Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 9 Dag Dig Dug Serr...


__ADS_3

Sseettt!!


Sebuah anak panah meluncur dari busurku dan... Yeahh!! Tepat sasaran!


Aku sedang berlatih memanah untuk mengisi kekosingan waktuku. Orang-orang di istana mengira aku yang seorang wanita belajar memanah karena merasa bosan saja, tapi alasan yang sebenarnya ya untuk melibdungi diriku. Siapa tahu keahlian memanahku yang sekarang ini akan bermanfaat di masa yang akan datang. Tidak ada yang tahu kan kapan bahaya akan datang, terlebih di istana yang penuh dengan kebencian ini. Aku juga berlatih menunggang kuda, siapa tahu juga jika diperlukan aku bisa melarikan diri dengan menunggang kuda.Dan lima tahun terakhir ini keahlianku memanah dan berkuda aku rasa sudah cukup bagus. Ya, tanpa terasa aku sudah melewati hidupku di istana ini selama lima tahu.


Prok..prok..prokk...!


Terdengar suara tepuk tangan dari arah sampingku.


"Waahh... Semakin hari kak Isse semakin hebat saja." Ujar Oscar dengan pujian kagum padaku.


Aku berlatih memanah dengan Oscar hari ini dan yang bertepuk tangan tadi itu adalah dia. Selama lima tahun ini hubunganku dengan Oscar sangatlah baik. Dia yang beranjak dewasa masih saja mengikuti seperti dulu.


"Tentu saja... Aku bahkan sudah mengalahkanmu berkali-kali." Kataku dengan bangga pada diriku sendiri.


"Lain kali aku pasti akan mengalahkanmu kak." Ucap Oscar yang terdengar sangat yakin.


"Apa kau yakin? Kamu bahkan belum bisa mengalahkanku dalam pacuan kuda." Sahutku menyindirnya.


"Ahh... Baiklah, kakak memang tak terkalahkan. Aku memang tidak ada bakat sama sekali dalam hal-hal yang berhubungan dengan fisik." Ucapnya.


"Aku tahu kau lebih suka menggunakan otakmu daripada ototmu. Jadi aku sarankan kau harus mencari wanita yang kuat yang bisa melindungimu Oscar." Kataku sambil tersenyum smirk padanya. Dan Oscar tahu jika aku sedang meledeknya.


"Kakak...!!" Seru Oscar kesal dan akupun langsung tertawa keras.


"Berhentilah tertawa kak... Kenapa kakak suka sekali mengejekku?!" Ujarnya lagi dengan pipi yang menggembung lucu. Meskipun sudah lebih dewasa dari lima tahun yang lalu saat pertama kali kamu bertemu, Oscar masih saja seperti adik kecil yang terlihat imut.


"Pfftt... Karena kamu sangat imut jika sedang merajuk seperti ini." Ujarku sambil mencubit gemas pipinya.


"Auw! Kak Isse... Aku bukan anak kecil lagi tau...!" Serunya dengan wajah yang terlihat sebal karena aku selalu memperlakukannya seperti anak kecil.


"Tapi bagiku kau ini masih anak-anak Oscar..." Sahutku dengan bibir yang masih tersenyum lebar.


"Haaahh... Dasar kakak ini. Aku lelah, kita istirahat saja." Ujar Oscar yang sudah menyerah dengan kelakuanku. Dia itu adalah anak yang baik, meski aku suka menggodanya namun dia sama sekali tidak pernah marah. Hahh... Apa benar dia anak dari ibunya? Ratu Media sangat beruntung punya putra sebaik dia.


"Baiklah, kita istirahat sebentar." Sahutku. Dan kami berdua pun meletakkan busur panah kami, kemudian beristirahat di sebuah bangku yang ada di area panahan istana.


"Kak Isse..." Panggilnya.


"Hmm...?" Jawabku.


"Kakak pasti sudah mendengar jika wilayah Kekaisaran di daerah perbatasan bagian Utara sedang diserang oleh kaum Barbar dan akhirnya terjadi perang di sana." Ucapnya sambil memandang lurus ke depan.


"Tentu saja, semua orang kan membicarakan hal itu akhir-akhir ini." Jawabku.


"Tapi kak, apa kak Isse tahu jika kak Leon..."


