
POV Leonard...
Aku bersama Julian dan Ridrego sedang mengikuti sekalian menyelidiki Alex Born sesuai informasi yang diberikan Louisse lewat Julian beberapa hari yang lalu. Dan benar saja, gerak-gerik Alex begitu mencurigakan. Kenapa kami tidak menyadarinya selama ini? Aku dan yang lainnya tidak bisa mencurigainya karena kami dan Alex sudah berteman sejak kecil. Tapi karena Louisse yang mengatakannya, itu berarti bukanlah omong kosong. Dan aku bersama yang lainnya sepakat mengikutinya diam-diam hingga sampailah kami berada di pinggiran hutan Timur ketika dia berhenti berjalan. Kami melihat di sana dia sedang mengaitkan sebuah gulungan kecil di kaki seekor burung. Sepertinya itu adalah burung pembawa pesan. Tidak salah lagi! Apa yang dikatakan Louisse tentangnya itu benar. Aku langsung memberi kode pada Rodrego dan dia langsung memanah burung yang mulai terbang itu. Seketika Alex terperanjat kaget dan langsung memutar tubuhnya ke belakang. Dia semakin terkejut setelah melihatku yang bersama Julian dan Rodrego keluar dari persembunyian kami.
"Pa.. Pangeran?!" Serunya dengan wajah terkejut yang ketakutan.
"Rodrego, ambil surat yang diikat di kaki burung itu!" Perintahku pada Rodrego.
"Baik, Yang Mulia." Rodrego langsung mengambilnya dengan cepat setelah aku perintah dan membawanya kepadaku.
"Ini Yang Mulia."
Aku langsung mengambil gulungan kertas kecil yang diambil Rodrego dari kaki burung dan langsung membaca isinya.
"Jadi isinya tentang cidera di lengan kiriku." Kataku setelah membaca apa yang tertulis di gulungan kecil itu.
"Kurang ajar! Cidera yang dialami Pangeran itu adalah rahasia yang tidak boleh diungkap siapapun dari kita." Seru Julian dengan sangat marah.
"Jadi, ini tujuanmu beberapa hari ini kamu yang membawa makanan di ruangan pangeran?! Untuk mengawasi Pangeran." Ujar Rodrego yang tak kalah geramnya dengan Julian.
"Tolong ampuni kesalahan hamba Yang Mulia..." Alex yang tidak bisa mengelak lagi karena sudah tertangkap basah menghianatiku langsung bersimpuh dan memohon ampunanku. Aku tahu kami sudah berteman sejak kecil dan aku sangat mempercayainya, tapi kesalahan ini tidak bisa diampuni lagi. Aku tidak tahu kapan dia akan menghunuskan pedangnya ke arahku jika aku mengampuninya.
"Aku tahu keluargamu sedang mengalami kesulitan selama ini, tapi tidak aku sangka kamu akan menjual informasi tentangku pada Ratu padahal kamu bisa meminta tolong padaku jika kamu sedang kesulitan." Ucapku yang begitu kecewa padanya.
"Tolong ampuni saya sekali ini saja Pangeran, saya sungguh menyesal." Ucapnya yang masih terus memohon padaku.
__ADS_1
"Aku terima penyesalanmu tapi aku tidak bisa menerima penghianatanmu. Mengingat kita sudah berteman sejak kecil, aku akan melepasmu dengan cepat tanpa rasa sakit."
Setelah mengatakan itu aku langsung mengarahkan pedangku ke lehernya dan menebasnya dengan sangat cepat.
"Rodrego, gantung kepalanya di tengah lapangan untuk mengingatkan pada yang lainnya untuk tidak bermain-main denganku." Perintahku pada Rodrego.
"Baik Yang Mulia..." Jawab Rodrego.
"Ayo kita kembali!" Ajakku pada mereka berdua.
"Baik Yang Mulia..." Jawab Julian dan Rodrego.
"Oh ya, apa sekarang kalian masih belum percaya jika Putri berada di pihak kita? Kalian bisa lihat sendiri jika informasi yang Putri katakan adalah benar." Ucapku sebelum benar-benar pergi dari tempat ini.
"Tapi Pangeran, mungkin saja itu hanyalah sandiwara Putri agar kita mempercayainya. Ini hanya kamuflase untuk menghancurkan anda Pangeran dan Alex adalah alat untuk mempermudah jalan mereka. Jadi anda jangan terlalu cepat percaya Yang Mulia..." Julian masih saja tidak percaya dan beranggapan jika Louisse hanya memanfaatkanku saja demi kepentingan Ratu.
"Tapi Yang Mulia..."
"Julian de Aswan, jika sekali lagi kau mengatakan hal yang buruk tentang istriku, tidak perduli kamu temanku atau bukan aku tidak mungkin diam terhadapmu!" Ujarku untuk memperingatinya agar hati-hati jika berkata tentang Louisse.
