Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 18 Aku dan Vianty #2


__ADS_3

Jika lomba perburuan sudah dimulai maka yang dilakukan orang-orang yang tidak mengikuti perlombaan khususnya para lady adalah berbincang sambil bergosib atau sedang mengisi waktu menunggu agar tidak bosan dengan melakukan permainan. Dan aku lebih memilih melakukan permainan daripada bergosib tidak jelas sampai mulut berbusa. Sekarang ini aku tengah bermain Jenga dengan tiga orang lady.


"Sungguh ini mengasyikkan! Tak kusangka aku berbakat dalam permainan Jenga." Setidaknya itu yang aku pikirkan sebelum balok-balok kecil ini rubuh disaat salah satu baloknya aku tarik.


"Ya ampun! Bagaimana ini?!" Jenny langsung terkejut ketika aku merobohkan balok-balok itu.


"Maaf Yang Mulia saya tidak mengira jika Yang Mulia Putri yang pertama kali merobohkan baloknya." Ujar Chessy merasa tidak enak karena dia yang mengusulkan untuk bermain Jenga.


"Saya juga tadinya berfikir jika Tuan Putri tidak akan mudah dikalahkan, saya merasa tidak enak." Sementara Enselda merasa tidak enak karena dia yang mengusulkan untuk adanya hukuman bagi yang kalah.


"Tidak apa-apa, dari awal sudah diputuskan jika yang kalah harus mendapat hukuman. Jadi hukuman apa yang tadi anda usulkan Lady Enselda?" Aku mengatakannya sambil tersenyum tapi sebenarnya aku kesal juga karena mudah dikalahkan seperti ini.


"Yang kalah harus mengambil setangkai bunga atau buah liar di area berburu." Jawan Enselda.


Setelah itu aku bermaksud untuk segera menuju area berburu untuk memetik bunga atau buah liar di sana tapi Anne yang khawatir terus saja menghalangiku.


"Yang Mulia, apakah anda benar-benar ingin melakukannya sendiri?" Tanya Anne untuk kesekian kali.


"Tentu saja, ini kan hukuman yang harus aku terima." Jawabku.


"Bagaimana jika saya juga ikut bersama anda?" Anne yang khawatir sampai menawarkan dirinya untuk ikut bersamaka.


"Itu tidak perlu Anne, jangan terlalu khawatir... Tidak akan terjadi apa-apa, di sana akan aman karena ini daerah berburu Kekaisaran." Tolakku.


"Tapi Yang Mulia, tetap saja saya khawatir, bagaimanapun kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti di sana. Bagaimana jika anda membawa pengawal saja?" Anne masih saja berusaha membujukku untuk tidak pergi sendiri.


"Anne... Memangnya akan ada orang yang berani menyewa pembunuh bayaran hanya untuk membunuhku? Apa untungnya bagi mereka?" Ujarku pada Anne.


"Yang Mulia terlalu merendahkan diri, saya justru..."


"Sudahlah kamu tak perlu khawatir, jika terjadi apa-apa padaku aku akan berteriak sekeras mungkin dan orang-orang yang sedang berburu di sana pasti langsung mendengarnya dan menolongku."


"Tapi Yang Mulia..."


"Aku pergi dulu ya Anne..." Aku langsung pergi meninggalkan Anne dengan wajah khawatirnya sebelum dia benar-benar menahanku untuk tidak pergi sendiri.


Aku berjalan cepat menuju dekat area perburuan hingga akhirnya aku sampai di sini. Di padang hijau dekat hutan area perburuan.


Ahh... Akhirnya aku merasakan udara segar yang sebelumnya terasa menyesakkan. Sudah lama aku tidak merasakan kebebasan seperti ini.

__ADS_1


Syala la la la... Senangnya jalan-jalan sendiri tanpa diawasi...🎶


Srek... kresek.. sek sek..


Su, suara ap apa itu? Suaranya dari balik semak-semak yang bergoyang itu... Jangan-jangan itu binatang buas! Sebaiknya aku lari...!


Kyyaaaa....


Gedebugh!!


Sial!! Belum apa-apa aku sudah jatuh. Bagaimana jika binatang itu menangkapku? Tapi begitu aku menengok ke belakang itu hanyalah seekor kelinci putih yang lucu.


Huufff.... Aku selamat. Sebaiknya aku berdiri lagi dan segera mencari bunga liar.


Arghh!!


Kakiku sakit... Ya ampun!! Ternyata kakiku terkilir gara-gara jatuh tadi. Aku harus bagaimana? Tidak ada seorangpun yang lewat di sekitar sini. Seandainya ada Leonard, dia akan segera menemukanku jika aku diam menunggunya di sini. Seperti waktu dulu.


"Yang Mulia Putri? Apa yang sedang anda lakukan di sini?"


