
"Oh sir Edmund, ada apa?" Tanya Louisse yang melihat siapa yang mengetuk pintu ruang baca pribadinya.
"Ada sesuatu hal penting yang harus saya sampaikan kepada anda Yang Mulia." Ucap Edmund.
"Hal penting? Apa itu?" Tanya Louisse sambil mengerutkan dahinya. Wajah Louisse terlihat sangat lelah saat itu.
"Tapi sebelumnya Yang Mulia, apa anda baik-baik saja? Raut wajah anda..."
"Ah, mungkin aku terlihat seperti ini karena terlalu lama melihat tulisan di buku. Oh ya, ada hal penting apa tadi?" Louisse langsung memotong ucapan Edmund sebelum pengawal pribadinya itu bertanya lebih jauh tentang keadaan fisiknya saat ini.
"Maaf sebelumnya karena saya telah mengganggu kesibukan anda. Ini... Saya selalu penasaran apakah Yang Mulia Putri mengenal barang ini?" Tanya Edmund sambil menyodorkan buku catatan berwarna coklat kepada Louisse. Sungguh terkejutnya Louisse melihat buku catatannya yang hilang ada pada Edmund saat ini.
"Itu kan buku catatanku yang hilang! Bagaimana bisa itu ada pada Edmund?!" Teriak batin Louisse.
Louisse berpikir sejenak sambil memandang ke arah buku catatannya yang baru saja diberikan Ed padanya.
"Kalau sudah seperti ini, tidak ada jalan lain yang bisa kulakukan. Lagian dia adalah sir Edmund, orang yang sudah berjanji setia pada Leonard. Dia pasti bisa dipercaya!" Dalam hati Louisse telah menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan pada Ed saat ini.
"Apakah anda bisa menceritakan bagaimana bisa buku ini ada di tangan anda sir Edmund?" Tanya Louisse dengan serius dan sesuai permintaan Louisse, Edmund mulai menceritakan kronologis kejadian saat ia bertemu dengan para perampok jalanan ketika hendak menyusul Louisse ke kediaman Count Lope dan menemukan buku catatan milik Louisse di sana.
__ADS_1
"Ternyata... Ada kejadian seperti itu ya?" Gumam Louisse.
"Maaf saya tidak melaporkannya pada anda Yang Mulia. Sejujurnya pada saat itu saya masih... " Edmund menghentikan ucapannya sambil menundukkan kepalanya pada Louisse. Dia benar-benar tidak enak hati pada Louisse dan merasa bersalah akan hal itu.
"Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti jika sir Edmund masih belum bisa mempercayaiku." Alih-alih marah atau merasa kecewa, Louisse justru menampilkan senyumnya dan berkata jika dia sangat mengerti akan tindakan Edmund pada waktu itu dan itu semakin membuat Edmund tidak enak hati pada Louisse.
Kemudian Louisse mengajak Edmund masuk ke ruang baca pribadinya dan menuju ke sebuah pintu khusus yang ada di dalam ruangan tersebut. Pintu yang hanya bisa dibuka oleh Louisse saja.
"Sir Edmund, anda pasti tahu jika tidak ada seorangpun bisa masuk ke ruangan pribadiku yang ini kecuali aku sendiri, karena aku membuatnya seperti itu." Ujar Louisse yang diangguki oleh Edmund.
"Untuk selanjutnya aku akan menjelaskannya di dalam, masuklah!" Lanjut Louisse sambil membuka handle pintu dan menyuruh Edmund masuk ke ruangan pribadinya itu.
"Ini adalah ruang baca pribadiku yang sesungguhnya." Kata Louisse ketika mereka sudah berada di dalam sana dan itu seketika membuat mata Edmund terbelalak melihat isi di dalam ruang baca pribadi milik Louisse. Selain tumpukan buku yang tertata rapi di raknya, di sana juga terpampang banyak kertas-kertas di dinding ruangan dengan gaya tulisan dan bahasa yang sama persis seperti yang dia lihat di dalam buku catatan milik Louisse.
"Semua yang ada di sini adalah informasi yang telah lama aku kumpulkan untuk membantu Leonard. Tentu saja aku menuliskannya dengan menggunakan huruf sandi yang hanya aku saja yang tahu untuk jaga-jaga jika saja tempat ini ketahuan." Terang Louisse untuk menjawab rasa penasaran Edmund yang belum sempat lelaki itu utarakan.
"Kalau begitu yang mencuri buku catatan anda..."
"Benar, ada orang di dalam istana yang mencurigaiku dan menyelipkan mata-mata di istanaku." Sambung Louisse membenarkan apa yang dipikirkan Edmund.
__ADS_1
"Ah, padahal aku sudah berpikir jika aktingku sebagai boneka Ratu sudah bagus tanpa menimbulkan kecurigaan. Apakah orang yang mengambil suratku untuk dikirimkan ke Leonard dan orang yang mencuri buku catatanku adalah orang yang sama?" Louisse bertanya-tanya dalam hatinya.
"Maaf Yang Mulia... Hari itu saya tidak berhasil menangkapa pelakunya." Tiba-tiba Edmund mengatakan hal itu dengan ekspresi wajah merasa bersalah. Louisse yang terkejut langsung menenangkannya.
"Jangan seperti itu! Sir Edmund kan sudah berusaha keras mencarinya hingga petang, itu berarti musuh kita adalah orang yang tangguh." Ucap Louisse menenangkan rasa bersalah Edmund padanya.
"Bagaimanapun mulai sekarang aku harus lebih berhati-hati, karena ada musuh yang mulai mencurigaiku." Batin Louisse yang sebenarnya juga mulai merasa cemas.
"Sir Edmund... Sampai kapanpun saya akan memihak pada Pangeran Leonard dan membantunya hingga dia bisa meraih tahta. Oleh karena itu, apakah anda bersedia membantu saya sir?" Tanya Louisse dengan menatap serius wajah Edmund.
Edmund pun tersenyum dan menjawab...
"Tentu saja Yang Mulia, saya akan..." Belum sempat Edmund menyelesaikan jawabannya, tiba-tiba Louisse tumbang di hadapannya.
"Yang Mulia...!!"
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...