Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 38 Curiga


__ADS_3

Malam itu pikiran Leonard benar-benar kalut, cerita yang dibawa Redian sepulang bertugas mengawal Louisse sungguh mempengaruhi otak dan juga hatinya. Antara harus percaya atau harus curiga pada Louisse yang selalu mengatakan percaya pada dirinya? Dan juga tersimpan rasa cemburu. Untuk menenangkan pikirannya agar tetap berpikir jernih, Leonard perlu sedikit pelampiasan. Maka malam-malam begini dia memilih untuk melampiaskan pada pedangnya. Dia sengaja berlatih malam-malam di tempat latihan kesatria yang sepi tanpa ada seorangpun di sana. Leonard mengatunkan pedangnya dengan pikiran dan emosi yang berkecamuk di benaknya.


"Aku harus menjernihkan otakku agar berpikir dengan baik. Sejak kecil Louisse dan Oscar sudah dekat layaknya adik dan kakak. Bercanda yang sedikit keterlaluan sudah biasa bagi mereka. Rumor ini pasti tidak akan menyebar luas karena aku sudah mengetahui lebih dulu dari Redian. Tapi jika rumor seperti yang dikatakan orang-orang di pesta waktu itu benar.... Apakah aku masih bisa mempercayaimu Louisse?"


Leonard menjatuhkan pedangnya begitu saja dan bersimpuh, kepalanya tertunduk dengan raut wajah seperti lelaki yang sedang patah hati. Dia hanyalah lelaki rapuh ketika sudah berurusan dengan Louisse. Dan tanpa ia sadari ada seseorang yang mengamatinya dengan seringaian di bibirnya, seakan orang itu sesang menikmati tontonan yang menyenangkan.


"Aku tidak bisa melakukan apapun pada buku harian yang sudah dirampas sebelum aku mengetahui apa isinya. Karena ada yang lebih menarik maka itu bukan lagi masalah bagiku. Aku jadi penasaran... Kedepannya, bagaimana hubungan ketiga orang itu?" Gumam Doha dengan tersenyum smirk ketika melihat Leonard merasa hancur hatinya malam itu.


.


.


Sementara itu di istana Louisse, Edmund kembali agak larut, dia terlambat kembali ke israna Putri karena harus menyelesaikan masalah tadi sore dengan para perampok jalanan. Louisse yang mengetahui Edmund sudah kembali langsung cepat-cepat menghampirinya.


"Ah, sir Edmund! Kamu sudah kembali?! Aku khawatir karena sampai larit begini kamu belum kembali, apa kamu baik-baik saja sir?" Tanya Louisse dengan wajah khawatirnya.


"Maaf, saya terlambat karena tersesat." Jawab Edmund dengan was-was karena tanpa dia duga dia masih mendapati Louisse masih terjaga malam-malam begini.


"Huuff... Syukurlah, kalau begitu aku bisa tidur dengan tenang." Ujar Louisse sambil menguap.


"Mungkinkah Yang Mulia menunggu saya dari tadi?" Tanya Edmund setengah tidak percaya, bagaimana mungkin seorang Putri rela tidak tidur hanya karena menunggu seorang pengawal pribadinya yang belum kembali larit malam?


"Haruskah kamu tanyakan itu? Bagaimana aku bisa tidur dengan tenang jika pengawal pribadiku saja belum kembali dengan selamat?" Jawab Louisse dengan mata sayunya yang sudah mengantuk.


"Karena kekhawatiranku sudah menghilang, aku jadi mengantuk. Kau juga harus istirahat sekarang. Sampai jumpa besok." Ujar Louisse lalu melangkah pergi kembali ke kamarnya.


"Baik, Yang Mulia." Jawab Edmund sambil menunduk hormat dan menatap punggung Louisse pergi menjauh. Salah satu tangan Edmund sedari tadi ia letakkan di belakang punggungnya seakan sedang ada yang dia sembunyikan di sana. Itu adalah buku diary Louisse yang dia rampas dari para perampok jalanan tadi. Dan begitulah malam yang penuh drama itu berlalu.


.


.


Pagi harinya ada keributan kecil di ruang belajar Pangeran Oscar.


"Yang Mulia! Bagaimana bisa anda dapat nol semua di pelajaran sejarah?! Bukankan ini mata pelajaran yang anda sukai?!" Teriak tutor yang selama ini bertanggung jawab atas pendidikan suksesor Pangeran Oscar.


"Entahlah... Aku tidak dapat menjawab satupun hehehe..." Sahut Oscar dengan pura-pura bodoh.

__ADS_1


"Apa?!" Seru sang tutor terkejut dengan jawaban Oscar.


"Pelajarannya sampai disini saja guru... Aku sedang tidak bertenaga..." Rengek Oscar sambil menjatuhkan kepalanya di atas meja.


"Astaga, Yang Mulia!!" Teriak tutor tersebut tidak percaya jika Oscar akan melakukan hal itu.


"Astaga... Kenapa belakangan ini anda tidak ada semangat sama sekali untuk belajar?! Jika Yang Mulia Ratu tahu mengenai hal ini anda bisa dalam masalah!" Tutor Oscar itu mengoceh dan mengomel sana sini namuan tidak ada satupun perkataannya digubris oleh Oscar. Justru disaat seperti itu ucapan kakaknyalah yang terngiang di telinganya... "Oscar... Pasti ada seseorang atau sesuatu yang harus kamu lindungi juga kan? Coba kamu pikirkan baik-baik tentang hal itu, dan kamu akan menemukan jawabannya sendiri."


