
POV Louisse...
Di pagi hari di kamarku...
Ughh... Kurasa aku sudah minum terlalu banyak tadi malam. Kepalaku pusing dan aku tidak ingat apa-apa setelah pulang dari kediaman Zacard. Aku harap aku tidak melakukan kesalahan.
Rumor tentang aku dan Oscar tidak mungkin tidak didengar oleh Leonard karena itu sudah menyebar di pergaulan kelas atas. Mereka saja terang-terangan membicaraknnya di depanku tanpa sungkan. Walau begitu Leonard tetap bilang kalau dia percaya padaku.
Dari dulu Leonard selalu seperti itu. Ketika kami kecil dulu dia hanya diam berada di sisiku tanpa bertanya apapun ketika aku merasa istana ini sesak dan berat untukku untuk bertahan hidup. Sebenarnya dialah sumber kekuatanku di sini. Olah karena itu aku akan membantu Leonard sampai akhir selama aku masih di istana ini.
Aku harus menulis pesan lewat surat untuk Oscar.
'Untuk Oscar...
Karena alasan tertentu, akan lebih baik jika kita tidak bertemu untuk sementara waktu dan sementara jangan berkunjung ke istanaku. Aku minta maaf untuk hal ini, lain waktu akan ku jelaskan. (Louisse)'
Mungkin aku merasa bersalah pada Oscar untuk sekarang ini, tapi aku yakin dia pasti mengerti. Aku akan menjelaskan nanti pada Oscar jika hak waris tahta sudah jatuh ke tangan Leonard.
Aku akan menyuruh pelayan di luar kamar untuk mengirimkannya.
"Halo... Siapapun, tolong kirimkan surat ini pada Pangeran Kedua." Seruku sambil melihat ke luar kamarku. Tapi ternyata tidak ada siapapun di sana. Mungkin mereka pergi bekerja karena mengira aku masih tidur.
Aku akan berjalan ke depan saja untuk mencari mereka. Tapi kepalaku masih terasa keliyengan saat berjalan. Ughh... Mataku berputar-putar, aku rasa aku maaih mabuk, aku akan jatuh...
"Maaf Yang Mulia, apa anda tidak apa-apa?"
Itu suara orang yang menangkapku. Aku bersyukur aku tidak jadi jatuh. Tapi siapa yang menopang tubuhku agar tidak jatuh? Dan saat aku melihatnya itu ternyata... Orang yang kulihat selalu di sisi Ratu. Doha.
"Kau? Kenapa kau bisa ada di sini?" Tanyaku padanya. Apa Media yang mengirimnya ke sini?
"Saya datang untuk mengembalikan layang-layang yang dipinjam Yang Mulia Pangeran Kedua." Jawabnya sambil tersenyum. Dan aku baru sadar dia mirip dengan seseorang jika melihatnya sedekat ini. Tapi siapa? Lalu tanpa sadar aku sudah menatapnya dari tadi tanpa berkedip sekalipun.
"Ma, maaf Yang Mulia... Bisakah anda tidak menatap saya seperti itu. Saya malu, meskipun saya sadar saya memang tampan jika dilihat baik-baik." Ucapnya yang percaya diri atau mungkin tidak tahu diri.
"Oh, maaf. Mungkin ini karena aku belum sadar betul karena bangun tidur." Jawabku asal.
Ah, aku baru ingat! Sekarang ini kan Doha diperintahkan untuk menjadi pelayan pribadi Oscar. Kenapa aku tidak memintanya untuk menyampaikan surat ini pada Oscar.
"Bisakah kamu sampaikan surat ini pada Pangeran Kedua?" Pintaku padanya.
"Tentu saja Yang Mulia."
Setelah itu dia kembali ke istana Oscar dan suratku sudah aku kirim. Sekarang aku harus menyelesaikan masalah rumor yang beredar di pergaulan kelas atas. Aku cukup menutupinya dengan rumor baru yang bisa memuaskan telinga mereka.
Brak!!
Tiba-tiba Anne datang terburu-buru sambil berseru mengatakan sesuatu untukku.
"Yang Mulia!! Syukurlah anda sudah bangun! Tidak ada waktu lagi, anda harus bersiap-siap sekarang juga!" Seru Anne sambil terengah-engah. Sepertinya dia datang dengan berlari.
"Tenanglah Anne, katakan yang jelas ada apa ini?" Tanyaku.
__ADS_1
"Hosh..hosh... Itu, Yang... Yang Mulia Kaisar memerintahkan anda untuk datang ke Istana Matahari!!" Jawaban Anne tersebut seketika membuatku terkejut setengah mati.
.
.
Dan seperti yang diperintahkan, saat ini aku sudah berada di Istana Matahari kediaman Kaisar, penguasa Eliador yang bisa melahapku kapanpun dia mau.
"Saya datang menghadap Sang Matahari Kekaisaran." Salamku untuk Kaisar yang kini duduk angkuh di singgasananya tepat di hadapanku.
"Sampai saat ini aku tidak mengerti, dia sudah mengatakan tiga kali penolakan." Tiba-tiba Kaisar mengatakan hal yang ambigu di awal percakapan kami. Dan aku tidak tahu apa maksudnya?
"Yang pertama dia bilang jika ini bukan waktu yang tepat. Yang kedua dia menolak untuk menikahi Vianty De Zacard. Dan yang ketiga dia tidak ingin bercerai."
Aha! Jadi itu maksud Kaisar.
"Jadi menurutmu... Apa alasan Pangeran Leonard tidak ingin bercerai?" Tanyanya dengan nada datar namun tersirat akan penekanan.
"Sa, saya..."
Leonard tidak ingin bercerai pasti memikirkan aku, dia tidak ingin aku terlihat menyedihkan setelah perceraian kami. Tapi mana mungkin aku bisa mengatakan halnitu pada Kaisar?
