
Keesokan harinya di pagi yang cerah, terlihat Louisse dan Leonard sedang memperdebatkan sesuatu di sebuah taman yang menghubungkan jalan ke istana Pangeran Pertama dan Pangeran Kedua.
"Haruskah kita melakukan ini?" Tanya Leonard dengan ragu-ragu.
"Tentu saja, kamu harus melakukannya dengan baik, kita kan sudah susah payah merencanakan hal ini. Ini merupakan cara yang paling mujarap untuk menghentikan rumor. Jangan sampai gagal gara-gara aktingmu yang jelek! Karena Oscar sudah susah payah mau membantu kita." Celoteh Louisse mengingatkan Leonard dengan serius sambil menarik tangan Leonard agar suaminya itu bisa lebih dekat dengannya.
"Iya.... Aku mengerti." Jawab Leonard pasrah dan memulai apa yang mereka rencanakan pagi itu.
"Ta, tapi kenapa kamu menarikku terlalu dekat seperti ini?" Tanya Leonard dengan nada gugup dan wajah yang sudah merona karena wajah mereka yang terlalu dekat.
"Kau itu sangat canggung, kamu harus lebih mendekatkan tubuh dan wajamu lebih dekat lagi. Mata ibu-ibu bangswan itu sangat peka, jadi kau harus melakukannya dengan baik!" Ujar Louisse sambil lebih mengeratkan pelukannya pada Leonard, membuat pangeran tampan itu semakin tegang dengan wajah yang merona.
Terlihat Leonard dan Louisse berdiri berhadapan dengan lengan yang saling memeluk. Salah satu tangan Leonard memegang kepala Louisse bagian belakang. Siapapun yang melihat mereka dari seberang jalan yang merupakan jalan menuju istana Pangeran Kedua akan terlihat jika mereka seperti sedang berciuman karena posisi Louisse yang memebelakangi jalan istana Pangeran Kedua. Dan benar saja, tepat saat itu Oscar bersama seoarang pengawal dan tiga orang wanita bangsawan di belakangnya sedang berjalan di sekitaran jalan istananya yang terhubung dengan taman tersebut.
"Astaga... Bukankah itu Yang Mulia Pangeran Pertama dan Yang Mulia Putri?" Seruan salah satu wanita bangsawan tersebut membuat langkah kaki yang lainnya terhenti dan mereka langsung melihat ke arah wanita bangsawan itu menunjukkan jarinya.
"Apa yang mereka lakukan siang-siang begini di tempat terbuka, bahkan ini masih pagi." Kata wanita bangsawan lainnya.
"Hahaha... Kalian pasti terkejut dengan pemandangan seperti itu kan? Itu adalah pemandangan yang sudah biasa di istana. Hah... Aku tidak tahu seberapa besar cinta mereka sampai melakukan hal yang sembrono seperti itu sampai tidak perduli jika ada orang lain yang melihat." Ucap Oscar dengan santainya sambil geleng-geleng kepala seakan dia sudah biasa melihat kakak dan kakak iparnya yang sering bercumbu di tempat terbuka di istana.
"Ternyata rumor itu hanya rumor palsu yang dibuat-buat." Kata seorang wanita bangsawan.
"Iya anda benar, bahkan Yang Mulia Pangeran Kedua terlhiat biasa saja seakan tidak terjadi apa-apa." Sahut ibu bangsawan lainnya membenarkan ucapan temannya.
__ADS_1
"Haha... Tidak sia-sia aku sengaja mengundang tukang gosip yang paling banyak omong di pergaulan kelas atas. Aku harap kalian menyebarkannya sebesar mungkin. Huff... Aku sudah tidak ingin terlibat lagi dengan drama percintaan kak Leon dan kak Isse." Batin Oscar tersenyum puas sekaligus kapok jika harus terlibat dengan masalah cinta kakak-kakaknya itu.
...****************...
Sore harinya di istana Bulan Ratu Media, terlihat Ratu begitu cemas, beberapa pikiran negatif berkecamuk di otaknya.
