Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 35 Ada Yang Salah


__ADS_3

Tubuh Eric begitu gemetar ketakutan ketika pedang Edmund belum beranjak dari leher. Mata menyalang Edmund yang begitu marah seakan mengatakan dia siap untuk menebas leher Eric dengan senang hati. Melihat itu semua Louisse mencoba menghentikannya sebelum ruangan istananya berlumuran darah Eric.


"Hen, hentikan!!" Louisse langsung memegang tangan Edmund yang memegang pedang untuk menghentikannya.


"Kak, aku akan membalas surat kakak nanti jadi sebaiknya kakak pergi sekarang!" Perintah Louisse pada Eric.


Dengan tatapan matanya pada Eric, Louisse seakan berkata "Jika kau berulah lagi maka orang ini akan benar-benar membunuhmu!" Lalu Eric yang sudah ketakutan setengah mati berusaha berdiri dari lantai dengan susah payah dan berlari kearah pintu keluar sambil memaki Edmund seakan dia lupa jika lehernya bisa lepas kapan saja dari tubuhnya.


"A awas kamu! Lihat saja nanti!!" Teriak Eric sambil berlari keluar istana Louisse.


"Hahh... Sir Edmund, mulai sekarang berjanjilah untuk tidak menghunuskan pedang seenaknya." Kata Louisse.


"Maaf Yang Mlia." Sahut Edmund dengan perasaan yang tentu saja masih kesal.


"Aku tidak menyuruhmu untuk minta maaf, itu karena aku mengkhawatirkanmu." Edmund langsung tersentak ketika mendengar pernyataan Louisse barusan.


"Meskipun kakakku terlihat kasar dan tidak sopan tapi tetap saja dia maaih seorang Baron yang merupakan keluarga besan dari Kekaisaran. Jika dia sampai terluka, maka gelarmu sebagai kesatria bisa saja dicopot lalu diusir dari istana. Bukankah kamu ingin seterusnya berada di sisi Yang Mulia Pangeran Pertama?" Mendengar ucapan Louisse, Edmund terdiam tidak bisa berkata apa-apa karena yang diucapkan Sang Putri memanglah benar. Jika Louisse tidak menghentikannya tadi mungkin hari ini adalah hari terakhir dia berada di istana itu.


"Aku minta maaf menggantikan kakakku atas perilakunya yang tidak sopan." Edmund semakin terkejut dengan permintaan maaf dari Louisse yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, bahkan Louisse rela menundukkan kepalanya pada seorang kesatria biasa.


"Istana adalah tempat menyebalkan yang penuh dengan hal-hal kotor terjadi. Jadi mulai sekarang untuk kedepannya mohon bantuannya sir Edmund." Lanjut Louisse dengan senyum di bibirnya.


Sejenak Edmund tertegun dengan kata-kata Louisse dan dia teringat ketika dirinya dipanggil oleh Pangeran Leonard di ruangannya dan meminta dirinya untuk menjadi pengawal pribadi istrinya, Putri Louisse...


"Awalnya ini adalah kesempatan ketika aku dipanggil oleh Pangeran Leonard dan diminta untuk menjadi pengawal pribadi Putri Louisse. Aku berpikir untuk melihat jika Putri benar-benar kaki tangan Ratu maka dengan senang hati aku akan melenyapkannya meski akhirnya aku akan dihukum. Karena sejak hari pertama aku bertemu Pangeran Leonard yang mengulurkan tangannya padaku, aku audah memutuskan untuk hidup demi Yang Mulia Leonard. Dan ketika saat ini aku melihat Putri Louisse yang seperti ini, apa benar dia ada di pihak Ratu?


...****************...


Malam harinya... Di dalam istana tua terlihat seorang pria menatap langit malam dari balik jendela. Dia menatap langit malam penuh Bintang itu dengan mata merahnya. Di sana dia ditemani oleh seorang pelayan wanita dan seorang pelayan pria.


"Bagaimana tugas kalia?" Tanya lelaki bermata merah itu.


"Maafkan kami tuan Doha, sulit bagi kami untuk mendekat ke istana Pangeran Pertama, penjagaan di sana sangat ketat, bahkan hanya orang-orang tertentu yang diperbolehkan masuk ke sana." Jawab pelayan pria. Ternyata lelaki bermata merah itu adalah Doha Hyperion, pelayan pribadi Ratu Media. Lalu untuk apa dia berada di istana tua? Bukankah hanya wanita saja yang diperbolehkan untuk masuk ke dalam sana?


"Aku sudah menduganya. Lalu, bagaimana dengan Putri Louisse?" Tanya Doha.


"Saya menemukan ini di ruang baca Putri, saya tidak tahu apakah ini akan berguna atau tidak. Ini adalah buku catatan Putri, tapi karena tulisan di dalamnya aneh dan sulit untuk dibaca jadi saya membawanya." Si pelayan perempuan menyerahkan sebuah buku bersampul coklat, buku diary Louisse yang berisikan tentang cerita novel di dunia itu.


"Ini pertama kalinya aku melihat huruf seperti ini." Kata Doha ketika melihat catatan Louisse dengan huruf yang asing di matanya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa isi di dalamnya sampai dia menulisnya dengan huruf yang tidak bisa dibaca oleh orang lain? Aku kira dia hanyalah wanita bodoh yang kerjanya hanya main dan makan di istana karena dia masuk dengan bantuan Ratu. Ternyata dia wanita yang lumayan pintar." Gumam Doha sambil memikirkan sesuatu.


"Kalau begitu tidak ada cara lain selain menanyakan sendiri kepada orangnya kan?" Ujar Doha sambil tersenyum smirk. Entah apa yang akan dilakukan Doha pada Louisse nantinya.


...****************...