"Akan dikirim ke sana untuk berperang." Sahutku yang langsung memotong ucapan Oscar.


"Ahh, aku sudah menduganya jika kak Isse sudah tahu." Ucap Oscar yang memerosotkan punggungnya seperti orang lemas.

__ADS_1


Tahun ini Leonard menginjak umur delapan belas tahun. Dan sesuai dengan isi cerita novel aslinya ini adalah waktu yang ditentukan oleh Ratu Media untuk mengirim Leonard ke medan perang.


"Kak Isse terlihat sangat tenang, apa kakak tidak khawatir dengan kak Leon?" Tanya Oscar yang begitu heran dengan sikapku.


"Itu karena Leonard akan kembali membawa kemenangan." Jawabku dengan mengumbar senyuman.


"Meski demikian tetap saja itu adalah medan perang." Ucap Oscar dengan mimik wajah yang sangat khawatir.


"Kita ini adalah keluarga Kekaisaran, meski bukan di medan perang tapi bahaya selalu menanti kita." Kataku agar Oscar tidak terlalu mengkhawatirkan kakaknya.


"Ya, aku tahu itu." Sahutnya.


"Jangan terlalu khawatir dan percayalah pada kakakmu, dia pasti kembali membawa kemenangan." Ucapku sambil menepuk-nepuk bahu Oscar.


"Ah... Seandainya aku bisa selalu optimis sepertimu kak." Ujar Oscar.


"Haha... Aku akan mengajarkanmu." Ujarku sambil tertawa.


"Ugh... Apa-apaan itu?" Sahut Oscar dengan menyipitkan matanya, dan aku masih saja tertawa.


Yahh... Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena menurut novel aslinya Leonard akan mengalhkan suku Barbar yang terkenal sangat kuat di medan perang. Lalu dia kembali membawa kemenangan dan menjadi pahlawan perang. Setelah itu Leonard berhasil dinobatkan menjadi Putra Mahkota.


Ahh... Seandainya aku bisa menceritakan semua hal itu. Tapi aku kan tidak bisa melakukannya. Lagian setelah itu aku akan bercerai dengan Leonard dan hidup damai di daerah kecil yang tenang.


...****************...


Malam harinya, seperti biasa aku dan Leonard akan tidur di kamar serta ranjang yang sama. Itu karena kami sudah dewasa dan tidak memerlukan kamar terpisah lagi. Lagi pula aku dan Leonard sekarang sudah menjadi dekat, itu terjadi setelah kami pergi ke luar istana berdua. Sejak itu Leonard sudah tidak menjaga jarak lagi denganku. Namun sebagai teman bukan sebagai suami istri, karena sampai sekarang Leonard belum pernah menyentuhku sama sekali. Dan itu yang aku harapkan, karena bagaimanapun kami akan segera bercerai, jadi cerita romantis antara kami itu tidak akan berlaku.


Saat ini Leonard sedang duduk di atas ranjang yang sama denganku. Seperti biasanya Leonard akan membaca buku dan berbincang-bincang denganku sebelum kami tidur. Tapi sampai sekarang dia tidak membahas soal dirinya yang akan berangkat berperang sama sekali dan itu sangat membuatku kesal. Aku berpikir aku dan dia sudah menjadi teman dekat, apa aku saja yang berpikiran seperti itu?


"Seharusnya aku yang mengatakan hal itu padamu Pangeran Pertama." Ujarku sedikit ketus.


"Pangeran Pertama?" Leonard membeo.


"Louisse, apakah kamu sedang marah padaku?" Tanyanya.


"Kau pikirkan saja sendiri!" Sahutku sambil memalingkan wajahku darinya.


"Apa aku melakukan kesalahan padamu? Kalau begitu aku minta maaf, tapi aku tidak tahu apa salahku." Ucapnya.


"Kenapa kau tudak mengatakan apapun padaku jika kau akan pergi berperang?!" Tanyaku dengam kesal.


Leonard seketika terdiam lalu menutup buku yang ia baca.


"Sejak kapan kau..."


"Aku mengetahuinya tadi pagi, walau kita berhubungan layaknya seorang teman tapi bagaimanapun juga aku ini istrimu Leonard... Seharusnya aku mengetahui ini langsung darimu bukan dari orang lain." Ucapku dengan sangat kesal.


