
Upacara di kuil yang akan dilakukan Louisse dan Leonard nanti akan diawali dengan meminum secawan wine yang diproduksi dari anggur pilihan yang hanya tumbuh di wilayah yang paling subur di Eliador sebagai perwujudan rasa syukur kepada Dewa Bumi. Namun apa yang baru saja didengar oleh Louisse? Ratu Media menyuruh bawahannya untuk bersengkokol dengan pendeta di sana dan menaruhkan racun di dalam cawan wine yang akan diminum Leonard.
"Media ingin meracuni Leonard? Bukankah sudah jelas dia tahu jika Leonard tidak akan mempan dengan racun. Dan terlebih lagi membunuh dengan racun bukanlah gaya Media. Ah... Jangan-jangan... Ini hanya untuk mengetesku?! Sepertinya Media telah curiga padaku, apakah aku masih ada dipihaknya atau sudah beralih dipihak Leonard?" Tebak Louisse dalam hatinya.
"Kau pasti sudah mendengar apa yang aku bicarakan tadi kan?" Ucap Ratu Media.
"Tentu saja aku mendengarnya karena kau sengaja mengatakannya dengan keras pada pelayan itu agar aku bisa mendengarnya juga." Louisse sangat geram dalam hatinya dan ingin menjawabnya seperti itu.
"Jadi kamu jangan terlalu terkejut bila ada kejadian yang menarik di kuil dan ikuti apapun kata orang kita yang ada di sana agar tidak ada masalah lain lagi yang muncul di sana." Perintah Ratu.
"Baik, akan saya lakukan sesuai perintah anda Yang Mulia Ratu." Jawab Louisse sambil menyembunyikan emosinya.
"Aku tidak akan membiarkan Leonard meminum racun itu!" Kata hati Louisse.
.
.
Akhirnya Louisse dan Leonard sampai ke kuil Dewa Bumi, namun wajah Louisse terlihat begitu cemas. Disepanjang jalan terlihat Louisse sedang memikirkan sesuatu, sesuatu mengenai apa yang dikatakan Ratu sebelum dia berangkat ke kuil.
"Sudah jelas tujuan Media bukan untuk membunuh Leonard melainkan untuk memastikan apakah aku mengkhianatinya atau tidak. Jika aku memberi tahu pada Leonard dan Leonard tidak meminum wine tersebut maka dia akan selamat. Tapi Ratu pasti tidak akan tinggal diam terhadapku karena menganggapku berkhianat. Sebaliknya, aku akan terbebas daribkecurigaan Ratu jika aku tetap tutup mulut dan diam seperti apa katanya. Mungkin Leonard kebal terhadap racun, tapi dia akan tetap merasakan sakit yang luar biasa karena racun dari bunga Ravless yang langka merupakan racun yang mematikan dan sulit mendapatkan penawarnya. Lalu bagaimana jika pada saat itu Leonard diserang pada saat kondisinya melemah karena terkana racun? Aku... Aku harus melakukan apa?!" Teriak Louisse dalam hati.
"Louisse, kamu sedang memikirkan apa?" Louisse tersentak dan kembali sadar dari lamunnya ketika mendengar suara Leonard dan sentuhan tangan Leonard di pundaknya.
"Leonard..." Gumam Louisse ketika melihat wajah cemas Leonard, dan seketika dia mengambil keputusan ketika mengingat kembali kata-kata Leonard yang tidak akan pernah menceraikannya dan selalu percaya terhadapnya.
"Leonard, kamu ingat janjimu yang akan selalu menuruti semua kata-kataku kan?" Ucap Louisse dengan tatapan serius pada Leonard.
"Mmm... I, iya..." Jawab Leonard ragu-ragu, dia merasa Louisse bakalan menyuruhnya melakukan hal-hal yang tidak masuk akal lagi padanya seperti terakhir kali kemarin.
__ADS_1
"Baiklah, kamu harus mendengarkan baik-baik kata-kataku! Jangan pernah kamu meminum wine yang akan diberikan oleh pendeta saat upacara nanti padamu! Karena di dalam wine itu ada racunnya!! Ratu sudah bersekongkol dengan pendeta utusan Dewa untuk menaruh racun di dalam cawan wine milikmu." Kata Louisse dengan sangat serius.
"Apa?!" Leonard sangat terkejut mendengarnya.
"Ba, bagaimana kamu bisa tahu kalau wine itu ada racunnya?" Tanya Leonard dengan rait wajah yang masih terkejut.
