Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 29 Si Tidak Peka Redian


__ADS_3

Pagi ini di istana Pangeran Pertama, Leonard saat ini sedang memeriksa beberapa dokumen penting dan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan di ruang kerjanya. Namun banyak pekerjaan yang berantakan karena dia kurang fokus mengerjakannya dan membuat Jullian selaku asisten pribadinya merasa khawatir akan keadaan Leonard. Saat ini di mata Jullian Sang Pangeran terlihat seperti telur yang tinggal cangkangnya saja, tubuhnya berada di tempat itu tapi jiwanya ada di tempat lain.


"Sepertinya suasana hati Pangeran semakin buruk setelah kembali dari istana Matahari." Batin Jullian.


Dugaan Jullian tidak sepenuhnya salah tapi tepatnya pikiran Leonard menjadi kacau setelah dirinya bertemu dengan Louisse sepulangnya dari istana Matahari. Bayangan dan kata-kata yang dilontarkan Louisse padanya tentang perceraian waktu itu masih menghantuinya hingga saat ini. Hingga tanpa sadar tinta di penanya keluar kemana-mana karena dirinya kebanyakan melamun.


"Haahh... Itu sudah dokumen yang kesepuluh yang rusak karena tinta." Batin Jullian yang lelah karena sudah berkali-kali menuliskan dokumen yang baru setiap Leonard merusaknya.


"Maaf Yang Mulia, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran anda?" Akhirnya Jullian memberanikan diri untuk bertanya karena sudah lelah melihat Leonard yang tidak fokus dengan pekerjaannya.


"Kamu mau dengar sebuah cerita Jullian? Tapi ini bukan ceritaku, ini cerita salah satu prajurit yang ikut berperang bersama kita." Ujar Leonard pada Jullian.


"Baik, saya dengarkan." Jawab Jullian.


"Setelah berperang selama empat tahun, ketika dia pulang tiba-tiba istrinya membahas soal perceraian. Sebenarnya apa alasan istrinya meminta hal itu?" Cerita Leonard dengan tatapan mata yang sedih.


"Aha! Ternyata ini cerita tentang dirinya sendiri." Batin Jullian yang langsung peka dengan ucapan Leonard.


"Rumor tentang perceraian Yang Mulia Pangeran Pertama dan Yang Mulia Putri Louisse memang sudah menjadi konsumsi publik. Dan lagi mengenai Yang Mulia Pangeran dan lady Zacard yang menerima undangan ke istana Matahari juga sedang hangat diperbincangkan dikalangan sosial. Tentu saja ini mengusik hati Pangeran." Ini yang ada di dalam pikiran Jullian.


"Yang Mulia, kalau menurut pendapat saya..."


"Itu kan sama saja dengan mengubur cincin di tanah." Tiba-tiba Redian memotong kalimat Jullian.


"Astaga Red!!" Teriak Jullian dalam hati. Dia lupa jika di ruangan tersebut tidak hanya ada dirinya dan Pangeran Leonard saja tapi juga ada Redian.


"Mengubur cincin di tanah?" Tanya Leonard yang kurang paham akan ucapan Redian.


"Itu hanyalah kata sandi yang kami gunakan di kalangan prajurit yang berarti kekasih yang berselingkuh di saat kami pergi berperang." Dengan gamblangnya Redian menjelaskan apa arti yang dimaksud dari kalimat tadi.


"Ah, waktu itu ada yang seperti itu di kompi prajurit, kalau tidak salah si Jacob. Dia tiba-tiba menerima surat yang berisikan pemberitahuan perceraian yang diajukan istrinya lalu dia menangis meraung-raung seperti orang gila. Itulah yang dimaksud mengubur cincin di tanah." Lanjut Redian dengan bodohnya tanpa melihat kondisi dan justru bercerita tentang pengalaman prajurit lain pada Leonard yang kini sedang menahan emosinya.


"Apa?!" Seru Leonard sambil meremas erat kertas dokumen yang harus ditandatanganinya hingga sobek.


"Astaga si bodoh ini!! Kenapa dia tidak peka jika ini kisah Yang Mulia sendiri?!" Rutuk Jullian dalam hati yang sudah mulai ketar-ketir jika amarah Leonard meledak.


"Ada yang mengatakan jika perasaan seseorang itu hanya sementara. Wanita mana yang tidak selingkuh jika ditinggal selama empat tahun?" Redian masih saja mengoceh padahal Jullian sudah memberikan isyarat untuk dirinya diam. Tapi si tidak peka ini tidak memperdulikannya dan terus mengoceh.


"Aku mohon hentikan jika kau masih ingin hidup!" Ujar Jullian sambil komat kamit memberi isyarat diam pada Redian.


"Tidak mungkin... Mereka masih saling berkomunikasi lewat surat dan saling bertukar hadiah." Kata Leonard sambil menekan emosinya lewat suaranya.

__ADS_1


"Kan bisa saja istrinya menyuruh orang lain melakukannya dan mungkin saja waktu itu istrinya sudah berselingkuh dengan lelaki lain." Jawab Redian yang semakin memancing emosi Leonard.


"Tapi tidak ada tanda yang menunjukkan jika istrinya menyukai lelaki la..." Leonard menghentikan kalimatnya setelah mengingat sesuatu di acara pesta kemenangan kala itu. Dia teringat ketika orang-orang membicarakan hubungan antara Louisse dan Oscar yang mereka anggap tidak wajar.


