
"Yang Mulia, tadi ketika saya ingin mengawal Tuan Putri untuk keluar istana seorang pelayan datang dan menyampaikan bahwa anda memanggil saya karena ada ursan mendadak." Ujar Edmund mengatakan mengapa dia sampai buru-buru datang ke istana pangeran.
"Di sini sudah ada Rodrego dan juga Jullian yang membantuku, kenapa aku harus memanggilmu yang mempunyai tugas penting untuk menjaga istriku?" Kata Leonard sambil membolak-balik buku yang ia baca.
"Mungkin pelayan itu salah menyampaikan pesan." Ucap Jullian.
"Sir Edmund, kembalilah pada tugasmu." Perintah Leonard.
"Baik, Yang Mulia." Setelah memberi salam Edmund bergegas pergi dari istana Pangeran untuk kembali ke istana Putri. Di sepanjang jalannya menuju ke istana Putri, Edmund terus saja memikirkan kejadian tadi.
"Haruskah aku menyusul Tuan Putri sekarang? Sekarang Tuan Putri pasti hampir sampai di kediaman keluarga Lope. Tapi aku tidak tahu jalannya. Dan juga terlalu malas untuk menyusulnya sakarang, aku juga belum tahu pasti Tuan Putri berada dipihak mana, lagipula sudah ada Redian bersamanya. Pasti tidak akan terjadi apa-apa kan? Ughh... Tapi kalau dipikir-pikir bagaimana bisa pesan dari Pangeran bisa salah?"
Itulah yang dipikirkan Edmund yang tanpa sadar kakinya melangkah sendiri menuju kandang kuda.
"Argh! Kenapa aku bisa sampai ke sini?! Ck, nggak tahulah! Ini bukan karena aku khawatir tapi aku merasa ada yang janggal. Firasatku tidak enak!" Batin Edmund yang langsung merebut kekang kuda dari penjaga kuda yang hendah memasukkan kuda ke kandangnya.
"Aku pinjam sebentar!"
"Tapi tuan?! "
Edmund tidak menghiraukan seruan penjaga kuda, dia langsung menaiki kuda tersebut dan memacunya dengan cepat.
.
.
Sementara itu di kediaman keluarga Count Lope, Louisse baru saja duduk menikamati teh hangat di ruang tamu kediaman Count Lope setelah Jesica de Lope putri kediaman itu menyambutnya.
"Tehnya enak sekali lady Lope..." Ucap Louisse setelah menyeruput teh yang disajikan untuknya.
"Syukurlah jika rasanya sesuai dengan selera Yang Mulia." Sahut Jesica.
"Wahh... Dia wanita yang sangat canti. Beruntung sekali si Oscar bisa menikahi wanita secantik dia. Namun meski demikian.... Ini terlalu sunyi. Dia terlalu pendiam." Batin Louisse yang merasa semakin canggung dengan pertemuan itu.
"Apa kamu suka pergi ke pesta dansa?" Tanya Louisse.
"Biasa saja." Jawab Jesica singkat.
"Kalau menonton opera? Pasti ada pemyanyi favoritmu di sana." Tanya Louisse lagi.
"Opera juga biasa saja dan penyanyinya biasa saja." Lagi-lagi Louisse mendapat jawaban singkat dan seperlunya saja dari Jesica.
"Astaga... Aku bisa gila kalau begini terus. Tipe seperti ini susah sekali dihadapi (Ansosial). Aku ingin pulang saja...!!" Teriak Louisse dalam hatinya.
"Ng.. Ma, maaf..." Tiba-tiba Jesica meminta maaf pada Louisse.
"Ehh??" Louisse jadi kebingungan.
__ADS_1
"Maaf, orang-orang di pesta yang berbicara dengan saya selalu mengatakan jika saya orangnya membosankan karena tidak pandai bersosialisasi." Jesica mengatakan hal itu dengan menundukkan kepalanya dengan tubuh yang mulai bergetar.
"Maaf... hiks... Karakter saya memang seperti ini, hiks..." Tangis Jesica pecah sambil mengatakan maaf sekali lagi dan itu membuat Louisse merasa terkejut dan kebingungan.
