
Akhirnya Leonard keluar dari ruang pas pakaian dengan pakain baru yang dia coba.
"Waahh... Sudah kuduga jika pakain itu cocok denganmu karena kau sangat tampan." Ujar Louisse yang terang-terang memuji ketampanan Leonard di depan orang lain tanpa malu sedikitpun.
"Tapi kurasa ukurannya kurang pas." Sahut Leonard dengan malu-malu karena habis dipuji tampan oleh Louisse.
"Ya ampun... Begitu saja dia langsung merona, aku jadi gemas melihatnya hihi..." Batin Louisse kegirangan melihat reaksi suaminya.
"Tenang saja karena itu hanya pakaian jadi, nanti akan dibuatkan sesuai ukuranmu." Kata Louisse.
"Ka, kalau begitu aku akan coba yang lainnya." Kata Leonard dengan tersipu masuk kembali ke ruang pas untuk mencoba pakaian yang lain.
"Baiklah..." Sahut Louisse sambil tersenyum senang.
"Pfftt.. Apa kau lihat itu? Bukankah suamiku menggemaskan?" Ujar Louisse pada Lalisa.
"Hoho... Saya sedikit ragu karena takut akan dikatakan sebagai pencemaran nama baik keluarga Kekaisaran. Tapi saya bersyukur karena hubungan Yang Mulia berdua baik-baik saja." Ucap Lalisa yang tanpa sadar sudah terlalu banyak bicara.
"Berayukur?" Louisse bertanya apa maksud dari kata Lalisa.
"Ah itu karena yang saya de..." Lalisa langsung menutup mulutnya sandiri dengan tangan ketika sadar jika dia sudah terlalu banyak bicara yang kemungkinan itu bisa membuat dirinya dalam masalah.
"Astaga! Ma, maafkan saya Yang Mulia Putri! Saya telah bicara melewati batas." Lalisa langsung menundukkan kepalanya untuk meminta maaf karena merasa dirinya telah ceroboh berkata.
"Tidak apa-apa, itu bukan masalah besar bagiku." Sahut Louisse yang menanggapinya dengan senyuman karena baginya apa yang dikatakan Lalisa ada benarnya.
Setelah itu mereka menunggu dengan diam hingga Leonard kembali keluar dengan model baju yang berbeda.
"Sudah kuduga kalau kamu itu cocok dengan warna hitam dan merah." Louisse langsung memuji ketika Leonard keluar dengan setelan baju warna hitam dengan rompi merah. Setelah itu Leonard mencoba baju yang lain juga.
"Waahhh... Warna dark blue juga cocok denganmu." Ujar Louisse tersenyum senang sambil bertepuk tangan ketika Leonard kembali lagi dengan baju yang lainnya.
"Lalu, apakah kamu sudah memilih mana yang kamu suka?" Tanya Louisse kemudian.
__ADS_1
"Sudah." Jawab Leonard dengan singkat.
"Baiklah, sepertinya kami sudah selesai." Ucap Louisse yang hendak pergi dari butik itu.
"Terimakasih, kami akan mengantarnya ke istana jika semuanya sudah selesai dibuat." Ucap Lalisa sambil menunduk hormat.
"Kalau begitu kami akan menantinya." Sahut Louisse sambil menggandeng tangan Leonard keluar dari Vian Butik.
"Hati-hati di jalan Yang Mulia." Ucap Lalisa mengantar kepergian Leonard dan Louisse.
"Gimana? Seru kan?" Tanya Louisse ketika mereka berjalan menuju kereta kudanya.
"Iya, tapi lain kali kita juga harus membeli pakaian untukmu, karena tadi hanya aku saja yang membeli." Ujar Leonard yang membuat Louisse bingung harus menjawab apa? Karena Louisse tidak tahu apakah kesempatan seperti ini akan datang lagi. Maka dia hanya memilih tidak menjawabnya dan hanya tersenyum saja lalu berjalan mendahului Leonard.
"Hei... Kenapa tidak menjawabnya? Aku kan ingin mengajakmu berbelanja lain kali." Protes Leonard.
"Iya, jika kesempatan itu ada." Jawab Louisse tanpa melihat wajah Leonard sambil masuk ke dalam kereta kuda dan hal itu sedikit membuat Leonard bingung.
