Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 76 Lawanmu Itu Adalah Aku!


__ADS_3

"Seumur hidup baru kali ini aku bisa memukan wanita yang sesuai idamanku, tapi ternyata dia sudah punya suami... Tapi bukankah dia sangat keterlaluan menahan orang yang baru saja patah hati karena ada yang ingin dia tanyakan?" Sindir Asrahan dengan nada lesu di hadapan Louisse dan Leonard. Dia meletakkan kepalanya di atas meja bar seakan tidak punya tenaga karena hatinya yang telah dipatahkan oleh Louisse.


"Ha.ha.ha...Saya jadi merasa bersalah." Ucap Louisse dengan tawanya yang terdengar canggung.


"Ah, ini sanhat tidak nyaman!" Gerutu Leonard dalam hati.


"Kelihatannya kita sebaya? Lebih baik kita bicara dengan santai agar tidak terasa canggung. Atau jangan-jangan kamu menolakku menjadi temanmu?" Ucap Asrahan lagi dengan nada yang membuat orang lain yang mendengarnya jadi tidak enak hati.


"Bu, bukan begitu! Ba, baiklah... Ayo kita berteman." Kata Louisse dengan cepat, jangan sampai Asrahan berubah pikiran. Nanti dia yang akan rugi karena tidak mendapatkan informasi apapun.


"Ini pertama kalinya aku bertemu orang seperti ini setelah masuk ke dunia novel ini. Bikin orang bingung saja!" Gerutu Louisse dalam hati. Meski kesal, tapi dia menahannya dengan tetap tersenyum.


"Sebelumnya kami akan memperkenalkan diri... Namaku Isse dan dia Mark." Ucap Louisse memperkenalkan dirinya dan Leonard dengan nama samaran.


"Kami datang kemari untuk mencari seseorang. Kata orang di desa ini, kamu adalah satu-satunya orang yang memiliki banyak kenalan di desa Bonex ini." Lanjut Louisse mengutarakan maksud kedatangannya bersama Leonard kepada Asrahan.


"Ya... Memang benar sih, di desa ini hanya aku yang paling tahu tentang orang-orang di desa ini. Jadi, siapa yang kalian cari?" Tanya Asrahan dengan sikap santainya.


"Apakah kamu mengenal orang yang bernama Doha Hyperion di desa ini?" Tanya Leonard tanpa berbasa-basi lagi. Dan mata Asrahan seketika terbelalak mendengar nama Doha Hyperion dari mulut Leonard.


"Tentu saja, aku sangat tahu tentang orang itu." Jawab Asrahan yang membuat Louisse dan Leonard seakan mendapat angin segar setelah beberapa waktu yang lalu mereka hampir saja putus asa.


"Kalau begitu... Apakah kamu bisa memberikan informasi tentang orang itu pada kami? Apa saja boleh." Pinta Louisse pada Asrahan.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengatakannya tapi sebelumnya kalian harus membantuku terlebih dahulu... Di dunia ini kan tidak ada yang gratis, hehe..." Jawab Asrahan sambil tertawa tengil.


Asrahan pun menceritakan sebuah cerita tentang salah seorang temannya yang bernama Marcus. Marcus yang merupakan rakyat biasa mencintai seorang wanita bernama Zenit yang merupakan putri dari seorang Count, namun cinta mereka tidak direstui karena perbedaa status. Lalu beberapa hari lagi Zenit akan dinikahkan oleh orang tuanya dengan putra dari seorang Marquess. Dan rencananya Asrahan ingin mempertemukan keduanya untuk terakhir kalinya sebelum acara pernikahan.


"Biarpun hanya sekali, Marcus ingin menemui Zenit untuk terakhir kalinya. Tapi saat ini kediaman keluarga Count tengah dijaga ketat, semua orang yang keluar masuk ke sana harus diperiksa terlebih dahulu. Aku mempunyai ide bagus untuk mempertemukan mereka, oleh karena itu... Apakah kalian bisa membantuku?" Pinta Asrahan setelah menceritakan seluk beluk permasalahan sebelumnya.


"Kalau hanya itu tentu saja kami bisa bantu. Lalu, apa yang harus kami lakukan?" Jawab Louisse seraya bertanya langkah selanjutnya.


"Oh ya, namamu Mark kan? Cara bicaramu sangat mirip dengan bangsawan." Ujar Asrahan yang membuat Leonard sedikit terkejut dan hampir saja tidak bisa menguasai ekspresi wajahnya.


"Sepertinya kamu adalah prajurit bayaran yang sudah terlatih. Aku bisa melihat gayamu saat mengacungkan pedang padaku tadi terlihat seperti seorang master pedang." Kata Asrahan menilai Leonard dari sudut pandangnya. Dalam hati Louisse tertawa karena Leonard bukan hanya seorang master pedang biasa melain seorang sword master terhebat di Kekaisaran itu.


"Apakah kamu tahu cara menggunakan pedang?" Tanya Leonard sambil memicingkan mata curiga.


"Baiklah, terserah kamu." Sahut Leonard dan bertepan pada saat itu makanan yang mereka pesan datang.


"Kalau begitu, untuk merayakan kerjasama kita, mari kita makan-makan...!" Ucap Asrahan sambil mengangkat gelas birnya.


"Pertemuan ini seperti takdir bagi kita, ayo kita minum malam ini..! Lanjut Asrahan dengan segelas bir yang masih terangkat di tangannya.


Lalu di bar itu ada beberapa orang yang menyapa Asrahan ketika melihat lelaki itu.


"Woy Asrahan..! Apakah itu teman barumu lagi?" Tanya salah seorang laki-laki seusianya.

__ADS_1


"Lain kali ajak kami juga untuk minum..!" Seru orang yang lainnya di lain meja.


"Baiklah... Lain kali aku akan mengajak kalian." Sahut Asrahan dengan tersenyum ramah.


"Wahh... Melihat semuo orang bersikap ramah kepadanya, ternyata Asrahan memang orang yang baik dan ramah kepada semua orang." Pikir Louisse yang senang melihat suasana yang bagus di sana.


"Isse..! Maukah kamu menceritakan suasana di desamu? Aku ingin kita mengenal lebih dekat." Ujar Asrahan tiba-tiba dengan wajah yang begitu antusias.


"Emm, ah.. Jadi desa kami itu..."


Dukk!!


Tiba-tiba segelas bir mendarat tepat di depan antara Louisse dan Asrahan membuat keduanya terkejut. Dan itu adalah ulah Leonard.


"Hei... Lawanmu itu adalah aku!"


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2