Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 43 Semakin Salah Paham


__ADS_3

POV Louisse...


Sikap Leonard saat ini jangan-jangan...


"Aku mencintaimu Louisse... Aku tidak ingin berpisah denganmu."


Dia... Benar-benar mengatakannya. Pengakuan cinta yang tulus dan begitu putus asa akhirnya benar-benar aku dengar keluar dari mulutnya. Sekarang setelah mendengarnya langsung, aku jadi teringat semua tindakan dan perlakuannya selama ini semata-mata hanya untuk menunjukkan jika dia sungguh-sungguh dengan perasaannya terhadapku. Bahkan Vianty pun yang tidak begitu akrab dengan kita menyadari akan hal itu dan sempat memberiku isyarat tapi akunya saja yang terlalu bodoh dan tidak peka.


"Lalu Louisse... Bagaimana dengan perasaanmu?"


Pertanyaan itu adalah pertanyaan sederhana, tapi kenapa aku merasa kelu dan bingung harus menjawab apa?


Perasaanku? Bagiku... Leonard bagiku... Seperti apa dia bagiku?


Selama ini aku berpikir jika perasaanku tidaklah penting karena tidak dibutuhkan di dunia novel yang sudah ditentukan bagaimana endingnya. Akan sangat mengganggu alur ceritanya jika aku mempunyai perasaan spesial pada tokoh-tokoh yang sedaei awal sudah ditentukan nasibnya. Media akan mengusirku kapan saja jika sudah dianggap tidak berguna dan Kaisar pun juga akan membunuhku jika aku tidak bercerai dengan Leonard. Aku sudah membunuh perasaanku untuk bisa beradaptasi di dunia ini. Lalu... Sampai kapan aku harus mengorbankan perasaanku sendiri? Sampai aku tidak tahu apa yang harus aku jawab saat Leonard menanyakan soal perasaan. Perasaan seperti apa yang aku punya untuknya?


Saat Leonard menyatakan perasaannya padaku, aku baru sadar jika ceritanya sudah berantakan. Kenapa ini terasa sangat tidak adil bagiku? Kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis?!


"Lou, Louisse... Kenapa kamu menangis?!"


Seruan suara Leonard menyadarkanku dengan segala uneg-uneg di kepalaku barusan. Dan tanpa sadar air mataku sudah jatuh begitu saja.


"Ma, maaf Leonard... Ak, aku.. hiks.. Aku belum bisa menjawabnya... Hiks! Apa kamu bisa menunggu sebentar saja? Hiks..." Tanpa sadar aku sudah mulai terisak. Dadaku benar-benar terasa sesak.


"Kau masih saja cengeng seperti dulu. Tidak apa-apa, aku sudah biasa menunggumu jadi... Kau jangan menangis lagi ya.." Ucapan Leonard yang lembut sambil menyeka air mataku membuatkan merasa tersentuh dan sedikit bersalah.


"Leonard..."


"Sstt... Sudahlah, sebaiknya kita tidur saja sekarang." Ucapnya sambil menuntunku untuk berbaring dan menyelimutiku. Lalu dia beranjak dari tempat tidur seakan dia akan pergi.


"Kau mau kemana? Kamu tidak tidur?" Tanyaku dengan wajah cemas, entah kenapa aku jadi takut jika dia pergi meninggalkanku.


"Terkadang kau memperlakukanku seperti anak kecil, apa kau lupa jika aku juga seorang pria?" Protesnya dengan sedikit kesal.


Ah, aku lupa kalau baru saja dia mengungkapkan perasaannya padaku. Dia pasti sedikit canggung.


"Aku tidak bisa tidur setiap 'Kencan Malam' dan keesokan harinya aku jadi tidak bisa fokus berker..." Leonard langsung menghentikan ucapannya seakan sadar akan sesuatu.


Tunggu! Setiap 'Kencan Malam'?


"Jangan bilang kalau sebelum pergi ke medan perang kau sudah menyukaiku." Tebakku langsung.

__ADS_1


"Ter, terserah apa yang kamu pikirkan! Yang jelas aku sudah tak ingin begadang lagi!"


Setelah berseru seperti itu dia langsung pergi ke sofa dan berbaring di sana memunggungiku sambil menyelimuti dirinya dengan selimut.


"Apa tidak apa-apa jika kamu tidur di situ?" Tanyaku padanya tapi dia malah menjawabnya dengan ketus.


"Tidak usah pedulikan aku!"