"Ma...Maafkan saya Pangeran." Julian yang mendengar kata peringatan dariku seketika tubuhnya bergetar dan langsung meminta maaf sambil tertunduk.
"Aku harap ini adalah yang terakhir kau mengatakan sesuatu yang buruk tentang istriku."
Aku langsung melangkah pergi setelah mengatakan hal itu dan meninggalkan mereka berdua begitu saja. Jika ditanya apa aku tidak memikirkan apa yang dikatakan Julian tadi? Itu bohong. Kata-kata Julian tadi sesikit mempengaruhi pikiranku, bahkan bisa dikatakan aku sedikit goyah dan sempat berpikir hal yang sama dengan apa yang dipikirkan Julian. Tapi Louisse... Itu semua bohong kan? Kamu tidak mungkin menghianatiku kan?
__ADS_1
POV Leonard Off..
...****************...
Tidak terasa musim panas datang begitu cepat seolah baru kemarin aku berpisah dengan Leonard. Dan sudah enam bulan berlalu semenjak aku mengambil alih urusan istana Leonard. Terkadang aku mengeluh sangat lelah karena harus mengelola dua istana sekaligus, istanaku sendiri dan istana Leonard. Tapi bagaimanapun aku harus melakukannya karena aku harus menjaga istana Leonard dari orang-orang licik dan serakah yang memanfaatkan kekosongan di istana kediaman Pangeran Leonard. Sementara itu Leonard di medan perang terus menerus mengirimkan kabar kemenangannya. Sementara Oscar sibuk dengan pendidikannya untuk mempersiapkan diri sebagai pewaris Kekaisaran Eliador. Dan aku? Apa yang seharusnya aku lakukan disaat tidak ada kerjaan dan bersantai begini? Sementara itu waktuku di israna ini tidak akan lama lagi. Setelah Leonard kembali maka aku harus segera meninggalkan istana ini dengan damai.
"Haruskah aku pergi ke pergaulan kelas atas, menghadiri pesta ini dan itu sambil memasang senyuman palsu?" Gumamku sambil memikirkan langkahku selanjutnya untuk mempertahankan hidupku di istana ini sampai Leonard kembali.
"Ya Tuhan... Aku di sini seharusnya menjadi pemeran antagonis, tapi aku juga tidak mau mati konyol seperti yang ada di novel aslinya, jadi tolong biarkan aku bertahan sedikit lagi..." Do'aku dalam hati sambil memejamkan mata.
"Yang Mulia, apakah anda baik-baik saja?" Tiba-tiba bertanya padaku, mungkin sikapku saat ini terlihat aneh di matanya.
"Ah, tidak! Aku tidak apa-apa." Jawabku cepat.
"Tapi sedari tadi anda terlihat gelisah." Ujar Anne dengan wajah khawatirnya.
"Sunggu aku tidak apa-apa Anne..." Ucapku meyakinkannya.
"Baiklah jika itu yang anda katakan." Sahut Anne kemudian.
Ahh... Aku jadi terlihat aneh di mata Anne karena sedang memikirkan sesuatu yang mungkin tidak penting, ini karena aku punya waktu luang dan tidak melakukan apa-apa. Aku juga sibuk tapi tidak sesibuk kemarin-kemarin saat pertama kali mengurus istana Leonard. Sepertinya aku membutuhkan teman yang bisa aku ajak bicara di waktu senggang. Sebenarnya banyak sih putri dari keluarga bangsawan yang aku kenal, hanya saja...mereka ingin mengenalku karena ingin mendapatkan koneksi dari Ratu. Pertemanan mereka tidak tulus sama sekali. Seandainya aku punya teman perempuan yang benar-benar mau berteman denganku tanpa ada maksud tertentu.
Saat aku melihat ke luar jendela kamarku ada pemandangan yang indah di taman istanaku. Pohon tinggi yang dikirim Leonard enam bulan yang lalu akhirnya berbunga juga. Pohon yang berbunga di musim panas. Dan sekarang aku mengerti apa maksud Leonard dalam suratnya. Bunga berwarna putih dengan semburat ungu di bagian tengahnya, mirip dengan rambut dan bola mataku.
"Hihihi... Dia selalu mengumpamakan sesuatu dengan pemikirannya sendiri, imutnya suamiku..." Aku jadi senyum-senyum sendiri karena teringat kepolosan Leonard yang menggemaskan sampa-sampai Anne melihatku dengan tatapan tanda tanya yang aneh. Ya mungkin di mata Anne Putri yang dilayaninya terlihat aneh hari ini. Ya semoga saja Anne tidak mengiraku gila hahaa... Setidaknya hatiku sedikit terhibur setelah melihat bunga itu.
__ADS_1
Ahh Pangeranku... Cepatlah kembali, karena aku sudah terlalu bosan tanpamu di sini...
Bersambung....