
"Asyiiikk....!! Kita akan bermain dengan Sami!" Seru Oscar dengan gembiranya.
Akhirnya Oscar dapat membujuk Leonard dengan tatapan puppy eyes-nya yang tidak dapat ditolak oleh Leonard karena adik kecilnya itu sangatlah lucu. Disepanjang jalan menuju tempat Sami dipelihara, Oscar tak hentinya berceloteh jika dia sangat tidak sabar untuk menyentuh bulu putih Sami yang begitu halus, bahkan pangeran kecil itu sampai berkhayal jika dirinya memiliki bulu putih nan halus seperti Sami. Duuhh... Itu sangat menggemaskan hingga membuatku tertawa, walau terlihat cuek aku tadi sempat melihat jika Leonard juga menyunggingkan seyumnya ke arah Oscar. Ya... Meski hanya sebentar saja tapi aku yakin pangeran es itu tadi benar-benar tersenyum.
Ketika kami bertiga sudah sampai di tempat tujuan, ternyata sudah ada kepala pelayan dari istana pangeran yang menghadang di depan pintu.
"Kenapa kau ada di sini? Apa kau datang karena aku sudah bolos pada jadwal kelas hari ini? Aku sudah bilang, ganti gurunya atau aku tidak akan belajar sama sekali!" Gertak Leonard dengan tatapan tajamnya pada kepala pelayan.
"Tidak Pangeran, saya datang ke sini hanya untuk mengingatkan bahwa waktu kencan malam anda jatuh pada malam ini. Dan saya datang untuk membantu Pangeran Pertama dan Tuan Putri Louisse bersiap-siap." Ucap kepala pelayan istana dengan sedikit membungkukkan tubuhnya. Sedetik kemudian aku dan Leonard langsung diam terpaku.
"Ya ampun... Aku lupa jika di istana ini ada kewajiban aneh seperti itu." Batinku yang lupa akan tradisi nyleneh di istana ini yang mengharuskan keluarga Kekaisaran yang sudah menikah untuk berkencan malam setiap dua minggu sekali. Yang dimaksud kencan malam di sini bukan kencan layaknya sepasang kekasih yang keluar untuk jalan-jalan di tempat indah yang romantis, tetapi yang dimaksud kencan malam di sini adalah... Ehmm... Sebenarnya aku sedikit malu mengatakannya karena sedikit vulgar, ya pokoknya yang mereka maksud di sini adalah pasangan suami istri harus tidur bersama dalam satu ranjang tempat tidur. Ya ampuuunn.... Sebenarnya apa yang mereka harapkan pada anak tiga belas tahun sih?? Meski kami bukan lagi anak kecil tapi tetap saja kami ini adalah anak-anak yang belum dewasa. Benar-benar peraturan gila!! Aku berharap jika nanti Leonard naik tahta, peraturan tidak bermoral ini akan dihapus dari daftar tradisi.
"Wahh... Apakah kak Isse akan bersenang-senang dengan kak Leon malam ini? Apakah aku boleh ikut? Akan lebih menyenangkan jika mengajak Sami juga...!" Seru Oscar dengan mata yang berbinar.
"Oh astaga! Aku lupa jika ada anak kecil di sini. Dasar kepala pelayan tidak punya otak! Haruskah dia mengatakannya di hadapan anak yang masih kecil?!" Gerutuku dalam hati.
"Maaf Pangeran Oscar, anda tidak bisa ikut karena kencan malam adalah..." Ucapan si kepala pelayan langsung dihentikan oleh Leonard.
"Cukup!! Apa kamu tidak punya otak untuk menjelaskannya di hadapan pangeran yang masih kecil?!" Ujar Leornard dengan tatapan tajam seolah ingin merobek mulut si kepala pelayan.
"Maafkan atas kecerobohan hamba Yang Mulia Pangeran." Si kepala pelayan wanita itu langsung menunduk, tapi terlihat jelas tidak ada penyesalan di dalam kata maafnya.
"Haruskah aku potong lidahmu atas kecerobohanmu? Sepertinya kau tidak kenyesal sama sekali." Ucapku sengit. Bawahan seperti ini memang perlu dikasih pelajaran biar tidak kurang ajar.
