
Karena di atas begitu berisik, akhirnya Louisse memutuskan untuk naik ke atas ke kamar Leonard.
"Leonard, kamu sudah bangun ya...?" Louisse tiba-tiba menghentikan ucapannya ketika melihat Leonard sudah mencengkeram krah baju Asrahan.
"Apa yang kumu lakukan?! Apa kamu tidak ingat dengan kejadian semalam?!" Seru Louisse pada Leonard.
"Apa?" Tanya Leonard sambil menengok ke arah Louisse.
"Saat kau mabuk tadi malam, Asrahan lah yang mengurusmu!" Seru Louisse lagi. Dan sedetik kemudian Leonard teringat atas kejadian tadi malam.
"Menurut cerita orang-orang desa, kamu berlari keliling desa di tengah malam sambil mencari bunga Sweet Pea ungu. Dan akhirnya Asrahan yang malah kerepotan mengurusmu. Jadi, kedepannya bersikaplah yang baik pada Asrahan, dia adalah teman yang baik karena tidak meninggalkan temannya yang sedang mabuk..!" Omel Louisse pada Leonard.
"Ternyata Isse sangat mengerti penderitaanku... Apalagi dia ini kuat banget." Ujar Asrahan dengan wajah penuh penderitaan.
"Ma, maafkan aku atas kejadian semalam..." Ucap Leonard serius mengakui kesalahannya lada Asrahan.
"Haha... Aku hanya bercanda. Ya, mau bagaimana lagi? Kamu kan sedang mabuk, tak usah dipikirkan dengan serius." Sahut Asrahan sambil tertawa melihat ekspresi wajah Leonard yang begitu serius.
"Ah, lupakan yang tadi malam. Ngomong-ngomong... Hari ini Isse juga terlihat cantik." Ujar Asrahan yang mulai ngegombal pada Louisse.
"Kamu itu kalau bicara suka manis banget ya... Pantas semua orang menyukaimu, pasti dimanapun kamu tinggal kamu tidak akan sulit menyesuaikan diri, hehe..." Balas Louisse yang tersenyum ceria pada Asrahan yang mood booster itu.
"Dasar bocah itu...!" Sementara Leonard begitu geram melihat keakraban mereka berdua.
...****************...
POV Louisse...
Setelah sekian lama akhirnya aku dan Leonard memiliki waktu untuk bersantai, kami pun menikmati pagi hari yang santai di desa yang begitu tenang. Lalu siangnya kami berdua diajak oleh Asrahan untuk bertemu Marcus dan membicarakan rencana kami untuk menemui Zenit kekasih Marcus sebelum hari pernikahan wanita itu tiba. Setelahnya aku dan Leonard bingung harus melakukan apa di waktu kami yang masih tersisa. Aku pun teringat masa kecil kami yang tengah menyusup keluar istana dan berjalan-jalan di pasar desa, lalu memutuskan untuk berjalan-jalan ke pasar desa seperti kala itu. Namun karena sudah terlalu lama berjalan, kakiku pun merasa capek dan tidak kuat lagi untuk berjalan. Leonard yang menyadari hal itu menawari untuk menggendongku di punggungnya. Meski aku sudah menolak, tentu saja Leonard akan tetap memaksanya dan aku pun menyerah. Di situlah aku sadar... Melihat punggung Leonard yang kokoh, membuatku berpikir jika pilihanku kali ini adalah benar. Karena masih ada beberapa hari sebelum hari pernikahan Zenit dilaksanakan, kami pun memiliki waktu lebih lama untuk bersantai di desa tersebut.
__ADS_1
Hingga hari dimana kami harus membantu Asrahan dan Marcus pun tiba...
POV Louisse Off...
...****************...
Hari ini adalah hari dimana Louisse, Leonard dan Asrahan menjalankan rencana mereka untuk membantu Marcus bertemu dengan Zenit untuk terakhir kalinya.
