Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 15 Pekerjaan Baru Louisse


__ADS_3

"Apa?! Kenapa harus aku?" Tanyaku yang bingung lantaran Oscar tiba-tiba menunjukku sebagai pengurus dan pengelola keungan di istana Leonard.


"Kenapa harus ditanyakan lagi? Karena kakak adalah istri kak Leon pemilik istana Pangeran ini. Tentu saja tidak apa-apa jika seorang istri mengurus semua keperluan suaminya dan mengelola keuangannya. Lagian kak Isse tidak punya pekerjaan kan...?" Ucapan Oscar itu seperti anak panah yang langsung mengena ke sasarannya, secara tidak langsung dia mengatakan jika aku adalah seorang pengangguran dan itu benar adanya. Hiks.. Menyebalkan!!


"Kau ini kenapa terus terang seperti itu?!! Menyebalkan!" Rutukku dengan kesal tapi Oscar justru menertawaiku.


"Hahaa... Aku kan hanya berkata apa adanya. Lagian tidak adil jika di Kekaisaran ini hanya kak Isse yang bebas bermain sementara yang lainnya bekerja keras." Ujarnya dengan wajah sok merana.


"Jangan bilang jika sekarang kau sedang iri padaku, kau kan bukan lagi anak kecil Oscar." Sahutku.


"Waahhh... Bukankah kakak selalu bilang 'Bagiku kau ini tetaplah anak kecil Oscar', jadi tidak apa-apa kan jika aku sedikit iri pada kak Isse yang sudah dewasa ini." Ujarnya dengan senyum smirk yang terlihat licik di wajah malaikatnya itu.


"Ughh!! Baiklah katakan aku bersedia tapi aku tidak punya pengalaman tentang itu." Kataku yang akhirnya kalah juga darinya.


"Kalau masalah itu kakak tenang saja, aku pasti membantu kakak sampai kakak mengerti caranya." Jawab Oscar yang membuatku sedikit lega paling tidak aku tidak melakukannya sendiri di awal untuk membereskan kekacauan di istana Leonard ini.


Dan akhirnya akulah yang bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran istana pangeran. Meski ini akan merepotkan dan membuat hari-hari santaiku menghilang tapi aku tidak bisa tinggal diam melihat uang suamiku masuk ke kantong para koruptor itu kan... Setelah Oscar kembali ke kediamannya, aku menyusuri istana suamiku bagian dalam, mengecek jendela-jendela dan pintu-pintu yang katanya telah diganti dengan yang baru dengan bahan yang lebih berkuwalitas bersama kepala pelayan istana pangeran. Tapi apa ini?


"Didalam laporannya semua jendela dan pintu di istana pangeran telah diganti semua dengan bahan yang berkuwalitas tinggi. Tapi apa ini? Kenapa ada beberapa kaca yang sudah retak dan kayu yang sudah keropos dimakan rayap?" Tanyaku dengan menunjuk bagian kaca dan pintu yang sudah rusak.

__ADS_1


"Ah itu... Terkadang ada burung-burung yang hinggap dan mematuk-matuk kaca jendela." Jawab kepala pelayan istana sambil menunduk.


"Aha! Jadi paruh burung-burung itu lebih kuat dari kaca jendela yang berkuwalitas tinggi ini sehingga paruh-paruh mereka mampu meretakkan kaca dengan beberapa kali patukan begitu?" Tanyaku dengan sarkas padanya dan terlihat kepala pelayan tersebut menundukkan kepalanya dengan tubuh bergetar. Mungkin dia sedang ketakutan karena pernyataan bodohnya itu.


"Lain kali carilah alasan yang masuk akal." Kataku dengan tatapan menjurus padanya.


"Ganti semua jendela yang retak dan pintu-pintu yang sudah keropos dengan bahan berkuwalitas tinggi sesuai dengan laporan di buku laporan. Cabut semua pohon-pohon yang matu dan ganti yang baru, selamatkan bunga dan tanaman hias bagaimanapun caranya karena kita tidak bisa mengeluarkan banyak biaya lagi." Perintahku pada kepala pelayan.


"Baik Yang Mulia." Sahutnya segera.


