
Di penginapan desa Bonex...
"Kami akan menginap untuk dua orang..." Kata Louisse pada pemilik penginapan.
"Ah, hanya untuk satu kamar ya?" Sahut wanita pemilik penginapan sebelum Louisse menyelesaikan ucapannya.
"Tidak! Kami memesan dua kamar terpisah!" Kata Leonard yang langsung maju mengoreksi pesanan mereka.
"Haha... Maaf, saya kira anda berdua pasangan suami istri." Ucap pemilik penginapan merasa tak enak.
"Hahaha... Iya, benar. Dia hanyalah laki-laki yang kebetulan saya kenal." Sahut Louisse menimpali dengan perasaan kesal.
"Hanyalah laki-laki yang kebetulan saya kenal?!" Ternyata Leonard terpancing emosi juga setelah mendengar pengakuan Louisse barusan dan akhirnya mereka mulai adu mulut.
"Ya terus kenapa?! Kamu sendiri kan yang menentukan untuk memakai kamar terpisah!" Seru Louisse yang sudah geram dan kesal dengan sikap Leonard yang kekanak-kanakan.
Namun di sela-sela pertengkaran mereka, terdengar ada suara ribu-ribut dari arah luar sehingga mereka menghentikan pertengkaran lalu keluar melihat apa yang terjadi di sana.
"Ada keributan apa ini?" Louisse bertanya-tanya karena di luar sana itu sudah sangat ramai dengan para pendukduk desa yang bergerombol seperti sedang melihat sesuatu. Louisse dan Leonard pun mengikuti ke arah kerumunan penduduk di sana. Kemudian dari arah tengah kerumunan tersebut terdengar suara yang cukup keras dari seorang perempuan.
"Kamu bilang kamu mencintaiku dan bahkan melamarku..!! Tapi mengapa kamu malah berselingkuh di belakangku?!!" Teriak perempuan muda itu sambil menangis dengan sebilah pisau di tangannya. Sementara di hadapannya ada seorang lelaki muda yang sudah jatuh ke tanah sambil ketakutan menatap sang perempuan. Sepertinya mereka adalah pasangan kekasih yang sedang berselisih karena sang kedapatan berselingkuh dengan wanita lain.
"Maaf, karena aku sudah tidak mencintaimu lagi!" Seru lelaki itu dengan wajah paniknya karena sang perempuan tengah mengacungkan pisau yang ia bawa ke arahnya.
"Percuma! Tidak akan ada yang berubah meskipun kamu melakukan hal ini." Ucap lelaki itu lagi.
__ADS_1
"Dasar laki-laki breng**k!! Jia tidak segera dihentikan, mungkin akan sangat berbahaya." Ujar Louisse dalam harinya.
"Kalau memang hatimu tidak bisa dikembalikan..." Ucapnya sambil bergetar dengan air mata bercucuran wanita itu membalikkan pisau yang ia bawa mengarah ke arah dirinya sendiri.
"Tidak! Hentikan! Kenapa dia memikirkan hal sebodoh itu sih?!" Teriak Louisse dalam hati dan akan berusah menghentikan hal bodoh yang mungkin akan dilakukan oleh perempuan itu. Dan benar saja...
"Lebih baik aku mati saja..!!" Teriaknya sambil mengangkat pisau yang dia bawa dan akan menusuk dirinya sendiri. Namun..
"Kyaaa...!! Perempuan itu berteriak bahkan orang-orang yang hanya bisa melihat di sanapun ikut berteriak. Sementara Louisse langsung terpaku melihat tak bisa berkata-kata lagi melihat pemandangan di hadapannya.
"Sangat disayangkan jika kamu kehilangan nyawamu hanya untuk laki-laki tak berguna itu." Ucap seorang laki-laki muda nan tampan berambut hijau muda dengan tangan yang sudah berlumuran darah karena sudah menghalau pisau yang tadi akan menusuk ke leher perempuan itu.
"Asrahan..." Gumam perempuan itu setelah sadar siapa orang yang menyelamatkan tindakan sembrononya.
"Jangan terlalu bersedih... Nilai dari setetes air matamu itu tidak sebanding dengan lelaki yang tidak punya nilai sama sekali itu." Dan ucapan Asrahan itu langsung menyadarkan si perempuan, lalu dia langsung membuang pisau yang sudah penuh dengan tetesan darah ke tanah. Perempuan itupun kembali menangis tersedu-sedu menyesali perbuatan cerobohnya tadi.
"Kami akan menenangkan dia." Ucap seorang wanita lain yang kini sudah menopang tubuh perempuan tadi karena terlihat sudah tidak punya tenaga.
"Baiklah, aku serahkan padamu." Balas Asrahan.
"Permisi... Bisakah anda memperluhatkan tangan anda?" Ucap Louisse yang sengaja memang mendekati Asrahan dan memang berniat untuk menolong Asrahan yang aesang terluka.
"Sudah saya duga lukanya separah ini. Harus cepat diobati..!" Asrahan yang seperti tersihir hanya bisa diam memperlihatkan lukanya sambil terpana melihat wajah teduh Louisse yang cantik.
"Ketemu!" Gumam Asrahan setengah berseru.
__ADS_1
"Kamu sungguh-sungguh tipe wanita idelku..!!" Seru Asrahan dengan wajah berseri-seri memandang wajah Louisse yang kini tengah terkejut mendengar pengakuan dari Asrahan.
"Apa?" Tanya Laouisse yang tiba-tiba kosong pikirannya.
"Aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, sungguh! Bagaimana kamu bisa sampai ke desa ini? Aku ingin lebih banyak mengenalmu. Ah, bagaimana kalau kita makan malam bersama? Aku akan menjamumu, bisakah kamu meluangkan waktu?" Asrahan terus saja mengoceh membuat Louisse tidak ada kesempatan untuk berkata-kata.
"Aduh... Kenapa tiba-tiba seperti ini? Dari yang terlihat tadi sepertinya dia bukan orang yang meremehkan cinta. Apa benar dia jatuh cinta padaku? Aku harus gimana? Sementara aku memburuhkan orang ini. Apa untuk sementara aku terima saja?" Batin Louisse yang sedang galau karena pengakuan cinta yang tiba-tiba itu.
"Ah, itu..."
Belum sempat Louisse menjelaskan semuanya, dari arah belakang Leonard langsung maju menengahi mereka dengan pedang yang sudah terhunus ke arah Asrahan.
"Pedang dan lambang itu..." Gumam Asrahan dalam hati ketika terkejut melihat pedang dan sebuah lambang di pegangan pedang tersebut yang ia kenal mengarah ke arahnya.
"Cepatlah menjauh dari istriku!" Seru Leonard memperingatkan Asrahan.
"Eh? Dia sudah menikah??" Asrahan yang terkejut dengan konfirmasi Leonard detik itu pula dia langsung patah hati.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1