Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 34 Edmund Lombardi


__ADS_3

Hampir setiap hari, entah itu di dalam ataupun di luar istana Leonard selalu mendapat ancaman pembunuhan, terlebih setelah dirinya kembali ke istana. Seperti saat ini, baru saja sebuah anak panah melesat melewatinya dan menancap pada pohon ketika sedang berjalan bersama Jullian di area halaman istananya. Untung saja anak panah itu dengan sigap bisa dihindari oleh Leonard.


"Yang Mulia! Apa anda baik-baik saja?" Tanya Jullian dengan wajah terkejutnya ketika melihat Pangeran yang dia layani hampir terkena anak panah.


"Ini bukan apa-apa buatku." Sahut Leonard. Dalam hati Leonard berpikir keras dengan kejadian yang selalu ia alami ini....


"Sejak aku kembali semakin banyak ancaman pembunuhan yang dikirim kepadaku. Mungkin karena Yang Mulia Kaisar sekarang mulai tertarik padaku dan membuat mereka yang dari awal melawanku jadi takut sendiri karena merasa posisi mereka bisa terancam. Atau... ini hanya trik mereka untuk mencari kelemahanku? Tunggu!! Jika itu kelemahanku maka..." Tubuh Leonard menegang sesaat ketika mengingat sesuatu.


"Yang Mulia, bagaimana jika kita meningkatkan jumlah pengawal dalam istana anda?" Usul Jullian.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan selain itu kan?" Sahut Leonard.


"Kalau begitu bagaiman jika kita meningkatkan kekuatan jumlah pasukan untuk ditempatkan sebagian di dalam istana anda?" Jullian menambahkan usulannya.


"Jullian, kirim segera kesatria pengawal ke istana Louisse!" Perintah Leonard.


"Baik Yang Mu... Apa?! Kenapa harus ke istana Putri?" Tanya Jullian tidak mengerti apa yang dipikirkan Leonar, bukankah dia yang terancam? tapi kenapa Louisse yang harus dijaga?


"Itu karena aku sangat khawatir padanya." Jawab Leonard dengan wajah datarnya.


"Kenapa anda tiba-tiba berkata seperti itu? Lalu bagaimana pengawalan di istana anda? Kan anda yang dalam bahaya." Tanya Jullian yang masih tidak percaya akan sikap santai Leonard padahal tidak sekali dua kali nyawanya hampir melayang.


"Aku kan kuat, jadi itu bukan masalah bagiku." Jawab Leonard dengan jumawanya. Dan sialnya apa yang Leonard katakan itu benar, tidak ada yang dia takutkan karena dirinya kuat. Hal itulah yang membuat Jullian tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya mampu terbengong dengan sikap angkuh Sang Pangeran.


.


.


Keesokan harinya di istana Louisse, Leonard benar-benar mengirimkan salah satu kesatrianya untuk menjadi pengawal pribadi Louisse.


"Atas perintah dari Yang Mulia Pangeran Pertama, mulai saat ini saya akan menjadi pengawal pribadi Yang Mulia Putri yang bertugas menjaga keselamatan Yang Mulia Putri."


Mendengar yang diucapkan kesatria itu Louisse seketika terkejut.

__ADS_1


"Nama saya Edmund, salah satu anggota pasukan kesatria yang berada di bawah kepemimpinan langsung Yang Mulia Pertama." Ucap lelaki bernama Edmund itu memperkenalkan dirinya.


Keterkejuta Louisse tadi bukan karena ada kesatria yang tiba-tiba datang untuk jadi pengawal pribadinya karena sebelumnya Leonard sudah memberitahunya. Louisse terkejut karena kesatria yang dikirim Leonard untuknya itu ternyata masih sangatlah muda. Dan nilai plusnya adalah dia terlihat sangat imut dengan wajah tampannya.


"Ya ampun... Dia ternyata terlihat seperti malikat dengan wajah tampannya yang polos. Kenapa aku tidak memperhatikannya waktu di pesta kemenangan? Ah, mungkin aku sibuk waktu itu." Batin Louisse yang meronta-ronta saking senangnya.


"Aku kira Leonard akan mengirim orang yang aneh atau seram ketika bilang akan mengirim seorang pengawal untukku. Ternyata dia adalah bocah imut yang lebih muda dariku. Apa mungkin dia masih berusia tujuh belas tahun? Kalau begini aku akan lebih nyaman jika membawanya kemana-mana." Gumam Louisse dalam hatinya.