"Dan satu hal lagi! Bersihkan seluruh istana ini hingga bersih sampai ke sudut-sudutnya, bahkan gudang dan lotengnya pun harus bebas dari debu. Aku tidak ingin istana suamiku terlihat seperti disaat dia masih di sini, meski pemiliknya tidak ada di tempat bukan berarti kalian terbebas dari bersih-bersih. Ini istana pangeran dan harus terlihat layaknya sebuah istana pangeran. Satu minggu lagi aku akan datng untuk mengeceknya, pastikan semuanya sudah beres!" Perintahku lagi yang tidak mungkin bisa diganggu gugat.


"Iya Yang Mulia." Jawab kepala pelayan tersebut.


"Anne..." Panggilku pada Anne yang kebetulan masih berada di kamarku setelah menyeduhkan air madu hangat untukku.


"Iya, Yang Mulia..." Sahutnya.


"Aku akan tidur sebentar, tolong bangunkan aku sebelum makan malam, hari ini aku sangat lelah." Pintaku pada Anne.

__ADS_1


"Baik Yang Mulia... Tapi sebelumnya jangan lupa minum air madu hangatnya sebelum anda tidur agar tubuh anda segar kembali setelah bangun." Ucap Anne seraya mengingatkanku.


"Baiklah, bawakan cangkirnya kemari, aku akan meminumnya sekarang." Pintaku dan Anne langsung membawakan cangkir berisi air madu hangat untukku.


"Saya keluar dulu Yang Mulia... Saya akan bangunkan anda sebelum makan malam." Pamit Anne setelah mengambil lagi cangkir air madu yang sudah kosong dari tanganku dan melangkah keluar dari kamarku setelah menerima anggukkan dariku. Lalu akupun terpejam saking lelahku.


Hari-hari berikutnya aku sibuk menata ulang laporan keuangan yang berantakan karena telah dimanipulasi oleh Baron Borneo. Dan setelah diselidiki sesuai dugaan jika Baron Borneo adalah kaki tangan Ratu. Aku selama ini sudah cukup curiga bagaimana bisa Baron Borneo melakukan korupsi selama ini dengan bebas tanpa ada yang menegurnya bahkan Ratu Media yang bertanggung jawab mengenai rumah tangga istanapun diam saja, karena tidak mungkin dia tidak mengetahuinya sama sekali. Itu karena Ratu membiarkannya begitu. Hingga waktu dimana Media memanggilku ke istananya.


"Aku dengar akhir-akhir ini kamu sibuk bermain di istana Pangeran Pertama. Jadi kamu sekarang yang mengelola anggaran istana Pangeran Pertama?" Media melontarkan pertanyaan yang terdengar seperti sindiran. Media saat ini mungkin sedang mencurigaiku tapi aku tidak boleh melakukan kesalahan untuk menjawabnya.


"Maaf Yang Mulia Ratu... Saya sudah melewati batas, tapi saya terpaksa melakukannya karena orang-orang itu tidak tahu batasan. Saya hanya khawatir jika rumor tentang istana Pangeran Pertama yang hampir hancur menyebar keluar akan merusak martabat Yang Mulia Ratu sebagai pengurus rumah tangga istana." Jawabku. Semoga alasan yang telah aku pikirkan beberapa hari ini akan bisa membuat Media percaya jika aku masih berada dipihaknya.


"Benar juga apa yang kamu katakan, Baron Borneo sudah melewati batas karena keserakahannya." Ujar Media.


Aha!! Sudah aku duga jika dugaanku tentang Baron Borneo adalah kaki tangan Media, bahkan tadi aku tidak menyebut nama Baron Borneo sama sekali tapi Media langsung tahu siapa yang aku maksud.


"Baiklah, mulai sekarang urusan istana Pangeran Pertama aku serahkan padamu." Ucapan Media barusan langsung membuatku lega.


"Terimakasih Yang Mulia Ratu..." Sahutku sambil menunduk hormat sambil tersenyum puas. Sampai akhirnya aku bisa menghirup udara segar lagi setelah keluar dari istana Ratu.

__ADS_1


"Leonard... Cepatlah kembali, aku ingin segera keluar dari istana yang membuat sesak hidupku tapi sebelum itu aku ingin melihat wajahmu untuk terakhir kali." Batinku dengan sedih.


Bersambung...


__ADS_2