Kemudian siang harinya Oscar sengaja bermalas-malasan dan memilih bermain layang-layang bersama Louisse di padang bunga belakang istana.


"Hei, apakah tidak masalah jika kamu bermalas-malasan dan bermain seperti ini?" Tanya Louisse pada Oscar.


"Padahal kamu selalu bilang sibuk belajar setiap hari." Lanjut Louisse.


"Sekarang tidak masalah karena aku punya banyak waktu luang. Dan aku sudah berhenti belajar untuk jadi suksesor." Sahut Oscar santai sambil menaik ulur benang layangannya.


"Apa?!!" Teriak Louisse saking terkejutnya.


"Memangnya Ratu membiarkanmu melakukan itu?" Tanya Louisse penasaran.


"Mana mungkin? Kami bahkan bertengkar hebat karena itu. Tapi kakak tidak perlu khawatir, ibu sudah merelakan meski terpaksa. Lagian akan terlihat aneh jika aku saja yang mendapat pendidikan suksesor sedangkan pemilihan Putra Mahkota saja belum terjadi. Putra Yang Mulia Kaisar kan bukan hanya aku, kak Leon kan sudah kembali, aku tidak ingin menggiring kesalahan pahaman di depan publik." Jawab Oscar dengan tenang sambil menikmati semilir angin yang berhembus diantara pepohonan dan hamparan bunga-bunga.


"Asal kaka tahu saja ya... Aku sudah muak dengan persaingan politik yang membuat kepala pusing. Aku kan hanya ingin hidup enak dan bermain dimana kakakku yang bekerja keras mengurus negara." Jawab Oscar menggebu-gebu.


"Haha... Kau selalu ingin dapat enaknya saja." Ujar Louisse sembari tertawa.


"Ya kan ada kakak..." Sahut Oscar masa bodo.


"Aku juga sama... Setelah mendapat uang kompensasi yang besar, aku hanya ingin hidup damai di sebuah kota kecil dan bermain selamanya." Ujar Louisse dengan tatapan kosong ke atas langit.


"Uang kompensasi?" Oscar membeo dengan menatap ke arah Louisse.


"Jangan bilang jika kak Isse akan bercerai dengan kak Leon!" Tebak Oscar dengan tatapan tajam ke arah Louisse.


"Suatu saat itu pasti terjadi kan..." Sahut Louisse.


"Tapi kenapa?" Tanya Oscar tak mengerti.

__ADS_1


"Coba pikirkan dan jawablah dengan jujur, apakah putri seorang Baron berstatus rendah sepertiku akan cocok disandingkan dengan pewaris tahta?" Tanya Louisse dengan serius.


"Bukankah lebih baik jika pewaris tahta menikah dengan putri bangswan tinggi yang berpengaruh? Lagipula Yang Mulia Kaisar sepertinya sudah merencanakan sesuatu untuk masalah itu." Lanjut Louisse kemudian.


"Yahh... Bisa dibilang seperti itu sih, tapi kak Leon pasti tidak ingin bercerai." Kata Oscar seakan tahu jika kakaknya itu tidak akan mungkin mau menceraikan istrinya.


"Memangnya dengan alasan apa Leonard tidak mau bercerai denganku?" Tanya Louisse dengan wajah lugunya. Atau bisa dibilang... TIDAK PEKA!


"Bagaimana bisa kak Isse menanyakan hal itu dengan wajah seperti itu?" Ujar Oscar sambil geleng-geleng kepala.


"Memangnya kenapa? Tanya Louisse lagi.


"Ya Tuhan... Jangan bilang selama ini kak Isse tidak tahu tentang perasaan kak Leon selama ini? Padahal itu terlihat sangat jelas." Batin Oscar dengan raut wajah tak percaya.


"Kak, jangan-jangan kak Isse selama ini tidak tahu jika kak Leon su..."


"Oscar! Lihat disana!" Belum selesai Oscar mengatakannya, tiba-tiba Louisse memotong ucapannya sambil menunjuk kesebuah pohon besar yang tidak terlalu jauh dari mereka berdiri.


"Bukankah yang di balik pohon itu Leonard? Kenapa dia harus bersembunyi seperti itu di sana?" Lanjut Louisse yang masih menunjuk ke arah pohon tersebut.


"Mana? Ah, itu?! Sepertinya benar. Kenapa kakak seperti itu sih?" Tanya Oscar ketika melihat kakaknya sedang bersembunyi di balik pohon sambil mengintip ke arah mereka.


"Entahlah... Dia pikir dengan bersembunyi seperti itu kita tidak bisa melihatnya? Sebaiknya kita panggil saja dia." Ujar Louisse.


"Heeii... Leoooonaard...!!"


"Kak Leooonn..!!"


Mendengar teriakan Louisse dan Oscar yang memanggil namanya, Leonard justru menghindar dan bersembunyi di balik pohon itu lagi.


"Kok dia diam saja tidak menyahut sama sekali? Ah, aku tahu! Dia pasti lagi ngambek karena kita hanya main berdua tanpa mengajaknya." Jawab Louisse dengan yakin dan itu langsung membuat Oscar melongo tak percaya.


"Haahh??!"


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2