
Louisse terus saja meledek Oscar tanpa mimikirkan apa yang akan terjadi. Namun saat itu dia tak akan menyangka jika omongannya tentang masa lalu bisa menimbulkan efik yang begitu besar. Perkataan Louisse itu telah menyelamatkannya yang hampir jatuh dalam perangkap Doha.
"Rencana kali ini dibatalkan, pulanglah lewat jalan yang aman." Perintah Doha pada kusir kereta kuda Louisse.
"Apakah sesuatu yang buruk telah terjadi?" Tanya kusir kereta kuda itu karena penasaran kenapa rencana mereka diganti.
"Tidak ada, justru ini akan menjadi sesuatu hal yang menarik." Jawab Doha dengan senyum liciknya.
Selain menyelamatkan dari perangkap, kata candaan Louisse itu juga menimbulkan suatu kesalah pahaman yang begitu besar bagi seseorang. Redian yang kelewat naif, menganggap candaan Louisse tadi adalah hal yang sebenarnya dan itu mungkin akan berakibat buruk kedepannya.
.
.
Sementara itu Edmund yang berusaha menyusul Louisse menunggangi kudanya dengan cepat meski dia sempat tersesat dan bingung harus memilih jalan yang mana karena jalan menuju ke kediaman Lope lebih sari satu. Terlebih dia tidak tahu jalan mana yang akan dilewati kereta kuda milik Louisse.
"Ah, apakan benar jalan yang ini?" Edmund akhirnya memilih salah satu jalan yang dia pilis secara asal. Namun disaat dia akan melewati jalan tersebut, dirinya tanpa sengaja melihat ada beberapa orang yang sembunyi di balik semak dan di belakang pohon. Edmund turun dari kudanya dan berjalan sangat pelan. Dia mendengar salah seorang dari mereka berbicara...
"Kereta kuda itu sebenarnya kapan akan lewat?" Tanya salah satu dari mereka.
"Kata orang itu jika kereta kudanya tidak lewat sini berarti ada perubahan rencana. Sudah cukup lama kita menunggu, apa sebaiknya kita pulang saja?" Kata orang satunya lagi.
Edmund yang berada tidak jauh di belakang mereka tentu saja mendengarnya. Dan melihat dari penampilan serta senjata yang dibawa kedua orang itu, Edmund bisa menebak bahwa mereka adalah kawanan perampok atau mungkin mereka adalah orang suruhan seseorang untuk mencelakai si pemilik kereta yang mereka bicarakan tadi.
Karena tidak ingin ambil pusing menduga-duga, Edmund pun menghampiri mereka untuk menanyakannya langsung.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Edmund. Lalu tanpa melihat siapa yang bertanya, salah seorang dari mereka nenjawabnya secara gamblang.
"Tentu saja sedang menunggu kereta yang sedang lewat, apa lagi? Haa??!" Setelah mengatakan itu barulah orang itu sadar jika ada orang lain selain mereka berdua di situ.
"Uwaahh!! Siapa?! Siapa kamu?!" Tanya orang itu dengan berteriak saat melihat Edmund yang sidah ada di belakannya.
"Sepertinya paman-paman ini adalah perampok. Apa paman-paman ini akan melakukan hal yang buruk?" Tanya Edmund dengan ekspresi datar yang santai.
"Hei bocah! Memangnya apa urusannya denganmu jika kami akan merampok?!" Gertak salah seorang yang beramput gondrong.
"Ah, tunggu dulu bos! Wajah bocah itu sangat tampan, kita bisa mendapat uang banyak dari pasar budak jika menjualnya ke sana." Ucap kawannya orang yang dipanggil bos itu.
"Haha... Idemu bagus juga." Sahut si bos perampok itu dengan tertawa senang.
Namun sayang sekali jika rencana tersebut tidak akan bisa terwujud, karena sebelum itu terjadi Edmund dengan gampangnya sudah meringkus dua perampok bodoh itu.
"To, tolong ampuni nyawa kami. Kami berjanji akan mengatakan semuanya." Kedua orang itu memohon sambil berlutut memohon belas kasihan dari Edmund.
__ADS_1
"Kami hanya disuruh oleh orang itu. Rencananya kami disuruh untuk menghentikan kereta kuda yang akan lewat di jalan ini. Ini lihatlah..!!" Kata si bos perampok itu sambil menunjukkan sebuah buku berwarna coklat pada Edmund.
"Orang itu menyuruh kami memaksa orang yang ada di dalam kereta kuda untuk menerjemahkan tulisan aneh yang ada di buku ini." Perampok itu menunjukkan isi buku yang ia bawa itu pada Edmund.
"Apa kalian tahu siapa yang berada di dalam kereta kuda tersebut?" Tanya Edmund.
"Kami tidak tahu, kami hanya disuruh sesuai perintah karena orang itu membayar kami dengan mahal." Jawab salah satu perampok.
"Ini kan salah satu jalan yang akan dilewati kereta kuda Yang Mulia Putri untuk kembali ke istana." Gumam batin Edmund.
"Siapa yang menyusruh kalian?!" Tanya Esmund kemudian.
"Dia..."
Jleb!!