"Tu, tunggu lady..." Louisse berusaha menenangkan Jesica tapi wanita itu justru menangis lebih kencang.
"Huaaa... hiks..."
"Ya ampun... Kalau begini aku merasa menjadi orang jahat yang membuat seorang lady menangis! Terlebih dia calon istri Oscar. Apa yang harus aku lakukaaaann!!" Teriak Louisse dalam hati. Hari ini dia sungguh membuatnya stress.
Akhirnya Louisse membiarkan Jesica meluapkan tangisnya agar dia lebih lega sampai tangisnya itu mereda dan hanya tinggal isakan saja.
"Hiks...hiks..." Suara isakan Jesica yang mulai mereda. Sepertinya dia mulai tenang setelah mengeluarkan banyak air mata.
"Apakah menjadi pribadi yang mengasyikkan itu diperlukan?" Tanya Louisse sambil menyodorkan sapu tangannya pada Jesica. Dan Jesica pun langsung terdiam sambil menerima sapu tangan yang diberikan Louisse untuknya.
"Seperti pemain opera, anggaplah itu hanyalah akting yang memang diperlukan. Dari awal tidak ada orang yang menganggap pergaulan kelas atas merupakan hal yang menyenangkan. Yahh... Meski selalu bosan tapi aku terpaksa melakukannya." Ucap Louisse untuk menghibur Jesica tapi selebihnya apa yang diucapkan Louisse itu memang benar adanya.
"Saya kira sayalah yang aneh. Mereka seperti tidak merasa bosan karena mereka berbincang dengan seru dan selalu tertawa. Tidak seperti saya." Ungkap Jesica dengan wajah polosnya.
"Aku rasa itu normal." Aahut Louisse.
"Saat di pesta aku selalu mencari kesempatan untuk kabur ke balkon. Dan akan sangat menyebalkan jika tidak ada makanan di sana." Ujar Louisse yang mengingat dirinya akan mengalihkan rasa bosannya pada makanan jika berada di tempat pesta.
"Saya setuju!! Saya juga begitu, saya akan kabur ke balkon diam-diam jika ada kesempatan!" Tiba-tiba Jesica yang tadinya habis menangis berubah semangat ketika mendengar cerita Louisse.
"Balkon paling ujung di lantai dua sebelah barat!" Jawab mereka bersamaan. Dan merekapun tertawa bersama setelah mendengar jawaban mereka sama.
"Haha... Pantas saja aku selalu ingin buru-buru ke sana karena merasa jika tidak cepat akan ada orang lain yang menempati. Ternyata itu orang itu lady." Ucap Louisse seraya tartawa.
"Pfft... Ternyata Yang Mulia Putri adalah orang yang sangat ceria." Ucap Jesica sambil tersenyum manis pada Louisse.
"Saya? Benarkah itu?" Tanya Louisse dengan menaikkan alisnya lucu.
"Iya, karena ini pertama kalinya sanya tertawa lepas dengan orang yang berbincang dengan saya." Ungkap Jesica dengan senyum lebar di bibirnya.
"Aku senang mendengarnya." Ucap Louisse dengan senyum yang menular.
Merekapun akhirnya bercakap-cakap hingga tidak terasa waktu telah berlalu cukup lama dan Louisse pun memutuskan untuk pulang ke istananya.
"Aku harus kembali ke istana sekarang, tapi lain waktu mari kita bertemu kembali untuk makan bersama atau sekedar minum teh. Aku akan mengajarimu bagaimana caranya berpura-pura senang di pergaulan sosial." Ucap Louisse ketika hendak keluar dari kediaman keluarga Lope.
"Suatu kehormatan bagi saya Yang Mulia Putri." Balas Jesica.
"Jangan terlalu sungkan. Kalau begitu sampai jumpa lady Lope." Sahut Louisse lalu meninggalkan kediaman itu.
"Hati-hati di jalan Yang Mulia." Ucap Jesica sambil menunduk hormat.
