Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 13 Louisse Bertemu Julian


__ADS_3

Siang itu Louisse sedang menikmati teh hangatnya yng baru diseduh oleh Anne ketika salah satu pelayan dari istananya datang dan memberitahunya sesuatu.


"Maaf Yang Mulia Putri, ada seseorang yang datang ingin menemui anda." Kata pelayan wanita tersebut.


"Siapa? Aku tidak punya janji dengan siapapun siang ini." Ujar Louisse bertanya-tanya siapa yang telah mengunjungi istana putri miliknya itu. Pasalnya sejak Pangeran Leonard pergi ke medan perang, satu persatu para bangsawan yang selama ini berhasil dia dekati pergi satu persatu. Mereka berpikir meski Louisse adalah orangnya Ratu Media, cepat atau lambat Louisse akan dibuang setelah Pangeran Leonard gagal dan tewas di medan peperangan. Tapi mungkin saja ada yang berusaha mendekat lagi setelah berita kemenangan Pangeran Leonard beberapa waktu yang lalu. Itu yang dipikirkan Louisse saat ini.


"Yang datang adalah seorang kesatria yang diutus oleh Pangeran Pertama untuk menyampaikan sesuatu kepada anda Yang Mulia." Ungkap pelayan tersebut.


"Kesatrianya Leonard? Tolong antar aku ke sana." Louisse langsung meletakkan cangkir tehnya dan lekas berdiri dari tempat duduknya setelah mendengar nama Leonard.


"Baik Yang Mulia." Pelayan itu langsung mengarahkan Louisse yang didampingi Anne pelayan pribadinya ke tempat dimana kesatria tersebut menunggunya.


"Bukankah ini menuju ke taman istana putri?" Tanya Louisse pada pelayan wanita tersebut.


"Benar Tuan Putri, beliau menunggu anda di taman ini terkait barang yang dia bawa dari Pangeran Pertama untuk Tuan Putri." Jawab si pelayan.


"Barang? Barang apa? Ah tidak! Kau tidak perlu menjawabnya, biar aku tanyakan sendiri padanya." Ujar Louisse.


"Baik Tuan Putri, dia ada di sebelah sana." Tunjuk si pelayan yang mengarah pada seorang pria berseeagram kesatria sedang berdiri di salah satu sisi taman Louisse. Setelah melihatnya Louisse lekas menghapiri kesatria tersebut.


"Hormah kepada Yang Mulia Putri Loisse." Sapa kesatria tersebut dengan menunduk hormat.


"Aku dengar kau adalah kesatria yang diutus oleh suamiku untuk menyampaikan pesan secara langsung padaku. Pesan apa itu?" Ucap Louisse seraya bertanya maksud kedatangan sang kesatria.


"Benar Yang Mulia, nama saya Julian de Aswan, saya diutus Pangeran Leonard untuk mengantarkan hadiah untuk anda Tuan Putri." Ungkap Julian.


"Apa Julian?! Kalau ini benar berarti orang ini adalah Julian de Aswan, putra kedua dari bangsawan yang hampir bangkrut dari keluarga Count Aswan. Didalam novel dia adalah salah satu dari orang kepercayaan Leonard." Batin Louisse setengah terkejut, dia tidak menyangka akan bertemu salah satu orang penting di cerita novel aslinya dengan cara seperti ini.


"Senang bertemu denganmu Sir Julian. Lalu hadiah apa yang suamiku titipkan padamu?" Tanya Louise dengan menahan rasa senangnya karena bisa bertemu dengan salah satu orang yang mungkin bisa dijadikan sekutu olehnya dan dia juga penasaran hadiah apa yang diberikan Leonard untuknya.


"Yang Mulia Pangeran Leonard minitipkan hadian ini untuk yang Mulia Putri, beliau berpesan agar anda sendiri yang menerimanya." Kata Julian sambil menunjukkan dua buah pohon yang cukup besar berdiri tegak di samping kirinya dan itu sukses membuat Louisse serta para pelayan istana yang mengikutinya terbelalak.


"Yang Mulia Pangeran juga menitipkan sebuah surat untuk anda Putri." Kata Julian lagi seraya mengulurkan sepucuk amplop berisi surat dari Pangeran Leonard kepada Louisse.


"Ba, bagaimana bisa pohon sebesar ini kau membawanya?" Tanya Louisse dengan menatap heran pohon besar di hadapannya sambil mengambil surat itu yang dari tangan Julian.

__ADS_1


"Saya membawanya dengan sihir Tuan Putri." Jawab Julian dengan nada datarnya.


"Aha! Aku baru ingat jika Julian ini di dalam novel aslinya adalah seorang master sihir yang sengaja tidak mengekspos kekuatan sihirnya dan lebih sering menggunakan pedangnya untuk bertarung." Batin Louisse setelah mengingat sesuatu mengenai Julian de Aswan.


"Oh hmm... Tak heran pohon sebesar ini kau sendiri bisa membawanya." Sahut Louisse pura-pura tidak mengetahui apapun.


Setelah itu Louisse membuka surat dari suaminya dengan wajah sedikit bingung sambil menatap pohon besar hadiah dari suaminya.


"Leonard mengirim hadiah pohon yang hanya tumbuh di wilayah Timur kepadaku sebagai balasan suratku yang kemarin. Tapi apanya yang mirip denganku dari pohon ini?" Batin Louisse yang tidak mengerti maksud dari kata-kata Pangeran Leonard.


Isi surat Leonard:


Pohon itu mirip denganmu


"Apa Leonard sudah mulai gila sampai pohon tinggi tanpa bunga itu dikatakan mirip denganku?" Gerutu Louisse dalam hati.


