
Sepulang dari jalan-jalannya dengan Louisse, Leonard lekas membersihkan badannya dan hendak untuk pergi tidur setelahnya. Namun di atas nakas sebelah tempat tidurnya dia melihat ada beberapa dokumen kerja yang masih belum sempat ia selesaikan. Dia melihat ke arah tumpukan dokumen itu lalu meraihnya, ia melihat isi dari beberapa kertas penting itu kemudian ia menghela napas lelah.
"Aku pikir setelah perang berakhir sudah tidak ada lagi yang harus aku pikirkan, tapi kenyataannya... Beberapa masalah setelahnya harus segera diselesaikan termasuk tentang transaksi yang harus dilakukan dengan Duke Zacard." Itulah yang dipikirkan Leonard saat ini. Namun itu hanyalah sebagian dari kekhawatiran yang Leonard saat ini rasakan. Sekilas bayangan yang tengah berada di medan perangpun kembali muncul. Ingatannya tentang pertumpahan darah dimana banyak nyawa dari orang-orangnya yang terengguk karena keputusannya dalam bertindak sedikit ceroboh dan terburu-buru hingga nyawanya sendiripun hampir saja terenggut.
"Disaat aku hampir mati aku mengingat kembali jika aku tidak boleh mati di medan perang dan harus kembali bagaimanapun caranya. Karena aku mengingat akan janjiku pada Louisse. Dan sekarang aku kembali mengingat akan apa yang kamu katakan tadi padaku.... 'Sekarang tidak apa-apa jika kamu hidup tanpa rasa kekhawatiran karena di sini bukan medan perang.' Jadi, apakah aku benar-benar boleh menjalani hidup seperti itu? Entah mengapa kata-kata Louisse terdengar seperti seorang murid yang baru saja mendapat ijin membolos oleh gurunya. Dan aku ingin melakukan hal itu."
Setelah apa yang ia katakan di dalam pikirannya yang rumit itu, Leonard kemudian terlelap dalam tidurnya. Dia benar-benar sangat lelah.
.
.
Dua hari setelah hari itu, Louisse sedang berkumpul bersama para lady bangsawan untuk minum teh di taman istananya. Dan tanpa di duga Anne pelayan pribadinya datang dengan membawa sebuah kotak yang itu merupakan sebuah kotak perhiasa.
"Maaf Yang Mulia... Ada kiriman hadiah dari Yang Mulia Pangeran Pertama untuk anda." Ucap Anne sambil menyerahkan kotak perhiasan itu pada Louisse.
"Hoho ya ampun... Yang Mulia Pangeran Pertama sangatlah romantis." Ucap salah seorang lady.
"Yang Mulia, mohon segera anda membukanya karena kami semua sangat penasaran dengan isinya." Ucap lady lainnya dengan mata berbinar karena antusias ingin tahu apa yang ada di dalam kotak perhiasan tersebut.
"Haha... Kalian antusias sekali, baiklah akan saya buka." Jawab Louisse dengan sedikit malu.
"Kenapa dia tiba-tiba memberikan hadiah? Seperti bukan dia saja." Batin Louisse heran.
Saat Louisse membuka kotak perhiasan itu ternyata isinya adalah sebuah kalung cantik dengan permata kecil yang indah berwarna ungu. Dan semua yang melihatnya langsung terbelalak dengan pandangan takjub dengan keindahan kalung tersebut.
"Astaga... Itu sangat indah sekali Yang Mulia. Saya rasa Yang Mulia Pangeran benar-benar serius memilih kalung tersebut sambil memikirkan Yang Mulia Putri." Ucap seorang lady dengan nada kagumnya.
"Ya ampun... Haruskah aku mematahkan imajinasi semua lady di sini dengan mengatakan bahwa tidak mungkin Leonard punya selera yang begitu baik? Pasti ada orang lain yang membantu memilihnya karena selera Leonard dalam memilih perhiasan benar-benar buruk." Ujar Louisse dalam hati yang menahan agar dia tidak membuka kekurangan dari suaminya itu.
"Tunangan saya sangat tidak pandai dalam memilih hadiah, rasanya ingin saya pulangkan kembali hadiah itu." Keluh salah seorang lady.
"Ah rasanya aku juga ingin mengatakan jika Leonard juga sama dengan tunangannya. Leonard biasanya akan asal pilih atau memilih yang harganya paling mahal mesti itu modelnya terlihat kuno atau ketinggalan jaman." Batin Louisse yang meronta-ronta ingin mengatakan itu juga.