Edmund terkejud karena tiba-tiba ada yang memanah kedua perampok itu sebelum mengatakan siapa yang menyuruh mereka. Sekelebat bayangan hitam menghilang begitu cepat sebelum Edmund bisa mengejarnya.
"Sebenarnya siapa yang melakukan hal ini?!" Tanya Edmund dalam benaknya.
.
.
Kereta kuda Louisse telah kembali ke istana dengan selamat dan Redian pun kembali ke istana Pangeran Pertama untuk kembali bekerja.
"Hei Red, kamu kan habis jalan-jalan tapi ada apa dengan wajah kusutmu itu?" Tanya Rodrego ketika meliha Redian datang dengan wajah yang terlihat kesal.
"Aku bukan habis jalan-jalan! Aku habis menggantikan Edmund mengawal putri keluar istana tahu?!" Teriak Redian teramat kesal.
"Iya kami sudah tahu, jadi tidak usah menggerutu dan sana kembali bekerja." Sahut Julian yang sedikit kesal juga pada Redian.
"Yang terpenting bukanlah itu! Kalian tidak tahu apa yang aku dengar tadi!" Seru Redian sambil menggebu-gebu.
"Memangnya apa yang kamu dengar sampai seserius itu?" Tanya Rodrego.
"Di sini tidak ada siapa-siapa kan selain kita?" Redian menengok kiri kanan memastikan jika di ruangan itu hanya ada mereka bertiga.
"Tadi aku mendengar Yang Mulia Putri berbicara begini kepada Pangeran Kedua... 'Ingat tidak kamu pernah mengajakku untuk melakukan kencan malam?' Begitu!" Ujar Redian setengah berbisik dan itu langsung membuat Julian dan Rodrego terkejut.
"Tunggu Red! Jika kau katakan itu di sini maka..."
Ucapan Rodrego terhenti karena Redian tidak menghiraukannya dan masih saja mengoceh.
__ADS_1
"Wajah Pangeran Kedua langsung memerah setelah Putri Louisse mengatakan itu dan Tuan Putri langsung tertawa senang. Bukankah itu masalah besar? Haruskah aku menyampaikan itu kepada Yang Mulia Leonard?" Kata Redian tanpa menghiraukan tatapan cemas Julian dan Rodrego. Pasalnya di ruangan itu juga ada Leonard yang sejak tadi duduk terhalang oleh banyaknya buku-buku yang menumpuk di mejanya.
"Tertawa senang?" Tanya seseorang dari balik meja kerja Leonard.
"Ya, Yang Mulia Putri terlihat sangat senang saat itu. Eh..??" Redian begitu saja menjawab pertanyaan yang dia dengar barusan dan setelah sadar suara siapa itu, Redian langsung berbalik dan melihat Leonard sedang menatapnya dengan tajam.
"Yang.. Yang Mulia ada...di sini?" Ucapnya dengan gemetar ketakutan.
Leonard langsung mendekati Redian dan mencengkeram kerah bajunya.
"Redian, apa yang kamu katakan barusan itu benar?!" Tanya Leonard dengan nada amarah yang mengancam.
"Saya bersumpah dengan mempertaruhkan gelar kesatria yang anda anugerahkan pada saya, saya tidak berbohong Yang Mulia." Jawab Redian dengan berani sambil menatap langsung mata Leonard.
Leonard yang melihat tidak ada kebohongan di mata Redian pun langsung melepaskan cengkeraman tangannya di kerah baju Redian.
"Selain kamu, siapa lagi yang mendengar hal itu?" Tanya Leonard.
"Ada satu orang lagi. Dia adalah pelayan yang mengantar surat dari Ratu ketika kita masih berada di wilayah bagian Timur." Jawab Redian.
"Doha Hyperion." Ucap Leonard setelah mengingat orang suruhan Ratu itu.
"Benar Yang Mulia." Sahut Redian.
"Dia pasti berada di sisi Oscar atas perintah Ratu. Jika dia orang kepercayaan Ratu, sudah pasti dia tidak akan menyebarkan cerita itu. Karena jika dia melakukannya hal itu akan berdampak buruk bagi posisi Oscar." Pikir Leonard dalam benaknya.
"Red!"
"Iya Yang Mulia."
"Jangan sampai cerita ini bocor ke luar! Kedepannya kau harus berhati-hati, karena siapapun bisa kehilangan nyawanya jika seenaknya membicarakan anggota keluarga Kekaisaran." Setelah mengatakan hal itu Leonard keluar dengan emosi yang tertahan.
"Saya akan mengingat hal itu Yang Mulia." Sahut Redian sambil menunduk hormat mengantar kepergian Leonard.
"Astaga, aku baru ingat! Sepertinya ada yang dikatakan Yang Mulia Putri selain hal itu. Beliau seperti menyebut nama... Sami? Arghh...! Aku tidak bisa mendengar bagian itu dengan jelas!" Teriak Redian frustasi dalam hatinya.
"Huuff..." Rodrego akhirnya dapat menghela napas lega setelah melihat Leonard keluar dari ruangan.
"Hah.. Aku sudah mengira jika anak ini pasti akan menimbulkan masalah nantinya." Ujar Julian sambil mengurut keningnya yang terasa pening.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...