Tidak pernah aku duga ternyata yang menemukanku lebih dulu adalah Vianty. Dia datang dengan kuda putih miliknya yang masih ia tunggangi. Bukan Pangeran berkuda putih melainkan Putri berkuda putih. Haahh... Paling tidak ada seorang yang menemukanku.


"Saya terkena musibah ketika sedang mencari bunga liar dan...terjatuh." Jawabku sedikit malu karena terjatuh karena kecerobohanku sendiri.


Hahh... Sudah aku duga dia akan lebih cerewet dari Anne.


"Itu... Saya menyuruh mereka untuk tidak mengikuti saya karena saya ingin menikmati waktu saya sendiri. Tapi saya malah jatuh karena tersandung tanaman yang merambat." Jawabku menjelaskan semuanya.


"Ya ampun... Kaki anda bengkak, apakah anda bisa berjalan dengan keadaan yang seperti itu Yang Mulia?" Vianty terkejut karena kakiku sudah terlihat merah dan bengkak. Dia juga terlihat begitu khawatir.


"Hiks... Tidak, ini sangat sakit sekali." Aku menjawab sambil menahan rasa nyeri yang parah di kakiku.


"Huuhh ya ampun..."


"Anda jangan mengomeli saya...hiks.."


"Saya tidak mengomeli anda Yang Mulia..."


"Tapi saya merasa seperti diomeli."

__ADS_1


"Yahh... Baiklah, tahan sebentar saja Yang Mulia."


Tiba-tiba Vianty yang tadinya jongkok melihat lukaku langsung berdiri dan mendekatkan tangannya seakan ingin menlakukan sesuatu padaku.


"Ap, apa yang...yang ingin anda lakukan pada saya lady?!" Seruku yang tiba-tiba merasa terancam, namun yang terjadi malah...


Huupp!!


"Kyaaa..!!"


"Saya akan menaikkan anda ke atas kuda saya Yang Mulia."


Ternyata Vianty mengangkatku dan menaruhku di atas kudanya. Lalu dia menuntun kudanya dengan aku yang berada di atas kuda. Waahh... Bagaimana seorang wanita bisa sekuat ini? Bahkan dia tetap terlihat cantik dan anggun. Aku hampir saja terpesona padanya.


"Lady Zacard... Saya sangat bersyukur karena anda sudah menemukan saya dengan tidak sengaja. Terimakasih." Ucapku dengan tulus karena aku tahu meski dia suka berbicara pedas dan menusuk tapi dia benar-benar menolingku dengan tulus.


"Bukannya tanpa sengaja, itu karena saya tadi mendengar teriakan seseorang. Awalnya saya berpikir itu adalah suara babi hutan yang bisa saya tangkap tapi tidak mungkin kan babi hutan bisa menjerit seperti manusia? Lalu saya berpikir mungkin ada orang sembrono yang sedang sial, jadi saya datang untuk melihatnya." Sahutnya dengan cara bicara yang tetap saja sarkas seperti biasanya. Lagian mana mungkin ada orang yang senang jika waktunya yang berharga terbuang sia-sia hanya untuk menolong orang yang ceroboh sepertiku.


"Maaf, padahal lady sedang mengikuti lomba berburu tapi gara-gara menolong saya waktu anda jadi terbuang sia-sia." Ucapku merasa tidak enak dengannya.


"Tidak apa-apa, anda tidak perlu mengkhawatirkan masalah ini." Sahutnya.


Ahh... Aku jadi semakin tidak enak jika dia berkata seperti itu.


"Ngomong-ngomong... Saya sering mendengar jika lady Zacard selalu mengikuti lomba berburu setiap tahunnya dan hasilnya juga sangat bagus." Ucapku untuk mencairkan suasana.


"Saya hanya iseng saja karena bosan." Sahutnya.


"Meski begitu itu sangatlah keren. Banyak orang yang berkata andai saja anda seorang laki-laki dengan kecerdasan dan kecakapan seperti itu anda pasti sudah mendapatkan gelar bangsawan." Kataku lagi.


Tapi... Kenapa tiba-tiba dia berhenti? Apa ada yang salah dengan ucapanku?


"Itu kan seandainya saya laki-laki tapi nyatanya saya terlahir sebagai seorang perempuan yang tidak memiliki apapun." Ujarnya dengan nada yang dingin, membuatku merinding saja. Tapi kenapa dia berkata seperti itu? Di dalam novel dia terlahir sebagai protagonis yang cantik dari anak seorang Duke yang kaya raya, bahkan di dunia ini banyak wanita yang iri terhadapnya. Apa-apaan dengan ucapannya itu?


"Tanpa sebuah gelarpun, lady Zacard selalu unggul dalam segala bidang." Sahutku dengan sedikit senyum yang kupaksakan.


"Memang... Tapi apa gunanya semua itu?!"


Tiba-tiba Vianty menatapku dengan wajah yang terlihat marah. Apa yang salah? Apa aku sudah membangunkan Singa Betina yang sedang tidur?

__ADS_1


Gawat!!


Bersambung...


__ADS_2