Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 42 Kencan Malam


__ADS_3

Malam ini Louisse bersiap-siap untuk 'Kencam Malam', ini pertama kalinya dia kembali tidur satu ranjang dengan Leonard setelah sekian lama mereka berpisah karena perang. Namun justru pikiran Louisse tidak tenang karena ucapan Kaisar padanya pagi tadi yang masih terngiang di telinganya.


"Aku harus bagaimana? Aku pikir waktuku di istana ini akan sedikit lama karena Leonard kembali lebih cepat dari perkiraan. Tapi jika aku terus mengulur perceraian ini, Kaisar bisa saja akan membunuhku. Mau tidak mau aku harus membicarakan masalah ini pada Leonard sekarang juga. Perceraian kami tidak dapat ditunda lagi."


Itulah yang ada dipikiran Louisse saat ini. Dan sekarang dia hanya menunggu Leonard datang ke kamarnya untuk membicarakan hal itu. Tak lama kemudia pintu kamar terbuka dan masuklah Leonard dengan mengenakan jubah pijama dengan dada yang sedikit terbuka.


"Hai Leonard... Ini yang pertama setelah sekian lama kita tidak melakukan 'Kencan Malam'." Sapa Louisse dengan ceria seperti biasanya, namun Leonard hanya diam mengabaikannya dan duduk di sofa kamar itu.


"Kau kanapa? Wajahmu terlihat kurang baik." Mendengar pertanyaan itu Leonard kembali mengabaikan Louisse. Dia justru mengambil sebotol wine dan menuangkannya pada gelas yang memang sudah tersedia di atas meja di sana. Setelah menuangnya, Leonard langsung meminum wine tersebut dengan sekali teguk hingga tandas.


"Eh, jangan meminumnya seperti itu! Wine itu lumayan keras, kamu kan tidak kuat minum." Louisse memperingatkan.


Setelah itu Leonard berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Louisse yang tengah duduk di pinggiran ranjang, lalu diapun ikut duduk di sebelahnya tanpa berkata apapu. Leonard duduk dengan sedikit menundukkan kepalanya, wajahnya sudah terlihat merah. Seperti kata Louisse, Leonard memang mudah sekali mabuk.


"Dia kenapa sih? Tiba-tiba datang tanpa kata lalu minum wine dalam sekali teguk. Sekarang wajahnya sudah terlihat merah karena mabuk. Selain itu ekspresi wajahnya terlihat begitu muram. Apa ada masalah dengan pekerjaannya? Kalau begini bagaimana aku bisa membicarakan masalah perceraian? Bisa saja dia tersinggung karena sedang tidak mood." Dalam hati Louisse menyimpan kekhawatiran itu.


"Leonard... Apa kamu baik-baik saja? Malam ini aku ingin membicarakan sesuatu." Tanya Louisse dengan tangan yang hendak menyentuh bahu Leonard, namun secara refleks pria itu menghindarinya sambil berteriak.


"Apa kamu tidak malu sama sekali?!" Seru Leonard dengan tubuh yang sedikit ia jauhkan dari Louisse.


"Kamu kenapa sih? Kita kan sudah bisa tidur bareng sejak kita berumur tiga belas tahun." Tanya Louisse yang bingung dengan reaksi Leonard yang sedikit berlebihan pada dirinya.


"Sial! Setelah apa yang dia lakukan padaku kemarin malam, Louisse masih terlihat santai seperti biasanya, padahal sejak masuk ke sini aku sudah gugup setengah mati. Aku tidak tahan lagi, dia sudah membuatku gila!"


Setelah mengatakan itu dalam hatinya, Leonard tanpapikir panjang langsung mendorong Louisse hingga terbaring di atas kasur dengan dirinya yang menguringnya di atasnya. Leonard menahan diri untuk tidak menindih Louisse dan hanya memandang istrinya itu dari atas sana.


"Eh, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Louisse bingung dengan apa yang tengah Leonard lakukan padanya.


"Kan kamu sendiri yang bilang jika ada sesuatu yang akan kita bicarakan." Jawab Leonard dengan wajah memerah dengan tangan yang meraba ikat pijama Louisse seperti hendak membuka ikatan tersebut.


"Kenapa kau meraba pijamaku? Jangan bilang kamu ingin membukanya." Tebak Louisse tepat sasaran dan sukses membuat Leonard gelagapan.


"Jangan asal bicara!" Seru Leonard dengan wajah semakin merah.

__ADS_1


"Lalu apa? Atau jangan-jangan kamu mengartikan ajakan bicaraku itu adalah ajakan dengan menggunakan 'bahasa tubuh' atau semacamnya?" Tebakan Louisse kali ini kembali tepat sasaran dan kali ini Leonard langsung terdiam membeku karena tidak bisa mengelak lagi.


"Ah... Jadi benar dia mengartikan itu." Batin Louisse.


"Sebaiknya kamu berhenti membaca novel aneh yang meracuni otakmu." Ucap Louisse.


"Jangan sembarangan! Aku tidak pernah membaca hal yang begituan!" Leonard menyangkalnya dengan wajah merah padam.


"Jangan bohong! Memangnya aku tidak tahu jika hal yang kamu pikirkan itu adalah istilah yang selalu keluar di novel aneh." Gertak Louisse.