"Awalnya aku tidak berpikir untuk mewariskan tahtaku pada Pangeran Leonard. Tapi setelah melihat prestasinya aku jadi yakin jika dia mampu membawa negara ini menjadi lebih stabil. Tapi untuk menjadikannya sebagai pewaris tahta, dia perlu dukungan lebih besar lagi dari para bangsawan. Dan aku berharap salah satu dukungan terbesarnya berasal dari Duke Zacard. Meski terlihat bodoh, kata Ratu kau adalah anak yang cepat tanggap. Maka setelah apa yang aku bicarakan tadi, aku percaya jika kamu tahu apa maksudku." Kata Kaisar dengan nada dingin dan tatapan sinisnya padaku.
"Tentu saja Yang Mulia... Saya akan lebih hati-hati dalam bertindak agar hal yang anda cemaskan tidak akan terjadi."
Dan dia baru tersenyum setelah aku menjawabnya seperti itu.
Jika disimpulkan\= Segeralah bercerai dengan anakku. Meskipun tidak ada air yang disiram ke atas kepalaku atau lemparan uang yang banyak seperti adegan drama yang sering aku lihat di tv dulu. Ucapan sarkas Kaisar lebih mengerikan dari itu. Jika aku gegabah bertindak dan Kaisar tidak suka maka dia pasti akan segera melengserkanku dengan tuduhan kejahatan atau mungkin diam-diam membunuhku. Padahal aku sudah sejauh ini berjuang agar bisa bercerai secara baik-baik dan keluar dari istana ini dengan selamat.
"Yang Mulia Putri, wajah anda terlihat pucat, apa anda baik-baik saja?" Tanya Anne dengan wajah khawatir. Aku melamun sampai tidak sadar jika aku sudah keluar dari kandang singa Sang Kaisar dan memikirkan hal yang tidak-tidak karena perkataannya tadi.
"Aku tidak apa-apa, nanti saja aku jelaskan. Yang penting saat ini kita harus ke istana Leonard sekarang juga, ada sesuatu yang harus aku katakan padanya." Ucapku memberi perintah.
"Saya rasa itu tidak perlu Yang Mulia..." Kata Anne.
"Ha?? Kenapa?" Tanyaku tak mengerti kenapa Anne melarangku.
"Apa mungkin Yang Mulia Putri lupa hari apa sekarang ini?" Tanya Anne semakin membuatku bingung.
"Hari ini adalah 'Kencan Malam' anda dengan Yang Mulia Pangeran Pertama setelah beliau kembali dari peperangan." Jawan Anne.
"Ya ampun... Haha... Iya ya, aku lupa."
Astaga... Aku tidak percaya kami harus melakukan 'Kencan Malam' disaat genting seperti ini.
POV Louisse Off...
.
.
__ADS_1
.
Bonus!!
Malam dimana Louisse mabuk berat dan tidak ingat apapun setelah pulang dari pesta....
"Heyy... Jika ada yang membuatmu sedih bicaralah pada istrimu ini, aku akan mendengarkannya." Louisse mulai bicara ngelantur.
"Cepat sana masuk kamar! Kamu ini mabuk." Ujar Leonard sambil memapah istrinya menuju kamar.
"Siapa bilang aku mabuk?! Aku tidak mabuk!" Teriak Louisse setengah sadar.
"Dia sudah mulai melantur" Batin Leonard.
"Yang Mulia, biar saja yang memapah Tuan Putri." Kata Julian menawarkan diri untuk membantu.
"Tidak apa-apa." Sahut Leonard.
"Leonard... Jangan jahat dengan pengawalku!!"
Tiba-tiba Louisse tidak terima dan memukuli lengan Leonard.
"Aduh! Hentikan, ini sakit tahu..." Keluh Lenard yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghadapi Louisse yang sedang mabuk. Lalu tanpa pikir panjang Leonard langsung mengangkat tubuh Louisse dan menggendongnya ala bridesmaid. Ternyata cara itu ampuh membuat Louisse jadi diam dengan wajah memerah antara merona dan mabuk. Kemudian Leonard langsung membawanya ke kamar.
"Astaga Yang Mulia!" Anne langsung teriak karena terkejut melihat Tuan Putrinya kembali dengan keadaan seperti itu.
"Dia terlalu banyak minum tadi, jadi tolong urus dia dengan baik." Pinta Leonard pada Anne sambil meletakkannya di atas ranjang.
"Baik, Yang Mulia..." Jawab Anne.
"Hei Leonard, aku benar-banar ada dipihakmu maka dari itu kamu harus berhasil." Louisse kembali melantur di atas tempat tidurnya.
"Aku tahu." Sahut Leonard dengan tatapan sendunya pada Louisse.
"Kembangkanlah kekuatanmu lebih besar lagi karena kamu akan jadi Kaisar." Ucap Louisse lagi dengan mata tertutup.
"Akan aku lakukan." Jawab Leonard.
Tiba-tiba Louisse membuka matanya lagi dan melambaikan tangannya untuk menyuruh Leonard mendekat ke arahnya. Seperti yang diinginkan, Leonard pun mendekat. Namun tanpa aba-aba Louisse langsung memeluk Leonard begitu saja saat suaminya itu mendekat. Leonard pun jadi membeku.
"Anak pintar..." Kata-kata itu seketika membuat Leonard merona dalam pelukan Louisse.
Itulah sejarah gelap Louisse saat itu yang hanya diketahui oleh Leonard. Ah... Mungkin Anne juga tahu akan hal itu, tapi untungnya Anne bukan pelayan yang ember. Dan sebenarnya ada satu hal lagi yang merupakan sejarah gelap Louisse malam itu... Mungkin kalian bisa menebaknya?
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1