__ADS_1
Louisse tersenyum di dalam langkahnya. Meski dia merasa terbebani karena sikap polos Jesica, paling tidak dia merasa lega karena wanita yang hendak dinikahi Oscar adalah wanita yang baik.
Louisse yang hendak pulang bersama Redian terkejut ketika bertemu Oscar bersama Doha di halaman kediaman Count Lope. Begitu pula Oscar yang sama terkejutnya melihat Louisse di tempat yang sama yang ingin dia kunjungi.
"Aduh!! Kenapa kak Isse ada di sini?!" Celetuk Oscar yang terkejut melihat kakak iparnya itu dan buru-buru menyembunyikan buket bunga yang ia bawa ke belakang tubuhnya.
"Lho... Oscar? Kau di sini juga? Yang Mulia Ratu memintaku untung datang ke sini." Jawab Louisse.
"A aku, aku juga diminta ibu untuk datang kemari karena beliau selalu cerewet menyuruhku ke sini." Ujar Oscar dengan raut wajah gugup.
"Ya ampun... Ternya dia sudah menjadi sorang pria sampai menyiapkan sebuket bunga untuk seorang wanita, hohoho..." Louisse menatap adik iparnya dengan tatapan bangga sekaligus ingin menggodanya.
"Ja, jangan menatapku seperti itu!!" Oscar sepertinya tahu jika kakak iparnya itu pasti akan menggodanya.
"Haha... Lucu saja karena tidak menyangka anak kecil akan segera menikah. Dimataku kamu itu masih anak kecil." Ujar Louisse menggoda Oscar yang kini merasa malu sendiri karena diejek di hadapan bawahannya.
"Kakak sendiri yang menikah diusia tiga belas tahun itu seratus kali lebih lucu dari aku tahu!" Sahut Oscar yang tidak mau kalah dengan ejekan Louisse.
"Hoho... Benar sekali, aku dan Leonard pasti sangat lucu ya waktu itu." Louisse menimpali sambil tertawa.
"Aku jadi ingat masa kecil Oscar yang selalu ramah dan Leonard yang selalu jutek, tidak terasa waktu cepat sekali berlalu, mereka berdua tumbuh dengan baik." Ucap batin Louisse mengenang masa lalu.
"Ngomong-ngomong Oscar, apa kamu ingat?"
"Ingat apa?"
"Waktu kamu mengajakku untuk melakukan 'kencan malam'..." Ucapan Louisse itu seketika membuat Oscar meninggikan suaranya saking terkejutnya.
"Jangan bahas itu!!" Seru Oscar dengan wajah yang memerah karena malu dan itu juga membuat Redian serta Doha yang mendengarnya juga terkejut.
"Ya ampun... Ekspresinya lucu sekali, aku akan menggodanya lagi ah..." Batin Louisse sambil tersenyum smirk.
"Kenapa? Memang benar kan kalau waktu itu kamu memintaku untuk melakukan 'kencan malam' denganmu bersama Sami juga." Ledek Louisse lagi.
"Sudahlah kak, jangan meledek aku terus!" Seru Oscar yang sudah begitu malu, apa lagi di sana ada Redian dan juga Doha yang sudah memikirkan hal yang tidak-tidak. Meski mereka berdiri agak jauh dari Louisse dan Oscar tapi mereka cukup jelas mendengar obrolan para tuan mereka.
"Apa?! Pangeran Oscar meminta Yang Mulia Putri untuk melakukan 'kencan malam' bersamanya?" Gumam Redian yang merasa terkejut dengan apa yang dia dengar barusan. Dan Doha yang mendengarkan gumaman Redian itu langsung tersenyum licik.
"Dia pasti kesatria di bawah pimpinan langsung Pangeran Pertama." Tebak Doha dalam hatinya.
"Astaga! Bagaimana bisa Pangeran Kedua dan Tuan Putri Louisse melakukan 'kencan malam' bersama? Jangan-jangan Yang Mulia Putri berselingkuh?" Doha sengaja bergumam agak keras agar di dengar oleh Redian. Redian yang berpikiran sempit itupun langsung terkejut dan mulai termakan umpan yang dipasang Doha.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...