Ah, dia sudah kembali ngambek seperti dulu. Dasar bocah, padahal dia bisa pergi ke kamar lain jika tidak nyaman. Mungkin dia tidak ingin terdengar rumor yang mengatakan jika kami kepergok tidak tidur satu kamar di malam 'Kencan Malam'. Dia memang selalu baik...


"Selamat tidur Leonard..."


"Kamu juga, selamat tidur..."


Lalu bagaimana ini? Aku baru saja mendapat pengakuan cinta...


.


.


Akhirnya pagi menjelang begitu saja dan aku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan hal ini dan aku rasa Leonard juga mengalami hal yang sama. Aku tahu dia sekarang sedang mengendap-endap untuk keluar dari kamar ini. Aku akan pura-pura masih tidur sampai kamu keluar dari sini karena aku juga malu jika harus melihatmu seperti ini.


Tiba-tiba ada suara benturan yang cukup keras yang mengejutkanku. Refleks akupun terbangun untuk melihat apa yang terjadi.


"Ada? Kamu kenapa? Aku mendengar suara benturan yang cukup keras tadi." Tanyaku dengan tidak sabaran. Namun yang aku lihat di sana Leonard sedang menatapku dengan ekspresi kaku yang terkejut. Dia sedang memegang dahinya yang terlihat merah.


"Ti, tidak ada! Sampai jumpa nanti!"


Dia langsung pergi begitu saja setelah mengatakan itu dengan wajah yang merona.


Mengkinkah dahinya tidak sengaja terbentur saat ingin keluar tadi? Haruskah tadi aku pura-pura saja tidak mendengar? Ah... Dia masih saja menggemaskan jika malu-malu seperti itu...hihi...


Haahh... Terus sekarang bagaimana? Aku sudah memikirkannya sepanjang malam, seharusnya Leonard akan berakhir bahagia jika menikahi Vianty sesuai alur cerita di novel. Lalu, untukku yang berperan sebagai antagonis, bercerai dengan damai adalah pilihan terbaik. Aku tiba-tiba merasa emosi! Menjadi tokoh antagonis kan bukan keinginanku!!


Tunggu! "Keinginanku"...?


Kalau aku bisa mengubah alur ceritanya sesuai keinginanku, mungkin saja...


POV Louisse Off...


.

__ADS_1


.


.


...****************...


POV Leonard...


Sudah satu minggu berlalu setelah 'Kencan Malam' itu, aku terus saja menghindari Louisse karena merasa canggung padahal aku selalu merindukannya. Ah... Louisse sekarang sedang apa ya? Aku harap semua akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu.


Apa ini? Surat? Kenapa ada surat yang tercampur dengan tumpukan dokumenku? Apa mungkin tidak sengaja tercampur di sini? Tapi lambang ini kan... Lambang milik Louisse. Aku jadi deg-degan, apa mungkin dia mengirimiku surat karena aku selalu menghindarinya? Sebaiknya aku buka saja sekarang.


'Untuk Oscar...


Karena alasan tertentu, akan lebih baik jika kita tidak bertemu untuk sementara waktu dan sementara jangan berkunjung ke istanaku. Aku minta maaf untuk hal ini, lain waktu akan ku jelaskan. (Louisse)'


Aku sangat terguncang dan pergi begitu saja dari ruang kerjaki setelah membaca surat dari Louisse yang aku kira dia kirim untukku. Nyatanya surat itu dia tujukan untuk Oscar.


Guk! Guk!..


"Apa kamu sedang khawatir padaku Sami?"


Sekarang aku sedang berada di taman belakang ruang kerjaku bersama Sami. Mungkin hanya dialah yang selalu setia dan tidak akan pernah mengkhianatiku.


"Kamu lebih baik dari manusia Sami..." Ucapku sambil memeluk Sami, anjing betina yang sudah aku besarkan sejak aku masih kecil.


"Sami... Kata dia lebih baik mereka tidak bertemu untuk sementara waktu. Apa mungkin karena aku sudah menyatakan cintaku pada dia?"


Sudah banyak yang melihat kedekatan mereka. Jika hubungan antara Louisse dan Oscar sudah sejauh itu saat aku berada di medan perang, aku rasa itu jadi masuk akal. Ditambah soal perkataan Louisse mengenai perceraian menjadi lebih masuk akal lagi.


Sebaiknya aku menemui dan bertanya langsung pada Louisse!


POV Leonard Off...


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2