
POV Louisse...
Aku segera bergegas menuju ruang bacaku setelah kembali dari istana Leonard, ada yang harus aku cek di sana. Masalah salah pahamku dengan Leonard memang sudah selesai tapi tetap saja aku merasa ada yang aneh dengan runtutan kejadian yang beberapa hari kenelakang ini. Masalah sir Redian yang salah paham saat mendengar candaanku pada Oscar masih dapat aku pahami tetepi beda lagi dengan surat yang aku kirim untuk Oscar yang tiba-tiba bisa sampai pada Leonard. Tidak mungkin surat itu bisa sampai pada Leonard hanya karena ada masalah salah dalam pengiriman. Aku sudah meminta langsung pada pelayan pribadi Oscar yang bernama Doha itu, jadi tidak mungkin seorang pelayang pribadi Pangeran akan bertindak ceroboh seperti itu. Dan semakin aku ingat-ingat aku tetap saja tidak bisa mengingat tokoh yang bernama Doha itu di dalam novel. Jika memang tokoh itu tidak dibicarakan di dalam novel berarti dia adalah tokoh figuran yang tidak penting. Atau ada bagian yang tidak aku ingat? Aku harus melihat kembali catatanku mengenai isi novelnya.
Lho... Dimana buku catatanku? Seharusnya aku simpan di sini. Aku sengaja menyimpannya ke bagian rak paling dalam agar tidak ada yang tertarik dengan buku itu. Tapi kenapa sekarang hilang? Dan anehnya yang hilang hanya buku itu. Apa mungkin ada yang sengaja mengawasiku selama ini? Ini aneh, tokoh Louisse di dalam novel itu hanyalah tokoh boneka yang dikendalikan oleh Ratu, jadi aneh jika sekarang mereka mengawasiku. Aku yakin ada fariabel lain yang muncul ketika aku mulai ikut campur dengan jalan cerita aslinya. Leonard yang seharusnya tidak tertarik padaku, di sini malah jatuh cinta padaku. Bisa jadi itu menimbulkan adanya musuh baru yang dulunya tidak ada di novel.
Ah... Aku jadi teringat lagi dengan Leonard, aku masih bingung dengan perasaanku. Apakah aku menyukai Leonard sebagai lelaki atau hanya sebagai teman saja? Tapi sekarang aku tidak ingin menjadi pemeran pendukung yang akan ditendang keluar dari istana ini tanpa memikirkan bagaimana perasaanku selama ini. Mulai sekarang aku akan hidup sesuai dengan yang aku mau dengan memikirkan bagaimana perasaanku!
"Yang Mulia Putri... Apakah ada sesuatu yang anda pikirkan? Wajah anda terlihat tidak baik." Tanya Anne yang terlihat khawatir melihatku.
"Anne, bisakah kamu merapikan rambutku? Aku ingin memotong sedikit rambutku." Perintahku pada Anne.
"Tentu saja Yang Mulia, saya akan menyiapkan alatnya dulu." Meski sesikit terkejut dengan permintaanku yang tiba-tiba, Anne tetap menyanggupi tanpa bertanya dan langsung pergi mengambil perlengkapan untuk memotong rambutku.
Setelah menunggu beberapa saat, Anne kembali dengan membawa gunting rambut dan perlengkapan lainnya lalu mulai memotong rambutku. Dia sangat cekatan dan bisa diandalkan. Anne adalah salah satu orang yang ada di sisiku yang bisa aku percaya.
"Sudah selesai Yang Mulia." Ujar Anne sambil tersenyum. Sesuai yang aku harapkan, dia memang berbakat, rambutku kini terlihat lebih rapi.
"Terimakasih Anne." Ucapku sambil tersenyum puas pada Anne yang juga tersenyum lega melihatku.
Karena sekarang aku sudah memutuskan untuk hidup dengan memikirkan bagaimana perasaanku sendiri, aku akan membuat Leonard menjadi Kaisar bagaimanapun caranya, pasti ada cara untuk mewujudkan itu tanpa harus aku bercerai dengannya karena aku sudah tahu jalan ceritanya. Lagian mau sampai kapan aku harus hidup hanya dengan mengacu pada isi cerita novel yang belum tentu akan sama dengan kehidupan nyata di sini. Lagian semua yang terjadi di sini sudah banyak yang berubah, jadi tidak ada jaminan jika ceritanya akan tetap sama dengan cerita novel.
Aku sendiri juga sudah muak dengan permainan Kaisar dan Media. Masa depanku, hanya aku sendiri yang mampu mengaturnya!
POV Louisse Off...
__ADS_1
.
.
