Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 22 Jubah Parade Penyambutan


__ADS_3

POV Louisse...


Prang!!


Saat ini aku sedang bersama Media di istananya. Melihatnya marah sambil melempar cangkir tehnya ke lantai begitu saja. Melihatnya marah seperti itu sepertinya apa yang telah ia rencanakan sebelumnya tidak berjalan lancar lagi.


"Anak sialan tak tahu diuntung!! Berani-beraninya dia bersikap sombong seperti itu!" Seru Media dengan wajah marah yang menakutkan.


Karena waktu parade penyambutan telah ditentukan, tak heran jika Media akan terlihat begitu marah dan semakin waspada. Pasalnya perayaan parade penyambutan atas kemenangan Pangeran Pertama mempunyai makna arti yang mendalam. Di Kekaisaran ini warna ungu adalah warna yang menggambarkan kehebatan Kaisar Agung pendiri Kekaisaran dan warna emas adalah warna yang bermakna kemakmuran untuk Kekaisaran. Hanya Kaisar yang diperbolehkan memakai warna ungu dengan lambang berwarna emas. Hanya ada satu kesempatan bagi orang lain untuk memakai warna ungu selain Kaisar yaitu pada saat parade penyambutan setelah perang usai dengan kemenangan. Dengan kata lain Pangeran Pertama yang akan memakai warna Kaisar Agung di parade penyambutan audah pasti akan menduduki urutan tertinggi pewarisan tahta. Tidak heran jika saat ini membuat pikiran Media tidak waras karena secara tidak pangsung itu akan mengancam kedudukan putra kandungnya dalam pewarisan tahta.


"Seharusnya aku membunuhnya dari dulu!" Gerutu Media seakan kata-kata itu sangat ringan dia ucapkan, padahal di sini banyak telinga tapi dia seakan tidak perduli dengan hal itu.


Dan lelaki yang berdiri di sampingnya itu... Sejak kapan dia menjadi pelayan pribadi Ratu? Aku tidak ingat jika ada orang seperti itu di sisi Media di dalam novelnya. Hmm... Ini sedikit menggangguku.


Astaga!! Lelaki itu tiba-tiba menoleh padaku saat aku mengamatinya. Dan apa itu?! Baru saja dia... Mengerlingkan sebelah matanya padaku?!


I.i..ini mengerikan!! Aku sungguh tidak menyukai dia!!


...****************...


Aku jadi lebih sibuk karena waktu yang dibutuhkan Leonard untuk kembali lebih cepat dari cerita novel aslinya. Aku harus segera menyelesaikan sulaman jubah yang akan dipakai Leonard nanti di acara parade penyambutan. Ini sangat sulit sampai-sampai....


"Auw!!"


"Ya ampun... Yang Mulia anda tertusuk lagi!" Seru Chlara pelayan pribadiku selain Anne.


Ya... Karena aku belum terlalu mahir untuk menyulam dan terlebih aku sudah diburu oleh waktu jadinya aku sering tertusuk jarum saat aku melakukannya. Sudah tidak terhitung berapa kali Chlara ataupun Anne mengobati jariku yang tertusuk.


Ini gara-gara Leonard yang kembali tidak sesuai dengan alur cerita novelnya. Jelas-jelas dia harus kembali tahun depan tapi entah apa yang terjadi sehingga alurnya menjadi belok seperti ini. Apa itu karena mata-mata Ratu yang tertangkap karena informasi yang telah aku berikan? Dan juga, lelaki yang katanya pelayan pribadi Ratu Media itu membuatku kepikiran. Aku bahkan tidak pernah ingat ada seseorang seperti dia di sisi Media. Apa ada yang aku lewatkan atau memang orang itu tidak pernah dicerita di dalam novel aslinya? Aku harap ini hanya kekhawatiranku saja dan semoga dia bukanlah seorang pengganggu.


"Ah, saya sudah selesai mengobatinya." Ucap Chlara setelah selesai memperban jariku yang terluka.


"Terimakasih Chlara."

__ADS_1


"Anda melakukan ini seakan anda sudah memprediksikan bahwa ini akan terjadi." Kata Chlara tiba-tiba.


"Ah, apa?" Aku kurang paham maksudnya.


"Itu.. Anda langsung berlatih menyulam setelah Yang Mulia Pertama pergi ke medan perang, padahal Yang Mulia Putri kan sangat malas jika harus melakukan hal yang merepotkan seperti ini." Kata Chlara yang terlalu jujur mengatakan jika aku 'Terlalu Malas'. Yah... Tidak salah juga sih, dari awal kan aku hanya ingin bermain di istana ini dan menghindari sesuatu yang merepotkan sampai aku keluar dari istana ini.


"Pasti Yang Mulia Putri melakukan ini karena anda sangat yakin jika Yang Mulia Pangeran akan memenangkan peperangan kan?" Katanya dengan mata yang berbinar-binar seperti kagum akan sesuatu.


"Ya, itu sudah pasti." Jawabku.


