
Masalah Count Aswan biarlah aku yang mengurusnya, percayakan saja padaku! Ini juga demi sir Julian." Kata Louisse.
"Kalau sampai melakukan kesalahan, kita bisa melukai hati Julian. Lebih baik kita tidak perlu ikut campur." Ujar Leonard yang merasakan sedikit kekhawatiran.
"Perasaan sir Julian, akulah yang lebih tahu. Apakah kamu sudah lupa? Demi kepentingan keluarga, akupun dijual ke istana tanpa persetujuanku." Ucap Louisse dengan wajah sendu. Mendengar ucapan Louisse membuat ingatan-ingatan masa lalu itu muncul kembali di benak Leonard.
"Maaf..." Louisse terkejut dengan permintaan maaf Leonard yang tiba-tiba. Suaminya itupun juga memeluknya erat.
"Ke, kenapa kamu yang minta maaf?!" Tanya Louisse kebingungan.
"Ternyata kamu juga merasa kesepian..." Jawab Leonard dengan wajah seperti orang yang akan menangis.
Louisse tersenyum lembut dan berkata...
"Aku tidak kesepian, karena ada dirimu yang selalu berada dipihakku."
"Louisse... "
Leonard menatap wajah tersenyum Louisse dengan tatapan yang lembut. Siapapun yang melihatnya itu terlihat seperti tontonan drama romantis, hingga...
Tok..tok...
"Heii... Kalian tidak lupa kan jika masih ada saya di sini?" Ujar Vianty sambil mengetuk-ngetuk meja dan menampilkan senyum paksa karena sedikit sebal dengan drama sepasang sejoli di depannya itu.
"Maaf!!" Seru Louisse dan Leonard bersamaan setelah menyadari jika di sana bukan hanya ada mereka berdua saja. Mereka berdua pun saling menjauh membuang muka karena terlalu malu.
__ADS_1
"Jika dipikir-dipikir kita sudah bisa sejauh ini berkat Yang Mulia Putri. Jadi urusan Count Aswan biar saja Yang Mulia Putri yang mengurusnya." Kata Vianty menengahi perdebatan itu, karena memang dia sangat percaya kepada kemampuan Louisse.
"Baiklah... Kita percayakan saja pada Louisse." Akhirnya Leonard menyetujuinya.
"Iya, serahkan padaku!" Sahut Louisse semangat. Dan langkah pertama yang ada dipikiran Louisse saat itu adalah menyelesaikan konflik antara Julian dan Count Aswan sebelum sidang Dewan Legislatif dibuka, lalu membuat Count Aswan berada dipihak mereka.
...****************...
Keesokan harinya...
"Uhuk, uhuk..! Ya ampun debunya..." Keluh Redian sambil terbatuk-batuk.
"Apa yang akan kami lakukan di tempat berdebu seperti ini?" Tanya Edmund penasaran.
"Aha! Jadi maksudnya ini adalah gudang penyimpanan dokumen? Pantas saja debunya seperti ini." Redian menimpali sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya.
Ya, saat ini Louisse sedang mengajak Redian dan juga Edmund ke gudang penyimpanan dokumen karena ada sesuatu yang harus mereka cari di tempat itu untuk keperluan kelancaran rencana mereka.
"Aku memerluka surat yang tidak dianggap penting oleh siapapun, jadi surat itu pasti ada di gudang seperti ini kan..." Ucap Louisse sambil tersenyum seperti biasanya.
"Jadi... Maksud Yang Mulia..." Ucap Edmund hati-hati tidak meneruskan ucapannya takut apa yang dia pikirkan akan terjadi. Dan...
"Baiklah! Ayo kita mulai mencari surat yang berhubungan dengan keluarga Count Aswan sekarag!" Seru Louisse bersemangat. Dan apa yang dipikirkan Edmund pun terjadi juga.
Demi meloloskan Rancangan Undang-Undang Pewarisan Gelar Bangsawan untuk wanita di sidang Dewan Legislatif mendatang, Louisse, Leonard dan juga Vianty melewati hari-hari mereka yang sibuk.
__ADS_1
"Pusing... Aku tidak bisa melihat apa-apa lagi karena terlalu banyak melihat huruf." Keluh Redian yang sudah merasa matanya berputar-putar karena telah banyak dokumen yang telah dia periksa namun belum menemukan apapun yang dibutuhkan oleh Louisse. Akhirnya dia berhenti sejenak dan meletakkan kepalanya di atas meja dengan mata yang terpejam.
"Saat otak tidak berjalan lancar, cobalah makan makanan yang manis. Cobalah lihat sir Edmund... Ohh sir Edmund lahap sekali hohoho..." Ujar Louisse sambil menunjuk ke arah Edmund yang masih terus bekerja dengan mulut yang penuh dengan kukis manis kesukaannya. Dengan kata lain Louisse tidak ingin Redian berhenti bekerja.
"Kalau dia itu bukan karena tidak bisa berpikir tapi dia makan makanan manis memang karena ingin makan saja!" Seru Redian kesal. Edmund kan memang rajanya makanan manis. Untuk meminta sesuatu pada Edmund cukup menyogoknya dengan makanan manis kesukaannya.
"Mari kita bertahan sebentar lagi." Ucap Louisse yang tidak bisa dibantah oleh Redian.
"**Masih t**ersisa dua minggu lagi sebelum sidang Dewan Legislatif diselenggarakan. Apapun yang terjadi aku harus menemukan surat itu meskipun harus begadang sekalipun!" Tekat Louisse dalam hati.
...****************...
Mendekati acara sidang Dewan Legislatif yang akan berlangsung beberapa hari lagi, baik Louisse dan Leonard sangat sibuk hingga mereka berdua jarang sekali bertemu jika tidak ada hal yang mendesak.
"Waktuku tidak banyak, jadwalku selanjutnya adalah berkunjung ke kediaman Baron Luwigh. Aku harus buru-buru tapi aku sangat merindukan Louisse. Saking sibuknya aku hampir tidak bisa melihat wajah istriku." Gerutu Leonard dalam hati di sepanjang dia berjalan hingga dia melihat sosok Louisse yang berjalan tak jauh di depannya bersama Anne.
"Louisse...!" Seru Leonard.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1