
"Kok dia diam saja tidak menyahut sama sekali? Ah, aku tahu! Dia pasti lagi ngambek karena kita hanya main berdua tanpa mengajaknya." Jawab Louisse dengan yakin dan itu langsung membuat Oscar melongo tak percaya.
"Haahh??! Yang benar saja?!" Seru Oscar seakan tak percaya mana mungkin kakaknua mempunyai sikap kekanak-kanakan seperti itu?
"Dari dulu kan dia sering seperti itu... Apa kau ingat waktu kita mengajaknya piknik di danau belakang istana? Dia langsung menjawab tidak mau karena alasan cuaca sedang panas. Lalu kita langsung memutuskan pergi berdua saja tanpa dia dan tanpa berusaha membujuknya. Dan kau tahu bagaimana ekspresi wajahnya? Dia terlihat ingin ikut tapi tidak mau jujur, dia itu terlalu gengsi, dia selalu pura-pura tidak suka padahal dia suka. Setelah itu suasana hatinya menjadi buruk dan dia merajuk dalam waktu yang lama. Sejak saat itu aku selalu bertanya beberapa kali jika akan mengajaknya bermain." Kata Louisse sambil mengingat masa lalu.
"Kejadian itu kan sudah lama sekali dan kita sekarang bukan anak-anak lagi." Sahut Oscar.
"Tapi di mataku Leonard masih saja terlihat imut dan lucu seperti dulu hihihi..." Ujar Louisse sambil terkekeh tatkala mengingat wajah Leonard yang selalu merona jika sedang digoda.
.
.
Sementara itu wajah Leonard terlihat muram di balik pohon dimana ia sedang bersembunyi dari Louisse dan Oscar...
POV Leonard...
Demi untuk memastikan apakah ucapan Redian tentang Louisse dan Oscar itu benar, aku sengaja menemui Doha Hyperion yang berada ditempat kejadian bersama mereka untuk menanyakan langsung kebenaran cerita itu.
Waktu itu....
"Aku mendengar itu dari pengawal Putri, apa itu benar?" Tanyaku pada Doha.
"Maaf Yang Mulia, saya tidak mengerti apa-apa." Dia megelak untuk menjawab, tentu aku tahu dia tidak akan menjawab dengan jujur karena ini menyangkut Oscar. Tapi dia juga tidak menyangkalnya.
"Iya, tentu saja kau tidak mendengar apa-apa. Jika kamu memang berada dipihak Ratu, pasti kamu tahu harus bertindak seperti apa kan? Tanpa harus aku beri tahu." Ucapku sedikit memperingatkan padanya dan melangkah pergi dari sana, namun belum ada dua langkah tiba-tiba dia mengatakan sesuatu...
"Anda terlihat sangat menyangi Yanga Mulia Pangeran Kedua." Ucapannya itu membuatku menghentikan langkah.
"Apa kamu pikir aku ini melewati batas?" Sahutku tak suka dengan ucapannya.
"Mana mungkin saya berani memikirkan hal itu Yang Mulia? Saya hanya merasa iri karena kalian memiliki hubungan yang baik." Jawabnya dengan nada suara yang terdengar dingin. Aku merasa tatapan Doha yang awalnya terlihat bodoh berubah dingin.
"Tetapi... Pernahkah Yang Mulia berpikir jika ada yang telah disembunyikan olah Yang Mulia Putri?"
Dan ucapan Doha yang terakhir itu benar-benar telah memprofokasiku saat ini.
"Sial!!"
Bug!!
"Yang Mulia! Tangan anda berdarah! Apa anda baik-baik saja?" Seru Julian.
Aku tidak memperdulikan teriakan Julian yang mengkhawatirkan tanganku yang berdarah karena memukul pohon. Saat ini yang terpenting adalah diriku tidak boleh goyah hanya kerana masalah ini.
__ADS_1
"Kita kembali ke ruang kerja sekarang." Perintahku pada Julian.
"Baik, Yang Mulia." jawabnya.
POV Leonard off..
...****************...
Saat ini di Kekaisaran Eliador sudah mulai mendekati pergantian tahun sehingga banyak sekali undangan pesta dikalangan para bangsawan. Begitu pula yang terjadi pada Louisse yang saat ini tengah bersiap untuk menghadiri sebuah pesta bersama Leonard.
"Untung saja gaun pesananku yang kupesan bersama Leonard sudah sampai beberapa hari yang lalu." Ucap Louisse dalam hatinya sambil mematut diri di depan cermin dan sesekali memutar badannya untuk memastikan gaunnya benar-benar pas di badannya. Dia tersenyum puas karena gaun yang dia pesan sesuai dengan apa yang dia inginkan.
"Sykurlah gaun ini cocok dengan kalung yang dihadiahkan Leonard." Batinnya dengan tersenyum puas.
"Yang Mulia... Anda sudah ditunggu Yang Mulia Pangeran Pertama di lantai bawah." Ucap Anne memberi tahu.
"Ah, cepat sekali dia datang." Sahut Louisse sedikit terkejut karena Leonard datang lebih awal.
"Aku akan segera turun." Ujar Louisse kemudian.