Keesokan paginya Redian dengan wajah murungnya berjalan tertunduk menuju gerbang istana untuk meninggalkan istana pangeran. Masih teringat jelas di benak Redian apa yang terjadi tengah malam tadi. Leonard yang begitu marah karena kejadian sebelumnya, menghukum Redian dengan dalih latihan pertarungan pedang. Leonard yang terkenal sebagai ahli pedang terbaik di Kekaisaran menghajar Redian dalam latihan tersebut tanpa kenal lelah dan ampun. Stamina Leonard yang seperti hewan buas itu membuat Radian kewalahan. Mereka melakukan sparing dari tengah malam hingga hanpir terbitnya Matahari. Leonard akan tetap melakukannya jika Julian tidak menghentikannya.
Flashback kejadian tadi malam di ruang latihan...
"Berdiri Red!" Perintah Leonard dengan wajah garangnya, sementara Redian sudah tidak mampunlagi untuk bangun. Dia sudah lemas terduduk di tanah. Redian paham betuk jika sebenarnya Leonard sedang menghukumnya.
"Yang Mulia... Jika anda seperti ini karena masalah tersebut, lebih baik anda menurunkan perintah pemecatan pada Redian. Dia sudah tidak sanggup memegang pedangnya lagi." Ucap Julian pada Leonard untuk menghentikan Leonard yang sangat marah. Untungnya Leonard mendengarkan ucapan Julian.
"Sir Redian Lohas, tentunya kamu sudah tahu jika hukuman bagi orang yang mencemarkan nama baik anggota Kekaisaran adalah hukuman mati. Namun mengingat atas jasamu dalam peperangan maka hukuman yang kamu dapat adalah pemecatan dan pencabutan gelar kesatria. Mulai detik ini kamu bukan lagi kesatriaku lagi. Kamu sudah belerja keras Red." Ucap Leonard menurunkan perintahnya pada Redian dan langsung melangkah pergi dari tempat latihan meninggalkan Redian dengan air mata yang terus mengalir.
Kembali ke saait ini... Redian terus berjalan menuju gerbang keluar istana dengan rasa penyesalan dan sedih yang mendalam. Bagi Redian Leonard bukan hanya sekedar tuan yang ia ikuti, tapi juga teman masa mudanya dulu. Dia sangat menyesali jika semuanya berakhir dalan sedetik karena kebodohannya.
Namun disela kesedihannya, tiba-tiba dia mendengar suara seseorang yang mampu menghentikan langkahnya yang gontai.
"Apa kamu akan pergi begitu saja tanpa mengucapkan permohonan maaf? Padahal aku belum memaafkanmu."
Redian langsung menoleh ke belakang setelah mendengar suara tersebut. Dan di sana dia melihat Louisse yang berdiri didampingi oleh Edmund di sampingnya.
"Yang Mulia Putri..." Ucap Redian dengan wajah terkejutnya.
"Maafkan saya karena tidak tahu harus bagaimana untuk mengucapkan permintaan maaf saya pada Yang Mulia Putri karena Yang Mulia Pangeran Pertama menyuruh saya agar segera meninggalkan istana." Ucap Redian dengan wajah tertunduk.
__ADS_1
"Aku sungguh kecewa dengan adanya kejadian kemarin dan aku belum ada niatan untuk memaafkanmu sir Redian." Kata Louisse dengan tangan yang bersedekap sambil menampilkan ekspresi marah.
"Sekali lagi maafkan saya Yang Mulia..." Mohon Redian tulus dengan kepala yang tertunduk lemas.
"Oleh karena itu kamu harus bekerja sangat keras di istanaku sampai aku bisa memaafkanmu!" Perintah Louisse pada Redian. Karena pikiran yang kalut, Redian langsung menyanggupinya tanpa mencerna dulu ucapan Louisse.
"Baik Yang Mul.... Apaaa??!" Redian langsung berteriak setelah menyadari ucapan Louisse.
"Ap, apa maksud Yang Mulia Putri?" Tanya Redian masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Mulai saat ini kamu harus mempersiapkan diri, karena kedepannya aku akan mempekerjakan dirimu dengan sangat keras." Ucap Louisse dengan wajah yang tersenyum.
"Yang... Yang Mulia Putri...hiks.. Terimakasih, sa saya akan bekerja dengan keras, hiks..." Ucap Redian sambil menangis terharu.
Sementara itu di kejauhan Doha tengah memperhatikan interaksi Louisse dengan Redian.
"Astaga... Tidak aku sangka semuanya akan berakhir dengan cara yang damai seperti ini padahal aku sudah bersuha untuk menyelipkan surat itu diantara dokumen milik Pangeran Pertama. Dan sekarang Putri Louisse malah mempekerjakan orang yang diusir oleh suaminya. Sebenarnya siapakah dirimu Tuan Putri?" Gumam Doha sambil menatap ke arah Louisse yang ada dikejauhan.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1