
"Mampus aku jika tertangkap oleh penjaga." Gumamku dalam hati.
Aku memutar tubuhku ke belakang untuk melihat siapa itu dan ternyata....
"Huufff..." Aku menghela napas lega, ternyata itu adalah Leonard.
"Kenapa kamu terlihat begitu lega setelah melihatku? Seperti pencuri yang takut tertangkap basah saja." Ucap Leonard sarkas.
"Itu karena kamu tiba-tiba datang mengagetkanku, tapi memang benar aku lega karena kamu yang datang dan bukan penjaga." Jawabku.
"Kau mencurigakan, kamu tidak mungkin akan kabur dari istana ini kan?" Tanya Leonard yang mungkin sedang curiga padaku.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Ohh... Apakah kamu keluar istana menggunakan jalan ini?" Aku berusaha memancingnya untuk bicara.
"Berisik! Aku lewat sini atau bukan itu bukan urusanmu, lebih baik kamu kembali saja ke istanamu Louisse." Ujar Leonard dengan dingin seperti biasanya.
"Tapi aku bosan dan aku juga ingin keluar dari istana ini." Kataku dengan ekspresi yang kubuat sesedih mungkin, siapa tahu Leonard mau mengajakku juga. Ya... Meski itu tidak mungkin sih.
"Jangan bilang kau ingin aku mengajakmu juga." Tebak Leonard dengan tepat.
"Jika kau mau melakukannya aku akan sangat senang." Sahutku dengan cepat.
"Haahh...."
Leonard menghela napas panjang, aku sudah menduga pasti dia tidak akan mau mengajakku keluar istana bersamanya.
"Baiklah..." Kata Leonard yang membuatku sangat terkejut.
"Apa?!" Tanyanyaku sedikit tak percaya.
"Aku akan mengajakmu tapi kamu harus berjanji untuk tidak membuat masalah di luar sana." Jawab Leonard seraya memperingatkanku.
"Tentu saja, aku janji!" Jawabku dengan cepat sebelum dia berubah pikiran.
Akhirnya kamipun keluar istana bersama secara diam-diam. Aku anggap ini sebuah kemajuan karena Leonard mau mengajakku keluar istana bersamanya. Walau tadinya aku tidak yakin dia mau, tapi aku sangat senang dan aku berharap Leonard akan semakin menurunkan kewaspadaannya padaku.
Ketika sudah berada di luar istana aku begitu takjub dengan keramaian yang ada di luar. Banyak pedagang di pinggir jalan dan toko-toko berjajaran juga di sana, bahkan ada pandai besi yang hanya pernah aku lihat di tivi ketika aku melihat film jaman dahulu di kehidupanku sebelumnya.
"Wuaahh... Ini sangat menakjubkan! Aku tidak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya." Seruku dengan sangat gembira.
__ADS_1
"Apa dulu kau tidak pernah keluar sama sekali dari kediaman Baron?" Tanya Leonard yang heran dengan reaksiku.
"Ah maksudku... Aku yang masih kecil belum diperbolehkan untuk keluar rumah kecuali ke kuil untuk berdo'a dan itupun aku hanya diam di dalam kereta kuda." Kataku memberi alasan, karena bisa kacau jika aku salah bicara. Tapi untungnya di novel aslinya Louisse memang hanya diperbolehkan keluar rumahnya saat pergi berdo'a ke kuil karena dia belum mencapai usia untuk debutante.
"Owh begitu..." Sahut Leonard.
Untung saja Leonard percaya dengan ucapanku.
"Owh.. Di sana ada pengamen jalanan juga!" Seruku takjub.
"Jangan berjalan sesuka hati seperti itu, tempat ini sangat ramai dan berbahaya untuk gadis bangswan berjalan sendirian, sebaiknya ikuti aku dengan tenang." Ujar Leonard seraya menggandeng tanganku pergi bersamanya.
"Ahh... Apakah kau takut jika aku hilang di jalan? Hehe..." Ini suara batinku ingin sekali meledeknya sepert itu.
"Waoww... Di sini juga ada sate dan telur gulung!" Seruku dengan girang, aku tidak percaya menemukan jajanan yang sama dengan yang ada di tempat tinggal asalku. Aku sangat senang sekali. Haruskah aku membelinya?
"Leonard, ayo kita membe...li..nya..." Seruku dengan antusias, namun apa? Tiba-tiba aku tidak mendapati Leonard bersamaku.
"Leonard?!" Seruku memanggilnya namun tidak ada jawaban.