"Leonard pasti senang aku memakai kalung yang dia beri." Gumam Louisse sambil keluar dari kamarnya dengan bibir yang tersenyum.
Sesampainya di lantai bawah, Louisse segera menghampiri Leonard yang tengah duduk di ruang tamu.
Leonard tidak menjawab sapaan Louisse dan justru memalingkan wajahnya yang terlihat muram.
"Leonard! Kau tidak menjawabku ya?" Seru Louisse dengan sedikit kesal.
Dan sekali lagi Leonard tetap diam tanpa melihat wajah Louisse.
"Dia kenapa sih? Ekspresi wajahnya seperti orang yang sedang ada masalah." Dalam hatinya Louisse bergumam sambil menatap ke arah Leonard.
"Apa kamu sedang mencemaskan sesuatu?" Tanya Louisse.
"Tidak." Jawab Leonard singkat tanpa menoleh ke arah Louisse sedikitpun.
"Kalau begitu cobalah lihat ini." Pinta Louisse dan Leonard pun menoleh ke arah Louisse.
"Bagus kan....? Gimana, ini cocok kan??" Kata-kata Louisse tersebut langsung membuat wajah Leonard seketika merona. Leonard tak menyangka ketika wajahnya berbalik ke arah Louisse, istrinya itu sudah mencondongkan tubuhnya ke arah dirinya sambil menunjukkan kalung pemberiannya telah dipakai. Dan itu sangat cocok melingkar di leher jenjang Louisse.
"Dia memakai kalung yang kuberi." Ucap Leonard senang dalam hatinya. Wajahnya tiba-tiba memanas dan degub jantungnya terdengar lebih cepat saat itu.
"Ehm... Efek barang mahal memang beda ya..." Kata Leonard dengan pipi yang merona dan langsung memalingkan wajahnya kembali karena malu mengatakan itu sambil melihat wajah Louisse.
"Hoho... Kalau Leonard berkata seperti itu artinya sangat cocok. Hanya saja dia terlalu malu untuk mengatakannya langsung. Ah.. Leonard kecilku yang manis..." Batin Louisse sambil menahan senyumnya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau lain kali kita bertiga main layang-layang bersama? Aku, kamu dan Oacar." Ajak Louisse untuk mencairkan suasana.
"Aku sibuk." Namun langsung mendapat penolakan dari Leonard.
"Lagipula aku tidak suka membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna." Lanjut Leonard dengan pura-pura membuat alasannya.
"Lalu... Yang kemarin siang di padang bunga sedang mengintip di balik pohon itu kamu kan?" Tanya Louisse langsung.
"Mm... itu..." Leonard bingung harus menjawab apa jika Louisse langsung menanyakannya seperti ini.
"Mungkinkah karena aku bermain layang-layang hanya dengan Oscar saja kamu ngambek begini? Aku kan tidak sengaja bertemu dengan Oscar waktu pergi ke sana, jadi sekalian saja aku mengajaknya." Ungkap Louisse menjelaskan kesalah pahaman Leonard terhadapnya.
"Siapa yang ngambek?!" Leonard mengelaknya.
"Waktu kecil kan kamu suka ngambek jika kami hanya bermain berdua tanpa mengajakmu." Ujar Louisse yang lagi-lagi benar namun Leonard tetap saja malu mengakuinya.
"Itu kan dulu waktu kita masih kecil, kamu pikir aku ini masih anak-anak?" Leonard yang masih saja mengelak membuat Louisse menjadi sedikit kesal.
"Oh... Jadi begitu? Ya sudah, lebih baik aku mengajak lagi Oscar bermain." Sahut Louisse sambil melangkah pergi begitu saja namun hal itu langsung dicegah Leonard dengan cepat.
"Tidak boleh!"
Bak anak kecil, Leonard berseru sambil memegangi rok gaun Louisse untuk mencegah istrinya itu untuk pergi. Hal itu langsung membuat Lousse speechless dan menghentikan langkahnya sambil menengok ke belakang menatap Leonard. Dan sedetik kemudian Louisse benar-benar tidak bisa menahan tawanya karena wajah putus asa Leonard itu terlihat menggemaskan di mata Louisse.
"Bwahahahaahaa...."
"Memangnya ini lucu?" Ujar Lronard dengan ekspresi yang terlihat polos.
"Karena kamu terlihat menggemaskan..." Louisse langaung meraih pipi Leonard dan mencubitnya dengan gemas.
"Apa yang kamu lakukan? Le.. lepaskan..." Itu terdengar seperti rengekan anak kecil di telinga Louisse.
"Ya ampun... Yang tadi itu aku cuma bercanda, lain kali aku hanya akan bermain berdua saja denganmu." Hibur Louisse sambil mengelus kepala Leonard dengan bibir yang selalu tersenyum. Kemudian Leonard meraih tangan Louisse dan menggenggamnya erat seperti anak kecil yang takut melepas genggaman tangan ibunya.
"Leonard..." Gumam Louisse sambil menatap Lenard yang menundukkan kepalanya menatap tangan mereka yang saling menggenggam.
"Hari ini kamu terlihat seperti anjing besar yang sedang lelah. Apakah pekerjaanmu begitu berat?" Batin Louisse sambi menatap iba pada Leonard yang masih saja tertunduk diam.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1