"Mencurigakan! Belakangan ini ada laporan jika dia sering bertemu dengan lady Zacard. Dia bahkan mempekerjakan kembali kesatria yang sudah dipecat oleh Pangeran Leonard. Louisse De Roman, sebenarnya apa yang direnacanakan anak itu? Dan juga hubungannya dengan Pangeran Pertama semakin baik saja. Ya memang benar aku yang menyuruhnya untuk berhubungan baik dengan Pangeran Pertama untuk mencegah pernikahan antara Pangeran Leonard dan lady Zacard. Tapi... Mungkinkah dia..." Ratu Media menghentikan berhenti bicara dalam pikirannya dan menengok ke arah Doha yang berdiri di belakangnya.
"Sepertinya apa yang kamu katakan ada benarnya. Mungkin saja Louisse De Roman mengkhianatiku." Ucap Ratu Media pada Doha.
"Namun itu masih dugaan saja, apa kamu mempunyai bukti untuk membenarkan hal itu?" Tanya Ratu kemudia pada Doha.
"Yang Mulia Ratu hanya butuh untuk mengetesnya saja." Jawab Doha.
"Apa kamu mempunyai ide yang bagus?" Tanya Ratu dan Doha pun tersenyum smirk sambil mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya.
"Hah... Kita kan menbicarakan tentang tes untuk Louisse tapi mengapa harus membunuh Pangeran Pertama dengan racun? Aku tidak akan menggunakan hal kotor seperti itu untuk membunuhnya. Lagian anak itu tidak akan mati hanya dengan racun, sejak kecil dia sering diserang dengan racun oleh beberapa orang yang tamak untuk menyingkirkannya tapi dia tetap hidup dan hanya terbaring sakit beberapa hari saja." Ucap Ratu Media menolak tawaran Doha.
"Saya tidak meminta Yang Mulia untuk membunuh Pangeran Pertama, kita hanya mengetes tujuan Putri Louisse yang sebenarnya melalui racun ini." Terang Doha meyakinkan Ratu sekali lagi.
Lalu keesokan harinya merupakan hari upacara persembahan untuk Dewa Bumi sebagai bentuk terakasih atas hasil panen yang melimpah. Itu bukanlah acara penting, jadi setiap tahun orang-orang dari Kekaisaran akan bergantan melakukan upacara ini. Dan hari itu adalah giliran Leonard dan Louisse yang melakukanmya. Namun pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke kuil Ratu Media memanggil Louisse untuk menemuinya.
"Ada apa pagi-pagi sekali dia memanggilku?" Tanya Louisse dalam hatinya.
__ADS_1
"Maaf, aku memanggilmu mendadak seperti ini." Kata Ratu Media.
"Tidak apa-apa yang Mulia." Jawab Louisse dengan tersenyum, padahal dalam hatinya dia menangis.
"Padahal aku harus segera berangkat ke kuil menaiki anak tangga yang tinggi di atas gunung dengan pakaian yang merepotkan seperti ini..." Gerutu Louisss dalam hatinya.
"Aku mendadak memanggilmu karena ada yang harus aku tunjukkan padamu." Ucap Ratu Media yang kemudian memanggil salah seorang pelayannya yang membawa sebuah baki di tangannya. Di atas baki itu tertadapat sebuah botol kaca kecil yang entah apa isinya.
"Apakah ini racun dengan ekstrak bunga Ravless?" Tanya Ratu pada pelayan tersebut.
"Benar Yang Mulia, hanya dengan setetes saja racun ini dapat membuat seluruh tubuh seseorang lumpuh dan akan mati secara perlahan." Jawab pelayan tersebut sambil menjelaskan efeknya.
"Aku ingat nama bunga Ravless pernah muncul di dalam novel. Itu adalah racun mematika dari bunga Ravless yang langka. Sepertinya Media sedang merencanakan hal yang berbahaya. Apakah aku boleh berada di sini dan mendengarkan ini semua? Tapi meracuni orang bukan gaya seorang Media." Batin Louisse hingga dia mendengar sesuatu yang sama sekali tidak pernah dia duga dari Ratu Media.
"Perintahkan kepada pendeta utusan Dewa di sana untuk memasukannya di cawan wine yang akan diminum oleh Pangeran Pertama!" Louisse langsung tercengang dengan mata yang membulat mendengar perintah Ratu pada pelayan tersebut.
"Baik, Yang Mulia." Jawab pelayan tersebut yang langsung mengundurkan diri dari hadapan Ratu.
"Untuk Leonard?! Situasi macam apa ini?!!" Teriak hati Louisse.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....