Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 60 Sidang Dewan Legislatif


__ADS_3

"Louisse...!!" Seru Leonard memanggil nama istrinya. Belum sempat Louisse berbalik ke belakang, Leonard sudah berlari ke arahnya dan memeluknya dari belakang sehingga membuat Louisse setengah terkejut.


"Leonard..?!" Seru Louisse setelah tahu siapa pelaku yang memeluk tubuhnya begitu saja.


"Kamu, kenapa tiba-tiba... Semakin hari kamu semakin berani saja ya..." Sindir Louisse pada Leonard yang semakin barani melakukan skinship di tempat terbuka.


"Itu karena kamu juga melakukan hal yang sama, jadi tolong diamlah selama sepuluh detik saja." Ucap Leonard yang masih memeluk Louisse, bahkan kini semakin erat. Dia sungguh merindukan istrinya saat ini. Louisse pun hanya bisa pasrah, terus terang diapun juga merindukan Leonard. Meski hanya sebentar, paling tidak pelukan itu bisa meredakan rasa rindu disela kesibukan mereka berdua.


Setelah sepuluh detik, Leonard benar-benar melepaskan pelukannya.


"Nah sudah, kamu juga yang semangat ya.. Sekarang aku sibuk sekali, jadi sampai jumpa lagi...!" Ujar Leonard sambil berlalu pergi dengan buru-buru.


"Astaga... Sepertinya dia benar-benar sangat sibuk. Akupun juga harus semangat!" Gumam Louisse sambil melihat punggung Leonard yang berlalu pergi.


...****************...


Waktupun berlalu begitu cepat dan hari dimana sidang Dewan Legislatif dilaksanakan pun tiba. Dan saat ini Julian dan kakaknya, Zack De Aswan dipanggil oleh Louisse di istananya. Mereka saat ini sedang menunggu Louisse di ruang tunggu istana putri.


Di ruangan tersebut baik Julian maupun Zack tidak ada yang membuka mulut. Mereka berdua sama-sama diam tanpa bertegur sapa membuat suasan yang hanya ada mereka berdua saja menjadi amat sangat canggung.


"Aku tidak menyangka akan dipanggil bersama kakak seperti ini..." Gerutu Julian dalam hatinya. Dia amat tidak nyaman harus berada di satu ruangan yang sama dengan Zack.

__ADS_1


"Kenapa Tuan Putri memanggil di waktu yang tidak tepat? Padahal sebentar lagi waktunya sidang Dewan Legislatif dimulai." Zack pun menggerutu dalam hatinya.


Dan akhirnya Louisse datang menemui mereka dengan wajah seriusnya.


"Kalian sudah menunggu lama?" Sapa Louisse pada mereka berdua.


"Salam kepada Yang Mulia Putri." Sapa Zack sambil menundukkan kepalanya yang diikuti oleh Julian dengan melakukan hal yang sama.


"Terimakasih kalian berdua sudah datang." Balas Louisse.


"Langsung ke intinya saja karena waktu kita tidak banyak. Sir Julian, tolong anda baca surat ini..!!" Perintah Louisse sambil menyodorkan sebuah kertas surat yang dia bawa kepada Julian.


...****************...


"Apakah Yang Mulia Putri belum selesai? Sesuai yang direncanakan, perwakilan rakyat yang terpilih adalah orang-orang yang ada di pihak kami. Sehingga jelas kami mendapatkan mayoritas surat suara dari wakil rakyat. Yang Mulia Leonard juga telah berhasil mendapatkan dukungan surat suara dari para bangsawan yang tidak mendukung keluarga Willhem. Kini tergantung Count Aswan yang memiliki lima surat suara sebagai penentunya. Namun sampai sekarang Count Aswan belum juga datang. Jika beliau tidak mau membantu kami, maka Rancangan Undang-Undangnya pasti akan ditolak." Dalam hatinya Vianty terus bertanya-tanya dan menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada Count Aswan dan Louisse. Itu membuat hati dan pikiran Vianty resah dan juga cemas.


Dan Vianty semakin cemas ketika moderator sidang membacakan acara selanjutnya...


"Berikutnya kita akan melakukan pemungutan suara untuk Rancangan Undang-Undang tentang pewarisan gelar bangsawan untuk wanita yang diajukan oleh Yang Mulia Pangeran Pertama." Ucap moderator sidang.


"Apa kami sudah gagal??" Batin Vianty dengan raut wajah sedih. Namun dia sedikit terkejut ketika Leonard tiba-tiba bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Saya memohon kepada Baginda Kaisar untuk mengundur pemungutan suara untuk Rancangan Undang-Undang ini ke urutan yang terakhir." Pinta Leonard pada Kaisar.


"Yang Mulia Pangeran... Urutan rapat sudah ditentukan dari awal jadi..." Ucapan moderator yang merasa keberatan dengan permintaan Leonard langsung dipotong oleh Kaisar.


"Baik, mari kita undur!" Sahut Kaisar menyetujui permintaan Leonard dan hal itu membuat Vianty sedikit lebih lega.


"Terimakasih Baginda..." Balas Leonard.


"Biar kubantu kali ini saja, karena ada yang aku harapkan juga darimu..." Gumam Kaisar dalam hatinya.


"Dengan ini kami bisa mengulur waktu... Jika itu Louisse, aku yakin dia pasti bisa mengatasinya." Leonard meyakini itu dalam hatinya.


Sementara itu di lain tempat, Redian dan Edmund sudah tidak bisa menahan lagi tubuhnya yang lelah dan merekapun akhirnya tumbang di dalam gudang penyimpanan dokumen.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2