"Ah, apapun itu inikan hadiah pemberian dari Leonard, dia kan memang suka seperti itu, susah ditebak." Louisse kemudian tersenyum mengingat suaminya yang memang selalu tidak peka.


"Ah, Sir Julian... Tolong sampaikan terimakasihku kepada suamiku, aku akan merawat pohon ini sambil menunggu dia kembali, aku harap dia tetap sehat dan tidak terluka." Ucap Louisse pada Julian.


"Baik Yang Mulia, kalau begitu saya undur diri." Jawab Julian seraya berpamitan untuk kembali ke perbatasa Timur.


"Aku akan mengantarmu sampai gerbang taman." Ujar Louisse namun langsung ditolak oleh Julian.


"Tuan Putri tidak perlu repot-repot, saya bisa sendiri." Tolak Julian.


"Tidak apa-apa, aku sedang tidak repot." Sahut Louisse sambil menampilkan senyumnya.


"Anne, kau ikut denganku, yang lainnya kembali saja!" Perintah Louisse yang tidak bisa ditolek oleh Julian.


"Baik Putri." Sahut Anne yang mengikuti perintah Louisse mengantar Julian sampai gerbang taman, sementara pelayan yang lainnya kembali bekerja.


"Bagaimana kabar suamiku di sana?" Tanya Louisse pada Julian.


"Yang Mulia Pangeran Pertama baik-baik saja." Jawab Julian dengan nada yang sama datarnya sejak awal dia berbicara dengan Louisse.

__ADS_1


"Bagaimana hari-hari suamiku di sana?" Tanya Louisse lagi.


"Dua minggu yang lalu Pangeran Leonard berhasil melumpuhkan markas dari wakil komandan pasukan musuh." Jawab Julian.


"Itupun semua orang di istana juga sudah tahu, maksudku apa yang dia lakukan disaat dia senggang? Aku ingin mendengar bagaimana suamiku menghabiskan waktu selain berperang." Tanya Louisse dengan tersenyum, berharap jika Julian akan luluh dengan sikap ramahnya.


"Maaf Yang Mulia Putri, masalah pribadi kehidupan Pangeran Pertama itu tidak patut dikatakan dengan sembrono, sebagai salah satu kesatrianya saya harus menjaga kerahasiaan kehidupan Pangeran yang saya layani." Ucap Julian tegas untuk menolak menjawab pertanyaan Louisse.


"Huhh! Lupakan sikap ramah untuk mululuhkan pertahanan orang ini. Kenapa juga Leonard punya bawahan yang punya sifat yang sama dengannya..?! Tapi itu justru bagus, berarti dia benar-benar orang yang akan setia pada Leonard selamanya." Batin Louisse sambil tersenyum tipis.


Louisse menengok ke kanan kirinya memastikan jika tidak ada orang lain di sana selain dirinya, Julian dan Anne.


"Sir Julian, bisa kau menunduk sebentar?" Pinta Louisse. Julian menunduk meski dia tidak mengerti apa mau Louisse padanya.


"Yang aku katakan saat ini tidak dapat aku tulis dalam surat karena ini adalah rahasia! Hati-hati dengan Alex Born karena dia mata-mata Ratu untuk mengawasi gerak-gerik Pangeran di sana." Julian langsung membulatkan matanya mendengar apa yang telah dibisikkan Louisse padanya.


"Tidak mungkin! Pangeran dan saya sudah mengenalnya dari kami kecil. Bagaimana bisa dia mata-mata Ratu?" Ujar Julian tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Apa kau tidak mempercayaiku karena aku salah satu orang kepercayaan Ratu? Bukankah aku lebih bisa dipercaya karena aku tahu info ini dari Ratu."


Julian terdiam tidak bisa berkata-kata, tentu saja dia tidak bisa langsung percaya karena Louisse yang ia ketahui adalah salah satu kaki tangan Ratu yang berarti musuh dari Pangeran Pertama yang dia layani.


"Percaya atau tidak itu terserah padamu, aku tidak memaksamu untuk mempercayaiku. Namun kamu harus janji satu hal! Kamu harus mengatakan apa yang kamu dengar barusan pada Pangeran, biar dia yang memutuskan sendiri untuk percaya atau tidak." Julian masih terdiam karena dia masih shock, Alex adalah teman kecilnya dan mereka sama-sama anggota prajurit bayaran, tapi pernyataan Louisse itu sulit dipercaya untuknya.


"Aku tidak mungkin mengatakan ini dalam suratku, karena semua surat yang aku kirim ke Pangeran akan diperiksa dulu oleh anak buah Ratu. Jadi aku bersyukur kau datang kepadaku seperti ini sehingga aku dapat mengatakan hal penting ini yang tidak bisa aku tuliskan dalam surat."


"Tapi itu..."


"Hanya Pangeran Leonard yang berhak memutuskan kebenaran perkataanku, kau percaya kan jika Pangeran Pertama bukanlah orang yang bodoh?" Ujar Louisse dengan senyum manis namun tersirat akan ancaman.


"Baiklah, saya akan sampaikan pada Pangeran tapi apapun keputusan Yang Mulia Pangeran anda tidak bisa merubahnya." Ucap Julian dengan nada yang sama tegasnya.


"Tentu saja, sama halnya aku yang percaya pada suamiku, suamiku pasti juga percaya padaku." Ucap Louisse dengan rasa percaya dirinya.


"Kalau begitu saya akan undur diri Yang Mulia." Pamit Julian seraya membungkuk hormat pada Louisse.

__ADS_1


"Ohh ternyata sudah sampai pada gerbang taman, aku harap anda sampai dengan selamat Sir Julian.


Bersambung...


__ADS_2