Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 14 Istana Pangeran Pertama


__ADS_3

POV Louisse...


Aku berharap Sir Julian tidak mengabaikan apa yang aku katakan tadi, tapi paling tidak dia sudah berjanji akan mengatakannya pada Leonard mengenai mata-mata Ratu Media yang berada diantara pasukan unitnya. Meski Sir Julian mungkin tidak langsung mempercayaiku tapi aku percaya jika Sir Julian tidak akan mengabaikan janjinya karena itu berkaitan langsung dengan Leonard. Yah... syukur saja Sir Julian datang langsung untuk menemuiku jadi aku tidak harus bingung bagaimana caranya memberi tahu pada Leonard tentang Alex Born yang menjadi kaki tangan Ratu. Aku harus berterimakasih pada Leonard yang mengirim orang seperti Sir Julian untuk menemuiku. Dan sekarang... Bagaimana dengan pohon-pohon ini? Kenapa juga Leonard susah-susah mengirimnya kemari?


"Anne, apakah masih ada tempat untuk menanam pohon-pohon ini?" Tanyaku pada Anne dengan memandang dua pohon yang menjulang tinggi di hadapanku. Kedua pohon itu hanya disandarkan pada tembok taman di istanaku.


"Sepertinya ada tanah kosong di dekat kolam ikan, tadinya di sana tukang kebun akan menanam bunga aster putih, untungnya itu belum terjadi tapi kemungkinan hanya satu pihon saja yang bisa di tanam di sana Tuan Putri." Jawab Anne dengan keterangan yang detail.


"Lalu bagaimana dengan pohon yang satunya?" Anne diam saja mungkin dia tidak tahu harus menjawab apa dan terlihat dia juga memikirkan tempat mana yang cocok ditanami pohon ini.


"Pohon ini hanya tumbuh di wilayah Timur dan Leonard sudah susah payah memberikannya padaku, jadi tidak mungkin aku membuang salah satunya. Leonard pasti akan sedih jika salah satu hadiahnya dibuang kan..." Ucapku.


"Iya Tuan Putri, tentu saja Pangeran Pertama akan sedih. Apakah Tuan Putri sudah menemukan tempat yang cocok untuk pohon itu?" Tanya Anne.


"Anne, apakah sebelumnya kamu sudah pernah melihat pohon ini sebelumnya di istana Kekaisaran?" Tanyaku pada Anne.


"Tidak Yang Mulia, ini pertama kalinya saya melihatnya." Jawab Anne.


"Hmm... Berarti di taman istana Pangeran Leonard juga belum ada. Bagaimana jika kita menanam salah satunya di sana? Jadi aku dan Leonard masing-masing punya satu." Ujarku dengan tersenyum senang karena menurutku ini adalah ide yang bagus dan aku yakin Leonard tidak akan keberatan dengan hal ini.


"Ahh, emm.. a ee... Itu..." Anne terlihat ragu untuk menjawabnya, memangnya ada apa? Apakah itu tidak cocok di tanam di istana Leonard atau ada sesuatu di sana yang tidak aku ketahui?


"Kenapa Anne? Kenapa kamu tiba-tiba terkejut dengan ucapanku barusan? Apa ada yang salah?" Tanyaku penasaran.


"Tidak ada yang salah dengan ucapan Yang Mulia hanya saja di istana Pangeran..." Anne ragu untuk meneruskan ucapannya.


"Ada apa dengan istana Pangeran Leonard??" Tanyaku yang mulai merasa cemas.


"Ah itu... Sebaiknya Yang Mulia Putri harus melihatnya sendiri ke sana." Jawab Anne sambil menundukkan kepalanya dan aku yakin pasti ada yang tidak beres di istana tempat tinggal suamiku.


Dan setelah aku sampai di gerbang istana Pangeran Pertama kecurigaanku terbukti sudah.