__ADS_1
"Maafkan saya, hamba pantas mati Yang Mulia..." Mendengar gertakanku nyali kepala pelayan itu langsung menciut. Dia pasti tahu jika aku tidak main-main jika dia lebih ceroboh dari ini, karena yang mereka tahu aku ini salah satu kaki tangan Ratu.
"Sudahlah! Kali ini saja kami memaafkanmu karena kami tidak ingin menunjukkan keributan di depan Pangeran Kecilku yang masih lugu." Ucapku kemudian.
"Terimakasih Tuan Putri... Saya akan mengingatnya." Ucap kepala peyan itu.
"Bagus." Sahutku dengan menatap tajam padanya. Sementara itu si kecil Oscar tampak bingung melihat perdebatan kami.
"Kak Isse, bagaimana? Apakah aku bisa ikut dengan kalian juga?" Tanya Oscar dengan penuh harap, tapi maaf pangeran kecilku... Kali ini tatapan lucu itu harus aku abaikan.
"Maaf Oscar... Tapi ada yang harus aku dan kakakmu lakukan nanti malam." Jawabku dengan penuh sesal.
"Apakah itu menyenangkan? Apakah aku dan Sami benar-benar tidak bisa ikut?" Tanya Oscar sekali lagi.
"Duuhh... Memang susah jika harus berhadapan dengan anak kecil yang penuh rasa penasaran." Keluhku dalam hati.
"Pangeran sialan!! Kalau tidak ada seseorang di sini pasti sudah aku tendang bokongmu!!" Gerutuku dalam hati.
"Haahh... Maafkan aku sekali lagi pangeran kecilku... Kali ini kamu dan Sami tidak bisa ikut dengan kami." Kataku dengan lembut dan penuh sesal dapa Oscar.
"Baiklah..." Sahut Oscar dengan nada sesihnya.
Setelah itu pelayan pribadi Pangeran Oscar mengantarnya kembali ke kediamannya. Sementara aku dan Leonard mempersiapkan diri untuk 'Kencan Malam'. Aku mempunyai firasat buruk untuk hal ini. Haaahhh....
__ADS_1
Dan benar saja, di 'Kencan Malam' ini Leonard langsung tidur dengan memunggungiku, padahal aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk lebih dekat dengannya. Aku rasa perjalananku untuk memperoleh kepercayaannya masih sangat panjang.
"Leonard... Apa kau sudah tidur?" Tanyaku.
"Sudah." Jawab Leonard dengan cepat.
"Dasar bodoh! Mana ada orang tidur bisa menjawab?" Gerutuku.
"Berisik! Sebaiknya kau tidur dan jangan ajak aku bicara, karena aku sudah lelah." Ucapnya ketus dengan posisi masih memunggungiku.
"Haaahh... Aku benar-benar harus banyak bersabar menghadapi Pangeran yang labil ini." Batinku menenangkan diri sendiri.
Yahh... Bagaimana lagi? Mau tidak mau aku juga harus tidur, kurasa aku juga terlalu lelah memikirkan ini dan itu untuk bertahan hidup di sini beberapa tahun ke depan. Aku hanya berdo'a agar hidupku damai sampai perceraianku nanti. Dan setelah itupun aku terlelap hingga pagi hari.
Keesokan paginya aku berencana untuk diam-diam keluar istana lewat pintu belakang istana yang terbengkalai. Selain memanjat dinding istana menggunakan pohon besar, itu adalah salah satu pintu yang digunakan Leonard untuk keluar dari istana karena di sana tidak ada prajurit yang mengamankannya. Aku menggunakan pintu ini karena satu, aku tidak mungkin dan tidak akan bisa untuk memanjat pohon untuk melewati tembok istana yang tinggi. Dan yang kedua, siapa tahu aku bisa berpapasan dengan Leonard yang akan membolos pelajaran di jam ini.
"Ahh... Apakah aku salah? Kalau sesuai dengan novel aslinya, Leonard akan sering menggunakan pintu ini untuk menyelinap keluar istana. Atau gara-gara Ratu dia jadi lebih waspada dan tidak melewati pintu ini lagi?" Gumamku sambil berpikir dimana Leonard saat ini.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Aku langsung terperanjat kaget karena tiba-tiba ada seseorang yang memergokiku.
"Mampus aku jika tertangkap oleh penjaga." Gumamku dalam hati.
__ADS_1
Aku memutar tubuhku ke belakang untuk melihat siapa itu dan ternyata....
Bersambung....