Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 6 Si Kecil Oscar


__ADS_3

Setelah hari di mana aku memberitahu Leonard tentang Ratu yang memata-matai dirinya saat keluar istana, Leonar tetap saja menjaga jaraknya padaku dan tetap bersikap dingin. Tapi paling tidak dia sedikit mendengarkan ucapanku dan mengurangi waktunya untuk ke luar istana serta tetap datang di saat ada kelas, dia sudah tidak membolos lagi beberapa hari ini. Ya... setidaknya dia cukup pintar mengelabui Media dan mata-matanya untuk sementara waktu. Walau saat ini Leonard masih mewaspadaiku, paling tidak Media sedikit memberi kepercayaannya padaku, meski kepercayaannya itu dia berikan dengan cara menyuruhku untuk menemani bayi lucunya bermain. Bayi lucu yang aku maksud itu adalah Pangeran Oscar Brilliand de Eliador, Pangeran Kedua yang merupakan putra kandung Ratu Media. Aku bilang bayi bukan berarti dia benar-benar seorang bayi. Kini Pangeran Oscar sudah berumur sebelas tahun, hanya saja dia itu terlihat seperti adik kecil yang manis dan menggemaskan. Pangeran Oscar memiliki hati yang baik dan masih begitu lugu, hanya saja di istana yang besar ini dia merasa sangat kesepian. Dia tidak punya teman yang sebaya untuk diajaknya bermain, satu-satunya teman di istana ini adalah Pangeran Leonard. Tapi karena Media, sang ibu Ratu tidak menganggap Leonard sama sekali, kakak adik ini jadi jarang bertemu walau hanya sekedar bermain. Meski demikian baik Leonard maupun Oscar mempunyai hubungan yang baik. Oscar yang selalu ingin mendekati kakaknya membuat Leonard tidak bisa mengabaikannya. Bagaimana bisa Leonard mengabaikan adik selucu Oscar? Bagaimanapun Oscar adalah adik satu ayah dan saudara satu-satunya yang mungkin berpihak padanya di istana kejam ini.


"Ya ampun adik kecil... Kenapa kamu begitu imut dan menggemaskan seperti ini?" Saking gemasnya aku mengusap-usap kepalanya hingga rambutnya sedikit berantakn.


"Jangan bikin ranbutku berantakan!" Seru Oscar dengan pipi yang menggembung lucu dan bibir yang manyun. Itu semakin membuatku gemas saja.


"Aduh adik kecil... Jika kamu seperti ini, kamu jadi semakin menggemaskan tauuu??" Melihatnya selucu itu membuatku semakin kalap dan mencubit pipinya.


"Auw!! Jangan panggil aku anak kecil padahal kakak sendiri juga masih kecil." Serunya dengan suara anak kecil yang lucu.


"Tapi aku lebih tua dua tahun darimu dan lebih tinggi darimu Pangeran Kecil." Sahutku dengan senyum kemenangan.


"Tapi aku lebih besar dari Sami." Sahutnya seakan tidak terima jika dirinya lebih kecil dari orang lain. Tapi apa ini? Dia membandingkannya dengan Sami, anak anjing yang dipelihara Leonard.


"Hihiii... Dia sungguh manis sekali, aku jadi ragu apa benar dia anak yang dilahirkan Ratu Media yang menyeramkan itu?" Batinku selalu bertanya-tanya soal itu.


"Iya, iya, iya baiklah.... Kamu menang melawan Sami, dia lebih kecil darimu." Ucapku untuk sedikit membesarkan hatinya.


"Tentu saja! Karena aku lebih tinggi darinya." Seru Oscar dengan rasa percaya dirinya.


Lagian aku kan jauh lebih dewasa darinya, masa aku harus berdebat dengan bayi kecil lucu ini? Ah seandainya dia tahu jika aku bukan kakak, melainkan bibi yang sudah berusia dua puluh enam tahun, pasti dia tidak akan berteriak seperti ini padaku kan? Ahh... Jika Leonard yang tahu mungkin dia langsung menguburku hidup-hidup karena sudah menikahi perempuan yang dua kali lipat lebih dewasa dari umurnya. Ohh ya ampun... Aku seperti seorang pedofil saja.


"Oh ya, aku baru saja memperoleh boneka baru yang lucu, bagaimana jika kita bermain dengannya?" Ajakku agar si bayi kecil ini tidak rewel.


"Kak, aku ini bukan anak kecil dan aku ini laki-laki, kenapa aku harus bermain boneka?" Tolaknya dengan kata-kata seolah dia ini sudah dewasa. Ya... Anak kecil memang seperti itu, mereka cenderung merasa dewasa dan tidak mau dibilang anak kecil.


"Ahh... Bagaimana jika kita bermain dengan Sami?" Tawarku pada Oscar yang langsung membuat mata anak itu membulat dengan sinar yang menyilaukan saking senangnya.


"Sami? Aku suka bermain dengan Sami!" Seru Oscar dengan girang.

__ADS_1


"Tapi jika kita bermain dengan Sami maka kita harus minta ijin dengan pemiliknya." Ucapku pada Oscar dan membuat mata Pangeran kecil itu berkedip-kedip lucu.


"Minta ijin pada pemiliknya? Sami kan anak anjing milik kakakku." Ujarnya dengan polos.


"Benar sekali, maka dari itu kita harus meminta ijin dengan Pangeran Leonard karena dia pemiliknya dan sekalian kita ajak dia bermain juga bersama kita, bagaimana?" Jawabku seraya menerangkan pada Oscar yang polos ini.