Di istana Bulan milik Ratu, Louisse sedang menghadap wanita paling berkuasa di istana itu atas panggilannya.


"Apakah ada sesuatu yang harus saya lakukan Yang Mulia Ratu?" Tanya Louisse dengan hormat.


"Kamu tentunya tahu siapa itu Jesica de Lope kan?" Alih-alih menjawab pertanyaan Louisse, Media justru menanyakan hal yang lain.


"Tentu saja saya tahu Yang Mulia... Dia adalah lady yang sedang berusaha anda dekatkan dengan Pangeran Kedua sebagai pasangannya. Mana mungkin saya tidak tahu tentang putri satu-satunya dari Count Lope tersebut." Jawab Louisse dengan nada cerianya. Louisse harus bekerja keras agar Media tidak mencurigainya, jadi informasi sekecil apapun dia berusaha untuk mencari tahuinya.


"Media sengaja memilih Jesica de Lope, putri dari bangsawan ternama keluarga Lope sebagai pasangan putranya. Hal itu juga akan membantu Oscar kedepannya jika dia benar naik tahta. Ah... Aku tidak percaya jika Oscar akan menikah secepat itu." Batin Louisse.


"Ternyata kamu cukup mengerti juga. Bagaimana jika kamu pergi mengunjungi Putri Jesica? Sebagai orangku aku ingin melihat kalian berdua akrab. Nantinya dia akan bisa membantumu untuk memperkuat kedudukanmu di istana ini. Bukankah sekarang telah banyak rumor yang beredar?" Ucap Media pada Louisse yang tentunya ada maksud tersendiri di dalamnya.


"Aha~Jadi ini maksudnya? Dia ingin bilang jika aku yang merupakan istri Pangeran Pertama harus tunduk kepada orang yang akan menjadi istri dari Pangeran Kedua. Hoho... Karena rumor yang beredar tentang hubunganku dan Oscar, Media sampai terang-terangan memanggil Putri bukan lady untuk Jesica. Meski aku tahu maksudnya tapi untuk saat ini apa yang bisa aku lakukan selain mengikuti rencananya?" Batin Louisse.


"Tentu saja, Yang Mulia Ratu..." Jawab Louisse sambil menundukkan kepalanya.


Setelah itu Louisse langsung undur diri dari hadapan Media. Dia kembali ke istananya dan bersiap untuk pergi ke kediaman Count de Lope untuk menemui Jesica de Lope. Awalnya Louisse akan pergi dengan ditemani oleh Edmund sebagai pengawal pribadinya sampai seorang pelayan wanita berlari terengah-engah menghampiri Louisse ketika Louisse hendak keluar dari istananya.


"Maafkan saya Yang Mulia karena harus mengatakan suatu hal yang mendadak." Kata pelayang wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah pelayan yang sama dengan pelayan wanita yang bertemu Doha di istana tua. Mata-mata Doha.


"Ada apa?" Tanya Louisse.


"Yang Mulia Pangeran Pertama menyuruh sir Edmund untuk segera menemuinya karena ada hal yang penting." Ucap pelayan wanita itu.


"Leonard mencari sir Edmund? Ah... Kalau begitu pergilah, mungkin memang ada yang penting." Kata Louisse pada Edmund.


"Kalau begitu saya akan mencari orang untuk menggantikan saya." Ucap Edmund sambil mengedarkan pandangannya pada sekeliling istana untuk mencari seseorang yang bisa menggantikannya mengawal Louisse.


"Aku akan baik-baik saja meski tanpa pengawal." Ujar Louisse namun Edmund tidak menghiraukannya sampai akhirnya Edmund melihat Redian yang sedang berjalan menuju arah keluar istana.


"Saya sudah menemukannya." Tanpa pikir panjang Edmund langsung berlari menghampiri Redian dan menarik Red untuk ikut bersamanya.


"Hei, Ed! Apa yang kamu lakukan?! Kenapa kamu menarikku seenaknya?!" Redian terkejut dan berteriak karena Edmund tiba-tiba datang dan menyeretnya untuk mengikutinya.

__ADS_1


"Kamu akan bolos kerja lagi karena malas kan?" Tebak Edmund tepat sasaran.


"Kok tahu?!"


Edmund tidak menjawab lagi dan menyeret Redian hingga di hadapan Louisse.


"Orang ini yang akan menggantikan saya untuk megawal anda Yang Mulia. Dia akan berguna meski terlihat bodoh." Ujar Edmund dengan ekspresi santai dan datarnya.


"Ah, padahal aku tidak apa-apa, tapi mohon bantuannya kalau begitu." Ucap Louisse dengan perasaan tak nyaman.


Setelah Louisse pergi bersama Redian, Edmund pun langsung berlari tergesa-gesa menuju istana Leonard untuk menemui tuannya itu.


Brak!!


Edmund membuka pintu ruang kerja Leonard dengan kasar sehingga membuat orang-orang di dalamnya terkejut semua.


"Yang Mulia! Apakah anda memanggil saya?" Seru Edmund begitu dia masuk.


"Hei bocah! Kau membuat kaget saja!" Seru Rodrego kesal.


"Ed? Kenapa kau di sini?" Tanya Jullian heran.


"Bagaimana dengan pengawalan Tuan Putri?" Tanya Rodrego menambahi.


"Tenang saja, aku sudah menyerahkan kepada Red yang berusaha membolos kerja." Jawab Edmund.


"Hahh... Pantas saja dia tidak bisa ditemukan dimanapun." Sahut Jullian.


"Yang Mulia, apa benar anda mencari Edmund?" Tanya Rodrego pada Leonard yang sedang sibuk dengan tumpukan pekerjaannya.


"Tidak." Jawab Leonard singkat namun mampu membuat Edmund terkejut.


"Haa?! Ada yang salah." Gumam Edmund.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2