Leonard mengepalkan tangannya yang berada di atas meja dengan pikiran yang kalut.


"Tidak... Aku tidak boleh langsung curiga. Sejak kecil hubungan Louisse dan Oscar memang sudah baik, Louisse sudah menganggap Oscar seperti adiknya sendiri. Lagi pula aku yang meminta Oscar untuk menjaga Louisse selama aku tidak ada dan akulah yang paling tahu sebaik apa Oscar padaku." Batin Leonard mencoba untuk berpikir positif pada keduanya.


Namun tidak berhenti di sana, Redian masih saja terus memancing emosi Leonard dan ini makin parah.


"Mungkinkah... Yang Mulia membicarakan istri anda sendiri? Jika demikian, bukankah itu lebih bagus karena Yang Mulia Putri yang lebih dulu ingin bercerai? Semua orang mengatakan jika Yang Mulia Pangeran dan Tuan Putri Louisse bercerai itu akan mempermudah anda dalam suksesi." Ungkap Redian tanpa berpikir panjang jika Leonard akan sangat marah.


"Redian..." Suara Leonard yang memanggil nama Redian tersebut terdengar sangat menekan dan mengancam membuat aura di sekitar ruangan mencekam. Mungkin Jullian tidak akan bisa berbuat apa-apa jika Redian keluar dari ruangan ini hanya tinggal nama saja.


"Iya Yang Mulia?" Jawab Redian dengan ekspresi yang kaku.


"Keluar!" Ujar Leonard dengan nada perintah yang datar namun menekan.


"Maaf??" Tanya Redian dengan bodohnya.


"Aku bilang keluar sekarang!!" Bentak Leonard yang langsung membuat Redian bangkit dari tempat duduknya.


"Haahh..." Leonard menghela napas panjang sembari menyandarkan punggungnya di punggung kursi.


Sambil melihat ke arah Leonard yang terlihat frustasi Jullian berkata...


"Maaf Yang Mulia, apa boleh saya mengatakan sesuatu?" Tanya Jullian.


"Katakanlah..." Jawab leonard.


"Meskipun Yang Mulia selalu mengatakan jika Putri Louisse ada di pihak kita, namun saya masih belum sepenuhnya dapat mempercayainya." Ungkap Jullian.


"Akupun tahu itu." Sahut Leonard.


"Tapi ketika saya pertama kali bertemu langsung dengan Putri saat mengantar surat pada waktu itu, ada satu hal yang saya sadari... Beliau bukanlah orang yang memikirkan dirinya sendiri. Mungkin saja apa yang diucapkan Yang Mulia Putri bukanlah maksud beliau yang sebenarnya." Leonard langsung tercengang mendengar ucapan Jullian.


"Bagaimana jika anda menanyakan masalah ini secara langsung kepada Tuan Putri, mengapa beliau melakukan hal itu?" Lanjut Jullian.


"Benar. Setelah Louisse meminta untuk bercerai tiba-tiba aku tidak bisa berpikir apapun dan langsung pergi tanpa mengatakan apapun." Batin Leonard seakan tersadar akan kebodohannya.


"Yang Mulia... Saya berharap anda tidak melakukan suatu hal yang mungkin akan anda sesali di kemudian hari." Ucap Jullian mengingatkan.

__ADS_1


Nasehat dari Jullian barusan langsung menyadarkan pikiran Leonard yang sempat menggila. Ia pun langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Aku akan memeriksa sisa dokumennya nanti." Ujar Leonard sambil buru-buru keluar dari ruangannya.


"Baik Yang Mulia." Sahut Jullian sambil tersenyum melihat Leonard yang menghilang dari balik pintu.


.


.


Leonard berjalan terburu-buru melewati koridor istananya. Dia berpikir harus cepat-cepat bertemu Louisse dan meluruskan masalah diantara mereka. Namun disaat bersamaan dia mendengar suara menyapanya.


"Kamu ingin kemana berjalan terburu-buru seperti itu?" Leonard menghentikan langkahnya dan terkejut setelah berbalik dia menemukan Louisse di sana.


"Louisse?!" Serunya saat melihat orang yang akan ditemuinya justru lebih dulu datang kepadanya.


"Kenapa kamu ada di..."


"Aku bosan, jadi ke sini untuk main." Sahut Louisse sebelum Leonard menanyakannya.


"Main??" Tanya Leonard membeo.


"Iya, cuaca hari ini sangat cerah, cocok untuk jalan-jalan keluar. Memangnya kamu tidak bosan akhir pekan seperti ini hanya di dalam istana saja? Keluar yuk!!" Ajak Louisse dengan semangatnya seakan sudah melupakan pertengkaran diantara mereka.


"Memangnya mau kemana?" Tanya Leonard.


"Belum tahu, kita pikirkan saja nanti sambil jalan." Jawab Louisse sambil menggandeng lengan Leonard, mengajaknya untuk keluar istana bersamanya.


"Kamu mau kan?" Bujukknya sambil tersenyum cerah. Senyum yang bisa meluluhkan hati Leonard.


"Benar. Permintaannya untuk bercerai kemarin, bukanlah keinginan dia yang sesungguhnya." Dengan tersenyum memandang Louisse, di dalam hati dia meyakini hal itu.


"Baiklah... Ayo!"


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2