"Kyaa... Yang Mulia Pangeran pasti senang saat menerimanya dari Tuan Putri." Serunya girang. Ah entah mengapa dia lebih semangat daripada aku.


"Ah, entahlah... Aku harap begitu..." Sahutku sambil melihat hasil sulamanku yang masih selesai setengahnya. Dan ini terlihat berantakan! Aku jadi tidak yakin apakah Leonard akan senang menerimanya seperti apa yang dikatakan Chlara barusan? Aku bahkan sudah membayangkan jika Leonard akan mengejekku saat menerima jubah ini dan melihat hasil sulamanku yang berantakan.


Ah, sepertinya aku harus melakukan sesuatu sebelum aku mengacaukan acara parade penyambutan Leonard gara-gara jubah yang aku sulam ini.


"Chlara..."


"Sepertinya kamu harus membantuku."


"Membantu apa Yang Mulia?"


"Kamu harus membantuku menyelesaikan sulaman ini." Pintaku akhirnya.


"A apa?!" Chlara terlihat shock saat aku memintanya membantuku menyelesaikan sulaman ini. Dia pasti sudah membayangkan aku yang memberikan jubah sulaman penuh cinta pada Leonard merupakan hal yang romantis. Maaf Chlara, aku sudah mengecewakan harapanmu karena ini bukan lagi di cerita novel.


Dan akhirnya jubah itu selesai satu minggu sebelum acara parade penyambutan. Ini semua berkat bantuan Anne dan Chlara sehingga jubahnya bisa cepat selesai. Tapi... Setelah semua ini mengapa hatiku terasa hampa ya? Setelah Leonard kembali mungkin giliranku yang akan pergi dari istana ini.


"Yang Mulia Putri..." Suara Anne membuatku tersadar dari lamunan.


"Ah, ada apa?" Tanyaku.


"Yang Mulia... Saya sering melihat anda kurang bersemangat akhir-akhir ini dan anda juga sering sekali melamun. Ini tidak seperti anda yang biasanya, saya jadi khawatir." Ucap Anne dengan wajah khawatirnya.

__ADS_1


"Apa aku terlihat seperti itu?" Tanyaku balik dan Anne langsung mengangguk dengan wajah cemas.


"Aku tidak apa-apa Anne, itu mungkin karena aku lelah begadang untuk merajut jubah. Kau tak perlu khawatir Anne." Ujarku dengan tersenyum, aku tidak menyangka jika Anne seperhatian ini padaku. Aku akhir-akhir ini memang sering melamun karena aku merasa sedikit cemas. Padahal saat inilah waktu yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Perceraian yang sudah aku rencanakan dari awal untuk dapat hidup bebas dengan tenang di luar istana tidak akan lama lagi terjadi. Tapi enatah mengapa semakin dekat waktu itu datang, perasaanku semakin berat. Berat untuk meninggalkan Leonard... Apakah setelah perpisahan kami nanti, aku bisa bertemu dengannya lagi?


POV Louisse off...


...****************...


"Lian, aku bertanya padamu karena aku tidak terlalu mengerti tentang ini. Tapi apa menurutmu sulaman ini terlihat bagus di matamu? Atau mungkin mataku yang audah mulai rabun?" Tanya Redian setelah melihat sulaman dari jubah ungu yang baru datang untuk Leonard.


"Ini sangat terlihat jelas jika yang menyulamnya bukanlah orang yang terampil." Jawab Julian sambil mengamati sulaman yang ada di jubah ungu tersebut.


"Sudah kuduga! Mereka sengaja mengirim hadiah jelek seperti ini hanya untuk menghina Pangeran kan?! Seru Redian yang terlihat emosi.


"Benar, sejak awal aku sudah tidak percaya jika Yang Mulia Putri yang akan menyulamnya sendiri." Julian membenarkan ucapan Redian.


"Kalian salah, justru sudah jelas sekali jika Louisse lah yang menyulam itu." Pangeran Leonard tiba-tiba datang dan menanggapi ucapan Julian.


"Haha... Bagaiman Yang Mulia bisa tahu akan hal itu?" Tanya Redian yang masih sangat sangsi dengan pernyataan Leonard.


"Itu karena... Tidak mungkin jika sulaman para pelayan seberantakan ini." Jawab Leonard yang jauh dari ekspektasi Julian dan Redian.


"Haa??!" Seru Lian dan Red terkejut.


"Justru ini terlihat lebih bagus dari apa yang aku bayangkan, ternyata dia benar-benar susah payah untuk belajar haha..." Ujar Leonard sambil tertawa puas.


"Dari mana bagusnya?" Bisik Red pada Lian.


"Aku juga tidak tahu." Jawab Lian yang juga ikut berbisik.


"Louisse... Sebentar lagi aku pulang, aku tidak sabar mendengar omelanmu. Seperti apa kamu sekarang ini? Apa kamu akan mengomeliku karena pulang terlalu lama? Louisse... Aku merindukanmu..." Gumam Leonard dalam hatinya, dia tersenyum sambil membayangkan wajah cemberut Louisse yang menggemaskan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2