
Di istana Louisse...
"Leonard... Tumben kau datang tanpa mengabariku dulu, ada apa?" Tanya Louisse yang melihat Leonard tiba-tiba datang ke istananya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
"Padahal beberapa hari ini dia terus menghindariku, tapi sekarang malah datang begitu saja." Batin Louisse.
"Aku ingin tahu soal kemarin." Kata Leonard.
"Astaga! Jadi dia datand menemuiku untuk menagih jawaban atas pengakuan cintanya! Tapi aku kan belum siap..." Pikir Louisse.
"Tentang alasan kamu ingin bercerai..." Leonard kembali berkata.
"Ah... Jadi soal itu, aku kira masalah cinta." Batin Louisse lega.
"Kenapa kamu hanya mengatakan tiga alasan saja?" Tanya Lronard.
"Ha?! Apa?" Tanya Louisse yang masih kurang mengerti maksud ucapan Leonard.
"Hmm, sudah aku duga jika ada alasan lain selain ketiga alasan itu." Lanjut Leonard dengan nada dan tatapan yang kecewa.
"Haahh... Akhirnya kabar tentang kabar aku yang dipanggil Kaisar dan alasan pertemuan itu sampai juga di telinga Leonard. Inilah yang aku takutkan, jika Leonard tetap kekeh tidak ingin bercerai maka Kaisar mungkin akan mencopot hak suksesi atas pewarisan tahta. Ini tidak boleh terjadi! Pokoknya aku harus bilang pada..." Dugaan-dugaan yang ada di kepala Louisse pada saat itu langsung terpatahkan ketika Leonard tiba-tiba bicara suatau hal yang tidak masuk akal menurut Louisse.
"Alasan lainnya karena kamu punya laki-laki lain selain aku kan?!" Seru Leonard yang langsung membuat Louisse speechless.
"Ap, apa maksudnya itu? Laki-laki lain?" Tanya Louisse hampir tak percaya dengan tuduhan Leonard.
"Tidak ada alasan yang lebih masuk akal dafi itu ketika seorang istri ingin bercerai!" Bentak Leonard dengan penuh emosi.
"Aku kan sudah bilang alasannya yaitu karena aku ingin kamu menjadi penerus tahta Kaisar selanjutnya!" Balas Louisse yang juga ikut emosi.
"Lalu, setelah kita bercerai kamu pasti akan segera berlari ke pelukan Oscar kan? Padahal aku bertahun-tahun hampir mati di medan perang tapi setelah kembali malah mendapati istri dan adikku tertawa ria bersama." Ucap Leonard sarkas.
__ADS_1
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Kamu sendiri kan yang bilang jika kamu tidak percaya dengan rumor murahan seperti itu!" Kata Louisse marah.
"Jadi, kenapa kamu bawa-bawa nama Oscar?!" Lanjut Louisse geram pada tuduhan tak berdasar Leonard padanya.
"Ada surat yang tidak sengaja masuk bersama tumpukan dokumenku, dan itu adalah surat yang kamu kirim untuk Oscar." Jawab Leonard sambil menunjukkan surat Louisse yang seharusnya dikirim untuk Oscar namun sekarang ada di tangan Leonard dalam keadaan terbuka.
"Apa? Kamu... Membaca surat untuk orang lain?" Ucap Louisse tidak habis pikir dengan tindakan kekanakan Leonard.
"Tadinya aku pikir surat itu untukku." Leonard membela diri.
"Tapi ini tidak seperti yang kamu pikirkan!" Seru Louisse tidak terima dengan tuduhan Leonard.
"Tapi semua bukti sudah jelas dan bukan hanya itu saja! Aku dengar Oscar juga mengajakmu tidur bersama!" Teriak Leonard dengan rasa amarah dan emosi yang meluap.
Mendengar tuduhan itu Louisse jadi semakin geram. Hal bodoh macam apa yang baru saja dia dengar?