"Ini sungguh benar-benar parah! Ini belum ada enam bulan Leonard pergi tapi kenapa istananya mendadak seperti kastil usang yang tidak terurus selama puluhan tahun? Banyak debu yang menempel di dindingnya yang sudah mulai mengelupas catnya, bahkan banyak sarang laba-laba di sudut jendela bagian luarnya. Aku yakin bagian dalam istana tidak jauh berbeda. Bunga-bunga dan pohon-pohon di halaman istana semua mengering dan banyak yang layu seperti tidak pernah disiram sama sekali, ini lebih parah daripada pohon-pohon di musim dingin yang membeku. Lalu apa saja yang dikerjakan oleh pengurus istana Pangeran??!" Omelku dengan sangat kesal karena sangat terkejut melihat istana suamiku yang terlihat mengenaskan bak istana yang terbengkalai.


"Oleh sebab itu saya bingung harus berkata apa pada Tuan Putri tentang istana Pangeran." Ujar Anne dengan kepala yang menunduk.

__ADS_1


"Kau sudah mengetahui ini dari dulu kan Anne? Kebapa kau tidak melaporkannya padaku lebih awal?!" Tanyaku kesal pada Anne.


"Maaf Tuan Putri, saya baru mengetahuinya kemarin karena tidak sengaja mendengar ocehan para pelayan yang mengatakan jika pelayan yang bekerja di istana Pangeran Pertama sangat beruntung karena tidak harus susah payah mengurus istana dan bisa lebig bersantai. Lalu karena rasa penasaran saya sengaja lewat di depan istana Pangeran dan terkejut melihatnya. Maafkan saya Tuan Putri karena terlambat mengatakannya." Terang Anne dengan kepala yang menunduk, terlihat dia sangat menyesal.


"Huuhh ya sudahlah, sebaiknya kita masuk dulu dan dengar apa penjelasan mereka, karena sudah terlihat jelas korupsi yang mereka lakukan pada anggaran yang masuk ke istana Pangeran Leonard tidak main-main. Penjaga, buka gerbangnya!" Seruku dengan emosi yang sudah aku tahan dalam-dalam.


Saat gerbang istana terbuka aku langsung melangkah menuju pintu utama istana dan saat itu pula seorang pelayan yang aku ketahui adalah kepala pelayan yang mengurus kepentingan istana Pangeran keluar dari dalam istana dengan tergopoh-gopoh.


"Ada apa tiba-tiba Yang Mulia Putri datang ke istana Pangeran tanpa adanya pemberitahuan?" Tanya si kepala pelayan istana Pangeran.


"Apakah aku harus melapor padamu dulu jika aku ingin pergi ke kediaman suamiku sendiri?!" Sahutku dengan sangat kesal. Dia hanya seorang kepala pelayan tapi dia sangat tidak sopan padaku yang seorang Putri ini.


"Tapi Yang Mulia Putri harus..."


"Diam kau!!" Dia terkejut dan langsung terdiam saat aku membentaknya langsung.


"Apa kau berhak bicara setelah apa yang kau lakukan pada kediaman Pangeran Pertama?! Aku yakin jika anggaran untuk istana Pangeran tetap keluar tanpa ada potongan sama sekali tapi kenapa istana ini seperti istana terbangkalai hahh??!" Tanyaku dengan geram.


"Itu karena..."


"Baik Yang Mulia, segera saya lakukan." Jawab Anne yang langsung bergegas melakukan perintahku.


"Kamu, tetap di sini dan jangan bicara apapun!" Perintahku dengan tatapan sengit pada si kepala pelayan.


"Ba..baik Yang Mulia." Sahutnya dengan tergagap. Dia gemetar setelah mendengar jika aku akan membawa Oscar juga untuk menyelesaikan masalah ini.


Tidak lama kemudian Oscar pun datang. Aku sudah menduganya jika dia sama terkejutnya denganku waktu pertama melihat keadaan istana Leonard tadi.