Rencananya mereka akan bersembunyi di sekitaran jalan hutan yang akan di lewati oleh kereta kuda yang membawa Zenit ke tempat acara pernikahannya. Di sana Leonard dan Asrahan sudah bersiap diposisi tempat persembunyian yang sama. Sedangkan Louisse bersembunyi di tempat berbeda tak jauh dari tempat Asrahan dan Leonard sembunyi.
"Mumpung kita masih menunggu, ada yang aku tanyakan padamu Mark." Kata Asrahan.
"Tanya apa?" Tanya Leonard.
"Aku lihat hubunganmu dengan Isse baik-baik saja, tapi mengapa kalian menggunakan kamar terpisah? Bukankah kalian suami istri..." Tanya Asrahan penasaran.
"Aku hanya berusaha untuk melindunginya." Jawab Leonard ambigu yang membuat Asrahan semakin tidak mengerti saja.
"Sebenarnya kami melakukan pernikahan politik... Ah, maksudku meskipun kami rakyat biasa kami melakukan pernikahan politik." Kata Leonard yang kemudian langsung meralat ucapannya.
"Oleh karena itu aku menunggu Lou... Em, Isse untuk merasakan perasaan yang sama denganku." Lanjut Leonard dengan sedikit malu-malu.
"Ah, berarti kalian belum pernah ciuman dong..." Celetuk Asrahan.
"Ka, kalau di bibir... Bibir kami pernah bersentuhan sih..." Sahut Leonard sedikit melu mengatakan hal itu pada orang lain.
"Ya ampun... Bukan yang seperti itu! Yang seperti ini..." Seru Asrahan geregetan dengan kebodohan Leonard dan berbisik apa yang dia maksudkan.
"Kamu gila ya?! Mana mungkin aku melakukan yang seperti itu!!" Seru Leonard setelah mendengar hal yang dikatakan Asrahan dengan wajah yang begitu merah karena malu. Bahkan dirinya sampai sudah membayangkan apa yang dikatakan Asrahan tadi.
__ADS_1
"Hahaha... Jadi seperti itu..." Asrahan jadi tertawa sendiri melihat jawaban dan reaksi Leonard.
"Astaga... Tidak seperti wajahnya, dia ternyata sepolos itu." Ucap Asrahan dalam hati sambil geleng-geleng melihat Leonard.
"Ada yang ingin aku tanyakan juga padamu. Bagaimana caranya Isse selalu tertawa saat berbicara padamu, padahal dia selalu marah-marah kalau bicara denganku... Sebenarnya percakapan yang seperti apa yang bisa membuatnya senang?" Tanya Leonard pada Asrahan.
"Emm... Itu mungkin kamu yang terlalu malu." Jawab Asrahan.
"Terlalu malu?" Leonard membeo tak mengerti.
"Kamu itu terlalu serius kalau ngomong, dan kurang berekspresi. Jangan cuma berpikir kalau dia itu cantik dan kamu menyukainya, coba kamu ungkapkan isi perasaanmu itu langsung." Nasehat Asrahan.
"Kalau soal pujian, aku juga pernah memujinya!" Kata Leonard.
"Aku pernah bilang kalau matanya mirip dengan Kuda Laut yang hidup di lautan tropis tapi dia justru sangat marah. Aku tidak tahu apa yang salah, padahal Kuda Laut itu benar-benar cantik..." Lanjut Leonard dengan ekspresi sedih, sedangkan ekspresi Asrahan justru sebaliknya. Asrahan langsung shock dengan apa yang barusan Leonard katakan sampai mulutnya menganga tak bisa bicara apapun lagi.
"Ternyata ada ya orang seperti ini... Dia benar-benar sudah salah dari orok!" Batin Asrahan menyayangkan hahaha....
Sementara di seberang sana Louisse yang melihat mereka menerka-nerka apa yang sedang kedua lelaki itu bicarakan sampai begitu seriusnya.
"Mereka membicarakan apa sih sampai segitunya?" Batin Louisse yang sambil melihat dari kejauhan.
Kemudian tak berselang lama kereta kuda yang mereka tunggu datang. Dan...
"Siapa kalian?!"
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...