"Omong kosong macam apa itu? Kamu mendengar hal bodoh itu dari mana?! Padahal selama ini aku mengira kamu selalu perca... "
"Astaga... Kenapa ekspresinya berubah seperti orang yang patah hati?" Batin Louisse yang jadi bingung sendiri gimana caranya menenangkan bagi besar itu.
"Leonard... Pertama-tama tolong kamu jangan menangis, kita bisa bicarakan ba..."
Ucapan Louisse kembali terpotong ketika melihat Leonard tiba-tiba lari keluar dari ruang istana Louisse.
"Heii... Leonard...!! Kau mau kemana?!!" Teriak Louisse yang berusaha untuk menghentikan Leonard pergi namun Leonard tidak perdulu dan tetap lari keluar dari kediaman Louisse.
"Ya ampun anak itu... Tapi, bagaimana bisa surat ini ada di ruang kerja Leonard?" Gumam Louisse sambil memungut surat yang dibawa Leonard tadi yang terjatuh ke lantai.
"Surat ini seharus bisa langsung sampai ke tangan Oscar tanpa kesalahan karena aku menitipkannya langsung pada pelayan pribadi Oscar. Nama lelaki itu Doha kan? Anehnya aku tidak ingat ada seorang pelayan di sisi Media maupun Oscar yang bernama Doha di dalam novel. Atau mungkin aku yang lupa? Lalu.. Apa-apaan tadi? Leonard bilang jika Oscar mengajakku tidur bersama? Aku yakin jika Leonard sedah salah paham!" Pikir Louisse dalam benaknya.
Sementara itu Leonard yang kembali ke istananya dengan terburu-buru akhirnya sampai dan memasuki ruang kerjanya dengan keadaan mata yang sembab.
__ADS_1
"Yang Mulia sudah kemba... Lho?" Redian yang menyambut kedatangan Leonard langsung menghentikan ucapannya ketika melihat raut wajah Leonard yang kacau.
"Kalian semua keluar! Untuk saat ini jangan ada yang boleh masuk!" Perintah Leonard tanpa melihat ke arah Redian dan Julian, juga Rodrego yang berada di dalam ruangan tersebut.
"Yang Mulia menang..." Redian yang selalu tidak peka dan blak-blakan malah mengucapkan hal yang sensitif, tapi untungnya mulutnya langsung dibekap oleh Julian sebelum dirinya mengatakan kata yang seharusnya tidak dia ucapkan.
"Baik, Yang Mulia..." Jawab Julian dengan tangan yang masih menutup mulut Redian. Lalu ketiga kesatria pribadi Leonard itupun keluar dari ruang kerja dan menutup rapat pintunya.
Di dalam sana terlihat Leonard begitu frustasi. Dia kembali mengingat-ingat kenangannya bersama Louisse dari pertama kali mereka bertemu hingga sekarang.
"Sejak dulu Louisse selalu membantuku agar terhindar dari rencana Ratu yang selalu mempersulitku. Meski semua orang bilang jika dia adalah kaki tangan Ratu namun aku selalu percaya padanya jika dia selalu berada dipihakku. Tapi jika itu semua adalah ilusiku saja... Lalu aku harus bagaimana?"
Leonard mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia seperti anak anjing yang baru dibuang majikannya. Sedih dan terluka.
Disaat dirinya sedang meratapi kemalangnnya, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar pintu ruang kerjanya.
"Anda tidak boleh masuk. Yang Mulia Pangeran Pertama tidak mengijinkan siapapun masuk untuk sementara ini." Itu suara Rodrego yang terdengar dari balik pintu.
"Itu biar saya yang bertanggung jawab, jadi kalian semua minggir!!"
Brak!
"Yang Mulia Putri!!" Teriakan para kesatria yang ada di luar pintu bertepatan dengan suara pintu yang terbuka dengan cukup keras membuat Leonard langsung menoleh ke sumber suara. Dan di sana dia mendapati Louisse sudah masuk ke dalam ruang kerjanya bersama dengan Oscar. Terlihat wajah Oscar sangat marah ketika melihat wajah kakaknya itu.
"Leonard, kita bertiga harus bicara!!" Seru Louisse dengan wajah seriusnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...