"Kak, apa yang terjadi? Kenapa istana kak Leon berubah seperti kastil yang angker?" Tanya Oscar. Ternyata bagi Oscar istana ini terlihat begitu menyeramkan sampai-sampai dia menyebutnya istana angker.


"Itulah yang akan kita selidiki di sini, maka daei itu aku memanggilmu ke sini untuk membantuku mengetahui penyebabnya." Baru saja aku mengatakannya, Anne datang degan membawa buku laporan keuangan yang aku minta tadi. Pas sekali.


"Ini buku laporan keuangan anggaran istana Pangeran Pertama yang Tuan Putri cari." Ucap Anne sambil menyerahkan buku yang aku minta itu.


"Terimakasih Anne, semuanya akan terjawab setelah kita mengetahui isi dari buku ini." Kataku pada Oscar.

__ADS_1


"Maksud kak Isse ada penggelapan dana istana Pangeran selama kak Leon tak ada?" Tanya Oscar dan aku langsung mengangguk. Namun si kepala pelayan langsung berteriak jika dia tidak bersalah.


"Ini semua bukan salah saya! Saya tidak melakukannya!" Teriak si kepala pelayan.


"Aku kan belum mengatakan apapun kepadamu, kenapa kamu berteriak ketakutan seperti itu? Tapi biasanya orang yang berteriak lebih dulu dialah pelakunya." Ujarku dengan tersenyum smirk padanya.


"Itu bukan saya..." Ujarnya yang masih tetap membantah.


"Maka kita akan memeriksa dulu laporan ini... Aku melihat di sini mengeluarkan sebanyak tujuh Gold setiap bulannya untuk istana yang berdebu ini, menganti setiap jendela dan pintu yang bahkan baik-baik saja selama dua puluh tahun lagi jika dirawat dengan baik. Mengeluarkan dana yang cukup besar untuk bahan makanan berkualitas tinggi bahkan disaat si pemilik istana tidak ada untuk menikmatinya. Lalu apa ini? Dua Gold untuk mengganti dan mengurus kebun istana setiap bulannya padahal yang kulihat hanya ada bunga-bunga dan pohon kering di taman istana." Ujar Oscar sambil membacakan isi dari buku keuangan anggaran istana pangeran.


"Bukankah ini sangat parah?" Tanya Oscar dengan menatap tajam ke arah kepala pelayan yang sudah gemetaran seluruh tubuhnya.


"Itu bukan kesalahan saya Pangeran!" Serunya yang tetap mengelak meski sudah ketakutan.


"Kalau bukan kamu lalu siapa lagi? Bukankah selama Pangeran Pertama tidak ada kalianlah yang bertanggung jawab mengurus istananya." Ucap Oscar dengan nada dingin yang mengintimidasi.


"Itu kami yang ada di istana ini hanya mengikuti perintah." Jawab kepala pelayan yang akhirnya mulai membuka suaranya.


"Aha! Tentu saja kalian hanya melakukan perintah, korupsi sebesar ini mana mungkin kalian melakukannya sendiri. Jadi siapa dia?" Tanyaku.


"Urusan mengelola anggaran istana Pangeran bukan kami yang melakukannya, semua itu adalah tanggung jawan Baron Borneo sebagai kepala administrasi." Ungkap kepala pelayan.


"Kalau begitu panggil dia sekarang juga!" Perintah Oscar.


"Itu... Baron katanya sedang pergi berlibur." Kata si kepala pelayan.


"Kalau begitu liburkan dia untuk selama-lamanya! Aku akan memproses hukumannya setelah dia kembali. Sementara itu kita membutuhkan orang yang bisa menggantikan untuk mengurus anggaran istana Pangeran." Ucap Oscar dengan tegas sambil menatap ke arahku.


"Hei... Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanyaku heran.


"Kakak, kak Isse orangnya." Ujar Oscar dengan smirk di bibirnya.


"Apa??!!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2