"Tentu saja aku tahu... Meski pura-pura, aku ini masih orang kepercayaannya Ratu. Dia mengatakannya padaku karena masih mengira jika aku adalah orang yang dipihaknya." Terang Louisse tak ingin menceritakan lebih detail lagi alasannya.
"Yang jelas kamu jangan pernah meneguk wine itu karena itu sangat berbahaya!!" Seru Louisse menekankan lagi perintahnya pada Leonard.
"Baiklah... Terimakasih Louisse." Jawab Leonard pasrah.
"Sekeras apapun aku memikirkannya hanya cara ini yang bisa kulakukan. Aku tidak ingin menjerumuskan Leonard lagi hanya untuk menyelamatkan hidupku." Ucap Louisse dengan teguh dalam hatinya.
Upacara penyerahan wine yang akan diminum oleh Leonard pun tiba. Setelah seakan membaca do'a, pendeta utusan Dewa itupun menyerahkan secawan wine pada Leonard.
Louisse menatap cawan berisi wine itu dengan was-was, dalam hatinya ia berkata....
Sepertinya permohonan yang diucapkan Louisse tadi tidak berjalan sesuai keinginannya. Tepat setelah pendeta itu menyerahkan cawan wine-nya pada Leonard, Pangeran Pertama itu meneguk wine tersebut sambil mata yang melirik ke arah Louisse. Sontak mata Louisse langsung terbelalak, jantungnya seakan berhenti berdetak, gerakan Leonard yang meminum wine racun itu bagaikan slow motion di mata Louisse. Lalu sedetik kemudian Leonard terbatuk dan mulutnya mengeluarkan darah lalu terjatuh di hadapan Louisse. Louisse begitu terkejut dan langsung berteriak.
"Kyaaaa...!! Leonaaardd..!!"
Melihat Leonard yang terjatuh dengan darah di mulutnya dan suara teriakan Louisse yang terkejut seperti itu, si pendeta yang bersekongkol dengan Ratu itupun lari melarikan diri dari sana.
"Ke, kenapa? Kenapa kamu malah meminumnya? Hiks... Kamu kan sudah janji untuk tidak meminumnya, kau kan sudah tahu jika wine ini ada racunnya, hiks..." Tanya Louisse sambil menahan tubuh Leonard di dadanya dengan air mata yang mengalir.
"Kalau aku tidak melakukan ini, maka Media akan mencurigaimu." Mendengar jawaban Leonard, Louisse kembali terkejut.
"Jadi kamu sudah tahu maksud dari Ratu melakukan ini?" Leonard hanya tersenyum sayu mendengar pertanyaan Louisse. Kemudian Leonard mencoba untuk berdiri lagi.
__ADS_1
"Kalau cuma segini sih aku tidak apa-ap.. uhuk!!" Belum selesai bicara Leonard langsung terbatuk dan mulutnya kembali mengeluarkan darah.
"Apa maksudmu seperti ini tidak apa-apa?!!" Seru Louisse dengan sejuta rasa cemasnya.
"Leo..."
"Sstt!!"
Belum sempat Louisse mengatakan sesuatu, Leonard langsung membungkam mulutnya dan menarik Louisse untuk bersembunyi. Mereka melihat beberapa pengawal istana datang tergesa-gesa dengan pedang di tangan mereka.
"Cepat cari Pangeran Pertama!" Seru salah satu dari para pengawal istana tersebut.
"Aku sudah mengira akan begini akhirnya. Ugh.. Sial! Ternyata racunnya lebih kuat dari yang kuduga. Jika seperti ini terus maka kami berdua akan dalam masalah!" Batin Leonard sambil menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
"Louisse, dengarkan aku baik-baik! Mereka tidak akan menyakitimu karena setahu mereka kamu adalah orang kepercayaan Ratu. Jadi bilang saja kalau kamu sedang mengikuti pendeta tadi yang melarikan diri." Ucap Leonard untuk menyelamatkan Louisse.
"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Louisse dengan mata yang masih menangis.
"Aku akan melarikan diri sendiri. Jadi, cepat pergilah!" Jawab Leonard dengan menyuruh Louisse untuk cepat pergi meninggalkannya. Namun dengan tegas Louisse menolaknya.
"Tidak! Aku tidak mau!" Seru Louisse.
"Dasar bodoh! Bagaimana bisa aku meninggalkanmu sendirian?!"
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...