"Selanjutnya kita pergi untuk makan malam." Ujar Louisse karena sekarang hari sudah mulai malam.
"Apa maksudmu? Kita kan bukan lagi anak kecil, kenapa harus pulang jam segini? Kita harus pergi makan malan dan menonton teater, aku bahkan sudah membeli tiketnya." Louisse langsung membantah ucapan Leonard.
"Tapi kalau kita harus menonton teater, bisa-bisa kita akan sampai istana terlalu malam." Ucap Leonard.
"Justru itu tujuan awalnya kan... Dan aku tidak mau tahu soal itu! Lagi pula jika kita pulang lebih awal kamu pasti akan kembali ke ruang kerjamu kan?!" Louisse langsung menebak dengan tepat karena hal itu Leonard tidak bisa membantah lagi.
Mereka berdua terdiam sesaat, sampai kemudian Louisse kembali bicara.
"Leonard... Kamu pasti merasa sangat kesulitan saat berperang selama empat tahun itu." Ucap Louisse tiba-tiba.
"Kenapa kami tiba-tiba membahas masalah itu?" Tanya Leonard tak mengerti.
"Sekarang tidak apa-apa jika kamu hidup tanpa rasa kekhawatiran karena di sini bukan medan perang. Di sini bukanlah tempat berdarah yang banyak orang meninggal. Kamu boleh sedikit ceroboh dan melakukan kesalahan. Kamu juga tidak perlu bersiaga sampai dua puluh empat jam. Karena itu hiduplah dengan melakukan apa yang kamu suka." Ucap Louisse dengan menunjukkan senyum cerianya tapi dibalik itu ada kesedihan yang sulit untuk diungkapkan.
__ADS_1
"Karena dengan bantuan keluarga Zacard nantinya kamu akan dapat melengserkan Ratu dan menduduki tahta tertinggi di Kekaisaran Eliador ini. Dan tidak akan ada hal lagi yang dapat menyiksamu." Ucap Louisse dalam hati sambil mengingat kembali bekas luka sayatan di punggung Leonard.
"Jadi jalanilah hidupmu dengan santai dan bahagia." Ucap Louisse lagi sambil tersenyum.
"Meski aku tidak lagi di sisimu." Lanjut Louisse dalam hati.
Leonard yang mendengar ocehan Louisse itu hanya diam dengan perasan tidak enak yang sulit untuk dijelaskan. Dia hanya merasa hari ini istrinya itu sedikit aneh.
Leonard tidak bertanya apa-apa mengenai kata-kata Louisse tadi. Mereka melakukan makan malam lalu melihat teater dengan rasa bahagia hingga akhirnya mereka kembali lagi ke istana.
"Bagaimana hari ini menyenangkan bukan?" Tanya Louisse.
"Iya, menyenangkan." Jawab Leonard sambil tersenyum.
"Makanya lain kali kamu harus pergi bermain jika lelah dengan pekerjaanmu." Ujar Louisse.
"Em.. Louisse, aku minta maaf soal hari itu. Aku sudah berbicara keras padamu dan pergi begitu saja tanpa berkata apapun." Ucap Leonard yang terlolihat menyesal.
"Tidak... Aku juga minta maaf, aku..."
"Aku tahu kamu melakukan itu karena pasti ada alasannya." Louisse seketika membatu mendengar ucapan Leonard dan hanya memandang wajah Leonard dengan tatapan bersalah.
"Aku tidak akan memaksamu mengatakannya sekarang, tapi aku akan menunggumu untuk bicara. Karena seperti kamu yang percaya padaku, akupun juga akan percaya padamu." Ucap Leonard sambil meraih wajah Louisse.
"Iya..." Hanya jawaban itu yang bisa keluar dari bibir Louisse sambil menatap wajah Leonard.
"Kalau begitu aku kembali dulu. Selamat malam Louisse..." Ucap Leonard sebelum pergi meninggalkan Louisse di depan istana Putri.
"Karena kehidupan di sini yang semakin menyimpang dari cerita novel aslinya itu menggangguku... Hampir saja aku mengatakan pada Leonard jika aku sebenarnya datang dari dunia lain yang berbeda dan aku sudah mengetahui hal apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi melihatmu yang seperti ini membuatku tak ingin meninggalkanmu."
.
.
__ADS_1
Bersambung...