
"Leonard... Terimakasih."
Louisse langsung mengecup pipi Leonard setelah mengatakan itu. Dan hal itu membuat Leonard membatu karena serangan tiba-tiba Louisse.
Sedetik kemudian setelah Leonard menemukan kesadarannya...
"Aaa..! A apa yang barusan kamu lakukan?! Kamu tiba-tiba..." Seru Leonard dengan degub jantung yang begitu cepat. Dia tak menyangka Louisse akan menciumnya tiba-tiba di tempat terbuka. Ya...meskipun dia harus bersyukur tidak ada orang yang melihatnya karena mereka semua sedang asyik sendiri, tapi tetap saja itu adalah serangan mendadak buat Leonard.
"Itu balasan terimakasihku karena kamu sudah membuatku senang. Lagian ciuman di pipi kan sudah biasa untuk ucapan salam..." Jawab Louisse dengan tenangnya tanpa berdosa. Berdosa karena membuat jantung Leonard tidak tenang.
"Kamu tuh ya..." Ujar Leonard sambil menutupi setengah dari wajahnya yang merona.
"Ng.. Kenapa?" Tanya Louisse dengan polosnya.
"Ini tidak adil." Jawab Leonard dengan wajah yang masih merona.
"Ya ampun... Reaksi dia imut banget... Haruskah ku goda sekali lagi?" Dalam hati rasa jahil Louisse timbul lagi dan langsung tersenyum jahil.
"Mungkin kedepannya aku harus mencium pipimu setelah melakukan hal yang baik." Ucap Louisse semangat sambil tersenyum lebar. Mendengar itu Leonard langsung bereaksi seperti apa yang Louisse pikirkan. Suaminya itu memang masih sangat polos.
"A apa?!! Jangan mempermainkan perasaan orang dong!" Seru Leonard dengan wajah merah gugup yang lucu.
"Astaga... Kamu berbicara seperti anak gadis saja, phhf..." Ujar Louisse sambil terkekeh geli.
"Anak gadis katamu?!" Leonard jadi bertambah malu dan Louisse makin gencar menggodanya sambil terkekeh senang.
__ADS_1
🌸🌸🌸
Sementara itu dilain tempat di dalam pesta yang sama, Vianty melihat Julian yang sedang memisahkan diri dari yang lainnya. Vianty mengambil dua gelas wine dan membawanya pada Julian.
"Lama tidak bertemu tuan muda dari keluarga Count Aswan." Sapa Vianty sambil menyerahkan segelas wine pada Julian.
"Sekarang ini saya hanyalah kesatria Yang Mulia Leonard." Ralat Julian sambil mengambil segelas wine tadi dari tangan Vianty.
"Ah, benar juga sir Julian." Sahut Vianty membenarkan seakan dia memang sengaja mengatakan itu pada Julian.
"Saat mendengar anda menjadi salah satu kesatria Yang Mulia Pangeran, saya sangatlah terkejut." Kali ini Vianty berkata jujur. Dia tak habis pikir Julian yang dari keluarga Count memilih menjadi kesatria dari Pangeran Leonard.
"Saya mengerti maksud dari perkataan anda, saya yang berasal dari keluarga Count Aswan..."
"Saya bukannya terkejut karena keluarga atau semacamnya." Potong Vianty.
"Saya sama sekali tidak berambisi terhadap posisi atau semacamnya." Sahut Julian sesaat kemudian.
"Ternyata dari dulu sampai sekarang anda masihlah sama. Kalau saya yang sekarang ini masih belum puas. Oleh karena itu, saya akan berusaha mengubah hukum yang ada di Kekaisaran ini dan menjadi kepala keluarga Zacard." Julian hanya diam menatapnya datar mendengar pengakuan Vianty barusan. Dia tidak bereaksi apapun seakan itu pengakuan yang biasa saja.
"Apa anda tidak terkejut? Semua orang pasti akan terkejut bila mendengarnya." Tanya Vianty yang berharap lebih dari reaksi Julian.
"Kalau itu anda saya tidak terkejut. Anda melakukan apapun untuk tujuan anda." Jawab Julian yang membuat Vianty merasa sebal.
"Cih, tidak asyik!" Gerutu Vianty kesal.
__ADS_1
"Yang jelas saya tidak mengerti anda. Anda pasti lebih mudah mendapatkan reputasi dan jabatan yang bagus daripada saya yang hanya seorang perempuan, saya harus bersusah payah mengubah hukum agar mendapatkan kedudukan yang saya inginkan. Padahal anda memiliki samua hal itu namun anda justru melepaskannya dan memilih meninggalkan keluarga anda." Ucap Vianty menumpahkan kekesalannya. Entah mengapa dia selalu kesal setiap melihat Julian yang seperti itu.
"Anda pasti memiliki alasan tentang semua itu kan?" Lanjut Vianty menanyakan apa alasan Julian tentang jalan hidup yang pria itu pilih, namun Julian tetap saja bungkam.
"Meskipun saya sangat penasaran akan hal itu, nampaknya anda tidak berniat untuk menjawabnya. Kalau begitu, saya pamit dulu." Vianty langsung pergi meninggalkan Julian yang masih terdiam terpaku di tempatnya berdiri. Vianty agak kesal dengan hal itu.
"Dari dulu dia selalu seperti itu. Lelaki yang tidak aku suka!" Gerutu Vianty dalam hati sambil meninggalkan Julian.
...****************...
Keesokan harinya, Louisse dan Vianty bertemu kembali di ruang rahasia tempat mereka biasa membicarakan hal-hal penting yang tidak boleh diketahui siapapun. Di sana, mereka berdua terlihat gugup menunggu sesuatu. Tapi dimana Leonard saat ini?
Brak!!
Pintu di sana terbuka tiba-tiba dengan cukup keras membuat Louisse dan Vianty terkejut. Ternyata itu Leonard yang datang terengah-engah.
"Leonard! Bagaimana hasilnya?" Tanya Louisse buru-buru ketika melihat siapa yang datang.
"Berhasil!" Jawab Leonard dengan wajah sumringah. Wajah Louisse dan Vianty pun langsung berbinar mendengar jawaban Leonard.
"Baginda berjanji tidak akan ikut campur lagi masalah perceraian ataupun rumah tanggaku dengan Louisse jika kita bisa meloloskan rancangan undang-undang ini!"
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...