"Sebenarnya aku tidak sengaja melihat novel +19 yang pernah aku baca di perpustakaan istana tergeletak di meja kerjanya. Itulah pertama kalinya aku tahu jika di dunia ini ada novel begituan juga." Batin Louisse tak habis pikir.


"Bagaimana bisa kamu tahu itu?" Tanya Leonard penasaran ternyata Louisse juga mengetahui hal itu.


"Tidak usah diperpanjang lagi, sekarang kamu minggir dulu!" Ucapa Louisse sambil memegang dada Leonard yang terbuka, dia berencana untuk mendorongnya tapi tangannya malah terdiam di sana dan mulai meraba dada Leonard dan membuat suaminya itu meregang tak bisa bergerak menahan rasa geli di dadanya.


Sementara itu pikiran Louisse malah traveling kemana-mana.


"Ka, kamu... Tak, tak perlu gugup!" Ujar Leonard yang justru terlihat lebih gugup dari Louisse.


"Sepertinya dia salah paham, bukankah dia yang sedang gugup saat ini?" Batin Louisse.


"Apa sekarang kamu sadar jika aku bisa menerkammu sekarang juga?" Ujar Leonard dengan tatapan yang mendamba.


"Ya ampun... Dia belum sadar juga justru dialah yang harus berhati-hati, jika umurku di dunia asalku digabung dengan usiaku di sini, aku ini wanita dewasa yang sudah lama menahan nafsunya selama ini. Astaga! Apa sih yang aku pikirkan?! Ini bukan waktunya memikirkan hal seperti ini!!"


"Tolong, minggirlah! Aku kan sudah bilang kalau kita harus membicarakan sesuatu dan duduklah yang baik di sini."


Sekarang Louisse benar-benar mendorong Leonard untuk menyingkir dari atasnya dan menyuruh Leonard duduk anteng di hadapannya.


"Leonard, apa yang aku katakan ini adalah hal yang serius, jadi kamu harus serius juga. Leonard... Kurasa ini sudah waktunya kita harus bercerai. Kamu pasti bertanya apa alasannya kan? Pertama, kamu yang akan menjadi Kaisar selanjutnya tidak mungkin cocok bersanding dengan Ratu yang berasal dari bangsawan rendah yang miskin seperti aku. Kedua, jika kamu tetap mempertahankan pernikahan ini maka itu tidak akan memperkuat posisimu di masa depan. Ketiga, apa mungkin aku yang hanya suka makan dan bermain bisa menjadi Ratu? Bagaimana nasib rakyatku nanti jika aku jadi Ratunya?!" Kata Louisse panjang lebar.


"Maaf Leonard... Aku tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya jika aku sudah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, karena ini adalah dunia novel yang pernah aku baca." Kata hati Louisse.

__ADS_1


"Ah, yang ketiga itu benar juga." Sahut Leonard dengan ekapresi masa bodohnya.


"Kok aku jadi kesal ya?! Kamu cuma memperhatikan alasan nomor tiga saja. Ah, terserahlah... Yang penting karena alasan itulah kita harus bercerai secepatnya! Jadi malam ini kita harus berdiskusi tent... " Ungkap Louisse.


"Apa hanya alasan itu?" Leonard langsung memotong ucapan Louisse.


"Eh??" Louisse dengan tanda tanyanya.


"Apa hanya karena alasan itu kamu ingin bercerai dariku?" Tanya Leonard sekali lagi.


"Apa maksudmu hanya?! Ini masalah penting mengenai suksesimu sebagai Kaisar masa depan. Memangnya ada hal yang lebih penting dari hal ini?!" Seru Louisse yang sedikit kesal pada Leonard.


"Apa kamu pikir hal terpenting bagiku saat ini adalah Tahta?" Tanya Leonard sambil menatap tajam ke arah Louisse.


"Kalau bukan itu lalu apa?" Tanya Louisse balik.


Leonard kemudian perlahan mendekat ke arah Louisse dengan mata yang masih melekat pada wajah Louisse.


"Aku punya alasan sendiri kenapa aku tidak ingin becerai darimu." Ucap Leonard yang semakin mendekat dengan wajah yang semakin dekat dengan wajah Louisse.


"A, alasan??" Louisse tiba-tiba merasa gugup dengan wajah Leonard yang nyaris bersentuhan dengan wajahnya.


"Kenapa dia semakin mendekat? Dan kenapa aku tidak bisa menghindar? Malahan aku semakin terdorong untuk ikut mandekat juga. Jangan-jangan dia mau..." Pikiran Louisse jadi berantakan dan dia seketika memejamkan matanya ketika wajah Leonard nyaris menyentuh wajahnya. Bukan, bukan wajah melainkan bibir mereka sedikit saja pasti akan bersentuhan. Namun Leonard berhenti ketika melihat Louisse memejamkan matanya, dia mengurungkan niatnya untuk mencium bibir Louisse dan memilih untuk mencium kening istrinya itu.


Louisse tersentak dengan ciuman yang dia rasakan di keningnya dan membuka matanya. Disaat itulah Louisse tersadar jika Leonard sudah jatuh hati padanya.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2