"Maaf, aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu karena kau akan tahu juga karena bagaimanapun aku akan tetap pergi dan kamu tidak perlu khawatir soal itu." Leonard berucap dengan tenang, tapi tetap saja dia hanya remaja delapan belas tahun, mana mungkin tidak ada kekhawatiran di hatinya.


"Jangan salah paham! Siapa yang khawatir padamu? Karana bagaimanapun kamu akan tetap kembali dengan membawa kemenangan." Ucapanku barusan sedikit membuatnya terkejut, mungkin dua tidak menyangkan jika aku akan mengatakan hal seperti itu.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus mempersiapkan jubah kemenangan yang aku sulam sendiri selama aku menunggumu kembali. Karena kamu memerlukannya untuk acara parade penyambutan." Ujarku sambil memikirkan jika aku harus berlatih menyulam lebih keras lagi. Itu karena aku sangat lemah dalam menyulam, tapi demi Leonard aku akan berusaha lebih keras melakukannya.


"Pfftt... Terimakasih karena kamu memikirkan hal itu meski aku tidak yakin bagaimana dengan hasilnya." Ujar Leonard dengan tawa yang mengejek. Aku sedikit kesal sih... Tapi melihatnya tertawa begitu justru membuatku sedih. Dia begitu untuk menutupi kegelisahannya. Bagaimanapun dia kan masih seorang remaja.


"Kau tidak perlu khawatir, karena kakak ini akan selalu mendo'akanmu baik-baik saja di sana." Ucapku sambil memeluk tubuhnya yang tiba-tiba menegang.


"Ahh, ternyata dia segugup ini sampai seluruh tubuhnya menegang." Pikirku dalam hati.


"Leonard... Apa aku perlu memijat tubuhmu sebentar agar lebih rileks karena sepertinya ototmu sedikit tegang."


Aku menawarkannya pada Leonard dan akan mulai memijatnya, namun tiba-tiba dia berdiri dan membuatku terkejut.


"Louisse, aku akan keluar sebentar, ada yang aku lupakan di ruang kerjaku, jadi kau tidurlah duluan." Ucapnya tiba-tiba tanpa melihat ke arahku tapi aku dapat melihat wajahnya yang memerah dari samping.


"Ya ampun... Apakah dia terharu dengan ucapanku dan ingin menangis di tempat lain sendirian saja?" Gumamku dalam hati yang merasa iba dengannya.


"Tapi Leonard, kau bisa menggunakan bahuku untuk bersandar jika kau merasa sedih." Tawarku padanya.


"A aku ti tidak apa-apa, kau tidurlah duluan tidak usah menungguku." Sahut Leonard sambil berjalan ke arah pintu kamar, namun belum sempat aku mengatakan sesuatu lagi dia sudah keluar dan menutup pintunya dengan cepat.


"Tapi Leon..."


"Hufft... Mungkin dia memang ingin sendirian saat ini." Gumamku.


...****************...


Di balik pintu Leonard berdiri mematung sambil memegang dadanya yang berdegub kencang.


"Louisse... Apa kau ingin bermain-main denganku?" Gumam Leonard lirih.


Bersambung....


...****************...


NB: Obrolan Author dan Oscar


Author: "Apa Louisse itu bodoh? Atau memang tidak peka?"


Oscar: "Dia selalu memanggilku anak kecil, sekarang siapa yang pantas menjadi anak kecil?"


Author: "Hmm.. Aku setuju."


Oscar: "Bukankah dia yang membuat kak Isse seperti itu? Dasar Author sama tidak pekanya." Gumam Oscar lirih sambil melirik ke Author.


...****************...


**Hai hai hai.... Salam kenal dariku Shirius Sirus bagi kalian yang masih pertama memabaca karyaku. Bagi yang sudah kenal denganku terimakasih karena masih setia membaca dan mengikuti karya-karyaku. Dan tak lupa terimakasih untuk para readers yang sudah mengikuti cerita ini. Jangan lupa like, komen dan klik tombol favorit ya... Terimakasih dukungannya dan baca karya Shira Sirius lainnya....



****

__ADS_1



**


__ADS_2