"Maaf Oscar, sebenarnya ini taktik kecilku untuk bisa lebih akrab dengan Leonard dan aku sengaja menggunakan Sami sebagai alasannya." Ahh... Batinku sedikit menyesal karena membodohi bocah lucu ini, tapi bagaimana lagi? Semua demi masa depan yang cerah dengan kepala yang masih utuh menempel di leherku.


"Tapi... Kak Leon kan sedang sibuk belajar." Ujar Oscar yang berubah sendu air mukanya. Tapi tenang, kakak ini tidak akan membuatmu sedih.


"Tidak, tidak, tidak... Kakakmu itu pasti saat ini sedang bersembunyi di suatu tempat karena membolos." Ujarku.


"Benarkah? Bagaimana kak Isse bisa tahu itu?" Tanya Oscar penasaran.


"Tentu saja aku tahu, karena aku kan istrinya Leonard." Jawabku dengan bangga.


"Wahh... Kak Isse hebat!!" Serunya dengan polos sambil bertepuk tangan.


"Iya! Ayo kita mencari kak Leon!" Seru Oscar dengan semangatnya.


Saat kami hendak melangkah pergi para pelayan istana yang mengikuti kami dari tadi juga ikut melangkah mengikutiku dan Oscar. Ini akan sangat merepotkan, haruskah ku usir saja?


"Ahh tunggu sebentar Oscar." Ucapku menghentikan langkah dan langsung berbalik ke belakang.


"Kalian semua, aku perintahkan jaga karak kalian!!" Perintahku dengan sengit pada para pelayan-pelayan itu. Mendengar nada tinggiku dan tatapan tajamku pada mereka membuat mereka terhenyak kaget dan langsung menunduk patuh. Para pelayan itu akhirnya menjaga jarak mereka sejauh mungkin dariku dan Oscar. Semenjak Ratu terlihat memihakku, para pelayan di istana itu jadi lebih segan dan tidak meremehkanku lagi seperti dulu. Ahh... Kekuatan kekuasaan memang hebat.


Saat ini pas sekali waktunya kelas berpedang, aku yakin Leonard sedang bersembunyi untuk menghindari kelas tersebut. Beberapa hari ini dia memang rutin memasuki kelasanya sesuai jadwal kecuali di kelas seni berpedang, dia pasti membolos. Itu karena dia muak dengan gurunya yang tidak punya niatan untuk mengajarinya dengan sungguh-sungguh. Meski demikian dia tidak keluar istana karena ada mata-mata Ratu Media yang mengikutinya ketika berada di luar istana. Bagaimana aku bisa tahu jika Leonard tidak keluar istana? Tentu saja aku tahu karena mata-mata itu melaporkannya pada Media ketika aku sedang bersama Ratu antagonis itu kemarin. Dan aku tahu dimana tempat persembunyiannya Leonard ketika menghindari orang-orang di istana ini dan itu sudah dijelaskan di novel aslinya. Dan tempat Leonard bersembunyi adalah di tempat ini.


"Kakak, kenapa kak Isse mengajakku berdiri di depan pohon yang tinggi ini?" Tanya Oscar yang merasa heran.

__ADS_1


"Karena kakakmu suka sekali bersembunyi di sini." Jawab dengan lantang.


"Benarkah? Tapi kak Leon tidak ada di sini, di balik pohon ini juga tidak ada." Ujarnya sambil mengelilingi pohon tersebut.


"Bukan di situ Pangeran Kecil... Tapi di atas sana!" Tunjukku mengarah pada atas pohon yang membuat Oscar ikut mendongak mengikuti arah telunjukku.


"Haa??! Bagaimana kak Leon bisa naik ke atas sana?" Tanya Oscar dengan dahi yang dikerutkan.


"Itu karena kakakmu adalah Pangeran yang hebat." Sahutku dengan tersenyum bangga.


"Wahhh... Sungguh?" Tanyannya dengan mata yang berbinar.


"Tentu saja... Kalau begitu coba kita panggil dia. Leoooonaaard....!! Seruku panjang memanggil nama Leonard.


"Kakak, kenapa tidak ada jawaban??" Tanya Oscar heran.


"Mungkin dia malu, bagaimana kalau kamu yang memanggilnya? Mungkin dia tidak akan malu lagi." Ujarku sambil tersenyum smirk ketika melihat sedikit ujung sepatu di balik dahan pohon. Dan dengan patuh Oscar menuruti perkataanku.


"Kak Leooonnn....!!" Seru Oscar memanggil kakaknya dan seketika Leonard melompat dari atas pohon.


"Kak Leon...!" Oscar langsung menghambur ke pelukan Leonard saking senangnya melihat wajah kakaknya.


"Bagaimana kamu tahu jika kakak berada di sini?" Tanya Leonard sembari mengusap kepala Oscar dengan sayang.


"Itu karena kak Isse yang memberi tahu." Jawab Oscar dengan kejujuran polosnya.


Leonard yang mendengarnya langsung melihat ke arahku dengan tatapan tajam, namun aku hanya tersenyum lebar seakan tidak tahu apa-apa.


"Louisse, bagaimana kamu tahu?" Tanya Leonard dengan pandangan curiga. Tapi untungnya si bayi kecil kami yang lucu menyelamatkannku.

__ADS_1


"Itu karena kak Isse istri kak Leon!" Seru si kecil Oscar dengan senyum bangga di bibirnya.


Bersambung...


__ADS_2