"Senang bertemu denganmu sir Edmund. Kalau boleh tahu berapa umur sir Edmund?" Tanya Louisse dengan tersenyum ramah.


"Tahun ini delapan belas tahu." Jawabnya.


"Ah, sudah kuduga jika kamu lebih muda dariku..." Sahut Louisse, namun tiba-tiba dia dikejutkan dengan pintu ruangannya yang terbuka dengan kasar.


"Louisse!!" Teriakan seorang laki-laki itu terdengar memanggilnya dengan kasar tepat setelah pintu ruangannya terbuka.


"Ya ampun... Suara itu lagi." Batin Louisse yang sepertinya tahu suara siapa itu.


"Ada urusan apa kakak kesini?"


"Kenapa kamu tidak membalas suratku?! Dan malah membutku datang sendiri menemuimu!" Teriaknya sambil marah-marah.


"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk datang. Lagi pula aku tidak tertarik membalas suratnya karena isinya hanyalah omong kosong." Batin Louisse kesal.


"Dari awal kan saya sudah bilang tidak akan bisa melakukan hal itu. Jadi tolong jangan bahas masalah itu lagi dan tolong jangan datang tanpa pemberitahuan lagi." Sahut Louisse dengan sangat tegas.


"Dasar tidak sopan!! Mendengar jawaban itu Eric sangat marah dan hendak menampar Louisse namun dengan sigap Edmund langsung menghentikannya dan memasang badannya untuk melindungi Louisse.


"Hentikan!" Seru Edmund sambil menghadang Eric.


"Siapa kamu berani menghentikanku?!" Tanya Eric dengan sangat marah.


"Saya hanya sedang bertugas di sini." Jawab Edmund.

__ADS_1


"Dia adalah pengawal pribadi saya." Sahut Louisse menegaskan.


"Apa?! Anak kecil saja sombong! Minggir sana!"


Plak!!!


Eric yang marah mencoba membuat Edmund minggir dari hadapannya dengan cara menghina dan menampar Edmund. Tapi justru tindakan Eric itu adalah suatu kesalahan yang mungkin akan disesalinya.


"Dasar guguk bodoh ini!!" Teriak Louisse dalam hati.


Sementara di tempat lain di ruang kerja Leonard, Jullian terlihat cemas memikirkan sesuatu...


"Oh ya... Kalau tidak salah mulai hari ini Ed bertugas sebagai pengawal Tuan Putri kan?" Tanya Rodrego disela-sela mereka bekerja dengan tumpukan dokumen.


"Hahh... Iya." Jawab Jullian sambil menghela napas cemas.


"Apa yang kamu khawatirkan? Ed kan mempunyai kemampuan yang bagus." Tanya Rodrego lagi.


"Aku tidak meragukan kemampuannya, hanya saja dia akan berubah gila jika sedang kesal." Jawab Jullian.


Dan kekhawatiran Jullian itu sudah terjadi di istana Louisse saat ini. Karena sangat kesal dan marah dengan kata-kata serta perlakuan Eric, kini sisi gila Edmund muncul. Tidak membutuhkan waktu lama Eric sudah tersungkur di hadapan Edmund dengan pedang yang mengarah pada lehernya.


"Kyaa... Ja, jangan bunuh dia!!" Seru Louisse yang merasa takut.


"Saya menilai orang yang bertindak kasar ini merupakan orang yang bisa membahayakan Yang Mulia Putri yang kini saya lindungi." Kata Edmund dengan suara datar yang menekan serta tatapan yang tajam yang mengerikan.


Louisse melupakan satu hal karena terpikat oleh wajah tampannya. Dalam cerita aslinya Leonard mempunyai bawahan setianya yang merupakan ahli strategi peperangan yang mampu memusnahkan satu unit musuh seorang diri. Mesin pembunuh yang cantik, itulah jukukannya. Dialah Edmund Lombardi.


"Astaga!! Apa sih yang dipikirkan Leonard saat mengirimkan mesin pembunuhnya hanya untuk menjadi pengawal pribadiku? Bukankah ini berlebihan?" Gerutu Louisse dalam hati ketika mengingat data asli dari Edmund dalam cerita novelnya.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2