunya.


"Hohoo... Yang Mulia Putri ternyata sangat mendalaminya karena kisah Kaisar Aslan yang berpisah dengan istrinya karena berperang sangatlah mirip dengan kisah Tuan Putri saat ini." Ujar Erica sambil tertawa sumbang.


"Aha! Ternyata ini maksud dia menyapaku, kisah Aslan dan Soledad dengan aku dan Leonard menurutnya akan sama. Tapi di akhir cerita Opera itu Aslan akhirny membunuh Soledad yang berselingkuh. Dasar wanita ular!! Dia ternya mau cari ribut dengan cara yang elegan ya?!" Gerutu Louisse dalam hatinya.


Louisse sudah berusaha menahan amarahnya namun tiba-tiba tertahan dengan kehadiran Vianty pada saat itu.

__ADS_1


"Bukan suatu masalah jika tubuh terpisah karena jarak tapi hati tetap saling menyatu. Pasalnya banyak sekali pasangan yang dekat di mata namun jauh di hati. Bukankah begitu lady Louwyer?" Ucap Vianty dengan sindirannya yang halus tapi menusuk tepat sasaran. Dan tanpa bisa membalas dengan kata-kata Erica Louwyer langsung pergi begitu saja dengan wajah malunya tanpa berpamitan.


Keahlian Vianty dalam bermain berkata-kata memang tidak diragukan lagi. Dia langsung dapat menyingkirkan Erica dengan sindiran tajamnya yang punya hubungan tidak baik dengan tunangannya.


"Vianty memang ahli dalam kata-kata tajamnya yang elegan, aku harus belajar dari dia." Batin Louisse sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Seharusnya anda mengatakan yang seharusnya ingin anda katakan. Bukan hal baik jika harus menahan sesuatu. Kalau begitu saya permisi dulu Yang Mulia." Ucap Vianty yang kemudian pergi setelah berpamitan pada Louisse.


"Dasar! Dia itu selalu mengatakan sesuatu seenaknya sendiri lalu pergi begitu saja!" Gerutu Louisse setelah Vianty pergi.


"Sebenarnya aku sudah memperhatikan ini sejak lama... Ternya memang benar jika kak Isse dekat dengan Vianty de Zacard." Ucap Oscar tiba-tiba setelah dari tadi hanya mengamati para lady yang perang kata-kata.


"Apa kamu bilang?!! Apa kau sudah gila?!!" Seru Louisse yang tidak menyangka jika adik iparnya itu bisa berpikir demikian tentang Vianty dan dirinya.


"Apa itu salah? Semua orang berkata jika kak Isse dan lady Zacard punya hubungan pertemanan yang baik." Ujar Oscar.


"Tidak!! Mana mungkin?!! Dasar orang-orang gila!!" Seru Louisse seraya memaki-maki.


"Tapi kalian memang terlihat seperti itu..." Goda Oscar.


"Tidak!! Aku bilang tidak, ya tidak!!" Seru Louisse geram.


"Eh... Tapi kenapa para pelayan istana terlihat terburu-buru?" Tanya Oscar yang melihat para pelayan berjalan terburu-buru kesana kemari.


"Entahlah..." Sahut Louisse.


"Hei, tunggu sebentar!" Oscar menghadang salah satu dari pelayan tersebut.


"Apa yang terjadi? kenapa kalian terburu-buru?" Tanya Oscar.


"Oh Yang Mulia... Baru saja ada kabar jika Pangeran Pertama memenangkan peperangan, beliau mengirimkan kepala dari Locho pimpinan para Barbar. Dan Kaisar kini menyuruh untuk mempersiapkan pesta untuk merayakan kemenangan." Jawab si pelayan tersebut.


"Berarti tidak lama lagi kak Leon akan segera kembali ke istana. Bukankah ini kabar yang membahagiakan kak Isse?" Seru Oscar dengan wajah bahagianya. Namun Louisse hanya diam dengan raut muka yang terlihat sedih.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2