__ADS_1
"Tapi paling tidak tunangan anda memilihnya sendiri tanpa menyuruh orang lain. Tidak seperti suami saya yang akan menyuruh sekretarisnya bahkan sampai surat di dalamnya pun. Suami saya pasti mengira saya tidak hafal dengan tukisan tangannya." Curhat seorang lady lainnya.
Mendengar cerita lady tersebut membuat Louisse apakah Leonard juga mengirimkan surat? Dan saat Louisse mengeceknya ternyata itu ada. Surat itu terselip di dalam kotak.
"Hah?? Ternyata ada!" Seru Louisse dalam hati. Kemudian tanpa pikir panjang Louisse membukanya dan membaca isi surat tersebut.
"Aku hanya asal membelinya karena terlihat indah."
Itu isi dari surat tersebut dan alhasil membuat Louisse tertawa sendiri sambil menatap isi surat tersebut.
"Pfftt... Dia benar-benar menggemaskan." Batin Louisse sambil membayangkan wajah Leonard yang malu-malu jika memberikan hadiahnya secara langsung padanya.
"Ah Yang Mulia, apakah itu surat dari Pangeran Pertama?"
"Apa isinya? Saya juga ingin melihatnya Yang Mulia."
Rasa penasaran para lady itu membuat Louisse langsung kelabakan. Jika mereka semua melihat isinya, Louisse yakin para lady-lady itu akan terus membahasnya bahkan setelah mereka pulang sekalipun.
"Kyaa... Rahasia surat cinta? Yang Mulia berdua benar-benar romantis!" Seru girang para lady-lady tersebut dan itu sungguh membuat Louisse sedikit malu.
.
.
Flashback sehari sebelumnya....
Leonard pergi sendiri ke toko perhiasan bersama Pasha Noel salah seorang bawahannya yang sangat memahami selera wanita bangsawan di kalangan sosial.
"Bagaimana dengan yang ini?" Tanya Leonard pada Pasha sambil menunjuk ke salah satu kalung yang dipasang pada manaken etalase di toko perhiasan tersebut.
"Desain tersebut pasti langsung direfund setelah diterima." Jawab Pasha dengan nada datar.
"Apa memang separah itu?" Tanya Leonard lagi.
__ADS_1
"Iya itu pasti dan Yang Mulia tidak perlu meragukan penilaian saya yang cukup baik ini." Jawab Pasha dengan rasa percaya dirinya.
"Padahal aku memilihnya berdasarkan harganya yang paling mahal di toko ini. Apa benar seaneh itu? Serta aku suka karena berlian besar di tengah kalungnya dan juga rantainya terlihat stabil karena cukup besar. Hmm... Gimana ya?" Itu penilaian yang ada di pikiran Leonard.
Seakan tahu apa yang tengah dipikirkan Leonard saat itu, Pasha buru-buru mematahkan apa yanga ada dipikiran Leonard.
"Jangan memikirkan hal yang aneh Yang Mulia... Apapun yang anda pikirkan tidaklah benar. Para lady zaman sekarang lebih menyukai desain kalung kecil namun terlihat manis seperti ini." Tunjuk Pasha pada kalung dengan permata ungu yang cantik.
"Apa benar mereka suka model yang seperti ini? Padahal terlihat sangat mudah putus." Tanya Leonard sedikit ragu akan pilihan Pasha.
"Tentu saja, percayalah kepada saya Yang Mulia." Jawab Pasha tanpa ragu.
"Baiklah kalau begitu, segeralah kirim kalung ini ke istana Putri." Perintah Leonard pada Pasha tanpa pikir panjang.
"Yang Mulia, jika anda mengijinkan saya akan memberikan satu saran lagi untuk anda." Ucap Pasha.
"Saran? Apa itu?" Tanya Leonard sedikit penasaran apa saran yang dimaksud Pasha itu.
"Besok akan ada pesta teh di istana Putri yang dihadiri oleh lady bangsawan. Bagaimana jika anda mengirimnya besok ketika pesta tersebut berlangsung?" Saran Pasha.
"Hmm... Aku rasa dia pasti akan tidak suka jika ada hadiah yang datang disaat di istananya ada acara." Jawab Leonard yang mengingat bagaimana karakter istrinya tersebut.
"Anda salah! Nama baik Yang Mulia Putri akan semakin naik jika menerima hadiah dari suami ketika beliau bersama dengan para lady bangsawan lainnya. Yang Mulia putri akan menjadi pusat perhatian di sana. Ini merupakan salah satu tips bagi pria agar menjadi suami yang dicintai oleh istrinya." Kata Pasha yang menjelaskannya sambil menggebu-gebu.
"Aku? Suami yang dicintai istri?" Gumam Leonard dengan wajah yang tiba-tiba merona.
Flashback off...
.
.
Bersambung...
__ADS_1