Bukankan dia tadi menggandeng tanganku supaya tidak terpisah darinya? Tapi sejak kapan gandengan tangan kami terlepas? Terus aku harus bagaimana? Aku bahkan tidak tahu ini ada di mana. Aku tengok kanan kiri, depan belakang mungkin saja dia sedang berdiri di depan salah satu kios penjual untuk membeli sesuatu. Tapi aku benar-benar tidak melihat Leonard di manapun dan aku mulai panik.
...****************...
Ahh, aku jadi melepaskan tanganku dari tangan Louisse begitu saja karena aku melihat salah satu bangsawan kota yang aku kenal. Aku melepaskan genggaman tanganku dari Louisse dan lari menghindar begitu saja karena tidak ingin bangsawan itu melihatku. Tapi aku yakin Louisse baik-baik saja. Dia pasti sudah pergi ke petugas keamanan, itupun jika dia punya otak untuk meminta pertolongan mereka.
"Woi tuan muda!"
Tiba-tiba ada suara yang aku kenal memanggilku.
"Rodrego!" Seruku ketika melihat jika itu benar Rodrego.
"Kenapa anda bengong di sini? Seharusnya anda bergegas untuk menemui mereka." Ucap Rodrega seakan mengingatkan tujuanku pergi saat ini.
"Iya, ini aku juga mau pergi." Sahutku.
Hari ini ada pertemuan sesama prajurit bayaran di asosiasi prajurit bayaran dan aku harus bergegas ke sana. Tapi aku justru kepikiran soal Louisse. Bagaimana jika dia tidak menemui petugas keamanan kota dan justru menungguku? Bagaimana kalau dia mendapat masalah? Gadis bangsawan yang berdiri sendirian akan mengundang bahaya. Atau bagaimana jika dia tidak dapat memastikan identitasnya kepada penjaga?
Aaarrgghh...!! Ini sungguh merepotkan! Seharusnya aku tidak mengajaknya keluar istana. Akan menjadi masalah jika istri seorang pangeran menghilang dari istana tanpa kabar.
__ADS_1
"Rodrego! Maaf, aku..."
POV Leonard off...
...****************...
Aku berpikir Leonard tidak akan pergi begitu lama dan akan kembali menemuiku, jadi aku menunggunya di sini, di tempat kami terpisah tadi. Tapi ini sudah cukup lama dan Leonard belum juga kembali.
"Sebenarnya Leonard pergi kemana? Dia tidak sengaja meninggalkanku sendiri di tempat yang ramai seperti ini kan?" Hati kecilku mulai mengira yang tidak-tidak.
"Ah tidak mungkin! Dia kan pemeran utama pria yang begitu baik. Mungkin ada sesuatu yang mendesak dan tiba-tiba kami terpisah seperti ini." Hati kecilku yang lain masih mempercayainya.
"Ataukah aku harus pergi menemui petugas keamanan saja? Tapi kalau Leonard benar-benar mencariku bagaimana? Aku akan menungunya sebentar lagi..." Ya itu keputusanku hingga sebuah suara memanggil namaku.
"Louisse...!!"
Aku menatap ke arah depanku dan akupun langsung tersenyum.
"Leonard!!" Seruku senang dan lega secara bersamaan.
"Hah... hah.. hahh..."
Terlihat Leonard terengah-engah begitu dia datang, sepertinya dia berlari kemari.
"Apakah kau bodoh?! Kenapa tetap di sini dan tidak meminta pertolongan pada petugas keamanan?!" Dia berseru memarahiku. Tapi aku anggap itu sebuah bentuk rasa kekhawatirannya kepadaku.
"Apa kau tidak sadar jika terjadi apa-apa padamu istana akan menjadi kacau?!!" Leonard masih terus saja mengomeliku. Bukankah dia yang meninggalkanku di sini? Kenapa malah mengomeliku? Dasar pangeran aneh!
"Sabar... Demi hidup yang damai." Batinku.
"Kamu kan pasti datang mencariku." Jawabku dengan polos.
"Bagaimana jika aku tidak mencarimu dan sengaja meninggalkanmu di sini?!" Ujarnya yang sedikit kesal.
"Itu karena aku percaya jika kamu tidak akan melakukannya padaku. Aku percaya padamu Leonard." Sahutku dengan bibir yang tetap tersenyum padanya. Dan mendengar jawabanku seketika Leonard diam membatu. Tak lama kemudian dia mengulurkan tangannya padaku.
"Ayo kita pulang sekarang, kita tidak boleh terlalu malam berada di sini." Ujarnya padaku dan akupun menerima uluran tangannya. Kami pun pulang dalam keadaan diam dengan tangan yang masih bergandengan. Dari sana aku yakin, kewaspadaan Leonard padaku sedikit melonggar.
Bersambung....
__ADS_1